Ini bukan kali pertama bagi Krista mengalami situasi seperti ini. Kemarin ia sangat percaya diri dan hampir tidak terkalahkan untuk meladeni pria seperti Ali. Keakraban yang terasa seperti hitungan menit membuat rasa kesal dan benci kembali terangkat. Apakah Krista harus mengutuk takdirnya sendiri? Ali berdiri di hadapannya dengan ekspresi wajah marah menatap ke arahnya hampir tidak berkedip sekali pun. Krista sudah pasrah saja jika Allah mentakdirkan dirinya untuk mati di tangan algojo yang mengeksekusinya nanti. “Aku sungguh mengatakan semuanya, Ali. Jika kau tidak percaya, lalu aku harus bagaimana untuk membuktikannya…” Suara Krista nyaris hilang di kalimat terakhir. Tangannya yang terkepal erat erat di atas meja menarik perhatian Ali yang tersenyum lebar dalam hati. Memang rasa sak

