Happy Reading . . .
***
"Jadi hanya seperti itu saja. Karena yang ini otomatis, jadi kau perlu mengisi air dan bubuk kopi di dalam tempat penyimpanan hingga batas yang dianjurkan. Dan jika kau ingin meminum kopi, kau hanya perlu menaruh cangkir atau mug di bagian dalam ini hingga kopi yang sudah jadi nanti akan turun dengan sendirinya. Terkadang kau menginginkan krimer, bukan? Dan bubuknya bisa kau campurkan di bagian tempat penyimpanan kopinya. Dan seperti itu saja cara mengoperasikannya. Mudah, bukan?" Jelas Savannah sambil menunjukkan beberapa bagian pada mesin kopi tersebut.
"Jika sudah kau jelaskan semuanya seperti ini, tentu aku langsung dapat mengerti. Terima kasih sudah ingin mengajarkanku. Pihak pengurus apartemen yang aku suruh mengganti mesin kopi di sini hanya datang memasangkan saja, dan ketika aku sudah melihat ada mesin ini, mereka tidak meninggalkan petunjuk bagaimana cara mengoperasikannya."
"Tentu saja. Tidak masalah jika ada hal yang tidak kau mengerti, kau justru menghubungiku untuk meminta bantuan seperti ini. Aku sama sekali tidak keberatan."
"Sungguh?"
"Ya, aku tidak mempermasalahkannya."
"Aku senang jika kau ini selalu profesional di segala tempat. Tidak hanya di kantor saja, tetapi pada saat di luar dan jam kerja sudah berakhir pun kau tetap mempertahankan hal tersebut."
"Ya," balas Savannah dengan senyuman kecil yang terasa sedikit dipaksakannya.
"Hei, ada apa?"
Dan raut wajah ekspresi yang baru saja ditunjukkan oleh wanita itu pun langsung bisa dilihat dan ditebak oleh Duke.
"Huh? Apanya yang apa?"
"Wajahmu. Terlihat seperti lelah dan memikirkan pemikiran yang berat."
"Aku tidak apa-apa."
"Sungguh? Karena aku tidak melihat hal itu dari wajahmu saat ini."
Dan pria itu rupanya seperti bisa menebak hal yang sedang dipikirkan oleh Savannah. Pikirannya yang sejak tadi sesungguhnya memang sedang tertuju kepada Dylan, begitu menyita konsentrasinya. Hal terakhir yang terjadi di antara dirinya dan pria itu hingga berakhir dengan sedikit ketegangan, membuat Savannah sadar bahwa tidak seharusnya ia bersikap seperti itu terhadap seseorang yang memang benar-benar sangat peduli kepadanya. Pikirannya tidak bisa terlepas juga akan rasa penyesalan semenjak dirinya berada di apartemen Dylan hingga kini wanita itu yang berada di apartemen milik sang atasan, membuat Savannah menjadi merasa bahwa ia sudah melakukan hal buruk terhadap Dylan.
Namun ia yang juga berpikiran bahwa pria itu yang saat ini mungkin menjadi marah terhadap dirinya akibat perilaku tidak menyenangkannya tadi yang tiba-tiba saja berubah menjadi sedikit sinis, membuat Savannah memutuskan bahwa sebaiknya ia tidak kembali menemui Dylan, dan terus berpikiran apakah pria itu yang nantinya bisa atau tidak untuk memaafkan dirinya atas sikap buruk yang telah secara tidak sadar sudah ia berikan terhadap Dylan. Dan, Savannah pun memutuskan untuk bisa memberikan waktu untuk pria itu hingga esok hari yang pada akhirnya ia akan meminta maaf terhadapnya.
"Savannah..." Panggil Duke sambil menepuk kecil bahu wanita itu hingga membuatnya langsung tersadar dari lamunan yang sempat dilakukannya tersebut.
"Ya?"
"Kau sungguh sedang tidak baik-baik saja."
"Ya, memang. Aku sedang tidak baik-baik saja."
"Ada apa?"
"Kesalahpahaman saja."
"Kau dengan siapa?"
"Seseorang yang kau ketahui."
Balasan yang Savannah ucapkan itu pun langsung membuat Duke terdiam, dan suasana di sekitarnya yang juga tiba-tiba saja menjadi hening. Hingga beberapa saat waktu berlalu, pada akhirnya pria itu yang terlebih dahulu membuka pembicaraan kembali dengan pertanyaan yang sedikit ragunya itu.
"Kau..., masih memiliki hubungan kasual itu dengannya?"
"Ya."
"Bagaimana kau bisa terus merasa nyaman dalam menjalani hubungan seperti itu?"
"Karena aku pun juga merasa nyaman dengan seseorang yang sama-sama menjalani hubungan denganku ini."
"Kau sudah mengenal dengannya semenjak kau mulai bekerja"
"Ya, tentu saja. Aku mengenalnya karena pertemuanku dengannya di cafetaria kantor."
"Lalu, sudah berapa lama hubungan kasual itu berjalan?"
"Baru sebentar. Belum ada satu tahun. Karena bagiku, mengenal dan memasukkan keberadaan seorang pria di kehidupanku ini membutuhkan waktu yang cukup lama. Selain aku yang ingin beradaptasi, aku rasa tahap pengenalan adalah saat-saat yang tepat bagiku."
"Mengapa kau merasakan rasa itu terhadapnya? Rasa nyaman, dan banyak rasa lainnya yang kau rasakan untuknya."
"Karena hati dan perasaanku sudah menilai."
"Seperti itu?"
"Ya,". " Hei, bolehkah aku bertanya?"
"Ya, tentu saja."
"Apakah kau sebenci itu terhadapnya? Pasti semua hal memiliki alasan dasar, bukan? Maksudku, pasti ada suatu hal yang membuatmu menjadi memiliki perasaan seperti itu terhadapnya, bukan?"
"Ia hanya merasa cemburu saja dengan setiap perhatian yang tidak pernah ia dapatkan sejak kecil."
"Bagaimana denganmu sendiri?"
"Entahlah. Seperti katamu tadi, hati dan perasaanku sudah menilai. Jadi, aku rasa tidak ada alasan lainnya lagi yang bisa aku miliki."
"Mungkin lebih tepatnya, ada suatu hal yang ia lakukan atau terjadi di antara kalian hingga membuatmu menjadi memiliki sikap seperti itu."
"Tidak ada hal apapun yang terjadi. Rasa tidak suka dan benci yang aku miliki terhadapnya, murni muncul dari dalam diriku."
"Jika aku bisa menyarankan, sebagai saudara kandung sebaiknya kalian tidak bisa seperti ini terus. Memiliki rasa saling tidak suka, dan terdapat pembatas besar di antara kalian yang seharusnya hal seperti itu tidaklah perlu ada."
"Baiklah, sejak kapan kau ingin mengetahui kehidupan pribadi atasanmu yang sangatlah tidak sukai jika hal tersebut dibicarakan?"
Mendengar balasan yang terdapat sedikit sindirian dan nada sinis di dalam kalimat yang diucapkan oleh Duke tersebut, membuat Savannah langsung merasa tidak enak karena secara terang-terangan ia sudah ingin mengetahui mengenai kehidupan pribadi dan juga permasalahan keluarga sang atasannya tersebut.
"Hmm..., maafkan aku yang sudah terdengar lancang, Duke."
"Tidak perlu kau pikirkan. Aku tidak mempermasalahkan keingintahuanmu itu. Aku mengerti."
"Ya. Terima kasih jika kau ingin mengerti."
"Kalau begitu, apa rencanamu setelah pulang dari sini?"
"Sepertinya kembali ke apartemenku saja."
"Aku sedang membutuhkan minum. Apakah kau ingin ikut denganku ke club?"
Ajakan yang baru saja diucapkan oleh pria itu, membuat Savannah dengan refleks langsung melihat jam tangan di tangan kirinya yang kini sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Rasa penolakan sesungguhnya sudah ada di dalam lubuk hati Savannah. Tetapi, di saat suasana hatinya yang saat ini sedang tidak baik, tawaran untuk pergi ke club adalah sebuah pilihan yang tepat.
"Savannah, bagaimana?"
"Bagaimana jika aku terlambat datang ke kantor, hanya karena saat ini waktu sudah hampir menunjukkan tengah malam tetapi aku justru ingin pergi ke club?"
"Aku rasa atasanmu akan mengerti denganmu yang sesungguhnya saat ini memang sedang membutuhkan datang ke tempat seperti itu."
"Bisakah aku meminta izin kepada atasanku terlebih dahulu?"
"Silakan."
Dengan membuat ibu jari dan juga jari kelingking tangan kanannya seperti telepon, Savannah pun memperlihatkan dirinya yang seperti sedang menghubungi sang atasannya tersebut.
"Selamat malam, sir. Mohon maaf jika malam-malam seperti ini saya mengganggu waktu anda. Tetapi, saya ingin memberitahu bahwa ada kemungkinan sepertinya esok hari saya akan datang terlambat ke kantor karena malam ini ada seorang pria yang tiba-tiba saja mengajak saya untuk pergi ke club. Apakah kira-kira anda memberikan maaf dan izin kepada saya?"
"Permintaan diterima. Kau dimaafkan dan kau mendapatkan izin untuk pergi bersama dengan pria yang mengajakmu itu. Permintaan selesai, ganti."
"Hei, aku sedang menggunakan telepon, dan bukannya walky talky." Protes wanita itu dengan senyuman di wajahnya.
"Seperti itu? Berarti aku salah?"
"Tentu saja."
"Baiklah, baiklah." Balas Duke dengan tawa kecilnya juga. "Jadi, apakah kita bisa berangkat ke club sekarang?" Sambungnya sambil mengulurkan tangan kepada Savannah. Dan dengan cepat, tangan itu pun disambut oleh genggaman tangan dan membuat keduanya langsung beranjak dari kursi bar yang sebelumnya masing-masing diduduki, dan melangkah keluar dari apartemen milik Duke tersebut.
***
"Aku tidak menyangka kau memiliki hak istimewa seperti itu. Masuk ke club tanpa mengantri dan masuk ke daftar tunggu," ucap Savannah sambil mendudukkan dirinya di sebuah kursi bar dengan diikuti oleh Duke yang juga duduk tepat di sampingnya.
"Apakah kau masih meragukan kekuasaan yang aku miliki?"
"Bukannya meragukan, hanya tidak menyangka saja kau akan seakrab itu walau hanya dengan penjaga keamanan di depan sana saja."
"Dengan aku yang memiliki sifat bersahabat seperti itu, tentu akan membuatku menjadi mendapatkan salah satu hak istimewa karena dikenal oleh penjaga itu," balas Duke yang membuat Savannah hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya saja. "Lalu, apa yang ingin kau minum?"
"Sesungguhnya sudah cukup lama aku tidak pergi ke tempat seperti ini, membuatku kurang mengetahui minuman apa yang saat ini sedang menjadi favorit."
Belum sempat Duke ingin memberikan beberapa minuman favorit yang baginya cukup membuatnya menarik, seorang bartender yang berjaga pada meja bar tersebut datang menghampiri pria itu untuk menyapanya terlebih dahulu.
"Hei, Boss. Kau datang. Bersama..., dengan yang teristimewa?"
Kalimat yang diucapkan oleh bartender tersebut, membuat Duke dan Savannah langsung sama-sama melemparkan lirikan sebagai reaksi refleks yang keduanya saling lakukan.
"Tidak teristimewa seperti yang kau pikirkan, Ken." Sangkal Duke yang sesungguhnya merasa senang mendengar hal yang diucapkan oleh sang bartender yang sudah dikenalnya itu.
"Tetapi kalian terlihat pantas dan cocok jika sedang bersanding berdua seperti ini."
"Simpan pujianmu itu untuk pelanggan yang lain, Ken. Kau tahu aku tidak pernah memberikan sedikit tip untukmu, bukan?"
"Jika Boss sudah berbicara, maka pelayanan terbaik dengan senang hati akan dilakukan."
"Kalau begitu, buatkan minuman yang favorit untuk wanita yang istimewa ini. Dan seperti biasa untukku."
"Laksanakan, Boss."
"Kau banyak dihormati di tempat ini," ucap Savannah setelah melihat bartender tersebut sudah bergegas untuk membuatkan minuman yang dipesan tadi.
"Ini salah satu club yang cukup sering aku datangi. Selain sering, aku juga lebih merasa nyaman datang ke club ini. Jadi, tentu aku banyak dikenal oleh para pegawai di sini. Bukannya dihormati, tetapi dikenal."
"Sudah mulai ingin belajar untuk mencoba menjadi rendah hati, hah?" Balas wanita itu yang membuat Duke terkekeh ketika mendengarnya.
"Bukannya seperti itu, hanya bertindak seperti yang seharusnya saja. Jika kita baik kepada orang lain, maka orang lain pasti akan menghargai kita."
Senyuman Savannah pun tanpa disadari sudah mengembang bersamaan dengan mendengar kalimat yang diucapkan oleh pria itu tadi. Dan tidak lama kemudian, minuman yang sudah dipesan itu pun telah siap dan diletakkan di masing-masing hadapan keduanya.
"Cobalah. Ken tahu minuman yang akan disuka oleh pelanggannya, hanya dengan melihat dari raut wajahnya saja."
"Benarkah?"
"Ya, cobalah."
Dengan mengambil gelas berisi minuman miliknya itu, Savannah pun mulai meminum minumannya tersebut sambil sesekali menikmati rasanya yang walaupun diawal sedikit mengejutkannya.
"Bagaimana?"
"Wow..., terasa sangat kuat alkoholnya. Tetapi, ya aku menyukainya."
"Benarkah?"
"Ya, kau benar. Ken bisa menebak minuman yang akan disuka oleh setiap pelanggannya."
"Lalu, apa kau menikmatinya? Minuman dan suasana di sini?"
"Ya. Kau memang pandai memilih club yang sangat nyaman untuk dikunjungi."
"Aku pakarnya."
"Hmm..., okay. Jadi, kau ini pakar dari segala pengunjung club?" ucap wanita itu dengan sedikit senyuman di bibirnya.
Dan perbincangan di antara keduanya pun terus berlalu di dalam club tersebut dengan minuman beralkohol yang juga menjadi pendampingnya. Keduanya yang begitu larut dalam perbincangan yang tidak hanya membahas mengenai satu perihal saja hingga membuat keduanya yang juga saling tidak berhenti memesan minuman kembali jika minuman miliknya tersebut sudah habis. Hingga waktu yang sudah berganti menjadi keesokan harinya, keduanya pun tidak tersadar sudah menghabiskan waktu bersama sampai begitu larut seperti saat ini, tanpa memikirkan resiko yang akan didapatkan, terutama bagi Savannah.
Wanita itu yang begitu menikmati malam tersebut, malam yang bisa dikatakan seperti kencan, membuat dirinya menjadi begitu larut dan melupakan segala hal yang menjadi permasalahan di dalam pikirannya itu. Permasalahan yang sebelumnya ia miliki karena kesalahpahaman di antara dirinya dan juga Dylan, namun semua itu terasa bukanlah apa-apa. Dan saat ini pun secara tidak sadar, wanita itu justru seperti mengizinkan sosok Duke yang akan berjalan semakin jauh dan semakin bertekad untuk bisa mendapatkan dirinya di hidup pria itu.
***
To be continued . . .