Semakin Aneh

1013 Kata
Sudah berkali-kali Belinda mengganti kain yang mengompres dahi Joanne. Suhu tubuh anak perempuannya masih tinggi. Bila seperti ini, hanya tonik dari suaminya yang mampu menurunkan demam Joanne. Sempat tersentak karena Joanne tiba-tiba menyingkirkan tangan Belinda dari dahinya lalu duduk dengan mata sayu menatap lemah ibunya. "Mom, tidurlah. Aku tahu, seberapa keras merengek padamu ... tujuan kita tetap ke Dalton, 'kan? Aku akan baik-baik saja," mohon Joanne. "Oh, Sayang. Andai saja kamu bisa percaya kalau aku benar-benar tidak ingin tinggal di Dalton. Kota itu bahkan tidak ada di peta dan aku—" "Kalian harus menempati janji. Setelah usiaku tepat tujuh belas tahun, aku bisa pergi ke manapun aku mau," ucapnya memotong pembicaraan. Belinda menyingkirkan rambut lengket yang terkena peluh di sekitar dahi Joanne kemudian tersenyum. "Aku selalu mengharapkan kebahagiaan kamu, Joanne. Maaf, aku harus melibatkan kamu dalam masalah besar. Aku akan tidur setelah pergi ke kamar mandi, kamu tidur saja duluan," jawab Belinda. Joanne tersenyum lalu merebahkan dirinya lagi. Sejenak ia mendongak. Ditatapnya Felix yang tidur mendengkur di atas kepala. Kucing hitam itu memiliki kebebasan yang Joanne inginkan dan tak menyangka kalau Joanne bisa cemburu pada Felix. Setelah mendengar debum pelan pintu kamar mandi yang ditutup, Joanne berusaha memejamkan mata. Ucapan Belinda terngiang kembali. Siapa yang bisa mengendalikan di mana manusia dapat dilahirkan? Tuhan adalah segala pemberi rencana, tetapi karena kasus yang berbeda terjadi pada hidup Joanne, ia ragu dengan keberadaan Tuhan. Takdir? Ia tidak ingat seberapa bencinya pada kata itu. Bagaimana mungkin kegelapan tetap terjaga hingga ribuan tahun? Mereka yang nyatanya bersembunyi dalam wujud nyata manusia ... makhluk tanpa identitas yang mencuri takdir penduduk asli bumi. Joanne terlahir dari rahim manusia yang jatuh cinta pada makhluk tidak jelas penghisap darah. Mengingat hal itu, perut Joanne seakan diremas hingga rasanya ingin memuntahkan semua yang sempat ditelannya. Keheningan sempat memeluk Joanne, tetapi suara lengkingan Belinda membuatnya penasaran. Joanne menempelkan pelan telinganya di daun pintu. Ibunya terdengar begitu emosi. "Carlos, kamu dengar itu? Kami hampir terbunuh! Mengapa kita tidak mencari perlindungan di ? Ada apa di Dalton?" cecar Belinda. Joanne mendengarkan dengan saksama. Pertanyaan ibunya memang turut memberinya rasa penasaran. "Kita sudah sangat jauh dari rumah! Selama ini kamu selalu berkata, semua demi keselamatan Joan, tapi nyatanya kondiai kita tidak pernah membaik! Aku mulai muak! Aku tidak peduli! Kamu harus datang dan jelaskan semuanya, Carlos!" pekik Belinda. Joanne kembali menatap Felix yang ternyata sudah siaga dan ketika mendengar suara deras air mengalir, cepat-cepat ia berlari ke tempat tidur lalu menarik selimut sampai sebatas leher dan tidak lupa memejamkan mata. Tak lama, terdengar suara derit pintu. Rasa dingin menjalar di dahi Joanne. Tangan Belinda rasanya lebih dingin dari sebongkah es. Kecupan manis di pipi Joanne membuat gadis itu memejamkan mata lebih erat dan terasa dengan jelas kala Belinda berbaring di sampingnya. Joanne sedikit membuka mata. Punggung ibunya tampak lelah. Ia tahu selama ini sifatnya yang keras kepala semakin menyulitkan ibunya. Terlebih, rencana tinggal di desa terpencil, pasti menyusahkan Belinda. *** Matahari sudah meninggi. Joanne membuka mata, kepalanya masih sedikit terasa berat. Ia menyentuh dahi dan agak terkejut karena demamnya sudah reda. "Sudah lebih baik?" tanya Belinda yang menatap Joanne dari pantulan cermin meja rias. "Iya, masih sedikit pusing, tapi aku rasa tubuhku mulai lebih baik," jawabnya. Belinda kembali menggelung rambut cokelat kemerahannya yang sedikit ikal. "Semalam kamu mengigau. Entah siapa lagi yang kali ini kamu sebut. Aku hampir putus asa karena demam semakin parah. Untung saja nenek pemilik hotel memberikan tonik herbal untukmu," ungkapnya. Rasa kantuk Joanne seketika lenyap. "Apa, Mom? Nenek aneh itu ... memberikanku obat?" "Shhtt! Jangan memberikan predikat aneh pada orang yang telah menolong kita, Joan. Itu tidak sopan! Cepatlah mandi, aku harap kita akan tiba di Dalton malam ini," titahnya. Walaupun malas, akhirnya Joanne beringsut dari ranjang empuk hotel. Hampir saja ia berteriak karena Felix tiba-tiba lari dari dalam kamar mandi kala dirinya membuka pintu. Aroma menjijikkan segera menyergap hidungnya. Joanne terpaksa menahan napas lalu menekan tombol di atas toilet. "Kau pintar, Felix! Andai saja, kamu mau belajar menuntaskan semua aktivitas pribadimu di kamar mandi," gerutunya. Setelah menanggalkan semua pakaiannya dan berdiri di bawah pancuran air. Sayangnya, rasa frustasi serta ketakutan yang mengungkung Joanne belum mau pergi. Joanne menggosok bagian tangannya yang berkilauan. Ia benci efek yang diturunkan dari ayahnya. Setelah mengeringkan tubuh dan rambutnya. Sejenak Joanne menatap pantulan diri di permukaan cermin. Setiap menatap wajahnya, Joanne sungguh merasa takjub. Ada kekuatan aneh dalam sorot mata Joanne. Tantenya—Pamela mengatakan itu adalah karunia yang ia dapatkan dari garis keturunan ayahnya. "Joan? Kamu sudah selesai?" tanya Belinda. Cepat-cepat Joanne melilitkan handuk ke tubuhnya lalu keluar kamar mandi. Di atas tempat tidur sudah ada kaus dan celana jin panjang. "Jangan lupa memakai krim di wajahmu," tambah Belinda yang kemudian memasukkan Felix ke dalam keranjang kotak. Sekali lagi Joanne mengamati wajahnya. Khawatir bila ada bagian yang belum ditutupi krim. Rasanya aneh bila ada orang lain yang melihat wajahnya berkelap-kelip seperti baru saja ditaburi gliter. Belinda mengunci pintu lalu memimpin turun menuju ruang resepsionis. Di sana, nenek itu tengah asyik menatap mawar-mawar segar di vas. "Mom, aku dan Felix akan menunggumu di mobil," tutur Joanne. Belinda menoleh kemudian menyerahkan kunci mobilnya. "Tunggu aku," jawabnya. Joanne mengangguk kemudian bergegas pergi. Sesekali ia menoleh dan nenek itu tahu kalau dirinya mencuri pandang. Nenek itu tersenyum, dua lesung pipi di antara kulit keriputnya mulai tercetak jelas. Seketika bulu kuduk Joanne meremang. Nenek itu tampak tidak seperti nenek-nenek kebanyakan. Joanne menaksir usia dari nenek itu sekitar tujuh atau delapan puluhan, tetapi aura yang dipancarkan nenek itu jelas memiliki satu kekuatan magis tersendiri dan ia benci mengakuinya. Mengenyahkan semua kecemasannya, Joanne segera berlari menuju areal parkir. Setelah memasukkan Felix ke mobil, ia menutup pintu kemudian menatap ke sekeliling tempatnya berada. Keheningan dengan cepat menyergapnya. Aroma kental mawar melintas dengan cepat, angin dingin turut membelai tengkuknya. Joanne menoleh ke sekeliling. Tidak ada orang lain di sana, tetapi entah mengapa ia merasa tidak benar-benar sendirian. Suara gemerisik dedaunan membuatnya hampir terjungkal. Joanne menggigit bibir, menuntaskan rasa penasarannya akan membuat gadis itu kembali terlibat masalah. Akan tetapi, Joanne tidak mampu menahan kekuatan aneh yang memaksanya mendekati semak di sebelah kanan mobil, hingga ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN