Kami mengikuti Suvara masuk ke sebuah ruangan berkarpet merah dengan lorong yang dindingnya banyak lukisan dan di kiri kanannya beberapa karya seni lainnya dipamerkan. Gambaran dari sebuah kemewahan terlihat jelas di mata kami. Seorang laki-laki menyambut Suvara dan memandu kami ke sebuah pintu. Begitu pintu terbuka dua orang di dekat meja makan panjang melihat pada kami. Keduanya kemudian tersenyum. Aku mengenali ibu Suvara. Tapi laki-laki yang kemudian berjalan mendahuluinya begitu mirip dengan Suvara. Pasti itu ayahnya. "Selamat datang di wahana kami," sapa laki-laki itu. "Tuan, nyonya, ini kedua orangtua saya, Mommy, Daddy, ini adalah Kisyara yang sering kuceritakan." Kami bergantian saling bersalaman. Berkenalan. Basa basi seputar kami berdua sebelum kemudian orangtua Suvara meng

