The Healer

2000 Kata
Happy Reading . . . *** Dengan mengembangkan senyuman lebarnya, Savannah memperhatikan sosok Dylan yang sedang melangkah menghampirinya sambil membawa sebuah mangkuk dengan makanan yang baru saja selesai dibuat oleh pria itu. Bagi Savannah, rasanya sudah cukup lama ia tidak memakan makanan buatan Dylan akibat sedikit perselisihan dan pertengkaran yang kemarin sempat keduanya alami. Namun kini setelah semua kesalahpahaman yang sempat membuat hubungan keduanya menjadi sedikit renggang sudah selesai, Savannah merasa bahwa ia sedang kembali ke rumah. Tempat yang membuatnya merasakan kenyamanan, yang tidak bisa ia temukan keberadaannya di tempat lain lagi. "Wow..., apakah ini?" Ucap wanita itu dengan kekaguman setelah melihat hidangan yang begitu menggiurkan, yang sudah diletakkan tepat di hadapannya. "Sup dengan bakso jamur," balas Dylan yang ikut mendudukkan dirinya di kursi meja makan tepat di samping kursi yang Savannah tempati. "Bakso jamur?" "Iya. Berbentuk bakso tetapi tidak terbuat dari daging, tetapi dari jamur. Biasanya ini dimakan oleh orang-orang yang vegetarian." "Memangnya ada jamur seperti itu?" "Bukti hasil makanannya saja sudah ada. Lalu, kau masih mempertanyakannya?" "Sehabisnya aku baru mendengar jamur yang bisa dibuat menjadi bakso." "Kalau begitu cobalah." "Kau tidak ada niatan ingin menyuapiku?" "Okay. Jika kau sudah manja seperti ini, maka aku bisa apa?" Ucap Dylan yang langsung mengambil sendok yang sudah berada di dalam mangkuk tersebut dan mulai menyuapi Savannah yang kini hanya bisa tersenyum sambil menanti suapan pertamanya. "Buka mulutmu." Dengan cepat wanita itu pun langsung membuka mulutnya, dan menerima suapan yang Dylan berikan kepadanya dengan sedikit bersemangat. "Bagaimana rasanya?" "Hmm..., seperti biasanya. Selalu saja enak. Setiap apapun yang kau masak, rasanya tidak perlu aku ragukan lagi. Kau lebih pantas menjadi juru masak, Dy. Dari pada harus bekerja di kantor. Mengapa kau tidak menjadi juru masak saja?" "Itu adalah mimpiku, Savee." "Benarkah?" "Ya. Tetapi keinginanku itu tidak di dukung." "Mengapa?" "Kau sudah tahu jawabannya." "Orang tuamu?" "Ya. Terutama si penguasa itu. Dulu, sebelum pada akhirnya aku mau tidak mau mengambil jurusan perkuliahan ekonomi, sesungguhnya aku ingin mengambil sekolah masak. Tetapi, aku ditentang, dan diancam jika tidak menurut aku akan diusir dari rumah dan otomatis aku tidak bisa merawat Mommy-ku yang saat itu sudah mulai sakit-sakitan. Mommy satu-satunya orang yang peduli denganku, tidak mungkin aku tinggalkan sendirian dengan kondisinya yang seperti itu. Maka, di saat aku yang pada akhirnya mengikuti keinginan sang arogan itu, aku tetap bisa menyalurkan hal yang ingin aku kembangkan itu dengan membuatkan setiap makanan yang dimakan oleh Mommy-ku, dengan buatan tanganku sendiri." "Kau tidak ingin mencoba berkompetisi saja? Seperti yang ada di televisi itu. Dengan cara itu sepertinya kemampuan terpendammu yang sesungguhnya sangat besar itu bisa dikembangkan, bukan? Dan dengan begitu kau juga bisa menjadi juru masak yang sesungguhnya." "Sayangnya, mimpiku itu sudah ikut pergi bersamaan dengan kepergian Mommy-ku yang sudah meninggalku untuk selama-lamanya." Berakhirnya kalimat penjelasan yang diucapkan oleh Dylan itu pun membuat suasana di antara keduanya langsung tiba-tiba saja menjadi hening. Dan Savannah yang menyadari terlebih dahulu suasana seperti itu, dengan cepat langsung mengubah suasananya menjadi ceria kembali "Okay. Cukup, tidak ada sedih-sedih lagi. Karena aku tidak suka merasakan situasi sedih, apalagi jika kau yang sedang sedih." "Okay. Kalau begitu lanjutkan lagi makannya. Buka mulutmu," balas pria itu sambil kembali memberikan suapan kepada Savannah. "Dy, kau tahu kau ini memilikiku, bukan? Jadi, jika kau membutuhkan teman untuk bercerita, jangan pernah merasa ragu karena aku pasti akan selalu siap untuk mendengarkannya. Jangan takut dengan hal-hal yang membuatmu menjadi takut jika beban masalahmu hanya akan membuatku menjadi susah, okay?" "Ya. Selama ini pun aku juga hanya selalu ingin membagi ceritaku kepadamu, dan tidak pernah ke yang lainnya." "Aku merasa menjadi begitu istimewa karena dirimu." "Memang. Kau ini memanglah wanita yang sangat istimewa bagiku," balas Dylan yang membuat Savannah menjadi tersenyum karenanya. "Lalu, bagaimana dengan pekerjaanmu hari ini? Apakah terasa menyebalkan seperti biasanya?" "Hmm..., untuk kali ini tidak. Karena sepertinya, suasana hatinya itu sedang merasa senang." "Senang? Kenapa?" "Karena..., tadi siang aku pergi makan bersama dengannya dan juga, sir Jamie." Ucap Savannah dengan sangat ragu karena ia tahu bahwa hal yang diucapkannya itu mampu membuat suasana hati pria di sampingnya itu menjadi berubah. Dan memang benar saja, bersamaan dengan berakhirnya kalimat yang diucapkan oleh Savannah tadi, membuat Dylan langsung meletakkan mangkuk yang sebelumnya ia pegang, dengan begitu saja di atas meja di hadapannya. "Hei, itu tidak berarti apa-apa." Ucap Savannah yang berusaha mengembalikan suasan hati Dylan dengan menenangkannya. "Itu berarti apa-apa." "Dy, itu tidak berarti apa-apa." "Apakah ia sudah mempromosikan anak kesayangannya itu terhadapmu? Bahwa kau ini lebih pantas dan tepat berpasangan bersama dengannya, dari pada bersama pria yang tidak memiliki masa depan." "Hei, hentikan, okay. Aku tidak pernah menganggap semua hal itu bersungguh-sungguh. Bahkan aku pun justru merasa tidak nyaman dengan pembicaraan yang menyangkut mengenai hubungan pribadi seperti itu. Aku tidak menyukai, Duke. Aku tidak menganggapnya lebih dari sekedar atasanku di kantor. Aku hanya ingin memiliki hubungan dengannya sebatas profesional saja, dan tidak lebih. Dy, kita sudah terlalu sering dan berkali-kali membahas mengenai hal ini. Dan jika kau terus merasa marah di setiap aku membahas mengenai Duke dan orang tuanya, itu artinya kau tidak percaya denganku yang memang tidak memiliki hubungan lain dengan mereka." Mendengar ucapan yang Savannah jelaskan dengan sedikit emosi, membuat Dylan langsung meredakan rasa emosi yang sebelumnya juga sempat merasa naik. Dengan mengusap kasar wajahnya sejenak, pria itu pun menarik tubuh Savannah ke dalam dekapannya dan dipeluklah wanita itu dengan sangat erat seakan tidak rela untuk melepaskannya. "Maafkan aku. Sungguh aku tidak memiliki maksud untuk seperti itu. Maafkan aku, Savee. Aku hanya tidak ingin kehilanganmu di hidupku. Aku hanya tidak ingin kehilanganmu," ucap Dylan dengan rasa ketakutannya. "Okay, okay. Tenanglah, aku tidak akan pergi kemana-mana, Dy." "Aku tidak ingin kehilanganmu." "Iya, aku tahu. Aku pun juga tidak ingin meninggalkanmu, Dy." "Kau tidak ingin pergi meninggalkanku?" "Ya. Bagaimana mungkin aku meninggalkan seseorang yang sudah membuatku merasa nyaman? Aku selalu merasa nyaman pada saat berada di dekatmu, Dy." "Maafkan aku yang sudah selalu membuatmu merasa marah karena sifat keegoisanku ini. Jika kau ingin tahu, aku ini sangat percaya dengan dirimu, Savee." Ucap Dylan sambil melepaskan pelukannya dan menatap wajah wanita di hadapannya itu. "Aku mengerti. Kau ini bersikap seperti itu karena kau mencintaiku, bukan? Kau ingin melindungiku, dari hal apapun itu yang membahayakan. Jadi, bagiku itu adalah hal yang wajar." "Aku senang dengan sikapmu yang sangat pengertian ini," balas pria itu dengan senyuman di wajahnya. "Tidak perlu salah paham lagi, okay? Di antara diriku dan dirinya tidak ada apa-apa. Aku tidak menyukai sikap yang dimiliki oleh tipe pria seperti yang Duke miliki." "Lalu, kau menyukainya seperti apa?" "Yang mudah diajak bergurau, memiliki selera humor yang tinggi, peduli denganku, dan yang terpenting dia bisa memasak." "Apakah kau sedang mendeskripsikan kepribadianku? Karena aku merasa itu sangat diriku sekali." "Hei, berhentilah menjadi orang yang terlalu percaya diri." "Bukannya aku yang terlalu percaya diri, tetapi deskripsi yang kau sebutkan tadi benar-benar sangatlah menjelaskan mengenai diriku." "Apa jika aku mengatakannya benar, apakah kau akan bersemu?" "Jika kau yang mengatakannya, mungkin?" "Kalau begitu benar. Karena aku yang ingin melihatmu bersemu," balas Savannah dengan tawa kecil. "Aku ini untukmu, Savee." "Iya, aku tahu." "Bisakah selain kalimat itu yang kau ucapkan sebagai jawabanmu?" "Iya, Dy. Aku mengetahuinya kalau aku ini memilikimu." "Terdengar sama," ucap Dylan yang membuat Savannah langsung tertawa. "Kalau begitu lanjutkan makanmu. Apakah kau menginginkan bir?" Sambung pria itu sambil beranjak berdiri dari duduknya dan melangkah menuju kulkas. "Aku suka itu," balas Savannah dengan senyuman di bibirnya. Perasaan wanita itu yang sebelumnya terasa sedikit tidak baik karena tekanan yang diberikan oleh Jamie mengenai dirinya yang lebih pantas menjadi pasangan Duke dari pada bersama dengan yang lainnya, membuat wanita itu menjadi merasa tidak nyaman karenanya. Tetapi setelah bertemu dan bersama dengan Dylan, dirinya secara sadar merasakan adanya rasa ketenangan dan kenyamanan di dalam dirinya. Dan tanpa diketahui, Dylan pun sudah menjadi sosok penyembuh terbaik di setiap wanita itu memiliki permasalahan. *** Sebuah kecupan pada wajahnya itu bisa Savannah rasakan secara samar-samar di dalam tidurnya. Dan tanpa membuka matanya terlebih dahulu, wanita itu pun sudah mengetahui siapa sang pelaku yang sudah mulai mengganggu tidur nyenyaknya itu. "Dy..." gumam Savannah yang protes terhadap gangguan tersebut tanpa membuka matanya yang masih terasa sangat sulit untuk dibuka itu. "Hei, bangunlah. Ini sudah pagi." "Tetapi ini adalah hari libur. Aku mohon biarkan aku beristirahat hingga siang hari nanti." "Tetapi bagaimana dengan sarapan yang sudah aku buatkan untukmu? Mereka tidak akan terasa enak jika sudah berubah menjadi dingin." "Urghh..., kau sudah mengetahui kelemahanku." Keluh Savannah yang mulai membuka matanya dan menatap wajah Dylan yang sudah berada tepat di hadapannya. Senyuman yang memukau, yang dikeluarkan oleh pria itu. Membuat Savannah langsung ikut tersenyum juga karenanya. "Memang. Dan itu akan menjadi senjataku jika kau tidak ingin bangun pagi di hari libur ini. Sekalipun kau sedang libur, itu tidak bisa dijadikan alasan untuk kau bisa bermalas-malasan dan bangun siang." "Okay. Kau sudah semakin menyebalkan dengan segala nasihatmu itu." "Tetapi itu untuk kebaikanmu juga, Savee." "Iya, iya, okay. Aku akan bangun. Apakah kau sudah merasa puas?" "Itu bagus! Kalau begitu ingin sarapan sekarang?" "Ya, tentu. Aku tidak ingin membiarkan mereka hingga menjadi dingin." "Aku bawakan ke sini saja, okay?" "Itu sempurna. Kau memang yang terbaik, Dy." "Baiklah. Dalam lima menit aku akan kembali. Tetapi berjanjilah kau tidak akan tertidur lagi," ucap pria itu sambil beranjak dari posisi yang sebelumnya setengah terbaring di atas ranjang, tepat di samping Savannah. "Okay." Setelah melihat soso Dylan yang sudah mulai menghilang keluar dari pintu kamar tersebut, Savannah pun sedikit menyingkapkan selimut yang menutupi tubuhnya itu untuk mendudukkan dirinya di atas ranjang. Bersamaan dengan wanita itu yang sedang merenggangkan otot-otot di tubuhnya, tiba-tiba saja ponselnya pun berdering dan terdengar nada panggilan masuk di sana. Dengan cepat Savannah pun mengambil ponsel miliknya yang diletakkan di atas meja nakas tepat di samping ranjang tersebut, untuk melihat dari siapa asal panggilan tersebut di pagi-pagi hari seperti ini. Dan pada saat ia melihat nama sang atasan yang rupanya terdapat pada layar ponselnya tersebut, dengan cepat wanita itu pun mengangkat panggilan tersebut berpikir ada hal yang darurat dari atasannya itu. "Selamat pagi, sir. Apakah ada suatu hal yang darurat?" Sapa Savannah dan langsung menanyakan inti pembicaraan. "Ya, memang ada yang darurat." "Ada apa, sir?" "Aku yang merindukanmu." "Hmm..., sir. Saya sedang bersungguh-sungguh." "Ya, aku pun juga sedang bersungguh-sungguh. Aku sangat merindukanmu, Savannah." "Hmm..., okay. Lalu, apakah ada hal lain yang ingin anda bicarakan hingga menghubungi saya di pagi hari seperti ini?" "Aku ingin bertanya, apakah hari ini kau memiliki acara?" "Memangnya ada apa, sir?" "Savannah, sudah berapa kali aku katakan bahwa kau tidak perlu melakukan hal yang formal jika hanya berduaan dengan saya saja?" "Iya, baiklah. Maafkan aku yang sedikit lupa dengan hal itu. Jadi, ada apa memangnya kau menanyakan apakah hari ini aku memiliki acara atau tidak?" "Aku ingin mengajakmu untuk menghabiskan waktu di hari libur ini bersama-sama. Pergi ke suatu tempat atau sekedar makan bersama saja. Bagaimana?" "Hmm..." Dan Savannah pun kembali dihadapkan dengan sebuah pilihan yang sangat tidak ia sukai. Sesungguhnya wanita itu bisa saja dengan mudah menolak ajakan dari Duke yang sudah jelas bahwa pria itu menginginkan sebuah kencan. Tetapi, Savannah pun tidak ingin mengambil resiko jika ia menolak ajakan tersebut, ia akan kembali bekerja dengan seorang diktator yang belakangan ini tiba-tiba saja menghilang karena Duke yang merasakan adanya kedekatan pada keduanya. Namun di sisi lain juga, wanita itu sesungguhnya ingin menghabiskan waktu di hari libur itu bersama dengan Dylan. Walaupun hanya berada di dalam apartemen dengan sekedar menonton televisi, Savannah tetap menganggap bahwa hal seperti itu adalah sebuah kesempurnaan dalam waktu yang berkualitas. "Savannah..." Panggil Duke di ujung sana yang langsung menyadarkan wanita itu dari lamunan yang sejak tadi dialaminya. "Hmm..., maaf. Sepertinya hari ini aku tidak bisa. Aku sudah memiliki janji dengan temanku untuk bisa pergi bersama. Jadi, aku tidak bisa pergi denganmu. Tidak masalah, bukan?" "Ya, tentu saja. Mungkin lain waktu jika saatnya terasa tepat." "Baiklah. Terima kasih karena kau telah mengerti." "Ya. Kalau begitu sampai jumpa." "Sampai jumpa, Duke." Balas Savannah yang langsung mematikan sambungan panggilan masuk pada teleponnya itu, bersamaan dengan Dylan yang juga memasuki kamar sambil membawa baki berisi sarapan. *** To be continued . . .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN