Nightmare

1000 Kata
Joanne terbangun dengan napasnya yang memburu. Peluh di dahinya sudah membanjiri wajah. Sekali lagi ia meremas d**a, memastikan organ di dalamnya berdetak walau dalam kecepatan tidak normal. Joanne melirik ke arah Belinda yang terlelap. "Mimpi itu, lelaki itu, kenapa selalu saja datang," cicit Joanne. Berkali-kali ia menggosok-gosok wajahnya. Mimpi mengerikan itu selalu saja membuatnya tidak bisa bernapas. Felix yang bergelung di kaki Joanne sempat menggeliat lalu melirik Joanne kemudian melanjutkan tidurnya. "Cih, sepertinya menjadi kucing memang lebih menyenangkan," cicit Joanne. Setelah detak jantungnya kembali normal, Joanne bergegas menuju kamar mandi lalu membasuh wajahnya berkali-kali. "Aku tidak bisa begini terus," gumamnya sembari menatap bayang dirinya dalam cermin. Semua hal dalam hidupnya selalu saja dirasa tidak pernah bisa berjalan sebagaimana mestinya. Joanne hanya diam kala orang tuanya melarang Joanne untuk bergaul. Joanne juga tidak protes ketika hidupnya semakin banyak bersinggungan dengan dunia 'aneh' yang menjadi identitas ayahnya. Terkadang, Joanne ingin sekali melarikan diri. Toh, beberapa bulan ini, usianya genap tujuh belas tahun. Dengan begitu ia bisa mendapatkan kartu identitas sendiri serta dianggap dewasa secara hukum. Setelah memperhatikan ibunya dan Felix yang terlelap, Joanne memutuskan untuk berjalan ke arah jendela; menyingkap gorden serta mengamati pergerakan di bawah sana. Matanya terhenti pada sosok yang berjalan ke arah samping hotel, melintasi pelataran parkir. Nenek tua itu tampak berjalan sembari membawa sesuatu. Tidak biasanya Joanne tertarik dengan urusan orang lain, tetapi kali ini ada kekuatan yang terus memaksanya memandang nenek itu. Secepat kilat Joanne kembali menutup gorden kala nenek itu tiba-tiba berbalik lalu balas menatapnya. Nenek itu ... tahu kalau ada yang mengintainya. Mengerikan. "Astaga! Nenek itu menyeramkan sekali!" cicitnya lagi. Sial. Rasa penasaran itu menuntun Joanne kembali membuka sedikit gorden. Mata Joanne terbelalak hingga hampir saja gadis itu terjengkang kala nenek itu hilang per sekian detik setelah tertangkap mata. Ia membuka gorden lebih lebar, kepalanya bergerak lebih cepat. Nenek itu tidak terlihat di manapun. Jangan-jangan, dia bukan manusia? batin Joanne. Joanne menggigit bibir. "Aku harus memastikannya, " tuturnya lalu meraih mantel yang tersampir di kursi kemudian diam-diam keluar dari kamar. Tergesa-gesa Joanne mengenakan mantel kemudian berlari menuruni anak tangga. Matanya berpencar mencari sosok nenek itu ketika sudah keluar hotel. Suara lolong serigala menghentikan langkah Joanne. Seketika ia mengutuk rasa penasaran sialannya. Mengingat kejadian di pelataran parkir membuat bulu kuduknya kembali meremang. Joanne harus kembali masuk, tetapi lagi-lagi suara senandung yang menggelitik telinganya memaksa Joanne kembali memutar haluan. Langkahnya dituntun angin malam. Bergerak tanpa ragu ke bagian samping hotel. Joanne menoleh, arah kanannya adalah hutan dan suara lolong serigala makin terdengar jelas. Suara kerisik semak membuat tubuh Joanne membeku. Mata Joanne melebar kala menatap dengan jelas sepasang mata sebesar biji plum warna jingga keemasan yang jelas ada di balik semak. Nalurinya berkata untuk mundur selangkah, tetapi lagi-lagi Joanne hanya bisa diam mematung menyaksikan semak itu bergerak. Tiba-tiba tangan dingin membekap bibirnya erat. Ekor mata Joanne berusaha mencari tahu siapa orang di belakangnya. Dagu nenek itu berada di pundak Joanne. Bahkan pipi mereka hampir saja menempel. Tubuhnya semakin melekat di punggung Joanne. Nenek itu melemparkan sesuatu jauh ke dalam hutan. Suara langkah yang terdengar makin jauh membuat Joanne kehilangan tenaga, hingga tanpa sadar menahan lengan si Nenek untuk tetap di sampingnya. "Dia sudah pergi. Apa yang kamu lakukan di pagi buta seperti ini?" tanyanya. Bukannya menjawab, Joanne malah terdiam memperhatikan tangannya yang gemetar. "Terbangun dari mimpi buruk?" tanyanya lagi. "I-iya," jawab Joanne. "Pilihan untuk mengikuti langkahku adalah awal mula kesalahanmu, Nona Muda. Baiklah, ayo, ikuti aku," pintanya. Joanne malah mengangguk kemudian mengikuti langkah nenek itu. Pergi menuju bagian belakang hotel. Pintu pagar kayu berderit kala mereka membukanya. Rasa takut Joanne lenyap. Hamparan mawar yang diterangi lampu taman memanjakan matanya. "Selamat datang di Rose Hotel," tutur nenek itu yang kemudian memberikan senyum tak kalah indah dari kuncup mawar. Nenek itu berjongkok kemudian meraih keranjang rotan yang teronggok di lantai sedangkan Joanne mulai berjalan mendekati mawar-mawar bermandikan tetes embun. "Indah, bukan?" Joanne menoleh kemudian mengangguk setuju. "semua yang terlihat indah tidak selalu wajib dikagumi hingga kamu lengah serta membiarkan bahaya menghampiri," lanjutnya. Dahi Joanne berkerut. Ucapan nenek itu terlalu aneh. "Aku tahu, tidak seharusnya aku membuntuti Nenek. Maaf," sesal Joanne. Nenek itu tertawa kemudian memberikan setangkai mawar pada Joanne. "Aku tidak keberatan karena pada akhirnya semua akan menjadi milikmu," timpalnya. "Aku? Maksudnya?" selidik Joanne. Nenek itu meraih tangan Joanne kemudian menggaris satu guratan lurus yang seakan membelah telapak tangan Joanne. "Sidik jari manusia ... tidak pernah sama. Kamu tahu mengapa bisa seperti itu?" Joanne menggeleng. "Entahlah, takdir?" Nenek itu tersenyum. "Ya, itu karena takdir mereka jelas berbeda. Begitupun dengan kamu, Joanne. Takdir menuntunmu, ah, tidak, takdir mempermainkan kamu untuk tiba di Dalton," lanjutnya. "Maksudmu?" "Aku tidak bermaksud apa-apa. Sayangnya, semua yang membuatmu takut, pada akhirnya harus kamu singkirkan atau kamu yang akan disingkirkan oleh mereka." Merasa percakapan ini mulai mencurigakan, Joanne bergerak mundur, tetapi nenek yang mengetahui kecemasan dalam hati Joanne malah bergerak mengikis jarak di antara mereka. "Aku tidak mengerti apa maksudmu! Sebaiknya, a-aku harus kembali ke kamar," sanggah Joanne, tetapi sekali lagi nenek itu malah menarik tangannya. "Semua jawaban dari mimpimu. Dua pintu dan lelaki itu, kamu tidak bisa menghindar dari takdir yang telah menggenggam tanganmu dengan erat," tambahnya. Napas Joanne serasa putus. Ini terlalu aneh, janggal, atau apa pun itu namanya. "Si-siapa kamu?" Nenek itu malah tertawa pelan lalu meraih mawar yang dijatuhkan Joanne. "Rose," jawabnya. Tanpa mau lagi banyak berpikir, Joanne segera berlari secepat yang ia bisa. Mimpi itu, bahkan ibunya sendiri tidak mengetahuinya. Bagaimana mungkin nenek itu tahu? Apakah, apakah dia bukan manusia sembarangan? Atau, yang terburuk ... jangan-jangan dia bukan manusia? "Argh!!" jerit Joanne dan Belinda bersamaan ketika Joanne membuka pintu. "Astaga, Joan!! Aku hampir mati karena kamu tidak ada di manapun! Ke mana saja, kamu!" marah Belinda. Melihat wajah anaknya yang tiba-tiba pucat, terlebih dahinya penuh dengan peluh, Belinda jadi cemas. "Joan, apa yang terjadi? Kamu kenapa?" Remasan tangan Belinda di lengan Joanne akhirnya membuat gadis itu bisa menitihkan air mata. "Mom," lirihnya. "Astaga, ada apa? Kenapa kamu menangis?" selidiknya. "Ayo kita pulang, Mom, aku mohon padamu, mari kita kembali, Mom," cicitnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN