Perbuatan Andrew malam itu membuatku susah tidur dan susah konsentrasi pada pekerjaan. Tiara berulang kali menegur karena aku salah membubuhkan tanda tangan pada proposal yang diajukan oleh divisi keuangan. Selain kebodohan itu aku juga tiba-tiba malas melakukan apa pun. Andrew tidak pernah muncul lagi di depanku. Beberapa hari ini aku sengaja pulang kantor lebih awal dengan harapan Andrew akan menghampiri rumah orang tuaku seperti biasanya. Nyatanya di hari ketujuh sejak dia menyatakan perasaan yang tidak hanya mengacaukan hatiku juga bibirku, laki-laki blasteran ini malah seperti hilang ditelan bumi. Inginku bertanya pada mama soal ketidak munculan Andrew di rumah beberapa hari terakhir ini, tapi gengsi mengalahkan segalanya. Sebuah ketukan di pintu kamarku membuatku sed

