Happy Reading . . .
***
Dengan senyuman yang terlihat di wajah Savannah, wanita itu pun melangkahkan kakinya memasuki ruangan sang atasan sambil membawa secangkir kopi yang baru saja dibuatnya. Melihat sang atasan yang sudah berada di kursi kebesarannya dengan sebuah dokumen di tangannya, membuat wanita itu mempercepat langkahnya menghampiri meja kerja milik Duke untuk menaruh kopi yang dibawanya itu tepat di atas meja dan di hadapan sang atasan.
"Selamat pagi, sir. Kopi pagi untuk anda seperti biasanya. Dan, sarapan untuk anda yang sudah saya pesankan sedang dalam perjalanan." Sapa Savannah sambil menaruh kopi tersebut, dan memundurkan posisinya sedikit menjauh tepat di hadapan meja kerja Duke.
"Kau menyediakan sarapan untuk saya?" Tanya pria itu yang mulai mengalihkan pandangannya dari dokumen yang sebelumnya sedang ia lihat di tangannya, menuju sosok sang asisten yang baru ia sadari telah kembali dibuatnya terpukau.
Penampilan Savannah yang kali ini memakai dress bewarna merah dengan setinggi lutut, namun masih tetap mencetak lekuk tubuh sempurna wanita itu. Warna merah yang cukup menyala dan terlihat sedikit kontras dengan warna kulit eksotis natural milik Savannah, membuat penampilannya yang kali ini benar-benar kembali membuat Duke terpukau akannya.
"Ya, sir. Saya tidak ingin penyakit lambung itu menyerang anda lagi. Jadi, saya memasukkan pola makan anda supaya teratur ke dalam deskripsi pekerjaan harian saya."
"Kau dan inisiatif kinerjamu itu, selalu bisa membuat saya merasa kagum karenanya. Dan secangkir kopi yang setiap paginya kau buatkan untuk saya ini, mampu menaikan suasana hati saya." Ucap Duke dengan segala pujiannya, dan langsung menikmati kopi buatan asistennya tersebut.
"Terima kasih, sir. Saya sangat senang jika suasana hati pagi hari anda ini menjadi meningkat karena kopi buatan saya."
"Sambil menunggu makanan saya datang, saya ingin berbicara denganmu terlebih dahulu. Kemarilah," ucap Duke sambil beranjak dari duduknya dan melangkah menuju sofa yang berada tidak jauh dari meja kerjanya tersebut.
Setelah pria itu mendudukkan dirinya, Savannah pun menyusul Duke dengan mendudukkan dirinya juga di samping pria itu untuk mulai membicarakan hal yang ingin dilakukan oleh atasannya tersebut.
"Ada hal apa yang ingin anda bicarakan dengan saya, sir?" Tanya Savannah yang dengan inisiatif memulai pembicaraan di antara keduanya.
"Semalam, aku benar-benar sangat menikmati makan malam itu. Dan belakangan ini, aku baru tersadar bahwa aku sangat menyukai bisa menghabiskan waktu bersama denganmu. Dan..., aku ingin mengulanginya lagi. Siang ini, aku sudah memesan meja untuk kita bisa makan siang bersama. Kau, aku, dan orang tuaku."
"Apa?!" Seru Savannah dengan refleks langsung sedikit berteriak setelah mendengar ucapan yang baru saja dikatakan oleh Duke. "Hmm.., mohon maaf, sir. Tetapi, apakah anda bersungguh-sungguh?" Sambung wanita itu dengan merasa menyesal setelah ia yang langsung tersadar karena sudah berteriak tepat di hadapan atasannya itu.
"Saat ini hanya ada kita berdua saja, Savannah. Jadi, kau tidak perlu kembali formal lagi."
"Tetapi saat ini sedang berada di kantor, sir. Rasanya tidak etis jika saya tidak formal kepada anda. Kemarin pun anda juga mengatakan jika sedang berada di kantor sebaiknya di antara kita bersikap profesional."
"Tetapi jika hanya sedang berdua seperti ini saja, aku tidak keberatan kita mengembalikan situasi seperti kemarin malam. Dan, jangan mencoba untuk mengalihkan pembicaraan dari ajakanku tadi, okay?"
"Hmm..., tetapi apakah kau bersungguh-sungguh? Maksudku, sir Jamie sungguh ingin makan siang bersama?"
"Ya, dan dia sudah menyetujuinya dan juga meluangkan waktu untuk nanti siang."
"Hmm..., mengapa kau mengajak sir Jamie untuk ikut makan siang bersama?"
"Karena aku menginginkannya, dan begitu juga dengan dia. Ia mengetahui kalau semalam aku dan kau pergi makan malam bersama. Dan, tiba-tiba saja ia mengatakan ingin makan bersama denganmu juga. Jadi, bagaimana?"
"Apakah aku bisa menolaknya? Tentu saja tidak, bukan?" Balas wanita itu yang membuat dirinya dan juga Duke tertawa kecil.
"Biasanya Dad tidak pernah ingin diajak untuk bisa pergi makan bersama. Tetapi setelah aku bercerita mengenai makan malam itu, ia pun juga mengatakan ingin makan bersama juga. Sepertinya, dia menyukai dirimu lebih dari sekedar seseorang yang pernah bekerja dengannya saja."
"Maksudmu?"
"Nanti kau akan mengetahuinya sendiri."
"Oh ayolah, kau selalu berbicara seperti itu di saat aku bertanya apa maksud dari ucapanmu itu."
"Memangnya mengapa?"
"Karena hal itu terdengar sangat menyebalkan."
"Oh, benarkah?"
"Ya."
Bersamaan dengan berakhirnya ucapan yang dibalas oleh Savannah, membuat Duke semakin menghapus jarak dengan menggeser posisi duduknya hingga menjadi bersampungan dengan wanita itu. Di tariknya pinggang Savannah ke dalam dekapannya, hingga kini kedua tubuhnya saling berhadapan dan melekat satu sama lain. Tatapan Savannah yang tiba-tiba saja langsung bertatapan dengan pandangan Duke yang kini juga sedang menatapnya, seakan langsung mengunci pandangan keduanya.
"Kau terlihat sangat menarik dengan dress merah ini, Savannah. Tidak hanya dengan pakaian ini saja, setiap pakaian apapun yang kau kenakan, kau selalu terlihat menarik di mataku."
Belaian telunjuk tangan Duke yang dengan lembut menyapu hidung hingga dagu Savannah, membuatnya semakin mendekatkan bibirnya menuju bibir sang asisten yang terlihat begitu menggoda dengan warna bibir merah muda alaminya itu tanpa diberi pewarna lipstik apapun. Namun belum sempat pria itu yang ingin mencium bibir Savannah, tiba-tiba saja suara telepon masuk yang berasal dari meja kerja Duke langsung menginterupsi hal yang belum sempat terjadi itu.
"Hmm..., biar aku yang angkat teleponnya." Ucap Savannah dengan merasa sedikit canggung, dan langsung beranjak dari duduknya untuk melangkah menuju asal telepon tersebut yang berbunyi.
Sambil melangkah, Savannah pun menghela nafasnya dengan sedikit lega karena ia yang baru saja terbebas dari hal yang tidak ia inginkan itu. Hal yang hendak kembali terjadi, namun kali ini wanita itu bisa terselamatkan oleh suara telepon yang masuk.
***
Selera makan Savannah entah mengapa tidak muncul juga semenjak ia menduduki dirinya di kursi sebuah restauran, dimana dirinya, sang atasan, dan bersama dengan mantan atasannya itu duduk dalam satu meja untuk makan siang bersama. Rasa tidak adanya selera makan wanita itu, karena dirinya yang merasa tidak nyaman akan situasi yang tidak biasa ia rasakan ini. Makan bersama dengan kedua orang yang memiliki kuasa besar di perusahaan dimana ia bekerja. Mungkin jika hanya bersama Duke seperti hal yang sudah terjadi semalam, Savannah tidak akan mempermasalahkannya. Tetapi kini ada sosok Jamie yang bagi Savannah membuat situasinya menjadi sedikit canggung.
"Kau tidak memakan makananmu, Savannah?" Ucap Jamie kepada Savannah.
"Hmm..., y-ya, sir. Ini saya akan mulai memakannya."
"Bagaimana bekerja dengan, Duke? Apakah kau merasa nyaman? Atau banyak hal lainnya lagi yang kau rasakan? Karena Duke sendiri mengatakan bahwa ia merasa kinerjamu ini sangatlah memuaskan. Tidak jauh berbeda dengan yang saya rasakan pada saat kau menjadi asisten saya."
"Bekerja dengan sir Duke, sama halnya seperti saya yang bekerja untuk anda, sir."
"Seperti itu? Dia tidak menyebalkan kepadamu?"
"Hmm..., untuk yang itu sedikit, sir. Tetapi semuanya baik-baik saja. Saya merasa nyaman bekerja untuk sir Duke," balas Savannah dengan sedikit tergugup namun justru membuat Jamie dan Duke sedikit terkekeh karenanya.
"Ya, memang. Terkadang Duke memang suka menyebalkan. Tetapi, saya yakin kau bisa mengerti dengan semua itu. Karena saya tahu sosok kau itu seperti apa, Savannah. Dan sekarang, terbukti juga dengan Duke yang mulai menyukaimu. Benar begitu, bukan?"
"Ya, sir." Balas Savannah dengan tersenyum sedikit miris.
"Dan saya dengar dari Duke juga, semalam kalian pergi makan malam bersama?"
"Ya. Itu benar, sir."
"Makan malam seperti apa?"
"Hanya makan malam biasa saja. Sir Duke meminta saya untuk makan malam bersama dengannya saja. Dan saya yang kebetulan juga tidak memiliki acara, jadi memutuskan untuk menyetujui ajakan sir Duke tersebut."
"Dari makan malam biasa, bisa menjadi makan malam yang istimewa. Saya harap hal itu terjadi di antara kau dan juga Duke."
"Dad..., kau terlalu jelas menggambarkan semua itu. Savannah mengatakan ingin menjalani semuanya dengan perlahan. Benar bukan begitu, Savannah?"
Ucapan yang Duke katakan itu pun hanya bisa membuat Savannah menelan makanannya dengan paksa setelah tidak siap mendengat hal tersebut. Pasalnya, wanita itu mengetahui kemana arah dari pembicaraan dua pria di hadapannya itu, yang tidak lain mengenai sebuah hubungan di luar konteks profesional dalam pekerjaan.
"Saya mengerti mengapa kau ingin semuanya bisa berjalan dengan perlahan, Savannah. Karena saya tahu kau ini ingin berfokus terhadap karirmu terlebih dahulu. Dan begitu juga dengan Duke. Tetapi, di saat waktunya sudah tepat nanti kau harus memiliki pasangan yang tepat untukmu, bukan? Seseorang yang bisa menyeimbangkan pendidikanmu, karirmu, dan segala hal yang kau miliki di hidupmu. Dan saya rasa, Duke adalah pria yang tepat untukmu. Begitu juga dengan Duke yang tepat mendapatkan wanita sepertimu. Wanita yang memiliki tanggung jawab besar, inisiatif yang tinggi, serta banyak lagi kelebihan yang kau miliki. Mungkin kau bisa membandingkan, segala kelebihan yang Duke miliki, dibandingkan dengan sosok pria yang sedang denganmu, yang mungkin lebih banyak kekurangannya dari pada kelebihannya."
Mendengar hal itu, Savannah pun hanya bisa tersenyum miris di dalam hati setelah hal yang sudah ia duga sejak tadi dan kini benar-benar bisa ia dengar dengan sangat jelas setelah terucap dari sang mantan atasannya itu.
"Hmm..., s-sir. Tetapi..."
"Ya, ya, ya. Saya mengerti. Saat ini bukanlah waktu yang tepat. Itu hanya untuk rencana yang sangatlah sempurna saja untuk dibayangkan," sela Jamie yang bisa melihat kegugupan dari wanita itu.
Berakhirnya ucapan Jamie tersebut, membuat Savannah hanya menganggukkan kepalanya saja sambil memberikan senyuman terbaik yang sebisa mungkin dikeluarkannya. Bersamaan dengan senyuman yang Savannah berikan kepada Jamie itu, membuatnya juga mengarahkan pandangannya kepada Duke yang kini juga sudah memberikan senyuman kepadanya.
Tidak mengerti maksud dari pandangan yang ditujukan oleh Duke tersebut, tetapi yang Savannah tahu dan sangat yakini bahwa setelah ini hubungannya dengan pria itu akan semakin bertambah dekat. Melihat dari senyumannya, Duke memang benar-benar sudah begitu mengharapkan sosok Savannah untuk bisa menjadi pasangannya.
Setelah makan siang ketiganya telah selesai dan berlalu, membuat Jamie yang langsung undur diri dan meninggalkan Duke dan Savannah di meja restauran tersebut.
"Terima kasih sudah memenuhi ajakanku untuk bisa makan siang bersama dengan Dad," ucap Duke setelah ia meminum segelas Champagne di gelas miliknya.
"Ya, tentu. Selagi aku sedang bisa dan memiliki waktu, mengapa tidak? Lagi pula, sepertinya atasanku itu sedang memiliki hati yang baik terlihat hari ini pekerjaanku masih sangat manusiawi."
"Jadi, selama ini atasanmu memperlakukanmu dengan tidak manusiawi."
"Bukannya tidak manusiawi dalam hal yang buruk, tetapi dalam pekerjaan."
"Jika aku bisa bertemu dengan atasanmu, sudah aku pastikan akan memberikannya sedikit pelajaran karena sudah memperlakukanmu dengan tidak baik."
"Apakah kau sedang berbicara kepada dirimu sendiri?" Ucap Savannah yang langsung membuat Duke tidak bisa menahan tawanya lagi. "Baru kali ini aku melihat tawamu yang cukup kencang itu," sambung wanita itu dengan cukup heran karena ia yang sebelumnya tidak pernah pria itu yang tertawa seperti tadi.
"Jika aku sudah mengeluarkan tawaku yang lepas seperti tadi, itu artinya saya sudah merasa nyaman berada di dekat orang itu. Seperti salah satunya, denganmu saat ini."
"Terdengar manis, kau tahu?"
"Kalau begitu sama seperti dirimu, Savannah. Kau itu bukanlah hanya sosok wanita manis, tetapi juga cantik, memiliki penampilan yang selalu membuatku terpukau karenanya. Sebagai wanita, kau itu adalah gambaran yang sangat sempurna."
"Okay. Sepertinya kita harus secepatnya kembali ke kantor. Karena bekerja tepat waktu adalah kesukaan atasanku," balas wanita itu yang dengan cepat mengganti topik pembicaraan, untuk menghindari pembicaraan sebelumnya dimana Duke yang mulai terlalu banyak kembali merayu dan memuji dirinya.
"Okay. Tagihannya atas namamu, setuju?"
"Apa? Kau bersungguh-sungguh?"
"Ya," balas pria itu dengan menahan senyumannya.
"Tetapi aku tahu uang milikmu lebih banyak dari milikku, okay? Dan apakah kau tega membiarkan seorang wanita yang membayar semua tagihan ini?"
"Aku bergurau, okay? Tagihannya atas namaku," ucap Duke dengan terkekeh.
"Baiklah. Sebelum kita kembali ke kantor, aku ingin pergi ke toilet terlebih dahulu."
"Ya, aku akan mengurus tagihannya."
"Aku akan kembali dalam lima menit."
Setelah itu, Savannah pun langsung beranjak dari duduknya dan bergegas melangkah menuju toilet untuk memenangkan dirinya sejenak setelah melewati waktu makan siang yang baginya terasa sangatlah tidak nyaman dan sama sekali tidak menyenangkan. Di sepanjang waktu berlalu tadi, ia hanya bisa terus membatin kira-kira kapan jam makan siang yang kali ini berjalan terasa begitu lambat tadi, bisa berakhir. Dan setelah makan siang itu telah berakhir, kini Savannah baru bisa menenangkan dirinya di dalam toilet restauran tersebut.
***
To be continued . . .