Mendadak rasa perih, panas menjalar di saluran hidung ketika Joanne tersedak jus jeruk hingga keluar dari lubang hidungnya.
Spontan Belinda mendekati putrinya lalu memukul-mukul pelan punggung Joanne. "Berhati-hatilah."
Joanne menyeka hidung dengan punggung tangan lalu menatap Belinda. "Mom! Pertanyaan macam apa tadi?" protesnya.
Belinda tertawa pelan. "Yang mana?" tanyanya santai kemudian kembali pada masakannya.
"Mom! Aku serius!"
Belinda kembali mengaduk sup kental dagingnya. "Aku hanya bertanya, apa kamu benar-benar menyukai Brian?"
Wajah Joanne merona. "Mom, memangnya kenapa?"
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya bertanya, Joan," elak Belinda.
Joanne masih tidak percaya. Derit yang terdengar mengerikan saat ujung kursi menggores lantai tua ketika Joanne menarik paksa salah satu kursi makan lalu duduk di dekat Belinda. "Tidak. Aneh. Tidak biasanya Mom bertanya tentang hal itu. Ada apa?" desaknya.
Belinda mencicipi sup dari ujung sendok kayu yang digunakannya untuk mengaduk lalu mematikan kompor. "Kamu curiga sekali." goda Belinda.
"Mom, ini tidak lucu."
Belinda menyerah. Ia menatap putrinya. "Ini kali pertama kamu berinteraksi dengan manusia lain. Aku senang, cemas dan sebagainya. Melihatmu begitu bahagia serta antusias saat kemarin berjalan-jalan dengan Brian membuatku lega sekaligus khawatir."
"Kenapa?"
Belinda tertawa. "Kenapa harus selalu kenapa? Apa kamu tidak memiliki bahasan lain? Ayo, kita makan dulu."
"Tidak, Mom. Mom harus menjelaskan. Titik," tuntut Joanne.
"Hmm, baiklah. Aku lega karena kamu tertarik pada manusia dan senang karena orang itu adalah Brian. Sepertinya dia adalah pemuda baik juga memiliki banyak nilai plus dari segi penampilan. Jarang sekali aku melihat manusia yang benar-benar tampan," puji Belinda.
Joanne memijat pelipisnya. "Astaga, Mom. Alasan macam apa itu."
Belinda mengusap pipi Joanne lalu meraih dua mangkuk di laci dekat kompor. "Alasan yang kedua aku merasa cemas karena Ethan mengatakan kalau sebaiknya kamu menjauhi Brian."
"Ethan?" pekik Joanne setengah berteriak.
Belinda kembali mengaduk sup dagingnya lalu memindahkan ke dalam dua mangkuk keramik. "Ya. Tadi sewaktu mengantarku, kami sempat membahas hal ini."
"Kenapa dia berkata seperti itu?"
Belinda meletakkan dua mangkuk itu ke meja makan lalu memotong roti bougette serta meletakkan beberapa irisannya bersisian dengan mangkuk itu. "Kemarilah, kita berbincang sembari makan malam," ajak Belinda.
Joanne menurut. Terlebih ia sendiri sudah sangat lapar. Joanne mencelupkan potongan roti ke dalam kuah sup lalu mulai menyantapnya. "Ethan, untuk apa Mom memikirkan ucapan konyolnya."
"Alasan dia memperingatkan aku soal kedekatanmu dengan Brian juga menjadi salah satu rasa penasaranku, Joan," aku Belinda.
"Tidak perlu dipusingkan. Dia memang tidak jelas!"
"Begitu, ya? Menurutku, alasannya ada dua, Brian bisa membahayakan kamu atau ... dia cemburu?"
Tersedak untuk yang kedua kali benar-benar menandakan kalau hari ini Joanne sungguh ditimpa kesialan.
Alasan dari peringatan Ethan? Yang pertama; Brian bisa membahayakan Joanne. Itu sangat masuk akal. Bukan rahasia kalau sepertinya Alice juga menyukai Brian dan tidak menutup kemungkinan gadis vampir itu bisa membunuh Joanne bila merasa cemburu.
Yang kedua; Ethan yang cemburu. Itu sangat terdengar menggelikan, menakutkan serta tidak mungkin terjadi.
Joanne bergidik ngeri ketika membayangkan Ethan sungguh malah berbalik bersikap baik padanya. Alice memang berbahaya, tetapi pasti bisa menahan diri walau Alice terbakar cemburu, tetapi menjalin hubungan dengan Ethan dan membuat Amanda terbakar cemburu, jelas itu bukan ide yang bagus.
"Joanne, bagaimana pendapatmu?" tanya Belinda.
Joanne mengerjapkan mata indahnya. Seketika menyesal telah terus membahas hal konyol seperti ini. "Apa? Ethan tidak mungkin menyukai aku. Mungkin, dia hanya berpikir Alice bisa sedikit membahayakan aku," jawabnya.
"Alice? Ada apa dengannya?"
"Aku tidak tahu pasti, Mom. Hanya saja, sepertinya dia menyukai Brian," ungkap Joanne.
Belinda mengangguk-angguk sambil menggaruk ujung dagu. Bertingkah seolah dirinya adalah detektif profesional yang sedang mendengarkan satu per satu bukti dari saksi. "Begitu ya? Tapi mungkin saja Ethan juga menyukaimu,"
"Oh, ayolah, Mom. Jangan membuatku kembali tersedak," protes Joanne.
Belinda tertawa lalu mulai ikut menyantap hidangan makan malamnya. "Dengar, Sayang. Kalau kamu tidak berjodoh dengan Brian, aku masih berharap kamu juga tidak akan berjodoh dengan Ethan atau vampir manapun."
"Astaga, Mom! Aku baru enam belas tahun dan kita sudah membahas jodoh?" kesalnya.
Belinda terkekeh geli. "Ini adalah usia yang tepat untuk mulai mencari cinta, Joan. Nikmatilah masa muda kamu, Sayang."
Joanne diam. Bila percakapan ini terus dilanjutkan, ia hanya akan menambah beban serta kemungkinan tidak penting lainnya.
Selepas menyelesaikan makan malam serta mandi air hangat, Joanne memindahkan Felix yang tertidur di sofa ruang tamu ke kamar.
Kucing itu hanya menatap Joanne lalu kembali terlelap ketika Joanne meletakkannya di sofa kamar. Setelah itu, Joanne duduk di kursi rias, memandangi wajahnya sendiri.
Ucapan mengenai kemungkinan Ethan cemburu membuat wajah Joanne tiba-tiba merona.
"Menyukaiku? Dia amat membenci aku. Yang paling masuk akal adalah Ethan bermaksud mengatakan kalau Brian bisa membahayakan jika Alice cemburu," cicit Joanne.
"Apa?"
Joanne menoleh hingga mungkin tulang lehernya patah. Ethan sudah berdiri menyandar di dekat jendela. "U-untuk apa kamu ke sini?" tanya Joanne tergagap.
Ethan menarik punggungnya dari dinding sebelah jendela lalu mendekati Joanne. "Bukankah aku sudah pernah mengatakan untuk berhati-hati dalam menyebut namaku bahkan untuk sekadar memikirkan aku?"
Joanne bangkit, berusaha keras untuk tidak balas menatap Ethan, tetapi malah terus menerus memperhatikan pemuda itu mengikis jarak dengannya.
"Aku tidak bermaksud seperti itu," sesal Joanne.
"Apa aku harus percaya dengan semua ucapanmu?" selidik Ethan.
Joanne tidak bisa banyak bergerak ketika Ethan semakin dekat dengannya. Alih-alih memikirkan cara melarikan diri, Joanne bersusah payah menghentikan degup jantungnya yang kian menggila.
Mendengar ritme detak jantung Joanne yang semakin tidak beraturan, Ethan malah tersenyum puas serta semakin berani mendekati Joanne. Ia senang melihat gadis itu begitu terintimidasi.
"Aku tahu, aku sangat memesona dan kamu harus mengakuinya Joan," goda Ethan.
Hawa panas semakin nyata menyelubungi wajah Joanne. "Jangan gila! Pergilah, aku tidak dalam masalah dan ini sudah terlalu malam," usir Joanne.
Ethan menatap Joanne dari ujung kepala hingga kaki. "Apa aku sudah pernah mengatakan kalau ya, kamu memang cantik. Terlepas itu adalah keuntungan karena memiliki darah hitam dalam tubuhmu," puji Ethan.
Joanne kepayahan. Ia malah terlihat persis seperti ikan yang dilemparkan ke daratan dan mulai kehilangan oksigen. Wajahnya merah juga mulai sulit mengatur napas.
"Berhentilah, aku mengantuk," ucap Joanne.
Ethan semakin berani menggoda Joanne, ketika mereka sudah amat sangat dekat, Ethan menyentuh pipi Joanne, membelainya dengan ibu jari.
Perlakuan itu tidak ditepis oleh Joanne, ia terlalu sibuk menatap mata indah Ethan.
Ethan mendekatkan wajah ke wajah Joanne. Kini mengusap lembut permukaan bibir Joanne. "Aku ... penasaran."