A Sign

1650 Kata
Happy Reading . . . *** Untuk yang kesekian kalinya, Savannah terus mencoba untuk menghubungi Dylan untuk menanyakan apakah pria itu masih berada di kantor atau tidak? Namun ponsel yang sedang dihubunginya itu tidak juga terus diangkat. Setelah seharian ini Savannah tidak bertemu dengan pria itu selama di kantor, perasaannya mengatakan bahwa ia merindukan sosok Dylan yang tidak ia lihat. Dan saat ini Savannah sedang bersiap untuk pulang dari kantor, dan untuk yang kesekian kalinya juga ia melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Rasa khawatir dan cemas pun mulai merasuk di dalam diri Savannah, di saat ia yang sedang ingin bertemu dengan Dylan tetapi pria itu justru tidak kunjung mengangkat teleponnya juga. Tidak biasanya Dylan mengabaikan setiap telepon yang dilakukan oleh Savannah. Dan saat ini pun waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam, dan ponsel Dylan pun sangat sulit untuk dihubungi. Tentu perasaan Savannah pun menjadi dibuat cemas karenanya. Setelah tidak ingin berpikir lagi, Savannah pun langsung merapikan barang-barang miliknya dengan memasukkan ke dalam tas dan ingin bergegas menuju apartemen Dylan untuk memastikan apakah pria itu sedang berada di apartemennya atau tidak. Namun di saat Savannah hendak beranjak dari duduknya, ia mendapati sang atasan yang melangkah memasuki ruangannya dan menghampiri keberadaan dirinya itu. "Kau baru akan pulang?" Tanya Duke kepada sang asisten. "Ya, sir." "Menggunakan apa?" "Saya biasa menggunakan taksi, sir." "Kalau begitu akan saya antar." "Tidak perlu. Tidak perlu merepotkan. Dan, lagi pula setelah ini saya juga ingin pergi ke apartemen milik teman saya." "Seperti itu? Kalau begitu kita turun ke lobby bersama. Ayo." Setelah menganggukkan kepala sedikit ragu, Savannah pun mulai mengambil tas miliknya dan beranjak berdiri dari kursinya untuk bergegas melangkah beriringan dengan Duke di sampingnya keluar dari ruangan kerjanya tersebut dan melangkah menuju lift. "Apakah kau selalu pulang larut seperti ini?" "Hanya jika pekerjaan saya sedang sangat banyak saja dan tidak bisa menunggu untuk keesokan harinya, sir." "Itu artinya, sebagian besar kehidupanmu berada di sini?" "Sebuah pencapaian yang besar membutuhkan suatu pengorbanan yang besar juga, bukan? Maka, saat inilah saya sedang berada di tahap itu." "Sudahkah kau berada di tahap bosan atas rutinitas yang setiap harinya tidak ada yang berbeda?" "Sampai saat ini, saya belum berada di tahap itu, sir. Saya cukup menikmati hal yang terjadi pada saya saat ini. Dan saya ingin menjalani semuanya dengan begitu saja mengikuti arah setiap detik waktu berjalan." Berakhirnya kalimat balasan yang Savannah berikan itu, bersamaan dengan terbukanya pintu lift yang sejak tadi sudah ditunggu oleh keduanya itu. Namun di saat Savannah yang baru saja melangkah memasuki lift tersebut, sepatu hak yang dikenakannya itu secara tidak sengaja terjepit di antara lubang pintu lift yang terbuka sehingga di saat wanita itu yang tidak siap menerima hal itu langsung hendak terjatuh. Tetapi, dengan sigapnya tubuh Savannah sudah ditarik dan didekap oleh Duke yang juga menahan pintu lift tersebut dengan tubuh bagian belakangnya agar tidak sampai tertutup. Dengan hal seperti itu, tubuh Savannah pun sudah benar-benar melekat pada tubuh Duke, dan membuat tatapan keduannya langsung bertabrakan. "Apakah kau baik-baik saja?" "Hmm..., y-ya, sir. Hanya saja, sepatu saya yang sedikit tergelincir." Mendengar hal itu, Duke pun melihat kaki kanan Savannah dimana sepatu yang dikenakannya itu memang terjepit di sana. Dengan refleks, pria itu langsung memegang kaki Savannah dan sedikit menariknya untuk melepaskan dari lubang pintu lift tersebut. Bagian tubuh lain wanita itu selain tangan, untuk yang kedua kalinya Duke sentuh, membuat pria itu tidak pernah menduga bahwa sensasi yang dirasakan itu, membuatnya tidak tersadar bahwa posisi dirinya yang memegang langsung lembutnya kulit tubuh Savannah itu dengan cukup lama. "Sir..., sepatu saya sudah terlepas. Dan, sampai kapan anda akan memeluk tubuh saya ini?" Ucap wanita itu yang langsung membuat Duke melepaskan dekapan tubuh pada dirinya sambil menegakkan posisi pria itu untuk menjaga wibawa. Walaupun sesungguhnya Duke sudah menanggung rasa malu atas hal yang secara tidak sadar akan hal yang sudah dilakukannya terhadap Savannah. "Hmm..., tetapi kakimu baik-baik saja, bukan?" "Ya, tentu, sir. Tadi saya hanya sedang tidak berkonsentrasi saja dalam berjalan, sehingga saya menjadi tergelincir. Terima kasih sudah membantu saya." "Ya. Kalau begitu masuklah," balas Duke yang mempersilakan Savannah untuk masuk ke dalam lift terlebih dahulu. Dan situasi canggung setelah kejadian tersebut berlangsung pun mengisi di antara Duke dan Savannah. Tidak hanya kecanggungan, keheningan pun juga terjadi di sana hingga pada saat lift tersebut tiba di lobby, keduanya langsung berpisah tanpa satu kata pun. *** Lift yang baru saja terbuka, membuat Savannah langsung dapat melihat sosok Dylan tepat di depan pintu apartemen milik pria itu yang sedang berusaha membuka kunci pintu tersebut. Nafas lega dapat wanita itu lakukan pada saat melihat sosok yang sudah dicari-cari dan dikhawatirkannya sejak tadi, sudah berada beberapa meter di hadapannya dengan keadaan dan kondisi yang baik-baik saja. Dan dengan langkah cepat, Savannah menghampiri sosok Dylan yang terlihat kesulitan hanya untuk membuka pintu saja. "Dy, ada apa denganmu?" Ucap Savannah sambil mengambil kunci pintu apartemen tersebut dari tangan pria itu. Namun setelah melihat kondisi Dylan, Savannah pun langsung mengetahui bahwa pria itu sedang mabuk. "Kau sehabis minum?" Tanya wanita itu yang semakin melihat raut wajah Dylan yang benar-benar memperlihatkan setengah ketidaksadaran di sana. "Bukan urusanmu!" Balas pria itu dengan ketus. Sedangkan Savannah yang mendengar balasan tersebut langsung mengetahui bahwa pria itu sedang merasa marah, kecewa terhadapnya, membuat Savannah harus menghadapi sifat Dylan yang kali ini perasaannya sedang sensitif. "Baiklah, kau harus beristirahat." Setelah membuka pintu apartemen tersebut, Savannah membantu Dylan untuk berjalan dengan memapahnya. Beban tubuh pria itu yang tentu lebih berat dari tubuh Savannah, membuat wanita itu memutuskan untuk sementara menaruh Dylan di sofa ruang tamu selagi ia yang ingin mengambilkan air mineral untuk pria itu. "Minumlah." Dengan perlahan Savannah memberikan air yang baru ia ambil kepada Dylan yang terlihat masih sedikit sadar dari kondisinya yang mabuk itu. "Kau pergi ke club? Tidak biasanya kau pergi ke sana jika sedang tidak ada masalah," tanya wanita itu sambil mengusap wajah Dylan dengan lembut. "Aku sedang membutuhkannya," balas pria itu sambil menutup mata dengan suara yang terdengar lemah. "Ada apa? Jika ada masalah, mengapa tidak dibicarakan saja denganku? Kau begitu membuatku khawatir, Dy. Aku terus menghubungimu, tetapi kau tidak kunjung juga mengangkat panggilan dariku juga." "Menghubungimu?" Ucap Dylan dengan nada sarkasnya, lalu menatap Savannah dengan lekat. "Bukankah kau sedang sibuk dengan atasanmu? Atasan yang sudah mulai memberikan umpan agar kau bisa masuk ke dalam perangkap rayuannya itu." "Apa?" Balas Savannah yang merasa tidak mengerti dengan maksud dari ucapan yang dikatakan oleh pria itu. "Kau dan dia. Di kedai kopi tadi pagi." "Yang itu. Jadi..., kau melihatnya?" Ucap Savannah dengan sedikit godaan karena tahu bahwa saat ini Dylan sudah jelas sedang cemburu dengannya. "Ya." "Itu bukanlah apa-apa." "Aku bisa melihatnya dengan jelas. Ia memegang tanganmu, sedikit mengusapnya, dan..." "Dy..., itu bukan apa-apa. Kau percaya denganku, bukan?" Sela Savannah sambil merangkul bahu pria itu dan memeluknya. "Denganmu, tentu saja. Tetapi dengan dia, sama sekali tidak. Memangnya apa yang kau bicarakan dengannya sampai-sampai ia berani menyentuh tanganmu seperti itu?" "Ia hanya mengungkapkan kekagumannya saja terhadapku." "Kekaguman?" "Iya. Karena selama satu minggu ini aku bekerja untuknya, aku sudah melakukan pekerjaanku dengan baik. Dia merasa puas dengan kinerjaku yang sejak awal dianggap remeh olehnya." "Hanya karena itu ia sampai berani memegang tanganmu?" "Hanya memegang, Dy. Aku yakin tidak akan ada maksud lain." "Kau memang sunggu seseorang yang tidak peka. Aku yang melihatnya dari kejauhan saja sudah dapat mengerti apa maksud dari tujuannya yang sedang memegang tanganmu." "Tetapi aku hanya ingin berpikir bahwa hal itu tidak ada artinya. Aku tidak ingin hal yang aku takutkan itu benar-benar terjadi, dan beresiko pada karir milikku." "Dia bisa berbuat hal yang buruk terhadapmu, Savee. Kau harus berhati-hati dengannya. Jangan mau menerima tawaran apapun, karena kau bisa masuk ke dalam jebakan dan juga perangkapnya." "Iya, okay. Aku akan berhati-hati. Dan tanpa kau peringatkan sekali pun aku juga akan selalu berhati-hati. Sedikit demi sedikit, aku pun juga sudah mulai mengetahui sifat asli adikmu itu." "Dia orang yang jahat, Savee. Dia lebih buruk dari seorang Jamie McCarter. Dan mulai dari sekarang, aku sudah terus memperingatimu sejak awal." "Aku tahu kau ini sedang cemburu denganku." "Jangan terlalu percaya diri," balas Dylan sambil semakin memeluk tubuh Savannah yang sedang tertawa kecil itu setelah mendengar ucapannya. "Bukannya aku terlalu percaya diri, tetapi aku memang bisa melihat dengan sangat jelas dengan raut wajah cemburu yang ada pada dirimu ini." "Kau salah." "Benar." "Salah." "Benar, Dy." "Salah, Savee." "Kau terlihat sudah seperti ini, artinya kau sudah kembali seperti biasanya. Seperti Dylan yang semula" "Seperti biasanya itu seperti apa?" "Dylan yang menyebalkan," balas Savannah dengan tersenyum kecil. "Savee, jangan pernah tinggalkan aku. Hanya kau yang aku miliki di hidupku. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku tanpamu, Savee." "Memangnya aku ingin pergi kemana? Aku tidak memiliki rencana ingin pergi kemana-mana." "Bukan itu yang aku maksud." "Iya, tetapi aku sudah mengerti." "Kau tidak akan pernah meninggalkanku, bukan?" "Aku tidak akan kemana-mana." "Terima kasih sudah ingin mengatakan hal itu kepadaku," balas Dylan yang langsung memeberikan sebuah kecupan kecil pada pipi Savannah. "Jangan mencium-ciumku di saat kau sehabis minum," protes wanita itu sambil mengusap pipinya yang sehabis dikecup tadi. "Memangnya kenapa? Tidak suka, hah?" "Tidak. Jika sedang mabuk, kau terlihat buruk." "Sekarang siapa di antara kita yang terlihat menyebalkan, hah? Lagi pula aku tahu kau wanita yang baik-baik. Dan tempat seperti itu tidak pantas untukmu. Jadi, aku tidak akan pernah mengajakmu ke sana." "Kenapa harus seperti itu? Memangnya kau pikir aku tidak pernah pergi ke sebuah club?" "Tetapi aku tahu kau wanita yang baik. Dan aku tidak ingin membawamu ke arah sana. Sebagai pria yang mencintaimu, itu adalah tanggung jawabku untuk bisa menjaga dan melindungimu." "Kau memang benar-benar pria sejati yang sesungguhnya. Seorang pria yang ingin melindungi seorang wanita, adalah pria yang sangat pantas disebut sebagai pria sejati." "Jangan menyanjungku terus. Atau aku akan semakin jatuh cinta kepadamu. Atau justru kau yang jatuh cinta kepadaku." "Tidak juga." "Yang benar?" "Jangan mulai menyebalkan, okay?" Cibir Savannah dengan tawa kecilnya yang juga membuat Dylan ikut terkekeh karenanya. *** To be continued . . .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN