There's a Mean

1950 Kata
Happy Reading . . . *** Sambil membawa baki berisi sarapan untuk sang atasan, Savannah melangkahkan kakinya menuju ruangan atasannya itu untuk menyajikan makanan tersebut. Melihat dari kejadian kemarin dan tidak ingin sampai terulang kembali, sebagai sekretaris serta asisten pribadi Duke, Savannah memiliki inisiatif untuk memberikan langsung makanan di setiap jam yang memang sudah seharusnya, sekalipun suka atau tidak suka atasannya itu nanti terhadap sikapnya yang seperti itu. "Selamat pagi, sir. Saya menyiapkan sarapan untuk anda, dan saya minta agar anda bisa memakannya sejenak sebelum anda memulai pekerjaan anda." Sapa wanita itu sambil meletakkan makanan yang dibawanya itu di atas meja, tepat di hadapan sang atasan. "Apa ini?" Tanya Duke sambil mengalihkan pandangannya dari layar ponsel di genggaman tangannya tersebut, menuju piring yang diletakkan di hadapannya. "Sarapan untuk anda, sir. Ada omelette, daging panggang asap, kentang rebus, dan kacang. Dan saya juga melengkapinya dengan jus jeruk Jika hal kemarin tidak ingin terjadi lagi, sebaiknya anda mulai memperhatikan jam makan anda supaya bisa lebih teratur lagi, sir." Namun kalimat penjelasan serta pengertian yang sedang Savannah, membuat pria itu justru menjadi tidak fokus dan sama sekali tidak mendengarkan setiap ucapan kata yang ditujukan kepadanya. Karena kini, Duke sudah kembali terpesona dengan pemandangan indah yang diberikan oleh tubuh sempurna milik Savannah. Wanita itu yang hari ini sedang memakai dress bewarna putih namun bermodel membentuk setiap lekukan tubuhnya yang sempurna itu, benar-benar memberikan pemandangan yang membuat kaum pria tidak bisa mengalihkan pandangannya jika sudah melihat bentuk tubuh Savannah. "Sir..., anda baik-baik saja, bukan?" Ucap wanita itu yang langsung membuat Duke mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyadarkan dirinya dari keterpukauan tersebut. "Y-ya." "Kalau begitu silakan memakan sarapan anda. Saya ingin melanjutkan pekerjaan saya." "Hei, tunggu dulu. Kemarilah. Pena saya terjatuh di bawah meja. Bisakah kau mengambilkannya?" "Di bawah meja?" "Ya. Tadi saya tidak sengaja menjatuhkannya. Dan sepenglihatan terakhir saya, pena itu jatuh di bawah meja dekat kaki saya. Saya ingin memulai makan, dan kau yang menyuruh saya untuk makan, bukan? Jadi, kau yang mengambilkan pena milik saya di sana. Bisakah?" "Hmm..., ba-baik, sir." Balas Savannah dengan sedikit ragu, namun ia tetap melakukan hal yang diminta oleh atasannya tersebut. Dan sesungguhnya, wanita itu pun sudah langsung mengetahui apa maksud dari hal aneh dan tidak biasa yang diminta oleh pria itu. Hal seperti kemarin dimana Duke sedikit terpukau pada saat melihat bagian belakang tubuhnya, dan kini hal seperti itu ingin diulangi lagi oleh pria itu. Bukannya Savannah memiliki rasa percaya yang terlalu tinggi, hanya saja setelah ia yang sudah berlutut dan mulai menundukkan tubuhnya, benar saja Duke sudah melirik sedikit demi sedikit ke arah bagian yang begitu jelas terlihat untuk bisa dipandang itu. "Sir, apakah anda yakin pena anda jatuh di bawah meja ini?" Tanya Savannah yang tetap pada posisinya dan terus mencari barang yang sejauh mata memandangnya tidak bisa ditemukan. "Ya. Tetaplah terus mencari di sana. Jika perlu, lebih jauh." "Maksud anda, sir?" "Lebih jauh di bawah meja ini." "Tetapi pena anda tidak ada, sir." "Teruslah mencari." Savannah yang mendengar kalimat itu hanya bisa menghela nafasnya saja, dan tetap terus mencari pena yang sesungguhnya tidak terjatuh dan tidak berada di bawah meja seperti yang diucapkan oleh Duke tadi. Dan sedangkan pria itu, dengan sisi prianya yang b******n. Secara diam-diam ia mengambil foto bagian tubuh Savannah itu menggunakan ponselnya. Setelah beberapa saat pria itu puas dengan melihat dan mengambil foto-foto yang akan menjadi koleksi pribadinya itu, pada akhirnya ia pun menyuruh sang asisten untuk mengakhiri pencarian yang sesungguhnya tidak ada tujuannya itu. "Sudah, hentikan. Kau tidak perlu mencarinya lagi." "Maaf, sir. Tetapi pena anda sungguh tidak ada di bawah meja ini. Apakah anda yakin tidak sengaja menjatuhkannya di sana?" Balas Savannah sambil beranjak berdiri dari posisinya tersebut. "Tinggalkan saja. Kau tidak perlu mencarinya lagi." "Baik, sir. Apa ada hal lain yang anda butuhkan?" "Apakah pekerjaanmu sedang banyak?" "Pekerjaan saya tidak pernah sedikit, sir." "Kalau begitu bisakah saya berbicara denganmu sebentar?" "Ya, tentu saja, sir." "Kita bicara di luar. Karena ini tidak ada hubungannya dengan masalah pekerjaan." "Di luar?" Tanya Savannah dengan sedikit mengernyitkan keningnya, karena ia merasa ada hal yang aneh dari atasannya itu. Pasalnya, hal seperti ini tidak mungkin biasa diminta oleh sang atasan, di pagi hari seperti ini ia sudah mengajak untuk berbicara di luar dan tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Tipe sang atasan yang sangat tidak profesional itu, tidak pernah Savannah lihat selama ia menjadi asistennya. "Di cafe atau kedai kopi di sekitar kantor saja. Kau tidak mempersalahkannya, bukan?" "Ya, tentu tidak, sir. Saya akan membuat pesan suara pada telepon terlebih dahulu." "Saya akan tunggu." "Baik, sir." *** Dengan mengaduk secangkir kopi miliknya, Savannah mulai menatap sang atasan yang duduk di hadapannya untuk memulai pembicaraan yang ingin dilakukan seperti yang dikatakan olehnya tadi. "Jadi, apa yang ingin anda bicarakan, sir?" Ucap Savannah yang memilih untuk membuka pembicaraan terlebih dahulu. "Kau..., sudah berlama bekerja di perusahaan itu?" "Berjalan dua tahun, sir. Saya sangat beruntung mendapatkan pekerjaan ini dari banyaknya pesaing-pesaing lain di luar sana yang menjadi calon kandidat pada saat proses seleksi saat itu berlangsung." "Apakah kau menyukai pekerjaan ini?" "Tentu saja, sir. Siapapun yang bisa bekerja di McCarter & co., pasti akan merasa begitu bangga dan menyukai pekerjaannya itu." "Seperti itu?" "Banyak orang yang ingin bekerja di perusahaan anda ini, sir. Dan kesempatannya pun juga sangatlah sedikit, jika sekalipun ada pasti persaingannya sangatlah ketat." "Mengapa sampai seperti itu?" "Karena perusahaan anda adalah perusahaan yang bonafit dan besar, sir." "Seperti itu?" "Ya." "Dan itu artinya, di sini kau sudah menaruh karir masa depanmu?" "Ya, sir." "Saya dengar juga, pada saat kau berada di universitas dulu. Kau adalah peraih nilai kelulusan tertinggi dan mendapatkan gelar? Apakah seperti itu?" "Ya, itu benar, sir." "Kau menjadi sosok wanita yang pandai dalam bidang akademis, dan sekarang karirmu pun juga sudah terlihat baik. Bagaimana jika dengan semua pencapaian yang kau miliki itu, tidak seimbang dengan hal tidak pantas yang kau dapatkan?" "Hmm..., saya tidak mengerti dengan yang anda bicarakan, sir. Apa maksud dari ucapan anda itu?" "Beberapa kali saya melihat kebersamaan kau dengan salah seorang dari departemen finansial. Memangnya ada apa yang terjadi di antara kalian?" "Hmm..., sir. Maaf, tetapi sepertinya itu sudah menjadi bagian dari kehidupan pribadi saya." "Kau tidak menjawab pertanyaan saya, Savannah." Sungguh, saat ini Savannah ingin sekali mengatakan kepada Duke bahwa tidak seharusnya pria itu juga sama ikut campurnya seperti sang orang tua yang dulu juga pernah ingin ikut campur ke dalam kehidupan pribadi dirinya.Tetapi sayangnya wanita itu tidak memiliki cukup nyali untuk berani mengatakannya, jika tidak ingin karir yang dimilikinya itu menjadi hancur hanya karena ia yang tidak bisa menjaga sikap dan juga perkataannyaperkataannya terhadap sang atasan. "Tidak ada hal apapun yang terjadi di antara saya dan dengannya, sir. Hubungan yang terjadi hanyalah berjalan sebatas kasual saja. Dan tidak lebih dari itu." "Kasual? Seperti, tanpa status yang jelas?" "Ya. Tidak ada status. Tetapi anda tidak perlu khawatir dengan hal itu, sir. Karena saya bisa menjamin bahwa hal seperti itu tidak akan mengganggu kinerja saya selama di kantor." "Itu dia. Apakah kau sungguh bisa menjaminnya?" "Ya, tentu saja, sir. Saya sungguh bisa menjamin hal itu. Selama dua tahun saya bekerja, hubungan seperti itu tidak pernah mengganggu saya ataupun kinerja saya." "Mengapa kau lebih memilih kasual?" "Saya mengutamakan karir saya, sir. Memang terdengar sangat egois, tetapi saya merasa beruntung karena dia selalu bisa untuk mengerti setiap keinginan yang saya miliki." "Mengapa kau memilih dia?" "Sir..., sungguh saya memohon maaf kepada anda. Tetapi..., pertanyaan anda benar-benar semakin menyinggung mengenai kehidupan pribadi saya. Dan, seharusnya anda tidak masuk ke arah sana." "Kau tahu hubungan dengan sesama pegawai jika tidak berhasil, biasanya akan berdampak pada keprofesionalan kinerja. Dan saya hanya ingin memastikan bahwa orang yang bekerja untuk saya tidak akan seperti itu. Saya tidak suka jika ada urusan mengenai pekerjaan, dicampuri dengan drama dan juga bumbu-bumbu omong kosong mengenai percintaan. Itu sangatlah menjijikkan." "Saya bisa menjamin hal itu tidak akan mengganggu kinerja saya, sir." "Minumlah kopimu." Dengan perlahan, Savannah pun mulai meminum sedikit kopi miliknya itu yang baginya tiba-tiba saja terasa tidak enak karena situasi di sekitarnya yang juga menjadi tidak menyenangkan akibat pembicaraan bersama sang atasan yang menyinggung mengenai kehidupan pribadinya. "Apakah kau memiliki kekasih?" Tanya Duke yang membuat Savannah langsung menghela nafasnya dengan sabar karena bosnya itu sudah kembali keterlaluan karena sangat ingin mengetahui tentang kehidupannya. "Tidak, sir. Saya tidak memiliki kekasih. Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya tadi. Bahwa saya ingin berfokus dengan karir yang saya miliki ini." "Tetapi suatu saat nanti kau pasti akan menginginkan hal itu, bukan?" "Ya, tentu, sir. Memiliki keluarga adalah impian setiap wanita. Memiliki pasangan, anak, semua itu adalah mimpi yang indah di masa depan." "Benar. Indah, bukan? Tetapi, jika pendamping atau pasangannya tidaklah pantas, apakah hal itu masih juga bisa dikatakan sebagai mimpi yang indah di masa depan nanti?" "Apakah hal yang sejak tadi anda bicarakan, mengenai hubungan dan kedekatan yang saya miliki bersama dengan Dylan? Seorang McCarter yang tidak lain adalah kakak laki-laki anda sendiri, sir?" Ucap Savannah yang sudah tidak bisa menahan lagi rasa ingin mengatakan hal seperti itu, yang sesungguhnya sudah sejak tadi ia pendam di dalam hatinya. "Sir Jamie, orang tua anda. Dulu juga pernah mengatakan hal seperti ini. Ia lebih peduli kepada saya yang hanya sebagai pegawainya saja, dibandingkan terhadap Dylan yang sudah jelas sebagai anaknya. Mengapa anda lebih peduli dan memikirkan orang seperti saya, dibandingkan dengan saudara kandung anda sendiri?" "Saya hanya ingin memberitahu saja, bahwa kau. Wanita sepertimu tidak pantas mendapatkan pria seperti dirinya." "Mengapa seperti itu, sir?" "Karena kau tidak mengetahui sifat aslinya yang seperti apa." "Selama saya mengenalnya, saya pikir saya sudah banyak mengenal dan mengetahui sebagian besar sifatnya. Dan menurut saya, tidak ada sifat atau hal apapun yang patut dicurigai atau diwaspadai darinya. Karena Dylan yang saya kenal, adalah sosok pria yang baik, peduli, perhatian, dan masih banyak lagi hal yang membuat saya kagum dengannya. Dan, jika saya bisa memberi saran. Apakah tidak sebaiknya anda memperbaiki hubungan di antara anda dan juga saudara anda itu, sir? Apapun masalahnya, sekalipun itu besar, semuanya masih bisa untuk dibicarakan dan diselesaikan dengan baik-baik, bukan?" "Kau tidak tahu mengenai hal apapun." "Ya, anda benar, sir. Saya tidak mengetahui hal apapun mengenai permasalahan keluarga anda." "Sejak tadi saya memperhatikan, kau terlihat tidak nyaman ketika membicarakan mengenai masalah pribadi. Benarkah begitu, Savannah?" "Ya, sir. Saya merasakannya." "Kalau begitu habiskan kopimu. Kita akan segera kembali ke kantor." "Jadi, hanya hal itu saja yang ingin anda bicarakan, sir?" "Kau sudah merasa tidak nyaman. Jadi, untuk apalagi saya membicarakannya?" "Apakah ada yang ingin anda bicarakan lagi, sir? Jika masih ada, anda bisa mengatakannya kepada saya." Tanpa diduga, tiba-tiba saja Duke sudah mulai menggenggam tangan Savannah yang berada di atas meja dan sedikit membelainya dengan perlahan. Lembutnya tangan wanita itu, membuat Duke semakin berani untuk menggenggam sepenuhnya tangan sang asisten tersebut. "Kau..., sungguh wanita yang sangat menarik, Savannah. Awalnya, saya merasa kau ini tidak ada bedanya dengan kebanyakan wanita di luar sana. Wanita yang memiliki penampilan yang menarik, tetapi tidak memiliki kelebihan lainnya ataupun kemampuan. Tetapi, sedangkan kau justru tidak seperti itu. Kau berbeda, Savannah. Kau memiliki kinerja serta kemampuan luar biasa yang membuat saya bisa terkagum. Saya tidak pernah kagum dengan sembarang orang. Saya harus sangat mengetahui bagaimana sifat orang itu terlebih dahulu sebelum saya bisa kagum terhadapnya. Dan sudah terbukti selama hampir satu minggu kau bekerja untuk saya, kau sudah mampu melakukan hal itu." "Lalu, apa maksud dari ucapan anda itu, sir?" "Kau akan mengerti dengan sendirinya nanti." Pembicaraan dengan tangan yang saling menggenggam itu, sudah diperhatikan dari kejauhan oleh sosok Dylan yang kebetulan datang ke kedai kopi dimana Savannah dan Duke sejak tadi berada. Senyuman kecil yang lebih kepada miris, Dylan perlihatkan setelah melihat wanita yang dicintainya itu harus didekati secara pribadi oleh sang adik, yang tidak lain adalah rivalnya sendiri. *** To be continued . . .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN