Happy Reading . . .
***
"Makanlah selagi panas. Ini adalah pasta terenak yang tidak pernah saya temui di restauran lain selain di tempat ini," jelas Duke sambil menatap makanan yang berada di hadapannya itu.
"Baik, sir." Balas Savannah dengan tersenyum kecil.
Dengan mulai mengambil garpu di samping piring dimana makanan sudah tersedia tepat di hadapan wanita itu, membuat Savannah mulai memakan pasta yang sang atasannya katakan adalah pasta terbaik yang pernah ditemui. Dan di sinilah, di sebuah restauran berbintang Savannah dibawa oleh Duke untuk makan malam bersama seperti yang dikatakan oleh pria itu tadi siang. Dan rupanya ajakan yang dikatakan sang atasan itu benar-benar bukanlah hanya omong kosong semata saja. Karena setelah jam kantor telah berakhir tadi, Duke langsung mengajak asistennya itu untuk ikut makan malam bersama di restauran pilihannya tersebut.
"Jika di luar kantor, kau tidak perlu seformal seperti itu."
"Maksud anda tidak perlu seformal itu, seperti apa, sir?" Balas wanita itu setelah menelan suapan pertama yang sudah dikunyahnya.
"Itu salah satunya. Tidak perlu memanggil saya dengan sebutan 'sir', dan tidak perlu pakai kata saya atau anda."
"Lalu, saya harus seperti apa?"
"Panggil nama saya saja, Duke. Dan mulai dari sekarang jika di luar kantor, kita bisa memakai kata ganti kau dan aku. Terasa lebih mudah dari pada menggunakan kata baku yang terkesan kaku, bukan?"
"Tetapi..."
"Tetapi apa?" Sela pria itu yang membuat Savannah menjadi semakin merasa bingung untuk bisa menolak permintaan atasannya tersebut.
"Hmm... Jika seperti itu saya tidak bisa, Itu terdengar tidaklah baik, tidak profesional, dan tidak etis untuk dilakukan terhadap atasan saya langsung."
"Ini permintaan dari saya langsung. Jadi, kau tidak perlu sungkan atau merasakan hal-hal seperti yang kau sebutkan tadi."
"Tetapi baru saja anda masih menggunakan kata 'saya', sir. Dan itu artinya anda juga merasa kurang nyaman berbicara seperti itu, bukan?"
"Itu karena memang belumlah terbiasa saja. Baiklah, saya akan memulainya terlebih dahulu agar tidak terasa canggung di antara kita. Jadi, Savannah. Aku minta agar kau tidak perlu bersikap formal terhadapku, jika kita sedang di luar kantor seperti saat ini. Mudah dan lebih bersahabat didengar di telinga, bukan?"
"Tetapi apakah tidak masalah, sir? Saya masih merasa hai itu tidaklah etis."
"Sejak tadi kau terlalu banyak kata 'tetapi'. Kau sudah mendapatkan izin dariku untuk berbicara seperti itu. Jadi, lakukanlah saja."
"Hmm..., okay."
"Dan sekarang aku ingin mendengar kau yang memanggil namaku."
"Bagiku masih terasa canggung, Duke." Ucap Savannah dengan refleks dan tanpa bermaksud ingin ia lakukan.
"Itu dia. Kau sudah menyebutnya. Aku senang bisa mendengar hal itu darimu," balas pria itu dengan suara yang terdengar senang, yang justru membuat Savannah tersenyum canggung karena tidak biasanya ia mendengar suara seperti itu yang berasal dari sang atasan.
"Makanlah kembali. Kau harus menghabiskan pasta itu, okay?"
Dengan menganggukan kepala, Savannah pun mulai memakan makanannya kembali tanpa ingin memikirkan lebih jauh lagi mengenai sikap Duke yang terasa cukup aneh dan sangat tidaklah biasa bagi wanita itu. Dan setelah melewati makan bersama yang lebih banyak diisi dengan situasi yang cenderung hening, pada akhirnya situasi tersebut pun berakhir dengan keduanya yang telah menyelesaikan makanan masing-masing dan Duke yang juga langsung menawarkan makanan penutup kepada wanita yang duduk tepat di hadapannya tersebut.
"Tidak perlu. Dengan pasta ini aku sudah merasa sangat kenyang dan rasanya perutku begitu penuh dengan pasta."
"Bagaimana kalau wine? Apa ingin ditambahkan?"
"Kalau untuk yang satu itu tidak masalah."
Mendengar balasan wanita itu, dengan cepat Duke pun mengangkat tangannya untuk memberikan tanda kepada pelayan yang berjaga agar gelas berisi wine milik Savannah yang tinggal sedikit itu bisa diisi ulang.
"Bagaimana menurutmu dengan pastanya? Terasa sempurna, bukan?"
"Sesungguhnya aku cukup jarang memakan pasta. Hanya beberapa kali aku memakan pasta, jadi aku tidak bisa membandingkannya dengan yang lain. Tetapi untuk yang satu ini, aku tidak bisa memungkirinya bahwa makanan ini memang sungguh sangat lezat."
"Kau itu sesungguhnya tipikal wanita yang menghindari makan malam atau tidak?"
"Tidak. Menjaga bentuk tubuh bagiku memanglah hal yang penting, tetapi untuk makan aku masih tetap ingin mengikuti aturan. Yaitu, tiga kali dalam satu hari. Tetapi jika aku sedang begitu disibukkan dengan banyak pekerjaan yang tidak bisa membuatku untuk beristirahat, maka aku tidak melakukan makan tiga kali dalam satu hari."
"Itu artinya, kau adalah wanita yang pandai menjaga bentuk tubuh."
"Tidak hanya untuk kesenanganku sendiri, tetapi memiliki penampilan yang ideal rasanya membuat kepercayaan diri menjadi meningkat. Atau juga hal itu bisa menjadi motivasi orang lain yang ingin memiliki tubuh yang ideal. Aku rasa setiap wanita menginginkan hal seperti itu."
"Sangat menarik. Entah mengapa, tetapi di setiap kita sedang membicarakan hal yang serius. Aku selalu bisa mendengar hal menarik yang keluar dari seriap ucapanmu itu, Savannah. Pandanganmu akan setiap hal, selalu membuatku terkagum karenanya."
"Benarkah?" Tanya wanita itu yang kemudian meminum wine yang telah diisi ulang di gelas miliknya itu.
"Ya. Tidak hanya saat ini, tetapi pada saat setelah kau merawatku. Kau menyinggung mengenai permintaan maaf dan pengakuan akan rasa salah terlebih dahulu. Itu membuatku menjadi berpikir, bahwa kau memang sungguh wanita yang sangat berbeda, Savannah. Kau dan kecerdasanmu itu, membuatku kagum akannya."
"Aku tersanjung jika kau merasa seperti itu. Tetapi, bagiku hal seperti itu sangatlah biasa. Setiap orang memang memiliki pendapat dan pemikiran yang berbeda. Tetapi, tidak sedikit juga pastinya yang memiliki pemikiran dan pendapat seperti yang aku miliki."
"Okay. Hmm..., Savannah. Apakah kau tahu tujuanku yang mengajakmu ke sini, untuk makan malam bersama seperti ini?"
"Untuk makan malam. Kau yang mengatakannya sendiri."
"Ya, benar. Tetapi sesungguhnya aku memiliki maksud lain."
"Maksud lain?" Tanya wanita itu dengan rasa penasaran.
"Aku ingin bertanya kepadamu."
"Ya. Tanyakan saja?"
"Apakah mungkin hubungan profesional kita di dalam kantor ini, bisa berubah menjadi lebih dari sekedar teman pada saat di luar kantor?"
Pertanyaan yang dilontarkan oleh Duke itu pun langsung membuat tubuh Savannah bereaksi menegang. Wanita itu tidak tahu harus merespon apa setelah mendengar ucapan pria itu.
"Savannah, apakah menurutmu bisa?"
"Hmm..., ma-maksudmu mengenai lebih dari teman itu apa?"
"Lebih dari teman. Kau dan aku, yang menjalin hubungan lebih dari itu. Seperti salah satunya adalah kekasih."
"Mengapa harus lebih dari teman?"
"Karena..., aku menyukaimu. Tidak hanya karena kinerjamu saja selama ini untukku. Tetapi juga kepribadianmu, sifatmu, membuatku merasa bahwa aku ingin memilikimu, Savannah."
Kalimat itu, kalimat yang tidak pernah Savannah inginkan untuk bisa keluar dari mulut atasannya itu, namun kini justru sudah ia dengar lebih cepat dari yang pernah ia kira dan duga. Tubuh Savannah yang sudah menegang karena kini ia sedang berada pada situasi yang membuatnya menjadi merasa tidak nyaman, semakin terasa menegang di saat kedua tangannya yang berada di atas meja itu mulai digenggam oleh Duke.
"Aku mengerti dengan karir yang masih ingin kau utamakan dari hal apapun. Tetapi, aku tidak keberatan jika kita akan memulainya dengan perlahan. Dengan begitu, kita juga bisa semakin saling mengenal satu sama lain, bukan?"
"Duke..."
"Tidak perlu kau pikirkan sekarang. Aku tahu kau membutuhkan waktu untuk semua itu. Aku hanya ingin kau memberitahu apa yang aku rasakan terhadapmu ini saja. Bahwa, aku menyukai dirimu, Savannah."
"Dengarkan aku terlebih dahulu. Mengapa kau memilih aku? Aku tahu sejak awal kau selalu menganggap diriku ini hanya sebatas profesional saja. Tetapi, mengapa sekarang tiba-tiba kau menjadi mengungkapkan perasaanmu seperti ini?"
"Apakah hati pernah melarang terhadap siapa pun itu berlabuh?"
"Tidak."
"Bagaikan kapal. Maka, aku pun juga tidak bisa mengetahui mengapa hatiku ini akan berlabuh pada dermaga pilihannya itu. Tetapi, sesungguhnya kau tidak perlu terlalu memikirkannya. Seperti katamu tadi, biarkan semuanya mengalir seperti air, tidak terencana."
"Tetapi sesungguhnya dengan kau yang mengatakan hal seperti itu, beban pikiranku sudah otomatis langsung bertambah. Bagiku, memiliki hubungan yang lebih dari sekedar teman adalah hal yang sulit. Membutuhkan komitmen di dalamnya, dan itu sangat bukanlah diriku."
"Lalu, bagaimana dengan hubungan kasual yang kau miliki itu? Bukankah itu membutuhkan komitmen juga?"
"Tidak. Hubungan kasual tidak memerlukan komitmen. Hanya keyakinan dan ketersediaan dua pasangan saja yang saling sepakat."
"Lalu, apakah kau berniat membawa hubungan kasual yang kau jalani itu lebih jauh lagi?"
"Untuk saat ini tidak, atau mungkin tidak tahu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi ke depan nanti."
"Tetapi, bagaimana denganmu sendiri? Apakah kau sesungguhnya bisa menginginkan lebih dari itu?"
"Aku tidak ingin merasa kecewa hanya karena kenyataan di masa depan yang aku miliki dan dapatkan nanti, tidak sesuai dengan harapan yang sudah aku inginkan. Maka, aku pun tidak ingin memiliki harapan untuk masa depan pasanganku nanti yang akan seperti apa. Biarkan semuanya mengalir seperti air."
"Bagaimana bisa aku selalu merasa terpukau dan kagum akan setiap jawabanmu yang selalu terdengar cerdas itu?"
"Jangan berlebihan seperti itu," balas Savannah dengan tersenyum kecil.
"Tidak berlebihan, hanya mengungkapkan rasa kagum saja."
Dan tawa kecil yang saling keduanya lemparkan dan lebih kepada canggung bagi Savannah, dengan perlahan wanita itu pun melepaskan kedua tangannya yang masih digenggam oleh Duke. Dengan berusaha memecah rasa canggung, Savannah pun meminum wine miliknya dan mengelilingi pandangannya ke seluruh penjuru restauran yang terlihat sangat berkelas dan mewah itu.
"Tetapi jika di luar kantor, hubungan kita masih bisa menjadi teman, bukan?"
"Ya, tentu. Siapa pun bisa menjadi teman, bukan?"
"Kalau begitu, apakah kau masih ingin menambah wine lagi?"
"Sesungguhnya aku ingin langsung pulang saja. Selagi aku memiliki kesempatan yang diberikan oleh atasanku untuk bisa pulang lebih awal, aku ingin memanfaatkannya dengan beristirahat lebih awal juga jika esok hari tidak ingin terlambat dan membuat marah atasanku. Jika kau ingin tahu, atasanku itu memanglah pria yang sedikit kejam." Ucap Savannah yang membuat Duke tertawa di akhir kalimat tersebut.
"Benarkah?"
"Ya. Kau harus bertemu dengannya jika ada kesempatan."
"Apakah aku sekejam itu?"
"Memang kejam, tetapi aku tahu sesungguhnya ada sifat baik yang tersembunyi di dalamnya."
"Kau sudah mengetahui sikapnya?"
"Sedikit."
"Kalau begitu, apakah aku boleh mengantarmu sampai apartemen? Atau setelah ini kau memiliki janji?"
"Tidak, aku tidak memiliki janji apapun. Jadi, setelah ini aku ingin langsung kembali ke apartemen dan beristirahat."
"Jadi, bagaimana? Apakah kau mengizinkannya?"
"Apakah tidak merepotkan?"
"Tentu saja tidak."
"Kalau begitu, baiklah. Jika kau memaksa dan merasa tidak repot, kau bisa mengantarku."
Setelah itu, Duke pun langsung melakukan pembayaran atas makan malam keduanya dan pria itu pun mengajak Savannah untuk keluar dari restauran tersebut dengan menggenggam tangan wanita itu, menuju mobil yang sudah berada tepat di depan restauran tersebut yang baru saja diparkiran oleh valet. Dengan bersikap romantis, pria itu membukakan pintu di bagian penumpang tepat di samping kursi kemudi dan mempersilakan Savannah untuk bisa masuk terlebih dahulu. Sikap manis yang bisa saja membuat wanita manapun merasa sangat dihormati hanya dengan hal sederhana seperti itu, bisa membuat Savannah tersenyum saja karenanya.
Senyuman yang bisa saja dianggap adalah sebuah kebahagiaan, sudah diperhatikan dari kejauhan oleh sosok yang sudah sejak tadi memantau hal yang Duke dan Savannah lakukan di dalam restauran tersebut, dari dalam mobilnya. Dengan hanya menatap lurus dengan pandangan kosong, Dylan memperhatikan mobil Duke yang melaju melewati mobil miliknya itu begitu saja, sambil mengepalkan tangannya erat pada kemudi mobil tepat di hadapannya, dengan berharap bisa menyalurkan rasa emosi yang sedang begitu membara di dalam diri pria itu.
***
To be continued . . .