Happy Reading . . .
***
Suara deringan dari panggilan masuk dari sebuah ponsel, sudah sejak tadi terus berbunyi dan seakan tidak ingin berhenti sampai membuat sang pemilik mau tidak mau membuka mata dan terbangun dari tidurnya. Dengan kondisi yang masih sangat mengantuk berat, Savannah mencoba untuk membuka matanya dengan perlahan dan terus didera oleh suara panggilan masuk yang berasal dari ponsel miliknya itu. Rasa kantuk yang masih teramat sangat dirasakannya itu membuat Savannah melirik jam digital yang berada di atas meja tepat di samping ranjang yang ditempati, dan berapa terkejutnya wanita itu karena saat ini waktu masih menunjukkan pukul empat pagi. Saat dimana seharusnya ia masih berada di alam mimpi, namun kini tidur nyenyaknya itu sudah diganggu oleh suara dari ponselnya tersebut.
Lalu dengan perlahan dan tidak ingin mengganggu tidur pria yang sedang memeluk tubuhnya itu, Savannah pun menyingkirkan tangan Dylan yang berada di perutnya sehingga membuat wanita itu menjadi tidak bisa bergerak, Setelah berhasil menyingkirkan tangan yang menahannya itu, Savannah pun mengambil kaos di dekat kakinya yang sebelumnya sudah Dylan lempar dengan sembarang sebelum keduanya menghabiskan malam bersama kembali dengan bercinta, dan kini dengan cepat ia sudah memakainya untuk setelahnya bisa bergegas mengambil ponsel yang masih berada di dalam tasnya, yang terletak di atas meja tidak jauh dari ranjang yang di tempatinya tadi.
Setelah menemukan ponsel di dalam tasnya tersebut, betapa terkejutnya ia melihat nama sang atasan yang tertera di layar ponselnya itu, yang rupanya sedang menghubungi dirinya di waktu yang sangatlah tidak tepat. Sambil memikirkan untuk apa sang atasan menghubunginya di waktu yang sangat pagi dan bahkan matahari saja pun belum terbit, Savannah pun mengangkat panggilan tersebut dan sebisa mungkin menyapa atasannya tersebut dengan sangat ramah. Walaupun sesungguhnya, di lubuk hatinya itu Savannah sudah siap untuk memaki-maki jika tidak ingat yang sedang menghubunginya saat ini adalah Duke McCarter. Sang atasan yang sedang memegang kendali atas karir cemerlang miliknya di masa depannya nanti.
"Selamat pagi, sir. Apakah anda sedang membutuhkan sesuatu?" Sapa Savannah dengan suara yang cukup serak, khas sekali bagi orang yang baru saja terbangun dari tidurnya.
"Saya tidak bisa menemukan kendaraan saya."
"Kendaraan?"
"Saya sehabis dari club, dan ketika saat ini saya ingin pulang. Saya tidak bisa menemukan mobil milik saya di depan club ini."
"Hmm..., ketika anda datang. Apakah anda menggunakan supir? Atau mengendarai kendaraan sendiri, sir?"
"Saya sendiri."
"Hmm..., kalau begitu ada kemungkinan mobil anda di derek."
"Di derek? Mengapa mobil saya di derek?"
"Mungkin ketika anda datang, anda memberhentikan atau memarkirkan mobil anda di rambu-rambu yang sudah menyatakan bahwa anda tidak diperbolehkan untuk parkir di sana, sir."
"Saya menggunakan valet. Jadi tidak mungkin mobil saya di derek."
"Kalau begitu anda bisa memanggil petugas valet di sana, sir."
"Saya akan kirim posisi club dimana saya berada melalui pesan. Dan dalam waktu singkat kau harus berada di sini. Saya tidak ingin berurusan dengan hal seperti itu."
"Sir..."
Dan panggilan tersebut pun langsung diakhiri secara sepihak, di saat Savannah sedang berusaha menjelaskan kepada sang atasan bahwa sesungguhnya ia sedang tidak berada di dalam kondisi yang menyulitkan. Namun Savannah tidak bisa melakukan apa-apa, setelah ia baru saja menerima alamat sebuah club yang sudah dikirimkan oleh Duke mengenai dimana posisi keberadaannya saat ini.
"Savee..."
Dan di saat wanita itu sedang mencerna sikap sang atasan yang sudah semakin terlihat seenaknya terhadap dirinya itu, sebuah panggilan yang terdengar pun membuat Savannah langsung memutar tubuhnya kepada sosok Dylan yang rupanya sudah mendudukkan dirinya di atas ranjang.
"Hei, maaf jika aku mengganggumu hingga sampai terbangun seperti ini." Balas Savannah sambil melangkah menghampiri ranjang dimana Dylan berada.
"Tidak masalah. Aku terbangun karena merasa sedang tidak memelukmu lagi. Memangnya ada apa?"
"Adikmu, tidak bisa menemukan mobilnya. Dan sekarang aku harus pergi hanya untuk mengurus mobil yang rupanya hanya berada di valet saja."
"Biar aku hubungi dia. Ini sudah sungguh keterlaluan."
"Dy, tidak perlu. Ini sudah menjadi bagian dari pekerjaanku."
"Tetapi ini sudah di luar jam kerjamu, Savee. Dan tidak seharusnya juga ia menjadi keterlaluan seperti ini kepadamu, hanya karena kau adalah asistennya."
"Dy..., sudahlah. Aku baik-baik saja," balas Savannah yang berusaha untuk menenangkan dan meyakinkan pria yang kini emosinya sedang mulai memuncak, dengan sedikit membelai lengan Dylan perlahan.
"Kalau begitu aku akan mengantarmu, dan tidak ada penolakan juga darimu. Ini masih pukul empat, dan kejahatan masih banyak yang terjadi di luar sana. Itu bisa membahayakanmu, Savee."
"Tetapi kau harus berjanji bahwa kau tidak perlu ikut campur, apalagi sampai ada pertengkaran."
"Aku janji. Aku akan menunggu di mobil saja, sampai kau selesai dengan pekerjaan yang sesungguhnya tidak perlu kau lakukan ini."
"Baiklah. Kalau begitu kita harus cepat memakai pakaian. Ia bisa marah kepadaku jika aku terlalu lama datang menghampirinya," ucap Savannah yang sudah dengan cepat mengganti pakaian kerja yang sebelumnya sudah ia pakai di hari sebelumnya, disusul dengan Dylan yang juga langsung mengambil beberapa pakaian yang berada di atas lantai dan dengan cepat sudah memakainya.
***
Tatapan lurus namun justru menyiratkan ketajaman yang sama-sama diberikan oleh Duke terhadap sang kakak laki-lakinya yang dilakukan dari kejauhan itu, langsung diputuskan oleh keberadaan Savannah yang menghampiri sang atasan dan sudah berada tepat di hadapannya setelah urusan mobil yang berada di valet tersebut telah selesai dengan cepat dan mudahnya.
"Mobil anda sedang dibawa oleh petugasnya, sir."
"Mengapa cepat sekali?"
"Tentu saja, sir. Anda pun sesungguhnya bisa melakukan hal seperti ini sendiri. Karena anda hanya tinggal memanggil petugasnya, dan meminta agar mobil anda bisa dikeluarkan setelah anda yang juga sudah menyelesaikan pembayaran valetnya."
"Kau tahu hal kecil seperti itu tidak seharusnya saya lakukan, bukan? Dan lagi pula, ini adalah salah satu tugas dan saya yang juga ingin memberikanmu sebuah tes. Apakah, pegawai yang begitu dibanggakan oleh seorang Jamie McCarter memang begitu berkualitas?". "Dan mengapa kau masih memakai pakaian yang sama seperti yang kau kenakan kemarin? Apakah kau tidak memiliki pakaian yang lainnya?" Tanya Duke yang menyadari akan pakaian yang dikenakan oleh Savannah itu.
"Saya sehabis menginap di tempat seseorang, sir. Jadi, saya belum sempat untuk mengganti pakaian karena saya belum kembali ke apartemen milik saya."
"Seseorang?"
"Ya..., hmm..., dia teman saya, sir."
"Saya pun sesungguhnya tidak peduli apakah dia temanmu atau bukan. Yang saya inginkan hanyalah kau yang datang ke kantor tidak dengan pakaian yang sama seperti ini. Karena kau sama sekali tidak terlihat profesional dan berkualitas, jika kau tidak memperhatikan penampilanmu. Empat jam dari sekarang adalah jam masuk kerjamu, dan jangan sampai kau berani untuk terlambat."
"Baik, sir."
Berakhirnya percakapan yang penuh dengan tekanan karena sifat arogan sang atasan yang sangat begitu bisa dirasakan oleh Savannah, bersamaan dengan datangnya sebuah mobil sport yang terlihat begitu mewah dan eksklusif berhenti tepat di hadapan Duke, dan membuat pria itu langsung melangkah menghampiri mobil miliknya tersebut. Sedangkan Savannah yang ditinggalkan dengan begitu saja membuat wanita itu menjadi merasakan perasaan sedikit marah dan kesal karena pengorbanan yang baru saja dilakukan sebagai seorang asisten itu, hanyalah dianggap rendah di mata Duke, membuat wanita itu dengan perasaan sangat kesal melangkahkan kakinya menghampiri keberadaan mobil milik Dylan yang terparkir tidak jauh dari tempat wanita itu yang dimana sebelumnya, kemampuan atas kerjanya itu hanya dianggap remeh oleh sang atasan.
"Belum terbiasa, hah?" Ucap Dylan bersamaan dengan Savannah yang mendudukkan dirinya di kursi penumpang tepat di sampingnya, bersamaan dengan pintu mobil yang juga langsung ditutupnya.
"Urghh! Ingin rasanya aku memaki-maki atas sikap arogan, yang sesungguhnya lebih menunjukkan kepada sifatnya yang bodoh itu! Hanya karena masalah valet saja, ia sampai harus menghubungi asistennya hanya karena ia yang tidak ingin berurusan dengan hal kecil seperti itu." Seru Savannah dengan perasaan penuh amarah, namun ia berusaha untuk tetap tidak mengeluarkan seluruh perasaan emosinya itu terhadap pria yang tidak bersalah tepat di sampingnya itu.
"Ini barulah permulaan," ucap Dylan yang sambil mulai menjalankan mobilnya.
"Dy, beritahu jika aku banyak mengeluh, okay? Terkadang aku menjadi tidak sadar akan hal yang sedang aku lakukan."
"Mendengarmu mengeluh sangat menggemaskan, kau tahu?"
"Dy..." Protes Savannah sambil menunjukkan wajah kesalnya terhadap pria di sampingnya itu.
"Baiklah, baiklah. Aku akan memberitahumu."
"Dan bisakah sekarang kau mengantarku ke apartemen milikku. Aku harus bersiap-siap untuk pergi ke kantor, jika aku tidak ingin terlambat dan berakhir dengan terus diremehkan oleh atasan baruku itu."
"Tetapi ini baru pukul lima lewat sedikit, Savee. Kau masih memiliki banyak waktu untuk beristirahat."
"Bagiku, sedikit atau banyak waktu istirahat yang aku miliki, itu tidak akan mengubah pandangan apapun seorang Duke McCarter terhadapku."
"Setidaknya, kau harus memikirkan dirimu sendiri. Jika kau hanya memikirkan pandangan baik atau tidak baik terhadap orang lain, percayalah semua itu tidak akan ada artinya dan hanya terasa sia-sia saja. Semakin kau memikirkan pandangan orang lain, maka kau akan semakin tidak peduli dengan dirimu sendiri."
"Kau memang pantas menjadi penasehatku," ucap Savannah sambil mesandarkan kepalanya pada bahu pria di sampingnya itu. "Bangunkan aku jika sudah sampai di apartemenku, okay?"
"Tidurlah," balas Dylan sambil merangkul tubuh Savannah dengan satu tangannya yang tidak memegang kendali kemudi dan membelai puncak kepala wanita itu berharap bisa menjadi pengantar tidur yang menenangkan.
***
To be continued . . .