Happy Reading . . .
***
Waktu yang tepat sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, bersamaan dengan berhentinya mobil milik Duke tepat di depan bangunan apartemen yang menjadi tempat tinggal Savannah. Keduanya yang baru saja kembali dari restauran sehabis makan malam bersama itu, membuat Duke ingin memastikan bahwa Savannah dapat sampai di apartemennya dengan baik-baik saja.
"Belum terlalu larut jika kau ingin langsung beristirahat lebih awal," ucap pria itu.
"Ya. Dan, terima kasih untuk makan malamnya." Balas wanita itu sambil melepas sabuk pengaman yang dikenakannya.
"Lain waktunya, apakah kau ingin melakukannya lagi? Makan malam bersama denganku?"
"Jika sebagai teman, aku tidak akan keberatan."
"Tetapi jika sebagai yang lainnya?"
"Bagiku masih terasa canggung. Aku tidak biasa dengan yang seperti itu."
"Baiklah, sebagai teman saja."
"Tentu," ucap Savannah dengan tersenyum. "Kalau begitu, aku turun terlebih dahulu. Sampai jumpa esok hari."
"Jangan sampai terlambat."
"Ya, sir."
Dengan tawa di akhir kalimat balasannya itu, Savannah pun langsung membuka pintu mobil di sampingnya dan bergegas keluar dari mobil milik sang atasan. Setelah memberikan lambaian tangan dan mobil pria itu yang juga langsung melaju meninggalkan tempat sebelumnya, membuat Savannah melangkahkan kakinya memasuki apartemennya itu. Niat wanita itu yang setelah sampai di lantai kamar apartemennya dan ia yang juga sudah berada di dalamnya, ingin bisa cepat membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Namun ketika ia yang baru saja meletakkan tas yang ia bawa di sofa ruang tengah, suara bel apartemennya itu pun terdengar dan membuat Savannah langsung menunda segala hal yang ingin dilakukannya itu untuk membukakan pintu apartemennya tersebut.
Dan setelah membukakan pintu, Savannah pun langsung mendapati keberadaan Dylan di sana. Sesungguhnya wanita itu tidak terkejut dengan kedatangan pria itu yang secara tiba-tiba dan tidak memberitahunya terlebih dahulu karena hal seperti itu adalah hal yang biasa. Tetapi, di sini Savannah mendapati raut wajah pria itu yang terkesan kosong dan membuatnya menjadi sedikit bingung harus melakukan hal apa. Sosok Dylan yang sedang menampilkan wajah datar dan tidak bisa ditebaknya itu tidak pernah Savannah lihat, membuat wanita itu memilih untuk terdiam sejenak dan menatap wajah Dylan yang juga sedang menatap dirinya dalam diam.
"Masuklah," ucap Savannah sambil memberi jalan dan semakin membuka lebar pintu yang sebelumnya hanya ia buka setengahnya saja.
Tidak ada sepatah kata pun yang Dylan ucapkan selagi ia melangkahkan kakinya memasuki apartemen Savannah. Dan setelah Savannah menutup pintu apartemennya, ia pun melangkah menuju dapur untuk mengambil minuman kaleng di dalam kulkas. Setelah mengambil dua buah minuman kaleng, Savannah pun kembali melangkah menuju ruang tengah dimana Dylan sudah mendudukkan dirinya di salah satu sofa di sana.
"Kau terlihat tidak seperti biasanya?" Ucap wanita itu yang membuka percakapan sambil memberikan minuman yang sudah diambilnya tadi dan mendudukkan dirinya tepat di samping Dylan.
"Memangnya yang seperti biasanya itu, seperti apa?" Tanya pria itu dengan sedikit acuh tanpa melihat wajah wanita di sampingnya itu.
"Perhatian denganku, peduli, selalu tersenyum. Karena sejak kemarin aku hanya mendapati dirimu yang lebih banyak diam, acuh, dan seakan tidak peduli denganku lagi. Sejak kau yang datang pagi-pagi di rumah sakit itu, aku sudah merasa bahwa kau mulai berbeda."
"Kau peka dengan yang seperti itu. Dengan sendirinya kau menyadari semua itu. Apakah kau juga sudah mengetahui mengapa aku menjadi seperti itu?" Balas Dylan yang kini sudah mulai mengalihkan pandangannya dan menatap wajah Savannah.
"Karena Duke?"
"Apa alasanmu yang mengarah kepadanya?"
"Karena apalagi yang bisa membuatmu marah jika tidak ada hubungannya dengan dia?"
"Apakah kau sadar akan hal yang sudah kau lakukan itu?"
"Melakukan apa? Aku tidak melakukan apa-apa dengan Duke. Memangnya apa yang aku lakukan, Dy?"
"Rupanya kau masih tidak cukup peka juga."
"Beritahu aku."
"Kau masih tidak menyadarinya?"
"Beritahu aku, Dy! Bagaimana aku bisa tahu jika kau tidak mengetahui hal yang kau maksudkan itu?" Ucap Savannah yang mulai menaikan nada bicaranya. Pasalnya wanita itu langsung merasa kesal jika sikap Dylan sudah seperti ini. Sikap yang tidak ia sukai dari pria itu, dimana hanya karena rasa marah saja bisa membuat keduanya menjadi semakin berada di dalam kesalahpahaman.
"Kau yang bersama dengannya!" Seru pria itu yang juga ikut mulai menaikan nada bicaranya.
"Tetapi tidak ada apa-apa. Tidak ada yang terjadi di antara ku dan dengannya, seperti hal yang kau takutkan itu."
"Apa jaminannya? Apakah kau bisa menjamin bahwa benar-benar tidak terjadi hal apapun di antar kalian?"
"Apa yang kau ketahui, Dy?" Tanya wanita itu yang langsung ke intinya di saat ia yang merasa bahwa ada suatu hal yang begitu mengganggu pikiran Dylan hingga membuat pria itu menjadi bersikap tidak biasa, di luar akal sehat dan sebelumnya juga tidak pernah ia lihat ada di dalam diri pria itu.
"Kau tidak menjawab pertanyaanku."
"Kau pun juga tidak menjawab pertanyaanku."
"Kau menciumnya, ia yang menciummu, atau kalian yang sama-sama saling menginginkan untuk berciuman?"
Dengan menghela nafas kasar, Savannah pun menaruh minuman kaleng yang sebelumnya masih ia pegang di atas meja tepat di hadapannya. Begitu juga dengan milik Dylan yang juga ia ambil dari tangan pria itu dan meletakkannya di samping minuman miliknya. Dengan menarik kedua tangan Dylan dan digenggamnya di masing-masing tangan wanita itu, Savannah pun mulai menatap kedua mata pria di hadapannya itu dengan pandangan lembut yang selalu bisa meluluhkan Dylan. Dan sekarang, Savannah pun langsung mengetahui dari mana asal permasalahan di antara dirinya dan pria itu yang kini sedang terjadi.
"Apakah karena itu kau memberikan pelajaran hingga membuat wajahnya menjadi babak belurbelur seperti itu?"
"Kau tahu dari mana? Apakah ia memberikan pembelaan dirinya yang dilebih-lebihkan? Atau ia yang memang sengaja memberitahukannya kepadamu?"
"Kau dan segala pemikiran burukmu itu, sungguh selalu saja bisa membuatku langsung dibuat merasa kesal karenanya."
"Kau tidak menjawab pertanyaanku," timpal pria itu dengan sedikit sinis.
"Aku mengerti saat ini kau sedang marah dan kecewa denganku. Tetapi bisakah kau berhenti untuk tidak memakai nada bicara sinismu itu lagi, hah?"
"Aku sedang berusaha untuk menahan diriku yang saat ini sedang begitu ingin meledak-ledak, jika saat ini juga kau tidak menjelaskan semua hal yang sesungguhnya sudah terjadi di antara kau dan dia, di belakangku secara diam-diam hingga membuatku bisa saja terus menjadi salah paham seperti saat ini terhadapmu."
"Kau percaya aku ini seperti apa, bukan?"
"Aku membutuhkan penjelasan, Savannah. Astaga!" Ucap Dylan yang nyaris putus asa karena sejak tadi dirinya dan perasaannya itu sedang dipermainkan oleh seorang wanita yang masih menggenggam kedua tangannya, namun kini secercah senyuman sudah terbit di wajahnya tersebut.
"Okay. Aku akan benar-benar menjelaskan semuanya, agar kau tidak salah paham lagi terhadapku. Tetapi setelah ini berjanjilah tidak perlu ada rasa marah lagi, okay? Apalagi sikap sinis yang sama sekali bukanlah dirimu."
"Mulailah."
"Dia yang menciumku terlebih dahulu. Dengan begitu saja, secara tiba-tiba dan aku pun juga tidak bisa menghindarinya. Tetapi sungguh aku tidak menginginkan hal seperti itu, Dy. Aku tidak menginginkan ciuman itu. Bahkan aku pun juga tidak menikmatinya apalagi sampai membalasnya."
"Tetapi kau bisa menolaknya. Kau memiliki hak untuk itu agar hal yang tidak kau inginkan itu semakin jauh."
"Aku tidak bisa, Dy."
"Itu artinya kau menginginkan ciuman itu juga, bukan?"
"Tidak seperti itu."
"Lalu?"
"Dia atasanku, Dy. Dan sebagai pegawainya, aku harus memiliki rasa hormat kepadanya karena ia adalah atasanku."
"Dan membiarkan dia yang dengan seenak hatinya saja menciummu?"
"Aku tidak menginginkannya, Dy."
"Lalu bagaimana dengan makan malam tadi? Aku tidak yakin kau tidak menginginkan hal itu. Kau terlihat begitu menikmatinya. Makan malam bersama di restauran berbintang, bersama dengan pria yang sempurna seperti dirinya. Siapa yang tidak menginginkan hal seperti itu? Aku rasa semua semua wanita menginginkan hal itu."
"Itu hanya makan malam biasa saja, Dy."
"Biasa? Kau yakin tidak ada hal yang lainnya lagi?"
"Hmm..., sesungguhnya ia juga..." Ucap Savannah yang menggantungkan kalimatnya karena ia tahu bahwa setelah Dylan mendengar hal yang akan dikatakannya itu akan semakin membuat pria itu marah kepadanya.
"Juga apa?"
"Mengatakan..., bahwa..., ia menyukaiku."
Berakhirnya kalimat yang diucapkan oleh Savannah itu pun membuat Dylan langsung hendak beranjak dari duduknya. Namun, dengan cepat wanita itu menaha tangan Dylan dan mencegahnya agar tidak beranjak pergi dan meninggalkannya.
"Dengarkan aku terlebih dahulu, aku mohon." Ucap Savannah dan melihat Dylan yang mulai memposisikan dirinya seperti semula. "Aku tidak menginginkan itu, Dy. Aku tidak ingin Duke menyukaiku lebih dari profesional. Aku hanya ingin hubunganku dengannya hanya sebatas atasan dan asisten saja. Tidak lebih dari itu. Aku ingin sebatas profesional saja. Jadi jangan salah paham dengan semua ini, okay?"
"Bagaimana tidak aku akan salah paham, jika ia saja sudah terang-terangan menyatakan perasaannya kepadamu."
"Tetapi aku tidak menyukainya. Maksudku, tidak lebih dari batas profesional di antara diriku dan dirinya."
"Omong kosong."
"Dy, sesungguhnya yang kau takutkan itu karena akan kehilanganku, atau kau tidak ingin kalah bersaing dengannya?"
"Siapa yang mengatakan itu adalah sebuah persaingan? Kau tidak pantas dianggap sebagai persaingan, Savee. Kau tidak pantas mendapatkan hal seperti itu."
"Maka berhentilah bersikap seperti ini, Dy. Aku tidak ingin melihatmu yang seperti ini. Aku tidak ingin melihat Dylan yang marah seperti ini. Aku tidak menyukainya."
"Ini tidak akan terjadi jika kau mengizinkan pria itu untuk mendekatimu."
"Aku tidak mengizinkannya."
"Tetapi secara tidak sadar kau sudah melakukannya."
"Dy..., aku mohon berhentilah seperti ini. Jika kau marah dan merasa kecewa terhadapku, aku ingin meminta maaf kepadamu. Maafkan aku jika aku telah mengecewakanmu, Dy."
"Apakah kau menyukainya?"
"Tentu saja tidak, dalam sisi keprofesionalan."
"Jika tidak?"
"Aku hanya menghargainya sebagai atasanku saja."
"Hanya itu?"
"Apakah aku sampai perlu untuk bersumpah?"
"Jadi, ciuman dan makan malam itu?"
"Bagiku tidak ada artinya. Sama sekali tidak artinya."
"Lalu, perasaannya yang menyatakan bahwa ia menyukaimu?"
"Aku sudah mengatakan bahwa aku tidak bisa memiliki hubungan seperti itu. Hubungan yang resmi dan memiliki komitmen di dalamnya. Kau pun sudah mengetahui hal itu, bukan?"
"Kau berbicara seperti itu, seakan-akan memberikannya harapan. Saat ini kau memang memiliki komitmen untuk tidak memiliki suatu hubungan apapun dalam waktu dekat, tetapi bagaimana dengan masa depan nanti? Pasti kau akan mengubah komitmenmu itu, bukan? Dan aku yakin bahwa ia akan berharap dengan hal itu."
"Tetapi aku tidak ingin bersama dengannya. Aku hanya ingin bersama denganmu. Pria yang sudah membuatku terlanjur nyaman kepadanya."
Mendengar hal yang diucapkan oleh Savannah itu, dengan mudah Dylan pun langsung luluh karenanya. Dengan mulai merangkul bahu wanita itu, ia pun langsung dibalas dengan pelukan erat yang diberikan oleh Savannah. Eratnya pelukan tersebut membuat wanita itu mencari posisi yang nyaman dengan mesandarkan kepalanya di d**a milik Dylan yang terasa bidang dan selalu nyaman dirasakannya.
"Jadi, kau sudah memaafkanku, Dy?"
"Aku hanya merasa kecewa saja terhadapmu, Savee. Aku tidak menyangka jika kau sudah menyembunyikan hal seperti itu di belakangku."
"Bukannya aku ingin menyembunyikan hal seperti itu, Dy. Tetapi waktunya saja yang belum tepat. Kau ingat intensitas pertemuan kita belakangan ini terasa sangat jarang, bukan? Maka dari itu aku pun belum memiliki kesempatan untuk membicarakannya denganmu. Maafkan aku, okay?"
"Aku memaafkanmu, Savee."
"Berjanjilah kau tidak akan mengacuhkanku lagi."
"Itu tergantung."
"Tergantung pada apa?"
"Tergantung apakah kau akan meninggalkanku atau tidak? Jika kau memutuskan untuk pergi meninggalkanku, aku rasa aku tidak ingin mengenalmu lagi."
"Sampai seperti itu?"
"Hanya kau yang aku miliki di hidupku ini, Savee. Aku tidak ingin kehilanganmu. Karena aku membutuhkanmu di hidupku, sampai kapan pun itu. Berjanjilah kau tidak akan pernah meninggalkanku. Apakah kau bisa melakukannya untukku, Savee?"
"Jika aku sudah berjanji, maka aku harus menepatinya. Bukan, begitu?"
"Tentu saja. Kau akan menjadi wanita yang kejam, jika kau berani mengingkari hal yang sudah kau janjikan itu."
"Kalau begitu jangan berjanji, karena aku takut tidak bisa menepatinya. Tetapi, bagaimana jika aku akan mengusahakannya. Aku akan berusaha untuk mewujudkan keinginanmu yang ingin agar aku tidak meninggalkanmu. Okay?"
"Apapun itu, asalkan kau bisa selalu berada di sampingku."
"Dan asalkan kau juga tidak akan menjadi seperti ini lagi. Menjadi Dylan yang menyebalkan dan sangat dingin."
"Baiklah. Apapun itu untukmu, Savee." Ucap Dylan yang langsung mencium kening wanita di dalam pelukannya itu.
"Jangan ada kesalahpahaman lagi di antara kita, okay? Jika ada masalah atau hal yang terasa aneh, kita bicarakan dengan baik-baik sampai permasalahan di antara kita selesai."
"Laksanakan, Madame."
***
To be continued . . .