Happy Reading . . .
***
"Bisakah kau membuatkan secangkir kopi lagi? Dokumen ini tidak akan selesai dalam waktu dekat."
"Segera datang, sir."
Suara yang terdengar dari intercom yang berada di meja Savannah itu pun, langsung membuatnya beranjak dengan sedikit malas karena lelah dari kursi kerjanya menuju meja bar yang berada di sudut ruangannya itu. Bukannya Savannah merasa malas dengan tanggung jawab pekerjaannya itu, tetapi saat ini waktu sudah menunjukkan sepuluh malam dan ia masih seakan tidak diizinkan untuk pulang juga oleh atasannya itu. Jam kerja wanita itu pun sudah berlalu sejak beberapa jam yang lalu, tetapi di saat ia yang hendak merapikan barang-barang miliknya sebelum ia memutuskan untuk pulang, sang atasannya itu selalu saja menahan Savannah dengan meminta sesuatu entah apapun itu yang membuat wanita itu jadi mau tidak mau menjadi menunda kepulangannya tersebut.
Tidak hanya Savannah saja yang merasa sudah lelah untuk hari ini, ia pun juga memikirkan sosok Dylan yang sudah sejak jam kantor telah selesai pria itu memutuskan untuk menunggu dirinya sampai kapan pun pekerjaannya selesai, seperti janji yang sudah diucapkan tadi siang kepadanya. Savannah merasa sangat tidak enak karena sudah membiarkan Dylan yang menunggu. Tetapi, ia justru akan bertambah semakin tidak enak jika harus membatalkan rencana makan malam yang sudah ingin Dylan persiapan untuk dirinya, dan justru hanya akan semakin membuat pria itu merasa kecewa dengan dirinya saja. Savannah hanya berharap jika Dylan memiliki kesabaran tingkat tinggi serta pengertian terhadap dirinya. Walaupun sudah tidak diragukan lagi bahwa pasti pria itu akan memiliki sikap itu, di saat Savannah nanti yang akan meminta maaf kepada Dylan.
Setelah wanita itu selesai membuatkan secangkir kopi baru untuk sang atasannya itu, ia pun langsung bergegas membawakannya menuju sebuah ruangan yang berada tepat di samping ruangan miliknya melalui sebuah pintu kaca yang terbuka secara otomatis.
"Kopi anda, sir." Ucap Savannah sambil mengganti posisi cangkir sebelumnya, yang isinya sudah kosong dengan cangkir berisi kopi buatannya yang baru. "Apakah ada lagi yang anda butuhkan? Mungkin makan malam, sir. Sejak tadi anda tidak meminta saya untuk memesankannya," sambung wanita itu yang memiliki inisiatif memberikan penawaran.
"Saya tidak terbiasa dengan makan malam," balas Duke dengan singkat tanpa mengalihkan sedikit pandangan dari layar laptop tepat di hadapannya itu.
"Kalau begitu apa ada hal lain lagi yang anda butuhkan?"
"Tidak. Kau bisa pulang saja."
Hembusan kecil akan rasa lega yang dirasakan pun Savannah keluarkan dengan refleks karena pada akhirnya ia pun diizinkan untuk pulang juga oleh atasannya tersebut.
"Baik, sir. Kalau begitu saya pamit pulang terlebih dahulu. Selamat malam."
Setelah berpamitan, Savannah pun langsung bergegas melangkah menuju ruangan miliknya untuk mengambil tas. Semua barang yang berada di mejanya pun sejak tadi sudah ia rapikan, dan begitu juga dengan tasnya. Ia yang sesungguhnya sejak tadi sudah ingin pulang, sengaja sudah melakukan hal itu agar setelah ia yang mendapat izin, ia bisa langsung bergegas keluar dari ruangan kerjanya itu. Dan kini ia pun sudah melakukannya. Setelah mengambil tas miliknya, Savannah pun langsung bergegas keluar darin ruangannya untuk menuju lift. Ia tidak sabar menghampiri sosok Dylan yang sudah rela menunggu dirinya selama berjam-jam lamanya di lobby kantor.
Dari wanita itu yang menaiki lift dari lantai tiga puluh tujuh hingga berada di lantai lobby, entah mengapa senyuman di bibirnya tidak bisa ia hilangkan atau kendalikan. Dan beberapa langkah Savannah berjalan mencari keberadaan Dylan di sana, ia pun menemukan sosok yang ia cari sedang bersandar pada dinding tepat di sampingnya, di atas kursi yang di dudukinya tersebut. Setelah melangkah menghampiri Dylan, Savannah pun mengusap wajah pria itu yang terlihat sedang menutup matanya sejenak setelah pria itu yang tidak tersadar sudah tertidur di sana.
"Hei, bangunlah."
Usapan lembut yang Savannah berikan itu pun membuat Dylan perlahan demi perlahan membuka matanya dan menatap sosok wanita yang membangunkannya itu dengan tersenyum.
"Kau sudah selesai?" Tanya Dylan kepada Savannah.
"Ya. Hei, maafkan aku jika lama. Kau sampai-sampai tertidur di sini seperti ini."
"Tidak masalah. Aku yang memang ingin menunggumu, bukan?"
"Kalau begitu, ayo kita ke apartemenmu. Kau masih ingin membuatkan makan malam untukku, bukan?"
"Tentu saja."
Dengan saling menggenggam tangan, keduanya pun melangkah keluar dari lobby tersebut untuk bisa segeran sampai di apartemen Dylan. Namun, kepergian keduanya itu sejak tadi sudah diintai oleh seseorang dari kejauhan yang mulai merasa ingin tahu akan hubungan yang terjalin di antara Dylan dan Savannah yang memang tersembunyi dan jauh dari pandangan publik.
***
Suasana hati yang baik, sedang Savannah rasakan setelah ia yang baru saja selesai membersihkan tubuhnya, dan melangkah menuju bagian dapur yang berada di apartemen yang sedang ia kunjungi itu.
"Dy, bolehkah aku meminjam kaosmu ini?" Tanya Savannah yang sudah berdiri tidak jauh dari posisi pria itu yang membelakangi karena sedang disibukkan dengan masakannya itu.
"Tentu, Sayang. Kau bisa memakai apapun itu yang menjadi milikku," balas Dylan tanpa mengalihkan pandangan dari fokus kegiatannya tersebut.
"Tetapi mengapa yang ini terasa begitu sempit di tubuhku? Apakah ini kaosmu ketika kau masih kecil?"
Merasa bingung atas ucapan Savannah yang tidak dimengertinya itu, membuat Dylan langsung mengalihkan pandangan kepada wanita itu dan betapa terkejutnya ia pada saat mendapati Savannah yang sudah memakai kaos lama yang sudah begitu kecil milik pria itu, sehingga kini pada saat dipakai oleh wanita itu membuat seluruh tubuhnya yang luar indah nan sempurna itu terlihat dengan jelas menembus dibalik kaos bewarna putih sebatas tinggi setengah pahanya, yang juga sudah sedikit transparan. Belum lagi rambut panjang wanita itu yang sepenuhnya basah sehabis mandi, semakin membuatnya terlihat begitu menggoda bagi Dylan yang melihat hal yang seperti sengaja disajikan oleh Savannah.
"Apakah kau sedang mencoba untuk menggoda?" Ucap Dylan yang langsung meninggalkan masakannya itu, dan bergegas melangkah menghampiri Savannah yang sudah jelas lebih menarik dari pada masakannya itu.
"Menggoda apa? Aku hanya bertanya saja, mengapa kaosmu ini begitu sempit di tubuhku?"
"Dengan pertanyaanmu yang seperti itu dan pilihan kaosmu yang seperti ini, sudah jelas sekali bahwa kau menggodaku?" Balas pria itu sambil menarik tubuh Savannah ke dalam dekapannya.
"Hanya ini yang bisa aku temukan di lemarimu."
"Benarkah? Tetapi aku tidak percaya. Kau pasti mengambilnya di bagian paling bawah, bukan?"
"Kau benar."
"Itu pakaian-pakaian milikku yang sudah lama dan di tubuhku sudah tidak muat lagi, Savee."
"Tetapi mengapa di tubuh juga menjadi sempit?"
"Masih ingin tahu jawabannya?" Tanya Dylan sambil menurunkan tangannya yang sebelumnya berada di pinggang wanita itu dan kini sudah berada di b****g Savannah.
Bentuk tubuh wanita itu yang memang berisi di bagian tubuh seorang wanita yang seharusnya itulah, yang menjadi alasan mengapa kaos yang di pakainya itu menjadi terasa sempit. Bagian tubuh atas dan bawah Savannah yang begitu menjanjikan bagi seorang wanita, adalah alasannya.
"Hei, dimana celana dalammu?" Sambung pria itu saat bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda di sana.
"Aku tidak memakai apapun di balik kaos ini," balas Savannah dengan senyuman penuh arti di bibirnya.
Dan saat itu juga, Dylan pun langsung mencium Savannah dan tidak memberikan kesempatan untuk wanita itu bisa melemparkan protesnya. Ciuman yang tidak pernah berlangsung dengan lembut itu, selalu membawa keduanya ke dalam hasrat untuk bercinta. Namun tidak ingin hal tersebut semakin berlangsung semakin dalam, membuat Savannah dengan cepat menarik dirinya untuk mengakhiri ciuman tersebut.
"Hei, bagaimana dengan masakanmu? Aku sudah menunggu sejak tadi, kau tahu?"
"Ingin rasanya aku menunda, tetapi aku sudah berjanji kepadamu untuk membuatkan makan malam."
"Jadi?"
"Aku akan menagihnya setelah makan malam kita selesai."
Dengan tersenyum, Savannah pun memperhatikan Dylan yang melangkah meninggalkannya untuk melanjutkan kembali masakan yang sempat tertunda tadi.
"Kau tahu, Dy? Adikmu itu benar-benar sungguh menyebalkan. Yang benar saja, baru satu hari aku bekerja untuknya. Tetapi ia sudah begitu tega kepadaku dengan seakan tadi sangat sulit untuk mengizinkanku untuk pulang. Belum lagi ia yang sangat senang meminta banyak hal dan seakan tidak mengizinkanku untuk beristirahat sejenak," keluh Savannah sambil mendudukkan diri di sebuah meja makan kecil yang berada di bagian dapur tersebut itu juga.
"Itu baru satu hari, Savee. Bagaimana jika satu minggu? Satu bulan? Satu tahun? Apakah kau masih bersedia untuk bekerja bersamanya?"
"Sebisa mungkin aku ingin bertahan."
"Kalau begitu bertahanlah sekuatmu. Sebisa mungkin sampai pada akhirnya nanti kau benar-benar ingin berhenti."
"Tetapi, bisakah kau juga bertahan di sana, Dy? Aku ingin kau bisa selalu berada di sana untuk menemaniku. Aku tidak ingin sendirian menghadapi pekerjaanku, yang ke depannya nanti pasti tidak akan mudah."
Dengan membawa sebuah piring berisi makanan yang baru saja selesai dimasaknya, Dylan pun melangkah menghampiri meja makan dimana Savannah berada untuk menaruh makanannya di sana.
"Tentu, Savee. Aku tidak akan pernah pergi meninggalkanmu sendirian."
"Janji?"
"Janji," balas Dylan yang langsung mengecup bibir Savannah, yang selalu membuat pria itu kecanduan karenanya.
"Dengan aku meminta seperti itu. Bukankah kau juga akan menjadi, mungkin sesekali akan merasa sedikit sakit hati seperti kejadian tadi siang?"
"Jika untuk dirimu, aku akan mengabaikan mereka. Bahkan aku sangat ingin selalu seperti itu. Mengabaikan mereka yang selalu mengabaikan keberadaanku," balas Dylan sambil mendudukan dirinya di kursi yang tepat berada di hadapan Savannah.
"Kau memilikiku, Dy. Jadi jangan merasa bahwa kau ini selalu sendirian, okay?" Ucap wanita itu sambil menggenggam tangan Dylan yang berada di atas meja.
"Aku tahu. Maka dari itu, aku pun ingin memperjuangkanmu sampai kau menerimaku menjadi kekasihmu."
Senyuman pun terbit di bibir Savannah yang membuat Dylan dengan refleks juga ikut tersenyum setelah melihat wajah wanita yang dicintainya itu bisa tersenyum karenanya.
"Makanlah, kau harus mencoba daging panggang buatanku."
"Aku tidak perlu meragukannya lagi setiap masakan buatanmu ini. Aku jamin pasti rasanya sangatlah lezat."
"Jangan merayu."
"Aku tidak merayu. Kau saja yang menjadi mudah perasa," balas Savannah dengan tawa kecil di dalam ucapannya dan mulai mengambil sebuah garpu untuk mencoba makanan yang sudah dibuat oleh Dylan hanya untuknya itu.
"Bagaimana? Apakah ada yang kurang?" Tanya Dylan sambil memperhatikan Savannah yang sedang memakan masakannya itu.
"Hmm..., sudah aku duga ini tidak perlu diragukan lagi."
"Benarkah?"
"Ya. Kau sempurna, Dy. Seorang pria yang pandai memasak adalah...., nilai tambah serta sebuah kesempurnaan juga. Dan kau adalah salah satunya."
"Kau pun juga sebuah kesempurnaan, Savee."
"Benarkah?"
"Ya. Dan aku sangat mengagumi kesempurnaan milikmu itu," ucap Dylan yang mulai beranjak dari duduknya, dan melangkah menghampiri Savannah.
"Aha?"
Pandangan wanita itu yang sudah mengikuti setiap gerakan Dylan yang semakin menghampirinya itu, membuat senyuman penuh arti mulai mengembang di wajah Savannah.
"Ya. Dan aku akan membuktikannya."
Dylan yang langsung mengangkat tubuh Savannah ke gendongan dan membawa wanita itu menuju kamar, membuat Savannah tidak bisa menahan tawa kecil yang sudah sejak tadi ditahannya.
"Hei, aku belum menyelesaikan makan malamku. Kau tahu?" Protes wanita itu bermaksud memberikan godaan.
"Oh, ya? Dan sekarang giliran aku yang ingin menyantap hidangan makan malam yang sudah kau persiapkan dengan istimewa untukku ini. Aku sudah sangat merindukan mereka."
"Mereka?" Tanya Savannah yang sedikit bingung.
"Milikmu, yang juga menjadi milikku ini. Yang terasa begitu menyenangkan untuk terus dicoba."
"Dylan..." Protes wanita itu dengan tawa bersamaan dengan tubuhnya yang diletakkan di atas ranjang, dan dengan cepat juga langsung ditindih oleh tubuh pria itu yang tanpa lama sudah mulai mencumbu tubuh yang selalu membuatnya kecanduan dan tergila-gila akannya.
***
To be continued . . .