Kami melihat mereka terlibat percakapan. Karena kami tahu bahwa mereka berada di satu bidang yang sama-sama lolos. Sama seperti aku dan Sunna. Hanya saja, aku kagum mereka rapat dan akrab sedari awal. Tidak mungkin saling tahu bahwa mereka adalah rival. Aku dan Suvara memasuki kamar kami lalu merebahkan diri di ranjang kami masing-masing. Senyum geli Suvara melihat Art dan Nura tadi masih terlihat di wajahnya. “Kenapa tidak menemukan sendiri orang yang bisa membuatmu tersenyum seperti itu?” tantangku. “Aku? 14 tahun? Ah belum perlu!” Dia menggerakkan tangannya acuh. Meskipun kurasa ada nada gugup dari jawabannya. Aku sudah tahu, teman sekamarku ini mulai dekat tidak lagi sebagai partner belajar dengan Vans. Tetapi, bagiku vans terlalu dewasa, dan aku sebenarnya khawatir dengan kede

