Happy Reading . . .
***
Di sepanjang minggu waktu telah berlalu ini, kualitas waktu yang dimiliki oleh Savannah dan Dylan benar-benar kembali intens. Keduanya yang selalu menghabiskan waktu bersama, seperti mengembalikan situasi terdahulu sebelum Savannah yang seakan selalu berusaha untuk dimonopoli oleh atasannya itu. Namun kini, hubungan di antara Duke bersama dengan Dylan sama-sama berjalan dengan baik sesuai seperti yang diinginkan oleh wanita itu. Karir dan kehidupan pribadi yang bisa sama-sama berjalan sesuai dengan harapannya.
Dan kini seperti biasanya setelah pulang dari kantor, Savannah seakan memiliki tempat tinggal kedua yang menjadi tujuannya pulang ke rumah yang tidak lain adalah apartemen milik Dylan, membuat wanita itu seakan sudah memutuskan untuk tinggal bersama dengan pria itu yang sesungguhnya belumlah Savannah sepakati mengenai hal tersebut. Namun dirinya yang selalu menganggap bahwa kehidupannya yang ingin ia lalui tanpa rencana bagaikan air mengalir, membuat Savannah selalu memiliki sikap tidak menentu dan tidak pasti terhadap pria yang mencintai dirinya itu.
"Malam ini kau ingin dimasakkan apa?" Tanya Dylan yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan penampilan super segar karena sehabis membersihkan tubuhnya itu setelah seharian ini bekerja.
Penampilan pria itu yang kini sudah terlihat bersih dan segar itu, justru berbanding terbalik dengan sosok Savannah yang masih mengenakan pakaian yang sama seperti yang ia kenakan pada saat di kantor tadi, dan sedang berbaring dan bermalas-malasan di atas ranjang sambil menonton televisi yang sedang menayangkan sebuah tayangan reality show.
"Makanan yang mengandung pria bernama Dylan McCarter."
"Oh, ayolah. Jangan bermalas-malasan seperti itu. Lebih baik kau membersihkan tubuhmu. Air hangat sepertinya dapat membantu mengurasi stress pekerjaan yang kau miliki di kepalamu," balas pria itu sambil melangkahkan kakinya menuju ranjang menghampiri Savannah.
"Memangnya kenapa jika aku bermalas-malasan? Kau tidak menyukaiku yang sedang bermalas-malasan?"
"Bukan seperti itu. Aura buruk yang kau bawa dari kantor hingga ke sini, hanya akan membuatmu menjadi malas saja untuk melakukan hal apapun itu."
Bersamaan dengan berakhirnya kalimat yang diucapkan oleh Dylan tersebut, membuat Savannah dengan cepat menarik kaos yang dikenakan oleh pria itu dengan cukup kuat hingga membuat Dylan yang terkejut dengan perihal yang tiba-tiba saja terjadi, membuat tubuh pria itu yang menjadi tidak seimbang langsung terjatuh di atas tubuh Savannah yang sedang berbaring di atas ranjang dengan posisi sepenuhnya menindih wanita itu. Merasa bahwa Dylan yang sepertinya ingin langsung beranjak berdiri dari posisinya tersebut, membuat Savannah dengan cepat melingkarkan kedua kakinya pada pinggang pria itu, hingga tubuh Dylan yang langsung terkunci dan menjadi sama sekali tidak bisa bergerak.
"Aku senang kau mengkhawatirkanku, memperhatikanku, dan selalu ingin untuk bisa merawatku. Tetapi jika kau sudah mulai terasa menyebalkan dengan memberikan nasihat-nasihat seperti itu, aku merasa seperti sedang menjalin hubungan istimewa ini dengan orang tua. Sangat aneh dan cukup mengganggu, Dy."
"Aku hanya ingin kau selalu mendapatkan yang terbaik."
"Aku mengerti. Tetapi tidak berlebihan seperti itu, okay? Aku senang menjadi putri kerajaannmu, tetapi kau jangan menjadi pangeran yang terlalu berlebihan dalam melindungi tuan putri."
"Baiklah. Laksanakan, tuan putri." Ucap Dylan yang membuat Savannah langsung tersenyum mendengarnya.
"Aku hanya sedang merasa senang saja. Pekerjaanku belakangan ini tidak terlalu menekanku, begitu juga dengan atasanku yang sepertinya sudah mulai tidak ingin ikut campur ke dalam kehidupan pribadiku."
"Tetapi, dengan begitu bukan berarti kau bisa lengah. Bisa saja ini menjadi bagian dari salah satu rencananya yang ingin memilikimu."
"Memiliki apa? Aku tidak dimiliki oleh siapa-siapa."
"Pokoknya kau harus berhati-hati dengan pria yang memiliki banyak rencana dan pemikiran egois seperti dia."
"Iya, baiklah."
"Lalu, sekarang kau ingin makan malam apa?"
"Kau."
Tanpa memberikan kesempatan untuk Dylan bisa menyaring jawaban yang dikatakan oleh Savannah, dengan cepat wanita itu langsung mencium bibir pria itu untuk mengajaknya masuk ke dalam gairah yang sudah dimiliki sejak tadi. Namun Dylan yang masih memiliki kesadaran dan ingin memberikan waktu untuk wanita itu untuk lebih baik bisa beristirahat saja, langsung menarik dirinya dan mengakhiri ciuman tersebut.
"Savee..."
"Ada apa?"
"Sebaiknya kau beristirahat saja. Selama satu harian ini kau sudah lelah bekerja."
"Tetapi aku merindukanmu. Memangnya kau tidak merindukanku? Sepertinya, sudah cukup lama kita tidak saling melepas rasa rindu ini."
"Kau yakin?"
"Ya. Aku merindukanmu, Dy."
"Aku juga sangat merindukanmu, Savee."
Dengan memberikan senyuman, Savannah pun mulai mencium pria itu kembali dan melanjutkan hal yang sempat tertunda tadi. Keduanya yang selalu siap jika sudah masuk ke dalam lautan akan gairah, membuat kedua insan yang mulai dimabuk akan gairah itu langsung mengerti akan hal yang masing-masing harus dilakukannya. Bersamaan dengan cumbuan yang saling dilakukan, Dylan pun mulai membuka kaos yang dikenakan, dan membantu Savannah yang juga sedang membuka seluruh pakaiannya dengan cepat.
Keduanya yang begitu bersemangat dalam percintaan itu membuat gairah yang sudah ada semakin terbakar dan tidak terkendali. Namun di saat keduanya yang sudah benar-benar siap masuk ke dalam permainan inti, tiba-tiba saja suara deringan ponsel milik Savannah pun menghentikan kegiatan mereka dan membuat gairah keduanya langsung redup dengan seketika.
"Aku bersumpah jika yang menelepon itu adalah dia, aku akan memberikannya pelajaran!"
"Dy..." Ucap Savannah bermaksud untuk menegur pria itu sambil menggeser posisinya untuk beranjak dari ranjang dan dengan cepat ia memakai celana dalam serta kemejanya, lalu melangkah menghampiri letak keberadaan tas miliknya.
"Siapa?" Tanya pria itu setelah Savannah telah mengambil ponselnya dari dalam tas.
"Jika aku beritahu, nanti kau akan marah." Balas wanita itu yang langsung melangkah keluar dari kamar tersebut menuju ruang tengah sambil mengangkat panggilan masuk pada ponselnya tersebut. "Hei, Duke. Apakah kau sedang membutuhkan sesuatu atau bantuan?" Sapa Savannah dengan inisiatif.
"Hei, bisakah kau datang ke apartemen? Mesin kopi di apartemenku baru. Dan, aku belum bisa mengoperasikannya sendiri. Jadi, bisakah kau datang ke sini dan mengajariku?"
"Hmm..., saat ini juga?"
"Ya. Tetapi, jika kau tidak bisa. Maka tidak masalah."
"Hmm..., baiklah. Aku akan datang."
"Sungguh?"
"Ya, tentu."
"Aku bisa menjemputmu."
"Tidak perlu. Aku akan naik taksi saja."
"Baiklah. Maaf jika aku merepotkanmu."
"Tidak perlu merasa sungkan. Kau ini adalah atasanku, dan aku adalah pegawaimu. Jadi, aku harus selalu merasa siap jika kapan pun itu kau membutuhkan bantuan. Kalau begitu, sekarang aku akan bersiap-siap terlebih dahulu."
"Baiklah. Aku tunggu di sini."
Setelah mengakhiri sambungan telepon tersebut, Savannah pun langsung melangkah menuju kamar untuk memakai kembali pakaiannya dan bersiap pergi menuju apartemen atasannya itu.
"Ada apa? Dan kau ingin pergi ke mana? Ini sudah malam, Savee." Tanya Dylan pada saat melihat Savannah yang sedang memakai pakaiannya kembali.
"Duke, memintaku ke apartemennya. Ia tidak bisa mengoperasikan mesin kopi baru di apartemennya. Jadi, aku diminta untuk datang ke sana dan mengajarinya menggunakan mesin kopi tersebut."
"Omong kosong. Itu hanya tipuannya saja, Savee."
"Dy..., dia itu atasanku. Aku yang sebagai pegawainya harus selalu siap jika ia sedang membutuhkan suatu hal ataupun bantuan."
"Tetapi dia hanya mempermainkanmu saja, Savee. Dan saat ini pun jam kerjamu untuknya sudah selesai."
"Dy, berhentilah bersikap tidak dewasa dengan selalu berpikiran buruk dengan seseorang hanya karena kau tidak menyukainya."
Ucapan Savannah yang terdengar sedikit sinis itu, membuatnya langsung meninggalkan Dylan begitu saja dan membuat pria itu hanya terdiam melihat kepergian Savannah yang sepertinya merasa sedikit marah terhadap dirinya itu.
***
To be continued . . .