Taking Care

2100 Kata
Happy Reading . . . *** Dengan langkah yang terasa sedikit ragu, Savannah terlihat menghentikan langkahnya tepat di depan pintu ruangan kerjanya sendiri. Wanita itu sedang mempersiapkan dirinya jika setelah ini ia akan kembali menerima nasihat ataupun kalimat ucapan yang akan ditujukan oleh sang atasan terhadapnya, karena dirinya itu yang baru saja kembali keesokan harinya setelah menghilang dengan begitu saja tanpa memberitahu sang atasan akibat insiden dirinya yang tiba-tiba saja tidak sadarkan diri. Dan kini setelah Savannah yang baru saja kembali dari rumah sakit, membuat wanita itu dengan sedikit memaksa untuk bisa langsung kembali ke kantor sebelum ia yang nantinya akan ditegur oleh setiap kalimat sinis dan ketus yang diberikan Duke terhadapnya. Dan setelah beberapa saat Savannah mempersiapkan dirinya, ia pun mulai membuka pintu ruangannya tersebut dan langsung disambut dengan keadaan meja kerjanya yang masih sama seperti terakhir kali kemarin ia tinggalkan, dan suasana yang sepi dan tenang seperti biasanya. Setidaknya wanita itu bisa bernafas dengan lega untuk sejenak, karena ia tidak langsung dihadang oleh sang atasan yang bisa saja mencercanya dengan berbagai macam pertanyaan yang selalu saja menyudutkan dirinya. Dan pada saat tidak melihatnya sosok Duke sejauh mata memandang, Savannah pun langsung berinisiatif merapikan meja kerjanya terlebih dahulu sebelum ia yang akan memulai pekerjaannya kembali dari awal, serta melanjutkan kembali pekerjaannya yang kemarin belum sempat ia sentuh maupun yang belum selesai ia kerjakan juga. Namun pada saat Savannah melakukan kegiatannya tersebut, perasaan tidak enak pada hati wanita itu langsung ia rasakan dan tertuju terhadap sang atasan yang belum ditemuinya juga untuk bisa menjelaskan mengapa selama setengah hari kemarin tiba-tiba saja dirinya itu menghilang dan tak kunjung kembali lagi ke ruang kerjanya. Merasa dirinya itu memang salah karena tidak bisa bertanggung jawab atas pekerjaan yang dimilikinya itu, setelah selesai merapikan meja kerjanya dari dokumen-dokumen yang sebelumnya begitu berantakan di atasnya. Savannah pun berinisiatif dengan membuat kopi untuk Duke agar berharap pria itu nantinya bisa sedikit merasa tenang pada saat Savannah yang nanti ingin memberikan penjelasan kepada sang atasan tersebut. Dengan cepatnya secangkir kopi sudah dibuat oleh Savannah, dan dengan bergegas ia langsung melangkah menuju ruang sang atasan sambil berharap dengan secangkir kopi yang sudah dibuatnya itu dapat membuat wanita itu mendapatkan maaf. Namun pada saat berada di ruangan Duke, Savannah tidak bisa menemukan keberadaan pria itu yang biasanya sudah berada di kursi kebesarannya itu dan sudah mulai bekerja. Mendapatkan sang atasan yang tidak ada di mejanya, membuat Savannah merasa aneh karena hal itu sedang terjadi tidak pada biasanya. Tidak menemukan keberadaan Duke di meja kerjanya dan di sofa tamu di ruangannya tersebut juga, membuat Savannah menaruh cangkir berisi kopi yang dibawanya itu di atas meja kerja sang atasan. Dan bersamaan dengan wanita itu yang terus berpikir dan mengira dimanakah keberadaan Duke, tiba-tiba saja Savannah mendengar suara dari sesuatu yang terjatuh, yang berasal dari kamar mandi yang terletak sedikit ke dalam di ruangan tersebut. Dengan langkah cepat, Savannah pun langsung bergegas menghampiri asal suara tersebut yang mulai membuatnya menjadi merasa khawatir akannya. Dan benar saja, rasa khawatir yang Savannah rasakan itu semakin menjadi di saat ia melihat sang atasan dengan penampilan yang terlihat begitu berantakan yang sedang duduk di atas kloset. Wajahnya yang terlihat menahan rasa sakit itu dipenuhi dengan luka lebam yang sebagian besarnya berdarah dan darahnya pun juga sudah ada yang mengering. Kemeja putih yang dikenakannya itu juga sudah begitu berantakan dengan noda-noda darah yang juga mengotori di beberapa sudut seperti kerah dan di sekitarnya. Dengan perlahan dan berusaha untuk tidak membuat sang atasan menjadi marah ataupun salah paham atas kedatangannya itu, Savannah mulai menghampiri Duke dan berniat untuk membantu. "Sir..., ada apa dengan anda? Apa yang terjadi terhadap anda?" Tanya Savannah dengan perlahan sambil menatap wajah Duke yang jika dilihat sedikit mengerikan. "Bantu saya." "Hmm..., ba-baik, sir." Sambil berusaha menenangkan dirinya karena rasa panik dan khawatir yang dirasakannya itu, Savannah pun mulai mengambil handuk kecil yang menggantung di depan pembatas wastafel, yang biasa digunakan untuk mengeringkan tangan. Setelah membasahi sebagai sisi handuk tersebut dengan air, Savannah pun melangkah menghampiri Duke yang berada di kloset tepat di samping bagian wastafel untuk mulai membantu membersihkan wajah pria itu dari darah yang berasal dari luka yang dimiliki tersebut. "Saya berusaha mengambil handuk itu. Tetapi saya tidak bisa meraihnya hingga jadi menjatuhkan kotak tisu," ucap Duke yang berusaha menjelaskan hal yang terjadi tadi sehingga menimbulkan suara barang yang terjatuh sambil menahan rasa sakit yang timbul di wajahnya, di setiap ia berbicara. "Iya, sir. Dan sekarang saya ingin membersihkan wajah anda terlebih dahulu sebelum mengobatinya." "Perlahan." "Tentu, sir." Dan dengan perlahan, Savannah mulai mengusap perlahan darah di wajah pria itu dimulai dari dagu dan kedua sudut bibir Duke. Sudah sepelan mungkin wanita itu mengusap, namun ia masih bisa mendengar beberapa geraman yang Duke keluarkan karena berusaha menahan rasa sakit yang sedang dirasakannya itu. Dengan perlahan dan penuh kelembutan, Savannah membersihkan setiap darah yang terdapat di wajah Duke dengan beberapa kali melangkah menuju wastafel dan kembali menuju sang atasan untuk mencuci dan membersihkan handuk tersebut yang sudah dikotori oleh darah. "Sir, apakah anda tidak ingin pergi ke rumah sakit saja untuk mendapatkan penanganan yang lebih tepat atas luka yang anda miliki ini?" Tanya Savannah yang tetap sambil melakukan kegiatannya tersebut. "Tidak. Kau saja yang merawat saya." "Baik, sir." Balas wanita itu yang mencoba untuk tidak memikirkan lebih jauh lagi dari maksud kalimat yang diucapkan oleh atasannya itu. Setelah membersihkan luka di wajah Duke hingga sudah terlihat sedikit lebih baik, Savannah pun membuang handuk tersebut yang semula bewarna putih namun kini sudah berubah menjadi warna merah karena darah ke dalam tempat sampah. Setelah itu ia pun bergegas melangkah keluar kamar mandi untuk mengambil kotak obat dan pakaian ganti di dalam lemari yang biasanya terdapat pakaian cadangan milik sang atasan yang selalu ia sediakan di sana. Dan setelah mendapatkan kotak obat yang wanita itu cari dengan sebuah kemeja putih berlengan panjang yang ia ambil dari dalam lemari tepat di depan pintu kamar mandi tersebut, membuat Savannah dengan cepat langsung melangkah memasuki kamar mandi itu kembali. "Anda bisa mengganti pakaian anda terlebih dahulu, sir." "Bisakah kau menggantikannya? Saya sudah merasa tidak berdaya lagi." Bagaimana mungkin Savannah bisa menjawab tidak jika kondisi atasannya saja sedang seperti ini? Rasanya tidak mungkin bagi wanita itu menolak suatu hal yang sesungguhnya bisa ia lakukan untuk menolong seorang pria yang kondisinya sedang merasa kesakitan seperti yang sedang Duke rasakan saat ini. Dan lagi pula, sejak awal ia memang sudah ingin menolong pria itu yang sedang kesulitan ini. Dan dengan menyingkirkan segala rasa canggung dan pemikiran akan penolakan yang terus diberikan dari dalam dirinya, Savannah pun mulai membuka satu per satu kancing kemeja yang dikenakan oleh Duke untuk melepaskannya. Tentu dengan sangat perlahan Savannah menggantikan pakaian Duke agar tidak menyakiti pria itu. Setelah melewati hal yang bagi Savannah terasa cukup canggung itu, ia pun langsung mulai mengobati setiap luka yang berada di wajah Duke. Dimulai dari pelipis, hidung, tulang pipi yang memar, hingga sudut bibir pria itu juga tidak luput dari obat yang diberikan oleh Savannah. "Sir, apa yang terjadi pada anda hingga anda menjadi seperti ini?" "Urusan pria dewasa." "Urusan seperti apa yang membuat anda hingga menjadi babak belur seperti ini?" "Kau sungguh sangat ingin tahu?" Tanya pria itu dengan sedikit nada sinis yang terdengar di dalamnya. "Hmm..., maaf, sir. Saya tidak bermaksud." Jawaban yang diberikan oleh Savannah itu, justru membuat Duke tersenyum kecil akannya. Perlakuan dan pertanyaan yang sejak tadi diberikan oleh sang asisten itu, bisa Duke dengar dengan jelas bahwa banyak terdapat rasa cemas dan juga khawatir di dalamnya. Dengan seperti itu, hal kecil yang sudah dilakukan oleh Savannah itu justru bisa membuat pria itu menganggapnya menjadi hal yang besar dan juga berarti baginya. "Ini hanya masalah biasa saja. Setiap pria pasti pernah mengalami dan mendapatkan hal seperti ini. Jadi, kau tidak perlu cemas karena saya mendapatkan hal seperti ini." "Baiklah, sir. Saya sudah selesai mengobati wajah anda." "Saya ingin beristirahat lagi sejenak. Bisakah selagi saya istirahat, kau membelikan saya obat penahan rasa nyeri?" "Baik, sir. Saya akan membantu anda untuk bisa beristirahat di sofa, sir." Dengan merangkul lengan Duke, wanita itu pun membantu sang atasan untuk berjalan keluar dari kamar mandi dan melangkah menuju sofa di ruangan kerja tersebut. Setelah berada di sofa tersebut, Savannah pun membantu Duke untuk berbaring dan mencari posisi yang nyaman juga. "Saya akan kembali, sir." Setelah itu Savannah langsung bergegas untuk mengambil dompet miliknya di ruangan kerjanya, dan dengan cepat ia melangkah menuju lift untuk bisa membelikan beberapa kebutuhan yang diperlukan oleh sang atasan. Seperti obat-obatan dan juga makanan untuk Duke. Dengan rasa tidak sabar karena ia harus bergegas, Savannah menunggu lift yang dinaikinya itu hingga membawanya menuju lobby. Dan tepat setelah lift yang sudah berada di lobby dan pintu yang juga terbuka, niat wanita itu yang ingin bergegas keluar dari lift langsung berpapasan dengan sosok Dylan yang hendak masuk ke dalam lift. Kepulangan setelah dari rumah sakit tadi, sedikit terasa tegang di antara keduanya karena Savannah merasa bahwa sifat Dylan tiba-tiba saja menjadi sedikit berubah entah apa alasannya. Dan hingga saat ini pun pria itu masih ingin bersikap dingin terhadap Savannah. Dan sedangkan Savannah yang tidak ingin menimbulkan perdebatan yang bisa saja terjadi di antara mereka, membuat wanita itu memilih untuk melewati begitu saja sosok Dylan yang masih terdiam di posisinya. Namun di saat Savannah yang ingin mengabaikan keberadaan pria itu, pandangannya tiba-tiba saja tertuju pada kepalan tangan Dylan yang baru disadari terlihat memar dan sedikit memerah di sana. Tanpa banyak berpikir lagi, Savannah pun langsung mengetahui dari mana asal memar yang dimiliki oleh Dylan di tangannya, dan juga luka lebam yang dimiliki oleh atasannya itu di wajahnya. Merasa saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk beragumen, Savannah pun langsung melangkahkan kakinya meninggalkan Dylan tanpa sepatah kata pun. *** Suapan terakhir yang Savannah berikan itu membuatnya tersenyum karena atasannya tersebut dapat menghabiskan makanan yang sudah ia belikan untuknya tadi. "Sir..., sebelumnya saya ingin meminta maaf kepada anda." "Meminta maaf kenapa?" "Kemarin, saya sudah meninggal meja kerja saya dan tidak kembali lagi. Saya tidak bertanggung jawab atas pekerjaan saya." "Kau masuk rumah sakit?" "Ya, saya sedikit kelelahan dan berakhir dengan tidak sadarkan diri. Tetapi sekarang kondisi saya sudah baik-baik saja. Sekali lagi saya benar-benar meminta maaf kepada anda, sir." "Tidak perlu kau pikirkan. Itu sudah menjadi hal yang biasa. Siapapun yang merasakan kelelahan yang teramat sangat, pasti akan mengalami hal yang kau alami juga." "Dan..., mengenai anda yang sampai mengalami hal seperti ini. Apakah karena Dylan?" "Memangnya kenapa?" "Jika benar karena dia, saya ingin meminta maaf kepada anda atas hal yang sudah dilakukannya itu. Mungkin saat itu emosinya sedang terkontrol, jadi ia tidak bisa menahan perasaannya itu." "Mengapa harus kau yang meminta maaf? Memangnya kau yang salah? Kau yang melakukan kesalahan itu sehingga sampai harus meminta maaf seperti ini?" "Karena saya yakin ia tidak akan pernah melakukan hal itu kepada anda, sir. Dan begitu juga sebaliknya, anda juga tidak akan pernah mungkin untuk melakukan hal itu." "Tidak seharusnya kau merendahkan harga dirimu sendiri hanya untuk keegoisan orang lain." "Saya rasa, hanya dengan meminta maaf atau mengakui kesalahan terlebih dahulu tidak akan merendahkan harga diri siapa pun, sir. Justru, hal itu adalah sebuah keberanian yang patut dibanggakan." Ucapan yang Savannah katakan itu pun langsung mengisi situasi keheningan di antara keduanya untuk sejenak. "Dimana obat untuk saya?" Tanya Duke yang dengan cepat langsung mengganti topik pembicaraan. Dan dengan cepat Savannah pun mengambil obat yang dibelinya tadi, dan langsung memberikannya kepada sang atasan. "Ini, sir. Dua butir untuk proses penyembuhan." Ucap wanita itu sambil memberikan obat kepada Duke, bersamaan dengan sebotol air mineral yang baru saja dibukakan olehnya. "Setelah ini kembalilah bekerja. Setelah jam pulang nanti, kau bisa langsung pulang. Tidak perlu lembur, apalagi memaksakan untuk bisa menyelesaikan pekerjaanmu." "Baik, sir. Terima kasih atas pengertian anda. Dan, apakah anda membutuhkan sesuatu lagi?" "Tidak. Bantuanmu sudah lebih dari cukup untuk hari ini." "Baik, sir. Kalau begitu, saya ingin kembali ke ruangan saya. Jika anda membutuhkan sesuatu, jangan sungkan untuk langsung memberitahu saya." "Ya." Savannah yang baru saja beranjak berdiri dan hendak melangkahkan kakinya meninggalkan ruang sang atasan, tiba-tiba saja kalimat yang terucap dan dikeluarkan oleh Duke pun langsung menghentikan langkahnya. "Hei, apakah nanti malam kau memiliki suatu rencana?" "Rencana apa, sir?" "Seperti janji temu, atau makan malam dengan seseorang, atau yang lainnya. Apakah kau memilikinya?" "Hmm..., tidak ada, sir. Saya tidak memilikinya." "Kalau begitu setelah jam kerja selesai nanti, ikut saya untuk makan malam bersama." "Apakah anda memiliki janji temu dengan klien, sir? Jika ada, biar saya yang reservasi tempatnya terlebih dahulu dan menghubungi kliennya." "Tidak. Bukan dengan klien. Tetapi hanya kau dan saya saja. Saya ingin membicarakan hal yang bersifat pribadi denganmu. Berdua saja, hanya denganmu, di tempat yang privasi." *** To be continued . . .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN