Malam ketiga dalam perjalanan mereka, Kael merasa ada sesuatu yang berbeda dari langit. Bintang-bintang tampak redup, seolah-olah menyembunyikan cahayanya dari dunia yang tengah berubah.
Ia melirik Lysander yang duduk bersandar di batang pohon besar, menatap api kecil yang mereka nyalakan. Sejak perjalanan dimulai, Lysander jarang bicara, dan Kael menyadari satu hal yang membuatnya semakin penasaran: mata pemuda itu.
Mata abu-abu dingin, seperti langit badai, menyimpan rahasia yang gelap dan kelam.
Kael ingin bertanya, tapi setiap kali membuka mulut, keberanian itu menguap, tergantikan rasa gentar.
Namun malam ini, suasana begitu hening. Hanya derik serangga dan api yang berkeretak, seakan dunia memaksa Kael untuk berbicara.
"Lysander..." Kael akhirnya membuka suara, pelan.
Lysander tidak menoleh, hanya bergumam, "Hmph?"
"Kau... kau sangat kuat. Tapi... kau juga terlihat... seperti menyembunyikan sesuatu."
Hening.
Kael menggigit bibirnya, menyesal sudah lancang. Tapi sebelum ia bisa meminta maaf, Lysander menoleh perlahan. Tatapan matanya menusuk Kael seperti pisau.
"Setiap orang punya rahasia, Kael," suaranya datar, tanpa emosi. "Dan tidak semua rahasia pantas untuk dibagikan."
Kael terdiam. Tapi rasa ingin tahunya lebih besar daripada ketakutannya. Ia menggenggam tangannya kuat-kuat. "Kalau kau ingin aku percaya padamu... bisakah setidaknya kau... memberitahuku siapa kau sebenarnya?"
Sekali lagi, keheningan menguasai mereka. Lysander menutup matanya. Beberapa detik yang terasa seperti berjam-jam berlalu.
"Aku... bukan orang baik, Kael," jawabnya akhirnya. Suaranya terdengar lelah, jauh dari sosok dingin yang biasa Kael lihat. "Aku berasal dari dunia yang tidak ingin kau ketahui."
Kael menelan ludah. "Dunia... kegelapan?"
Lysander membuka matanya. Kali ini, Kael bisa melihat kilatan yang aneh di sana. Bukan hanya abu-abu. Tapi juga... hitam pekat. Seperti lubang tanpa dasar.
"Aku pernah menjadi bagian dari mereka," lirihnya. "Aku pernah berada di sisi Nox."
Kael terpaku. Jantungnya berdetak keras, kakinya nyaris mundur, tapi ia bertahan.
Lysander menatap Kael lurus-lurus. "Aku... pelarian. Pengkhianat bagi mereka. Itulah sebabnya aku terus bergerak. Itulah sebabnya... aku tidak bisa membiarkan mereka mendapatkan Lumen."
Kael menggertakkan giginya. "Kenapa kau meninggalkan mereka?"
Lysander tersenyum miris. "Karena aku melihat... dunia yang berbeda. Seseorang menunjukkan padaku bahwa di luar kegelapan, ada sesuatu yang lebih berharga daripada kekuatan."
Kael penasaran. "Siapa?"
Sebelum Lysander bisa menjawab, sebuah ledakan cahaya menghantam langit malam. Suara dentuman keras membuat tanah bergetar. Lysander berdiri sigap, menarik Kael berdiri.
"Mereka menemukan kita," gumam Lysander.
Dari balik pepohonan, muncul sosok berjubah gelap dengan topeng perak. Suara-suara bisikan gaib menyertai langkah mereka.
"Kael, dengarkan aku," kata Lysander cepat. "Larilah ke arah sungai di utara. Di sana... kau akan menemukan penyihir yang pernah menyelamatkanku. Namanya Elira."
Kael menggeleng. "Bagaimana denganmu?"
Lysander tersenyum dingin, tapi untuk pertama kalinya, senyum itu terlihat seperti manusia biasa, bukan monster.
"Jangan khawatirkan aku. Aku tahu cara menghadapi mereka."
Kael masih ragu. Tapi ketika serangan gelap menghantam pohon di samping mereka, ia tahu tak ada waktu untuk berdebat.
Dengan berat hati, Kael berlari ke arah sungai, meninggalkan Lysander yang berdiri sendirian menghadapi pasukan kegelapan.
Namun, di hatinya, ada luka baru yang terbuka.
Siapa sebenarnya Lysander?
Dan... kenapa bayangan masa lalu pemuda itu terasa seperti akan menghancurkan mereka semua?
Malam itu, Kael berlari bukan hanya dari bahaya.
Ia berlari menuju takdir baru... dan pertemuan yang akan mengubah segalanya.