Happy Reading . . .
***
Sambil menutup mata, pijatan kecil pun sedang Savannah lakukan pada kedua pelipisnya itu, membuatnya berharap agar rasa sakit di kepalanya tersebut bisa sedikit mereda. Namun hal yang sudah diketahui bahwa hal seperti itu tidak akan bisa menghilangkan rasa sakit tersebut dan hanya terasa percuma saja, membuat Savannah menghembuskan nafasnya dengan berat dan memutuskan untuk beranjak berdiri dari kursi kerjanya dan melangkah menuju meja bar yang berada di sudut ruangannya. Berharap agar secangkir kopi yang akan dibuatnya nanti dapat membantu dirinya itu meringankan beban pikiran yang sedang dirasakannya itu hingga membuat kepala milik wanita itu menjadi terasa begitu sakit.
Perihal mengenai kejadian dimana dirinya itu telah menghabiskan malam bersama dengan sang atasan, membuat wanita itu menjadi berada di posisi yang serba salah. Hal yang tidak ia duga akan berdampak sangat besar dan begitu buruk ini, membuat Savannah menjadi harus berpikir dua kali mengenai hal haruskah dirinya itu merasa menyesal karena malam yang penuh kenikmatan itu telah terjadi bersama dengan Duke. Tetapi bagaimana bisa ia memungkiri dan bersikap munafik dengan berpura-pura menyesal, disaat dirinya saja menginginkan dan menikmati hal yang telah terjadi itu?
Tidak hanya berdampak pada kejadian percintaan semalam hingga Duke yang sudah dengan cukup percaya diri mengatakan bahwa dirinya itu mencintai Savannah dan hingga membuat wanita itu terus selalu menjadi kepikiran akannya, tetapi ia pun juga memikirkan bagaimana perasan Dylan jika pria itu sampai mengetahui hal yang telah terjadi di belakangnya. Mungkin saja pria itu yang benar-benar langsung menjadi begitu marah terhadap Savannah, karena dengan teganya wanita itu mengkhianati dirinya dan yang lebih buruknya lagi, pria lainnya itu adalah sang rival yang tidak sudah jelas adik laki-laki yang sangat dibenci dan sangat tidak disukainya.
Dan memikirkan semua hal itu saja, kepala Savannah benar-benar sudah ingin pecah. Layaknya ada bom waktu yang terikat di bagian belakang kepalanya, dan siap untuk kapan saja meledak jika waktu hitung mundurnya benar-benar telah habis. Bahkan dengan pemikiran berat seperti itu yang tentu akan begitu banyak menyita fokusnya, membuat Savannah belum sempat menyelesaikan pekerjaannya. Dan hanya menyentuh satu pertiga, dari keseluruhan pekerjaan di saat waktu saja saat ini sudah menunjukkan pukul enam sore. Dan itu semua karena permasalahan pribadi kehidupannya, yang kini entah mengapa tiba-tiba saja menjadi terasa begitu lebih dominan dari pada terhadap kehidupan karir miliknya, yang seharusnya menjadi fokus utama dirinya dalam menjalani kehidupan.
Merasa tidak akan ada habisnya memikirkan mengenai permasalahan tersebut, membuat Savannah ingin berusaha untuk fokus. Paling tidak untuk satu hari ini saja, dimana jam kerjanya yang sesungguhnya sudah berakhir namun baru ada beberapa pekerjaan miliknya saja yang baru selesai dikerjakannya. Padahal sudah selama seharian ini semenjak terakhir kali Savannah meninggalkan Duke dengan begitu saja di apartemennya tadi pagi, wanita itu belum juga bertemu kembali dengan sang atasan yang entah mengapa tidak juga datang ke kantor.
Dan seharusnya hal seperti itu lebih Savannah manfaatkan untuk bekerja sedikit lebih leluasa, jika dibandingkan dengan dirinya yang nanti pasti akan bertemu kembali dengan Duke dan merasa bahwa situasi di antara keduanya pasti akan terasa begitu canggung. Namun hal yang masih Savannah tidak ingin lakukan mengenai dirinya yang lebih baik tidak bertemu dengan atasannya terlebih dahulu, justru membuatnya kini harus menghadapi pria itu yang tanpa Savannah sadari sudah berada di ruangannya dan sedang melangkah menghampiri dirinya.
"Aku ingin bicara," ucap Duke yang langsung ke inti pembicaraan.
"Bicaralah."
"Di ruanganku."
Tangan Savannah yang langsung ditarik dengan begitu saja, membuat wanita itu juga tentu jadi meninggalkan kopi yang belum sempat dibuatnya karena ia yang baru saja sampai menuangkan bubuk kopi ke dalam mesin kopi, namun ia sudah terlebih dahulu diajak menuju ruangan pria itu yang katanya ingin membicarakan sesuatu hal. Dan setelah sampai berada di ruangan Duke, membuat pria itu langsung menghimpit tubuh Savannah pada tepi meja kerjanya yang besar itu, hingga membuat wanita itu tidak bisa bergerak.
"Selama satu hari ini, aku tidak datang ke kantor karena memiliki alasan. Aku sudah memikirkan semuanya."
"Semuanya? Semuanya apa, Duke?" Tanya Savannah dengan bingung karena ia yang memang tidak mengerti arti dari ucapan yang dikatakan oleh pria itu.
"Tentang kita. Kau dan aku."
"Aku mengatakan sudah tidak ingin membicarakannya lagi, bukan?"
"Dengarkan aku terlebih dahulu. Hal yang sudah terjadi di antara kita, begitu berarti untukku, Savannah. Dan jika hanya karena aku yang menjadi atasanmu menjadi menghambat atau penghalang untuk terjalinnya hubungan di antara kita, sebaiknya aku berhenti saja dari pekerjaan dan jabatan yang aku miliki ini. Aku rela berhenti agar aku bisa bersama denganmu. Kau yang merasa tidak nyaman jika aku menjadi atasanmu, tidak masalah. Biar aku saja yang berkorban, asalkan untuk kita."
"Ini bukan hanya karena masalah kau adalah atasanku atau bukan, Duke. Bukan karena hal itu saja. Tetapi ini masalah hati dan perasaan juga. Kau harus memikirkan mengenai perihal itu juga agar kau tidak dianggap egois."
"Aku mencintaimu. Apakah itu tidaklah cukup?"
"Tetapi aku tidak, Duke! Aku tidak mencintaimu."
Ucapan Savannah yang terdengar sangat jelas dan cukup tegas itu langsung membuat Duke memundurkan posisinya yang sebelumnya menghimpit tubuh wanita itu, tetapi setelah kalimat yang tidak bermaksud keluar dengan begitu saja dari bibir Savannah, membuat pria itu melangkahkan kakinya dengan lemah menuju sofa di ruangannya tersebut, dan terlihat dengan sangat jelas akan raut wajah kecewa yang berada pada sosok Duke setelah ia yang harus menelan rasa kekecewaan atas kenyataan yang diterimanya itu. Dan sedangkan Savannah yang melihat kekecewaan seperti itu dari Duke pun langsung merasakan tidak enak karena ia sudah cukup sedikit kasar terhadap pria itu.
Merasa situasi yang tiba-tiba saja dengan cepat sudah berubah menjadi canggung, membuat dengan cepat langsung menghampiri keberadaan Duke yang sudah mendudukkan dirinya di salah satu sofa tersebut. Sesungguhnya wanita itu masih belum mengetahui bagaimana caranya agar ia bisa menenangkan Duke dan memaafkannya, disaat ia saja yang masih belum begitu banyak mengenal sifat asli yang cukup dalam dari pria itu. Namun menenangkan seseorang di saat perasaannya sedang kalut seperti itu, rasanya bukanlah hal yang buruk karena hal seperti itu sudah menjadi bagian dari inisiatif Savannah.
Dan setelah Savannah menghampiri keberadaan Duke, wanita itu pun mendudukkan dirinya di samping pria itu dan mengusap lembut bahu Duke bermaksud untuk memberikannya ketenangan. Dengan menggenggam tangan Duke menggunakan satu tangannya, Savannah pun mulai membuka pembicaraan kembali dengan pria itu.
"Duke, maafkan aku jika tadi sedikit kasar kepadamu. Bukannya aku ingin mengecewakan perasaanmu dan juga menyakiti hatimu. Tetapi, aku hanya tidak ingin membuatmu semakin menjadi merasa kecewa denganku. Aku ingin kau memberitahumu sejak awal, agar kau tidak terus berharap kepadaku dan menjadi berakhir pada rasa sakit yang akan semakin kau rasakan jika kau tidak mengetahui kenyataannya. Maka, aku pun ingin meminta kepadamu agar hubungan di antara kita sebaiknya cukup berada di antara profesionalitas saja. Kau adalah atasan dimana tempatku bekerja, dan aku adalah asistenmu. Dan bahkan, dulu pun sepertinya kau terlalu menganggapku rendah dengan kinerjaku yang selalu kau ragukan itu. Lalu, bagaimana jika hubungan di antara kita dikembalikan seperti itu lagi? Mungkin, dengan begitu situasi di antara kita akan kembali seperti dulu lagi."
"Aku telah begitu salah besar. Tidak seharusnya aku bersikap seperti itu kepadamu sejak awal. Dan apakah kau tahu? Baru kali ini, hanya kepadamulah aku merasakan hal seperti ini. Aku benar-benar merasakan jatuh cinta, mencintaimu seorang wanita yang membuatku merasa bahwa kau adalah yang tepat untukku. Kau yang terbaik, yang aku inginkan di hidupku. Mungkin, bagimu yang mendengar dan melihat kenyataan yang aku katakan tadi adalah sebuah omong kosong belaka. Tidak mungkin pria sepertiku ini memiliki rasa cinta yang teramat sangat terhadap seorang wanita sampai seperti itunya, bukan? Tetapi, itulah kenyataan yang sesungguhnya. Aku mencintaimu, wanita yang membuatku merasakan sadar akan arti dari sebuah cinta yang sesungguhnya."
"Kau yakin sudah menemukan arti yang sesungguhnya? Kau yakin akan semua hal itu?"
"Aku sudah yakin bahwa kau tidak akan percaya dengan kenyataan semua itu. Tidak masalah jika kau tidak percaya dengan perasaanku itu."
"Tidak, bukan seperti itu, Duke."
"Sudahlah. Aku tidak ingin memaksamu. Kau ingin hubungan di antara kita hanya sebatas profesional saja? Maka, baiklah. Aku akan melakukannya untukmu."
Nada bicara yang terdengar begitu kecewa dan sedih, bisa Savannah dengar dengan sangat jelas. Kelemahan wanita itu pada akhirnya diserang juga. Dimana ia pasti akan selalu merasa kasihan, tidak tega, jika ada seseorang yang menjadi kecewa karena dirinya. Apalagi di sini dirinya berposisi sebagai bawahan pria itu, posisi terdekat yang pasti setiap harinya akan selalu bertemu dan nantinya juga akan menimbulkan rasa canggung jika ada sedikit hubungan di antara keduanya yang sedang renggang hanya karena permasalahan pribadi. Dan dengan begitu, Savannah tentu tidak akan melakukan hal dimana ia akan membiarkan hubungannya bersama dengan Duke menjadi terasa canggung hanya karena pria itu yang merasa kecewa dengan dirinya.
"Duke, aku pernah mengatakan ingin lebih fokus kepada karirku terlebih dahulu, bukan? Dengan karir yang menjadi fokus utamaku, tentu mengenai masalah kehidupan pribadi lainnya, apalagi sampai ke percintaan, itu akan menjadi hal yang akan aku pikirkan nanti. Jadi, jika kau berpikir aku yang tidak ingin menerima rasa cintamu kepadaku hanya karena masalah ada orang lain atau masalah penghalang lainnya, itu sangat salah besar. Aku lebih memilih untuk lebih ingin memiliki hubungan yang kasual, yang tanpa status dengan seorang pria, semua itu karena aku masih ingin bebas dengan kehidupanku. Aku tidak ingin berkomitmen dan membuatku jadi terkekang dalam suatu hubungan yang pasti, tetapi harus aku pertanggung jawabkan. Aku masih tidak siap dan tidak ingin melakukan hal seperti itu terlebih dahulu, paling tidak sampai pada akhirnya nanti aku akan siap."
"Jika hanya karena masalah status, aku tidak keberatan jika kau menginginkan hubungan kasual juga denganku. Aku sama sekali tidak akan mempermasalahkannya. Aku ingin menghargai apapun itu keputusan dan keinginanmu. Asalkan aku bisa selalu bersamamu, selainnya aku akan mengerti."
"Kau tahu aku sedang menjalani hal itu dengan orang lain juga, bukan?"
"Ya. Aku pun juga tidak melupakan hal itu. Tetapi, aku pun tidak mempedulikannya."
"Ini akan menjadi sangat sulit jika kau terus memaksa, Duke."
"Tadi aku sudah mengatakan bahwa aku tidak ingin memaksamu. Aku hanya mengatakan hal yang aku inginkan saja. Jika kau tidak sama seperti pemikiran dan keinginan yang aku miliki, aku tidak mempermasalahkannya."
"Kita yang masih sama berada dalam lingkungan kantor, akan terasa sangat tidak profesional."
"Aku tidak mempedulikannya."
"Bisakah kita nanti masih bersikap profesional jika lebih dari ini?"
"Membutuhkan jaminan?"
"Kita jalani saja tanpa rencana dan dengan begitu saja layaknya air mengalir. Dan..., mungkin menjadi rahasia untuk semua orang."
"Bagiku, hal itu sudah lebih dari cukup." Dengan tersenyum, Savannah pun menganggukan kepala setelah mendengar jawaban Duke tersebut. Tidak bermaksud bagi Savannah untuk memberikan banyak harapan kepada banyak pria. Hanya saja, jika hanya untuk bisa lebih dekat dengan beberapa pria yang merasa nyaman jika berada di dekatnya, untuk Savannah mengapa hal seperti itu bisa dilakukannya? Karena baginya, semua pria yang ingin dekat dengannya dan belum menjalin suatu hubungan secara resmi, semua itu hanyalah bersifat sebagai teman saja dan tidak lebih. Dan jika pun lebih, hal itu hanyalah sebatas kebutuhan setiap orang dewasa yang harus dituntaskan dalam satu malam yang penuh dengan hasrat dan gairah.
***
To be continued