Feel Strange

1030 Kata
Beberapa hari berlalu. Joanne merasakan ada yang aneh setelah peristiwa mengerikan itu terjadi. Terkadang ia diam sembari menatap lekat-lekat bibirnya. Kadang berpikir mengenai alasan Ethan melakukan itu dan kadang juga berpikir apakah rasanya memang seperti itu? Dingin, lembut, serta ada perasaan aneh untuk meminta hal lebih. Namun, hal terpenting dari dampak setelah kejadian itu terjadi adalah sikap Ethan yang boleh dikatakan berubah drastis. Pemuda itu tampak acuh juga tidak pernah muncul lagi ketika Joanne melakukan sesi pelatihan dengan Laurent. Bahkan, Laurent sendiri yang sekarang berkewajiban mengantar Joanne pulang. Bukankah hal itu bagus? Namun, Joanne merasa ada yang hilang. "Ada apa? Kamu sakit?" Pertanyaan Brian menyentak kesadaran Joanne. Gadis itu memaksakan senyumnya lalu menggeleng pelan. "Aku baik-baik saja." Dahi Brian mengerut, ia tahu kalau ada sesuatu yang coba disembunyikan Joanne dan sejujurnya, ia tidak suka kalau 'gadisnya' berbohong. "Benarkah? Kamu bisa bercerita apa saja padaku," bujuk Brian setengah terdengar memaksa. Joanne menggigit bibir bawahnya. Apa yang harus dikatakan pada Brian? Mengutarakan pertanyaan dalam hati? Mengapa Ethan menjauhi Joanne dan sejujurnya Joanne merasa tidak nyaman karenanya. "Kamu perhatian sekali. Terima kasih, tapi sungguh aku baik-baik saja," elak Joanne. Brian mengela napas. Ia tidak suka kalau ada seseorang yang mencecarnya dengan banyak pertanyaan penuh curiga. Jadi, ia tidak mungkin melakukan itu pada orang lain. "Baiklah, aku tidak akan memaksa, tapi aku tetap bisa diandalkan. Kamu jangan melupakan hal itu." Cepat-cepat Joanne mengangguk seakan lehernya terbuat dari per. "Iya, aku akan mengingat hal itu." Kali ini Brian sungguh tersenyum. Mengusap pucuk kepala Joanne lalu kembali berkata, "Sekarang aku sungguh benci weekend." Joanne balas tersenyum. "Dua hari libur sekolah terdengar begitu lama bukan?" "Ya. Andai saja kamu mengijinkan aku untuk berkunjung ke rumah kamu." Senyum Joanne lenyap seketika. "Akan ada waktunya, Brian. Maaf, untuk saat ini ibuku belum bisa menerima tamu." Brian hanya memberikan senyum kecewa lantas segera mengalihkan pandangan ke tempat lain. *** Keesokan harinya, Joanne terbangun ketika kakinya dirayapi sensasi dingin. Ia menatap ke arah jendela. Gorden kamarnya telah terbuka. Tidak ada matahari yang masuk, hanya tampak bulir air yang mengalir turun dari ujung jendela. Joanne meregangkan otot-otot tubuhnya lalu bergerak turun menuju dapur. Aroma nikmat roti panggang memenuhi rongga hidung Joanne. Dengan sigap ia duduk di kursi makan lalu menoleh ke arah kulkas, Felix juga tampak sedang menikmati sarapannya tak jauh dari sana. "Sayang, hari ini aku akan pergi berbelanja. Kamu mau ikut?" tanya Belinda sembari memindahkan beberapa roti ke piring Joanne. "Lama?" "Selain ingin beli bahan makanan, sepertinya aku akan mampir sebentar ke toko pertukangan," jawab Belinda. Joanne melirik jendela dari belakang bahu. "Sepertinya hari ini hujan akan terus turun. Apa berbelanjanya tidak bisa ditunda sampai besok?" tawar Joanne. "Sepertinya ayahmu tidak bisa mengirim bahan makanan. Joan, aku tidak tahu apa yang terjadi, tetapi Pamela juga ayah tidak diijinkan melewati perbatasan," ungkap Belinda. Joanne menelan potongan roti yang masih utuh ketika digigitnya lalu menenggak hampir setengah gelas jus jeruk. "Kenapa? Pantas saja Tante Pamela tidak pernah datang. Apa terjadi sesuatu?" "Aku tidak tahu pasti. Dari percakapan terakhirku dengan Caroline, dia memang terlihat begitu cemas, tapi enggan bercerita terlalu jauh," ungkapnya. "Akhir-akhir ini juga Ethan dan Alice hampir tidak pernah mau diajak bicara." "Ada apa? Kalian bertengkar?" selidik Belinda. Joanne terdiam. Jujur saja, ia juga tidak tahu penyebab Ethan marah. Justru seharusnya Joanne yang marah karena Ethan merebut ciuman pertama berharganya. "Joan?" Joanne mengerjapkan mata. "Aku tidak tahu, Mom. Hari ini aku ingin bermalas-malasan di rumah." "Baiklah, aku akan pergi sendiri. Habiskan sarapanmu, Sayang." Joanne mengangguk, menatap malas sisa rotinya lalu kembali menoleh ke arah jendela yang basah karena hujan. *** Joanne menutup pintu setelah mobil Belinda tidak terlihat lagi. Ia berjalan menuju kulkas, meraih es krim dalam freezer lalu kembali ke ruang tengah untuk menonton televisi. Setelah cukup lama menonton saluran yang sejujurnya membosankan serta hampir menandaskan setengah dari sisa es krim dalam kotak, Joanne tersadar sejak sarapan tidak melihat Felix. Joanne bangkit, meletakkan kotak es krim di meja lalu berjalan menuju kamar. Felix tidak terlihat. Ia turun, mencari di ruang tamu, tetapi hasilnya sama. Felix tidak ada. Setengah panik, Joanne berlari menuju dapur, pintu menuju halaman belakang tampak sedikit terbuka. "Felix!" panggil Joanne. Joanne memicingkan mata. Sulit mencari buntalan hitam yang memiliki sepasang mata hijau di tengah hujan yang lumayan deras juga kabut yang tiba-tiba turun. "Felix!" ulang Joanne. Tidak ada tanda-tanda kehadiran Felix. Joanne kembali ke dapur, meraih senter juga payung. Tanpa keraguan Joanne mulai menyisir halaman belakang. Berbagai pemikiran datang silih berganti, tetapi satu kemungkinan Tidak mungkin terjadi. Felix mungin kabur karena sudah dewasa dan akan mencari pasangan. "Tidak, Felix!" panggil Joanne lagi. Joanne menghentikan langkah laku menyorot sebuah jalan setapak yang hampir menghilang karena rimbunnya ilalang. Sepertinya jalan itu menembus langsung ke dalam hutan. Gadis itu kembali digigit kecemasan. Bagaimana kalau Felix mengejar sesuatu? Memang, dia sering mengejar tupai atau hewan kecil lainnya dan tanpa sadar masuk ke dalam hutan. Joanne menyibak ilalang setinggi pinggangnya. Diam sejenak sembari menatap ke dalam hutan. Apa mungkin Felix sungguh masuk ke dalam sana? "Felix!" jerit Joanne. Joanne mundur beberapa langkah. Mungkin saja Felix sedang bersembunyi di salah satu sudut rumah atau ... berada dalam bahaya di tengah hutan. Habis sudah rasa sabar Joanne. Ia tidak mungkin menunggu sampai Belinda datang untuk menemaninya ke dalam hutan. Justru, mungkin saja Belinda hanya meminta Joanne untuk melupakan Felix dan menunggunsaja kucing itu kembali dengan sendirinya. Joanne memantapkan hati untuk menerobos ilalang. Setelah berjalan hampir sepuluh meter, ilalang yang tumbuh liar di jalanan mulai memendek, malah jalan setapak ini terkesan memang sengaja dirapikan. Sempat berpikir untuk kembali, tetapi langkah Joanne malah memandunya masuk semakin dalam ke hutan. Sinar matahari termasuk tetes air hujan mulai tidak bisa menjamah tubuh Joanne. Gadis itu menutup payung lalu mulai meneriakkan nama Felix berkali-kali. Usahanya tidak sia-sia. Setelah memutuskan untuk berjalan semakin dalam, tak lama Joanne melihat Felix yang tampak mengamati sesuatu dengan posisi bersiaga. Joanne berlari mendekati kucingnya, tetapi ia harus kembali mundur beberapa langkah ketika sadar dengan apa yang ditatap Felix. Sepasang mata liat yang seakan mengeluarkan cahaya tampak mengerikan dari balik semak-semak. Joanne tidak tahu pasti itu anjing liar, serigala atau beruang. Yang pasti hewan itu tidak akan bisa dikalahkan Felix. Semua terjadi begitu cepat. Felix mendesis dan tiba-tiba menerjang semak lalu suaranya tidak terdengar lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN