My First Kiss

1011 Kata
Sempat tertegun beberapa detik, tetapi hawa dingin yang menguar dari tubuh Ethan membuat kesadaran Joanne kembali. Gadis itu mendorong Ethan, tetapi dengan sigap Ethan malah mendekap erat Joanne hingga rasanya Joanne sulit bernapas. "Kenapa?" "Lepas, Ethan! Apanya yang kenapa? Kamu gila!" maki Joanne. Bagaikan angin yang berhembus melewati wajah Ethan, itulah yang dirasakannya ketika Joanne terus protes. "Berhentilah meronta karena jelas aku tidak akan melepaskan kamu," aku Ethan. Joanne diam. Bukan karena efek dari ucapan Ethan, tetapi jelas ia harus cepat-cepat meredakan debaran jantungnya. Ethan menurunkan ekor matanya yang sempat tegang lalu tersenyum bahkan kini mendaratkan dagu di pundak Joanne. "Aku bisa mendengar dengan jelas debaran jantungmu, tetapi kenapa aku belum bisa mendengar apa yang kamu bisikkan dalam hati." "Lepas, Ethan," mohon Joanne. Sulit mengabulkan permintaan Joanne, tetapi akhirnya Ethan mau mengurai dekapannya hingga hampir saja Joanne jatuh akibat kehilangan tenaga. "Karena kamu baik-baik saja, aku akan pergi," lanjut Ethan. Joanne tidak peduli kalau raut wajahnya jelas menyirakan rasa bahagia. Ethan harus pergi dari kamarnya. Detik ini juga. Namun, sepertinya Ethan masih belum puas bermain dengan Joanne. Pemuda itu menatap Joanne, seakan belum mau mengakhiri perjumpaannya. "Pergilah, aku tidak ingin Amanda salah paham," ucap Joanne mengiba. "Amanda? Jangan khawatirkan dia." "Kamu salah paham. Maksudku, bukan hanya Amanda, tapi semuanya. Katanya dua orang yang berlainan dilarang bersama tanpa ada pihak lain," sergah Joanne putus asa. "Ada Felix," timpal Ethan sembari menunjuk Felix dengan ujung dagu. "Oh, ayolah Ethan. Aku sudah sangat lelah. Pergilah," usir Joanne yang akhirnya mengakui kalau ia kehabisan kata sabar. Ethan malah mengerucutkan bibir lalu masih membenamkan mata jauh ke dalam wajah Joanne. "Kenapa harus Brian?" "Hah?" "Aku tidak bisa melenyapkan dia karena Alice. Kenapa kamu tidak menanamkan tanda pada manusia lain saja?" selidik Ethan. "Dengar, aku tidak tahu juga tidak mengerti akan maksudmu," "Jelas kamu tahu dan mengerti. Tanda di pergelangan tangan Brian, itu milikmu. Kamu bisa melihatnya bukan?" sindir Ethan. "Sudahlah Ethan. Jangan berpikiran aneh, apalagi menghasut orang lain." "Menghasut?" "Ya. Ibuku. Tiba-tiba saja dia mencecar aku dengan banyak pertanyaan termasuk kemungkinan kamu menyukai aku." Ethan diam. Untung saja wajahnya memang sudah ditakdirkan sepucat mayat karena tidak ada darah yang mengalir dalam setiap urat nadi. Kalau tidak, wajah Ethan pasti sudah berubah semerah tomat. "Kenapa ibu kamu sampai berpikiran seperti itu?" tanya Ethan ragu. Kesempatan. Joanne mendorong sedikit bahu Ethan lalu berjalan menuju jendela. "Kamu yang terlebih dahulu memulainya. Kamu yang tiba-tiba mengatakan kalau sebaiknya aku tidak menyukai Brian. Justru aku yang harus bertanya, kenapa kamu terus memaksaku berpisah dari Brian?" desak Joanne. "Berpisah dari Brian? Kenapa kamu berkata seolah kalian sudah memiliki ikatan?" Joanne mengerutkan dahi. "Aku sudah berpacaran dengannya," jawab Joanne asal. "Kau apa?" "Aku berpacaran dengan Brian. Ber-pa-ca-ran!" tegas Joanne coba mengeja agar Ethan bungkam. Garis rahang Ethan menegas. Pemuda itu mendekati Joanne. "Kau tidak bisa melakukan itu!" "Kenapa? Kenapa aku tidak bisa? Aku dan dia sama-sama tidak memiliki kekasih!" balas Joanne dengan suara sama meninggi. "Brian. Aku sudah katakan dia manusia yang dipenuhi banyak masalah. Alice tidak akan diam saja." "Dengar, Alice bukan pacar Brian. Jadi, dia juga tidak berhak melarang kami berhubungan. Kamu juga!" Ethan menyugar kepalanya sebagai tanda frustasi. "Bagaimana aku harus menjelaskan pada kamu yang berotak bebal? Dia berbahaya! Brian berbahaya!" "Aku tahu definisi dari kata bahaya dan itu adalah nama belakang kamu. Sudahlah, Ethan. Aku sangat lelah juga mengantuk. Sebaiknya pergi saja dari sini. Oke?" bujuk Joanne. "Aku belum selesai!" "Apa lagi? Sudahlah." Ibarat disambar petir, tiba-tiba saja Ethan menarik wajah Joanne. Menekan paksa bibirnya agar dapat terselip di antara bibir Joanne yang diam dengan kedua mata terbelalak tak percaya. Awalnya sensasi dingin sampai Joanne merasa bibirnya akan segera membeku menguasai seluruh rongga mulut Joanne, tetapi entah mengapa, lama kelamaan ia malah memejamkan mata. Ethan turut memejamkan mata kala sadar Joanne tidak lagi berusaha menolaknya. Berbeda dengan yang biasa ia rasakan ketika mencium bibir para gadis lain. Bersama dengan Joanne, Ethan seakan menemukan sesuatu yang memancing terbakarnya api yang selama ini tersembunyi dalam d**a. Tepat ketika tangan Ethan menyentuh lembut punggung Joanne, kesadaran gadis itu kembali. Cepat-cepat ia mendorong Ethan bahkan menghadiahkan tamparan keras di pipi Ethan. Berulangkali Joanne menyeka bibirnya. Kedua matanya sudah berkabut. "Kamu menjijikkan!" pekik Joanne. Mata Ethan membulat, perlahan-lahan tampak warna irisnya berubah merah, tetapi Joanne tidak peduli. Ethan telah merenggut ciuman pertamanya. "Aku tahu kamu tidak menolaknya! Kamu menikmati setiap detiknya!" balas Ethan. Joanne hendak menyambar kembali pipi Ethan, tetapi kali ini tangan Joanne berhasil ditangkap oleh pemuda itu. "Kamu!" desis Joanne dengan bibirnya yang gemetar bahkan kini air matanya telah mengalir deras di kedua pipi. "Kamu tidak tahu apa-apa, Joan! Kamu tidak pernah mengerti akan perasaan kamu sendiri! Kamu tidak pernah menyukai Brian!" "Apa yang kamu tahu tentang aku?" Kamu tidak berhak menghakimi aku seperti itu! Aku sangat menyukai Brian dan kami sudah berpacaran!" balas Joanne. "Kamu tidak bisa melakukan itu padaku!" balas Ethan. "Kenapa aku tidak bisa? Siapa kamu? Kamu bukan siapa-siapa! Aku benci kamu!" jerit Joanne. Ethan mundur beberapa langkah. Matanya menatap air mata Joanne. Derap langkah semakin jelas terdengar bahkan tak lama kemudian suara Belinda dari balik pintu terdengar begitu panik. "Joanne? Ada apa? Kamu baik-baik saja? Buka pintunya Joanne!" pekik Belinda sembari menggedor-gedor pintu. Refleks Joanne dan Ethan menoleh ke arah pintu. Joanne menyeka air matanya. "Lupakan soal malam ini! Anggap saja ini adalah mimpi buruk dan jujur saja ciuman kamu adalah kesalahan terbesar!" Secepat kilat Ethan menyambar lengan Joanne. "Itu menyinggung harga diriku!!" "Harga diri? Bukankah kamu menganggap aku sama seperti semua gadis yang selama ini kamu cium?" "Aku—" "Aku tahu! Aku tahu kamu mencari energi dari para gadis itu! Tapi kamu bisa mencari cara lain untuk mendapatkannya! Kamu mengambil keuntungan! Itu menjijikkan!" desis Joanne memotong ucapan Ethan. Rahang Ethan mengetat, bahkan giginya terdengar saling bergemeletuk. Pemuda itu coba menahan emosi. "Joanne! Buka pintunya! Kamu mendengar aku?" desak Belinda. "Sebentar, Mom!" balas Joanne, "pergilah Ethan!" usir Joanne. Ethan hendak mengucapkan sesuatu, tetapi bibirnya kembali tertutup. Ia tidak lagi banyak bicara. Ethan bergegas menuju jendela, membukanya lalu melompat keluar. Joanne berlari menghampiri jendela. Menatap keluar. Ethan sudah tidak terlihat lagi dan entah mengapa ia sungguh merasa bersalah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN