31. TEROR 1

1129 Kata

Hampir tiga jam aku menunggu tapi Andrew belum juga menampakkan batang hidungnya. Aku mulai gelisah duduk di kursi tunggu. Melirik ke arah Sabrina dia juga sudah mulai menguap. Sepertinya pasien Andrew sedang banyak malam ini. Kata Sabrina karena tadi juga masih ada operasi, jadi jadwal konsultasi pasien rawat jalan terpaksa mundur. Jam tangan di pergelangan tangan kiriku sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Pantas saja aku sudah mulai merasakan kantuk. "Dua antrian lagi, Kak. Sabar ya," ucap Sabrina saat duduk di sampingku, memberi informasi sisa pasien yang mengantri untuk konsultasi dengan Andrew. Aku membalas dengan anggukan diiringi senyum, menandakan kalau aku tidak keberatan bila masih harus menunggu lebih lama lagi. Aku mempersilakan Sabrina kembali ke mejanya karena ada pasi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN