Happy Reading . . .
***
Savannah terlihat sibuk mempersiapkan makan siang untuk atasan, di saat ia sendiri pun sedang memiliki banyak pekerjaan yang harus ia lakukan. Jam makan siang yang memang sudah berlalu sejak beberapa jam yang lalu, dan kini waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Tiba-tiba saja sang atasan memintanya untuk membelikan makan siang, di saat Savannah sedang begitu sibuknya mempersiapkan materi untuk pertemuan sang atasan bersama dengan klien yang akan dilakukan dalam tiga puluh menit lagi.
Dan setelah makanan yang sudah Savannah pesan melalui layanan pesan antar dari salah satu restauran berbintang telah tiba, ia pun langsung mempersiapkan steak daging yang ia pesan tersebut dengan memindahkan dan menyajikannya di atas piring. Tidak lupa dengan segelas air mineral, wanita itu pun mulai membawanya dengan menggunakan baki menuju ruangan sang atasan.
"Makan siang anda sudah siap, sir." Ucap Savannah sambil menaruh baki berisi makanan yang ia bawa itu di atas meja kerja sang atasan yang sedikit lapang dari banyaknya kertas-kertas dokumen yang juga berserakan tidak beraturan di sana.
"Kemarilah. Bantu saya merapikan semua ini," perintah Duke yang langsung membuat Savannah menghampiri pria itu dan mulai mengumpulkan setiap lembaran kertas yang sangat begitu berantakan. "Tidak perlu diurutkan. Cukup rapikan saja."
"Baik, sir."
Sebisa mungkin Savannah melakukan dengan cepat terhadap perintah sang atasan tersebut, karena ia ingin secepat mungkin bisa kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi. Namun di saat ia yang ingin cepat selesai terhadap hal yang sedang dilakukan tersebut, Savannah justru melakukan sedikit kecerobohan dengan ia yang secara tidak sengaja menjatuhkan beberapa tumpukan lembaran dokumen yang sudah ia rapikan di tangannya itu hingga menjadi sedikit berantakan di sekitar kakinya. Tidak ingin memperlihatkan hal yang bisa saja semakin menurunkan penilaian sang atasan terhadapnya, tanpa tersadar wanita itu sudah berlutut di lantai untuk mengambil kembali kertas-kertas dokumen tersebut.
Dan di saat Savannah yang tidak bermaksud untuk sengaja dengan memberikan godaan atau apapun itu, Duke justru juga tidak sengaja melihat posisi sang asisten yang berada di dekat kakinya dengan sedang membungkukan tubuhnya untuk melihat ke bagian bawah meja yang tidak bisa dijangkau jika tidak membungkukan tubuh seperti yang sedang dilakukan oleh Savannah untuk mengambil selembar dokumen yang jatuh ke bagian sana.
Dan sedangkan Savannah yang saat ini juga sedang menggunakan rok yang sedikit membentuk lekuk tubuhnya, membuat wanita itu justru seakan menjadi sengaja sedang memperlihatkan bagian bokongnya yang bagi wanita pemilik tubuh ideal memang berisi, terhadap sang atasan yang kini sedang memandang hal yang tidak bisa dipungkiri lagi bagi setiap kaum adam adalah sebuah pemandangan yang sangat menarik untuk bisa dinikmati dan diperhatikan, tanpa bisa mengedipkan matanya. Namun sayangnya hal yang diam-diam mulai ingin dinikmati oleh Duke, harus berakhir dengan Savannah yang sudah langsung beranjak berdiri dari posisinya tersebut.
"Sir, apakah ada hal lain yang anda butuhkan lagi?" Tanya wanita itu sambil menaruh tumpukan kertas dokumen yang baru saja selesai ia rapikan di tepi meja kerja sang atasan yang lapang dan sedikit jauh darinya agar tidak mengganggu posisi pria itu yang hendak ingin memakan makanannya.
Pertanyaan yang diberikan oleh Savannah itu langsung membuat Duke mengerjapkan matanya dengan cepat dan sedikit membuat pria itu menjadi salah tingkah sendiri dibuatnya.
"Hmm..., ti-tidak ada." Balas Duke dengan cepat dan berusaha untuk menyembunyikan kegugupannya tersebut.
"Lalu, apakah saya bisa melanjutkan pekerjaan saya kembali, sir?"
"Ya, kembalilah."
"Baik, sir. Dan saya juga ingin mengingatkan bahwa tiga puluh menit lagi, anda memiliki pertemuan dengan klien di ruang pertemuan."
"Berikan informasi kepada mereka bahwa tempat pertemuannya dipindahkan. Saya ingin di sebuah cafe. Yang kosong dan sepi, tidak ada pengunjung lain, hanya saya dan klien saja."
"Tetapi, sir..."
"Tiga puluh menit dari sekarang, kita akan berangkat."
Tidak ada kesempatan atau waktu bagi Savannah untuk memberikan rasa protes yang sesungguhnya sangat ingin ia lakukan. Tetapi ia bisa apa? Sang pimpinan sudah berbicara, maka ia pun tidak berbuat apa-apa lagi. Tidak ada waktu luang untuk bisa mengumpat apalagi memaki-maki sang atasan yang hanya bisa wanita itu lakukan di dalam hati saja. Karena selain mengejar waktunya yang tinggal sedikit itu untuk membuat janji pertemuan baru dengan klien yang akan ditemui tersebut, sekaligus mencari cafe yang bisa dipesan dalam waktu yang mendadak seperti saat ini untuk melakukan pertemuan bersifat privat selama beberapa jam ke depan. Sungguh, jika bukan karena Savannah yang sangat mencintai karirnya itu, sudah dipastikan bahwa wanita itu akan langsung mengundurkan diri dari pekerjaan yang tiba-tiba saja bukan menjadi salah satu pekerjaan yang sudah diimpikannya sejak lama itu.
***
Sudah dua jam waktu berlalu dan pertemuan dengan klien pun masih sedang berlangsung. Tetapi selama hal tersebut berlalu, bahkan sejak dimulainya pertemuan itu. Savannah sudah memperhatikan bahwa seperti ada yang tidak benar, yang sedang terjadi pada sang atasannya tersebut. Raut wajah kesakitan yang sudah sekuat mungkin dilakukan oleh Duke, sayangnya masih bisa terbaca oleh sang asisten. Merasa bahwa sepertinya Duke benar-benar sedang sakit, membuat Savannah berinisiatif untuk memesankan secangkir teh hangat kepada pelayan yang berjaga tidak jauh dari meja yang di tempatinya itu.
Dan Savannah pun yang juga bisa membaca bahwa sepertinya sang atasan sudah tidak bisa melanjutkan pertemuan yang sudah tidak bisa membuat Duke berfokus terhadap hal yang sedang dibicarakan tersebut, membuat wanita itu sedikit mendekatkan tubuhnya menghampiri posisi sang atasan yang duduk tepat di sampingnya untuk membisikkan pertanyaan kepada Duke.
"Sir, apakah anda baik-baik saja?"
"Tidak," balas pria itu dengan singkat namun tetap berusaha menahan rasa sakit yang sedang dirasakan pada bagian perutnya itu.
"Hmm..., saya akan membuat kembali jadwal ulang pertemuan ini. Dan apakah anda ingin mengakhiri pertemuannya sampai di sini saja?"
"Ya, saya sudah tidak bisa menahan rasa sakit ini lagi."
"Baik, sir."
Setelah melihat sang atasan yang memang benar-benar sedang terlihat kesakitan, membuat Savannah langsung menyampaikan permohonan maaf kepada beberapa orang klien yang datang pada pertemuan tersebut, bahwa pembicaraan kerja sama yang sedang dipresentasikan itu harus diakhiri karena Duke saat ini pun sedang tidak berfokus untuk membicarakan mengenai kerja sama. Setelah Savannah meminta pengertian dan berjanji akan mengatur ulang jadwal pertemuan kembali dalam waktu dekat, para klien tersebut pun memakluminya dan memutuskan untuk pada akhirnya mengakhiri pertemuan tersebut juga. Dan setelah beberapa klien tersebut telah pergi meninggalkan cafe tersebut juga, Savannah pun mulai merasa panik karena ia bisa melihat wajah Duke yang terlihat pucat dan pria itu yang juga terus memegangi bagian perut atasnya.
"Sir, apa yang anda rasakan saat ini?"
"Perut saya, sangatlah sakit. Seperti ada yang menusuk-nusuknya."
"Hmm..., apakah anda pernah merasakan hal seperti ini?"
"Beberapa waktu yang lalu selama kehidupan saya mulai disibukkan dengan pekerjaan. Saya yang mulai melupakan makan, membuat saya menjadi memiliki hal yang sering saya rasakan seperti ini."
Mulai mengetahui akan hal yang sedang dialami oleh sang atasan setelah mendengar penjelasan tersebut, membuat Savannah semakin yakin bahwa lambung milik atasannya itu sedang menyampaikan rasa protes karena pola makan yang belakangan ini mulai tidaklah teratur dari sang pemilik.
"Hmm..., okay. Mungkin anda bisa bersandar terlebih dahulu, sir. Dan saya pun juga sudah memesankan teh hangat untuk anda," ucap Savannah setenang mungkin sambil sedikit mendorong bahu pria itu hingga tubuhnya yang menjadi bersandar pada sandaran kursi sofa yang sedang didudukinya itu. "Saya akan mencarikan obat untuk anda. Dan bisakah anda menahan rasa sakit ini sebentar, selagi saya mencari apotek di sekitar wilayah ini?"
"Cepatlah."
Setelah mendapatkan izin, Savannah pun langsung mengambil tas miliknya dan beranjak berdiri untuk mulai bergegas mencari apotek terdekat yang ia sendiri pun juga kurang mengenal wilayah di sekitar cafe tersebut. Dan setelah dengan sedikit berlari Savannah mencari-cari letak keberadaan apotek berdasarkan hasil pencariannya di internet, pada akhirnya ia pun bisa menemukan letaknya juga.
Dengan cepat ia membeli obat untuk meredakan rasa sakit pada lambung yang sedang dirasakan oleh atasannya tersebut. Tidak lupa juga dengan sebotol air mineral, Savannah pun langsung bergegas kembali menuju cafe agar ia bisa secepatnya memberikan obat kepada sang atasan. Dengan berlari, Savannah berusaha secepat mungkin untuk sampai di cafe. Dan setelah sampai di cafe itu kembali, wanita itu pun langsung memberikan obat yang dibelinya tadi kepada Duke.
"Sir..., huhh..., ini... obatnya. Minumlah," ucap Savannah dengan sedikit terengah karena sehabis berlari.
"Ada apa dengan nafasmu?"
"Tentu saja saya sehabis berlari mencari apotek terdekat untuk membeli obat ini, sir."
Sambil mengatur dan meredakan kembali nafasnya, Savannah pun memperhatikan Duke yang sedang meminum obatnya tersebut.
"Apakah sudah terasa lebih baik, sir?"
"Ya. Dan setelah ini saya ingin kembali ke kantor."
"Hmm..., tetapi, sir. Apakah tidak sebaiknya anda beristirahat saja? Agar kondisi anda benar-benar sampai pulih terlebih dahulu. Setidaknya sampai esok hari."
"Kalau begitu saya ingin pulang. Tetapi kau antar saya sampai di apartemen."
"Baik, sir. Saya akan menghubungi supir untuk mengantarkan anda kembali ke apartemen."
***
Suara bel yang terdengar pada apartemen tersebut, membuat Savannah langsung bergegas melangkah menuju pintu apartemen tersebut untuk membukakannya. Dan pada akhirnya setelah ia yang sudah menunggu cukup lama, makanan yang sudah dipesannya itu pun datang juga. Setelah mengambil makanan pesanannya tersebut, Savannah pun bergegas menuju dapur untuk menyiapkan makan malam untuk sang atasannya tersebut.
Setelah kembali dari pertemuan di cafe dengan sedikit insiden dimana Duke mengeluh kesakitan di bagian perutnya, kini Savannah benar-benar menjadi merawat pria itu. Mengantar pria itu sampai di apartemennya, menemani hingga waktu sudah malam hari seperti ini, dan Savannah masih berada di sana. Dengan setia ia menemani sang atasan, sampai ia yang nanti pada akhirnya mendapatkan izin untuk pulang dari sana.
Semangkuk sup yang dipesan tadi dengan secangkir teh yang dibuat oleh Savannah, mulai wanita itu bawa menuju kamar dimana Duke sedang beristirahat di sana. Dengan perlahan Savannah melangkah memasuki kamar tersebut bermaksud tidak ingin membangunkan seseorang yang sedang beristirahat itu. Namun rupanya seseorang yang tidak ingin ia ganggu itu sudah terbangun dari tidurnya, yang kini terlihat sedang duduk bersandar pada ranjang dimana ia berada dan sedang melihat layar ponselnya tersebut.
"Sir, sudah waktunya anda untuk makan malam." Ucap Savannah sambil melangkah menghampiri Duke, dan menaruh baki yang ia bawa berisi makan malam itu tepat di atas meja, di samping ranjang tersebut.
"Kau belum pulang dari sini?"
"Belum, sir. Saya tadi memesankan makan malam untuk anda, dan saya ingin memastikan agar anda sampai makan sebelum saya yang nantinya akan pulang."
"Kau adalah asisten saya, bukan perawat saya yang selalu siap sedia untuk merawat saya ketika sedang sakit."
"Tetapi jika tidak seperti ini, nanti lambung anda bermasalah lagi seperti tadi sore, sir. Lambung anda seperti itu karena jadwal makan anda yang tidak teratur dan pikiran anda yang juga sedang tertekan atau stres karena pekerjaan. Penyakit seperti itu tidak bisa diremehkan, sir. Jadi, anda harus mulai peduli dengan kesehatan anda ini."
"Kalau begitu suapi saya."
"Su..., tetapi, sir."
"Kau ingin melihat saya yang makan malam, bukan? Kalau begitu suapi saya."
"Hmm..., baik, sir."
Dengan sedikit ragu, Savannah pun mulai mengambil mangkuk berisi sup yang ia bawa tadi dan mendudukkan dirinya di tepi ranjang, di sisi Duke sedang setengah berbaring di sana. Sesungguhnya Savannah tidak ingin melakukan hal seperti itu. Tetapi, ia kembali berada pada pilihan yang sulit. Alhasil, mau tidak mau ia menjadi melakukan permintaan yang diperintahkan oleh atasannya tersebut. Dan dengan perlahan, Savannah pun mulai menyuapi sesendok sup kepada Duke yang langsung diterima dengan cepat.
"Mengapa sup? Sudah seperti orang sakit saja," protes pria itu yang harus membuat Savannah menghembuskan nafasnya dengan lebih sabar lagi.
"Tetapi anda memang juga sedang sakit, sir. Lambung anda yang sedang bermasalah sebaiknya diberikan makanan yang lembut dan ringan terlebih dahulu sampai anda bisa kembali pulih," balas wanita itu sambil kembali menyuapi pria itu.
"Kau sendiri, apakah sudah makan?"
"Belum, sir. Setelah kembali dari sini dan sampai di apartemen nanti, saya akan memesan makanan sendiri."
"Kau ini. Sejak tadi terus menasihati saya, tetapi sendirinya tidak dipikirkan. Kau ingin menjadi seseorang yang bijak, hah?"
"Tidak. Bukan seperti itu, sir. Saya hanya ingin memberitahu hal yang kebetulan saya ketahui saja, dan itu yang terbaik untuk anda saat ini."
"Kalau begitu pesanlah kembali makanan untukmu sendiri. Dan saat ini pun juga sudah larut malam. Jadi, sebaiknya kau menginap di sini."
"APA?!" Seru wanita itu dengan cukup keras karena refleks setelah betapa terkejutnya ia mendengar kalimat yang baru saja dikatakan oleh sang atasan itu terhadapnya. Kalimat hanya tidak percaya akan keluar dari mulut pria itu, yang mengandung sebuah hal baik di dalamnya.
***
To be continued . . .