Happy Reading . . .
***
Akibat pengaruh dari alkohol yang benar-benar sedang menguasai keduanya, kedua insan yang sedang saling memberikan cumbuan di sela-sela ciuman tersebut membuat gairah yang mulai menyala semakin menjadi terbakar. Tubuh keduanya pun juga sama-sama saling merasakan rasa panas akibat dari minuman alkohol yang jumlahnya sudah tidak bisa dihitung lagi akan berapa banyak gelas alkohol yang keduanya saling konsumsi di sebuah club itu. Dan kini, setelah kesadaran hampir tidak dimiliki oleh keduanya dan hanyalah rasa gairah yang dimiliki, dengan sangat percaya diri Duke pun memutuskan untuk membawa Savannah menuju apartemennya, karena hasrat akan bercinta yang sudah begitu pria itu ingin lakukan sudah tidak bisa dicegahnya lagi.
Dan sedangkan Savannah yang sebelumnya tidak sempat untuk mengeluarkan hasratnya yang sudah siap untuk dikeluarkan namun harus tertunda, kini dengan ia yang merasakan kembali hal tersebut membuatnya justru menjadi memiliki rasa begitu menggebu-gebu dalam hal yang kali ini hendak kembali ingin dilakukannya itu. Walaupun sedikit rasa sadar masih bisa wanita itu rasakan bahwa dirinya itu sedang bersama dengan pria lain, dan yang lebih buruknya lagi adalah sosok tersebut adalah sang atasan. Membuat Savannah tetap ingin melakukan hal yang sudah membuat akal sehatnya itu menjadi menghilang entah kemana, karena sudah digantikan oleh api gairah yang sedang membakar tubuhnya itu.
Dan kini, di dalam kamar apartemen milik Duke. Di atas ranjang berukuran sangat besar dan terasa nyaman ketika sudah berbaring di atasnya, membuat Savannah hanya bisa menerima setiap perlakuan pria itu yang mulai membuka satu per satu pakaiannya sambil memberikan cumbuan pada tubuh wanita itu. Rasa panas dan juga sensasi akan rasa nikmat yang datang secara bersamaan dan sedang dirasakan oleh Savannah hanya bisa membuat wanita itu mulai mengeluarkan desahan dan lenguhan sambil menutup kedua matanya, dengan sesekali mencengkram bagian tubuh Duke juga.
Hingga setelah beberapa saat pria itu telah berhasil membuka seluruh pakaian yang menutupi tubuh Savannah dan juga mulai sedikit menikmatinya karena sebuah cumbuan yang sesungguhnya belum membuatnya merasa puas akan hal itu, membuat Duke ingin memanfaatkan waktu sejenak tersebut untuk memandangi dan memuja tubuh wanita yang sudah sejak lama didambakannya, dan memang terlihatlah sangat sempurna akan setiap kepemilikan bagian tubuh Savannah.
"Kau..., sungguh sangat sempurna, Savannah." Ucap pria itu dengan rasa kagum akan dirinya terhadap wanita yang sedang berada di bawah kungkungan dirinya.
"Kau bisa memujiku dengan hal apapun itu nanti. Tetapi, bisakah saat ini kita langsung memulainya saja? Aku sungguh sudah tidak bisa menahannya lagi."
"Kau tidak bisa menahannya?"
"Ya."
"Tetapi memangnya menahan apa?"
"Duke..., oh, ayolah. Hentikan hal itu, atau kau akan menyesal karena percintaan ini akan gagal."
"Okay? Ancamanmu itu sungguh bisa membuatku merasa takut. Jadi, kita mulai sekarang?"
"Ya. Aku menginginkannya. Sekarang!"
"Tenanglah. Kau akan mendapatkannya, Savannah."
Berakhirnya kalimat yang pria itu ucapkan, membuatnya langsung membuka seluruh pakaian miliknya yang masih lengkap menempel di tubuhnya dengan kecepatan penuh. Tidak ingin menyia-nyiakan hal yang sudah langsung mendapatkan lampu hijau dari wanita yang di dambakannya itu, membuat Duke langsung masuk ke inti permainan dengan melakukan hal yang sungguh tidak ia duga akan datang secepat yang pernah dibayangkannya. Kini dengan segala keinginan dan mimpinya yang sebentar lagi akan terwujud, membuat Duke terus berusaha menahan dirinya pada hal yang membuat pria itu menjadi begitu bersemangat, hingga pada akhirnya nanti ia takut jika bisa saja ia memberikan rasa sakit dan juga pengalaman buruk di moment, dimana percintaan bersama dengan wanita yang diinginkannya itu sedang akan berlangsung.
Dengan terus meyakinkan dirinya bahwa hal yang sedang terjadi saat ini bukanlah sebuah mimpi yang begitu indah, Duke pun mulai memasukkan miliknya yang sudah begitu siap itu ke dalam milik Savannah yang tidak kalah siapnya juga. Setiap pria itu yang sedang berusaha untuk memasukkannya hingga terasa cukup sempurna di dalam saja, Savannah tidak berhenti mencengkram kedua bahu pria itu dengan masing-masing tangannya, berharap rasa nikmat yang mulai dirasakannya itu tidak membuatnya kehilangan akal sehat dengan bisa saja lepas kendali jika dirinya tidak bisa menahan rasa di dalam dirinya itu.
"Apakah terasa nyaman?" Tanya Duke di sela-sela hal yang sedang diusahakannya itu di bawah sana.
"Ya. Jangan ragu, Duke. Aku ingin bisa merasakan seluruhnya."
"A-apakah kau yakin?"
Bukan hanya pria itu saja yang sesungguhnya memiliki keraguan dalam ucapan akan hal yang diinginkan oleh Savannah tersebut. Tetapi wanita itu pun juga merasa ragu, apakah miliknya nanti akan terasa sakit setelah menerima sesuatu yang tidak pernah masuk ke dalam wilayah privasinya itu dengan ukuran yang sedikit tidak biasanya seperti yang selalu masuk ke dalam miliknya.
"Lakukanlah, sekarang."
Dengan mendapatkan izin dan lampu hijau untuk yang kedua kalinya, kali ini Duke yang sudah mulai merasa percaya diri. Tanpa memberikan kesiapan bagi Savannah untuk mempersiapkannya, karena dengan cepat pria itu sudah memasukkan miliknya dengan sekali hentakan. Dan keseluruhan miliknya, seperti yang diinginkan oleh Savannah benar-benar telah berada di dalam milik wanita itu.
Dan di saat Duke yang merasa bahwa di awal permainan keduanya itu sudah membutuhkan usaha yang luar biasa cukup berat, dengan refleks ia pun menjatuhkan tubuhnya hingga sedikit menindih tubuh Savannah di bawah sana, yang juga secara refleks sedikit menjerit karena rasa keterkejutan terhadap hal yang secara tiba-tiba telah Duke lakukan pada miliknya itu, dan juga pria itu yang langsung menjatuhkan tubuhnya dengan begitu saja.
"Ini sangat menakjubkan," bisik pria itu dengan nafas yang begitu memburu tepat di dekat telinga Savannah.
"Ini belum dimulai, Duke."
"Aku tahu. Tetapi ini terasa begitu menakjubkan."
"Lalu, kapan kau ingin memulainya?"
Berakhirnya ucapan kalimat Savannah itu, membuat Duke mulai menggerakkan miliknya di dalam sana dengan gerakan perlahan. Gerakan lembut dengan kedua tatapan yang juga saling menatap itu, begitu memancarkan betapa bergairahnya kedua insan tersebut. Desahan dan sedikit jeritan Savannah keluarkan dengan secara tidak sadar karena ia mulai kalut akibat rasa nikmat yang ia rasakan sudah begitu menguasai dirinya itu.
"Bagaimana, Savannah?"
"Aku ingin lebih."
"Kau memegang kendali. Ingin di atas?"
"Lebih baik."
Mendengar jawaban itu, Duke pun langsung mendekap pinggang Savannah untuk menukar posisi hingga wanita itu berada di atas tubuhnnya, tanpa melepaskan penyatuan mereka. Setelah Savannah sudah mengatur posisinya, ia pun kembali melakukan hal yang sempat tertunda tadi dengan kendali yang sepenuhnya berada di dalam genggamannya. Dan sedangkan Duke yang kini sedang dibawa ke lautan penuh kenikmatan, hanya ingin menikmati hal yang sedang dikejar oleh Savannah itu sambil memperhatikan tubuh sempurna wanita itu yang sedang bergerak-gerak dengan begitu indah di atas tubuhnnya itu.
"Aku ingin sampai," ucap Savannah sambil menggerakkan miliknya itu semakin cepat.
"Maka dapatkanlah."
"Bagaimana denganmu?"
"Aku belum merasakannya."
Merasa sudah tiba bisa menahan rasa ingin mendapatkan pelepasannya itu, Savannah pun semakin mempercepat gerakannya hingga pada akhirnya tubuh wanita itu menegang bersamaan dengannya yang langsung menjatuhkan tubuhnnya di atas tubuh Duke dengan nafas terengah.
"Maaf, aku sampai terlebih dahulu."
"Tidak masalah. Kita masih memiliki waktu. Kau masih ingin melakukannya, bukan?"
"Tentu saja. Aku harus memikirkanmu yang masih belum sampai dan merasa puas juga," ucap Savannah yang setelah itu langsung mencium bibir Duke kembali dan disambut dengan senyuman di dalamnya oleh pria itu.
Dari ciuman yang bisa mengembalikan gairah yang sudah sempat reda tadi, membuat Duke yang masih merasa belum mendapatkan kepuasannya itu langsung mengakhiri ciuman tersebut, dan dengan cepat membalikan tubuh Savannah untuk memulai mencumbu tubuh bagian belakang wanita itu. Hasrat Savannah yang dengan cepatnya telah kembali bangkit, membuat wanita itu hanya mengikuti hal yang ingin dilakukan oleh Duke.
"Kau memiliki tubuh yang sangat sempurna, Savannah."
Duke yang begitu memuja Savannah, membuat wanita itu menjadi begitu terbuai akan perlakuan pria itu terhadapnya. Hingga tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi, membuat Duke langsung memasukkan miliknya kembali ke milik Savannah dari belakang dengan sedikit mengangkat pinggul wanita itu. Dan malam yang penuh dengan kenikmatan dan gairah itu pun kembali terulang, entah hingga sampai kapan lebih tepatnya lagi kedua insan yang sama-sama sedang lepas kendali itu akan berhenti.
***
Dengan tubuhnnya yang terasa cukup berat untuk dirasakan, Savannah mulai membuka mata dari tidurnya. Dan mencoba beradaptasi dengan suasana yang tidak biasanya ia rasakan ketika terbangun dari tidurnya. Karena kini ia baru teringat akan hal yang terjadi semalam, di antara dirinya dengan pria yang tidak ia duga akan menghabiskan waktunya dengan begitu intim secara bersama. Tidak perlu ada rasa penyesalan, dan Savannah pun juga tidak ingin merasakan hal yang memang sesungguhnya tidak perlu ia rasakan karena, semalam ia memang ingin melakukan hal yang tidak bisa ia tolak juga dari dalam dirinya.
Setelah beberapa saat wanita itu memikirkan hal yang baru saja menyita pikirannya, ia pun merasakan sebuah gerakan dari tangan yang sedang memeluk perutnya ini dan membuat Savannah menolehkan kepalanya ke arah belakang tubuhnya untuk melihat sang pemilik tangan tersebut. Dan sosok sang atasan yang baru saja membuka matanya itu, langsung tersenyum pada saat melihat wajah wanita yang sedang dipelukanya itu.
"Selamat pagi," sapa Duke dengan senyuman sambil mencium pipi Savannah.
"Kita..., benar-benar sudah melakukannya?" Tanya wanita itu dengan sedikit ragu.
"Ya. Memangnya kenapa? Kau menyesalinya?"
"Tidak. Bukan seperti itu. Hanya saja, aku tidak menyang hal ini akan terjadi. Secepat ini."
"Aku pun juga tidak menyangka jika hal itu akan terjadi secepat ini. Tetapi, kau menginginkannya juga, bukan?"
"Jika aku tidak menginginkannya, sudah sejak semalam aku menolaknya, Duke. Bukannya menginginkannya hingga kita melakukannya berkali-kali."
"Apakah, aku boleh mengetahuinya. Mengapa kau ingin bercinta denganku?"
"Karena aku membutuhkannya."
"Jika kau membutuhkannya lagi, dengan senang hati aku bisa membantumu untuk melepaskan semuanya itu."
"Duke, aku rasa hal seperti tidak perlu kita anggap serius. Ini seperti cinta satu malam saja. Kau sedang membutuhkan dan aku pun juga sedang membutuhkannya. Kita sama-sama saling membutuhkan. Tetapi setelah semuanya kini sudah terjadi dan berakhir, semuanya tidak seperti semalam. Gairah kita yang saling menggebu, begitu berbeda dengan yang sekarang. Dan juga, bisakah kau menyimpan hal yang sudah terjadi semalam menjadi rahasia di antara kita saja?"
"Savannah, apakah kau tahu? Bagiku, semalam adalah hal yang bisa membuatku begitu terkesan karenanya. Aku sangat menyukaimu, dan aku pikir semalam adalah proses dimana hatiku telah berubah menjadi mencintaimu."
"Oh, Duke... Aku mohon jangan. Hentikan hal yang saat ini masih bisa kau hentikan sebelum semuanya terlambat."
"Tetapi aku mencintaimu, Savannah."
"Tidak. Kau tidak boleh. Kau tidak bisa membiarkan hatimu itu mencintaiku."
"Mengapa tidak? Apakah karena ada yang lainnya, yang juga sudah mencintaimu?"
"Tidak seperti itu, Duke. Jika kau mencintaiku, semuanya akan tidak sama lagi. Kau adalah atasanku, dan tidak seharusnya hubungan kita lebih dari sifat profesionalitas."
"Jika aku bukanlah lagi atasanmu?"
"Itu tidak mungkin."
"Atau kau ingin seseorang yang sudah mencintaimu itu bisa pergi menjauh dari kehidupanmu?"
"Itu lebih tidak masuk akal lagi."
"Savannah, kau harus mendengarkanku terlebih dahulu."
"Aku sudah tidak ingin membicarakan hal itu lagi. Aku ingin kembali ke apartemen dan bersiap-siap untuk bekerja sebelum nanti aku akan terlambat."
Dengan sedikit melepaskan tangan Duke yang masih berada di perutnya itu sedikit paksa, Savannah pun langsung beranjak dari ranjang dan memunguti beberapa pakaian yang tercecer di lantai untuk bisa secepatnya memakai pakaian dan bergegas keluar dari kamar apartemen milik sang atasan, yang kini hanya bisa terdiam tanpa berbuat apa-apa, dan melihat kepergian Savannah dengan pandangan kosong.
***
To be continued . . .