Belinda coba mencerna apa yang ditanyakan Ethan lebih dalam. Tentang perasaan Joanne terhadap Brian. Menurutnya itu bukanlah satu hal yang bisa dianggap terlalu serius.
Joanne masih terlalu muda serta naif untuk menilai perasaannya sendiri terhadap Brian. Namun, tertarik pada pemuda tampan seperti Brian jelas adalah hal yang amat sangat wajar, bukan?
"Itu, memangnya ada masalah bila Joanne benar menyukai Brian?" selidik Belinda.
Pertanyaan yang wajar, tetapi Ethan merasa terintimidasi oleh Belinda. "Aku tidak bermaksud apa-apa. Hanya saja, Brian ... dia berbeda dengan manusia kebanyakan."
Belinda malah cemas mendengar jawaban Ethan. Sejujurnya, tadi sore tepat ketika Caroline tiba-tiba datang berkunjung serta berakhir dengan satu ajakan minum teh memiliki misi tersendiri.
Carlos—suaminya jelas menginginkan Joanne dapat menaklukkan Ethan. Berharap rencananya, yaitu Joanne dapat diubah menjadi vampir dengan darah Ethan sendiri bisa berhasil.
Namun, Belinda tetap ingin Joanne memiliki hidup yang normal. Bisa menjadi manusia, menikah dan menghabiskan hidup seperti manusia kebanyakan.
Ia berharap siapa pun yang menjadi pasangan Joanne kelak adalah seorang manusia yang sama sekali tidak berhubungan dengan dunia vampir.
Mendekati Caroline serta berharap agar wanita itu mau memilih vampir lain untuk menjaga Joanne adalah salah satu langkah awal saja.
"Terima kasih sudah mencemaskan Joan, tapi sepertinya urusan itu juga tidak bisa aku campuri," sesal Belinda dengan nada iba.
Senyum miring yang tercetak di bibir Ethan jelas menandakan bahwa pemuda itu tahu kalau ucapan Belinda hanya sekedar basa-basi.
"Aku tidak peduli dengan apa yang akan terjadi pada Joanne. Hanya saja tetap berdekatan dengan Brian hanya akan menambah pekerjaanku," gerutu Ethan.
"Kalau begitu, tidak perlu melakukannya lagi. Bagaimana? Maksudku tidak perlu repot-repot menjaga Joanne lagi."
Akhirnya Ethan menepikan mobilnya lalu mematikan mesin. Mungkin percakapan ini akan lebih terdengar jelas.
"Pekerjaanku? Itu jelas bukan urusan kamu," balas Ethan.
"Sayangnya iya. Joan adalah putriku. Aku bisa membujuk Caroline untuk menempatkan vampir lain. Aku tidak enak bila kamu terus melakukan pekerjaan yang sebenarnya tidak disukai," ucap Belinda penuh kehati-hatian.
Ethan tertawa pelan. "Joanne memang anakmu. Semua ucapanmu sudah pernah aku dengar dari bibir Joanne. Dengar, kamu tidak mengenalku. Jadi, berhentilah berusaha mencampuri urusanku," tegas Ethan.
Belinda tidak pernah mau memancing emosi Ethan yang memang dikategorikan remaja labil dan belum bisa meredakan emosinya sendiri. Ia menarik napas dalam-dalam lalu balas menatap Ethan.
"Percayalah, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya tidak ingin kamu susah saja."
"Susah? Untuk apa kamu repot-repot memikirkan itu? Satu hal yang harus kamu tahu. Aku benci didikte dan tugas ini adalah hal pertama yang diperintahkan ibuku tanpa bertanya apakah aku mau melakukannya," ungkap Ethan.
"Kamu salah mengerti. Aku berkata bisa membujuk Caroline untuk berpikir ulang tentang kamu yang ditugaskan menjaga Joanne," sergah Belinda.
"Jelas kamu belum mengerti situasinya. Walau aku bukanlah penjaga Joan, ah, tidak. Aku sederhanakan saja kalimatnya. Brian bukanlah pilihan yang tepat untuk Joanne dan mengenai alasannya, suatu saat nanti kamu akan tahu dan menyesal bila Joanne telanjur jatuh dalam perasaannya terhadap Brian."
Kali ini Belinda diam. Berdebat dengan Ethan mirip dengan percakapan panjang melelahkan saat dirinya berdiskusi dalam tanda petik dengan Joanne.
Tidak akan menemukan kata sepakat dan yang terburuk berujung pertengkaran. Belinda tidak ingin hal itu terjadi.
Cukup lama tidak mendengar komentar Belinda, Ethan kembali memutar kunci mobil, memundurkan kopling serta memijak pelan pedal gas.
Entah Belinda mengerti akan maksud ucapannya atau tidak, tetapi sebaiknya wanita itu mulai memperingati Joanne untuk sedikit menjauh dari Brian.
Setibanya mereka di rumah. Joanne yang sedari tadi menunggu di beranda berlari tepat setelah mobil Ethan memasuki pekarangan.
Segera ia memeluk erat Belinda dan air matanya mulai berlinang. "Mom!"
Belinda malah menatap Ethan yang juga keluar dari mobil. Sepertinya ia memang bersalah karena pergi tanpa meninggalkan pesan sama sekali.
"Maaf, Joan. Aku tidak bermaksud membuatmu cemas," sesal Belinda.
Joanne mengurai dekapannya lalu menyeka air mata. "Rasanya aku akan mati ketika tidak menemuka Mom di mana-mana. Mom kemana? Apa yang terjadi?" cecar Joanne.
Sekali lagi Belinda malah menatap Ethan dan pemuda itu hanya menggedikkan bahu. Seolah berkata, aku tidak tahu juga tidak peduli.
"Joan, aku baik-baik saja dan sekali lagi maaf, Sayang."
"Apa Alice yang membawamu?" tebak Joanne.
"Alice? Bukankah aku sudah katakan kalau Alice tidak ada kaitannya dengan ini?" sentak Ethan.
Joanne memutar tubuhnya. "Aku berterimakasih karena kamu menemukan ibuku, bahkan mengantarkannya pulang. Aku hanya bertanya dan kamu tidak perlu sampai marah begitu," balas Joanne.
"Bertanya? Kamu itu menuduh! Dengar, tanya saja pada ibu kamu, siapa yang mengajaknya pergi atau mungkin ini ide dari ibu kamu sendiri," tutur Ethan.
Dahi Joanne berkerut. "Maksudnya?"
Belinda dengan cepat berusaha menengahi. "Sudahlah Joanne. Aku yang bersalah karena tidak meninggalkan pesan. Jangan diperpanjang lagi. Aku baik-baik saja," ucap Belinda dengan nada meyakinkan.
Joanne masih belum puas. Ia harus tahu ke mana ibunya pergi. Apa urusannya? "Mom, aku—"
"Sebentar lagi malam. Aku belum selesai memasak. Lebih baik kita segera masuk," potong Belinda.
Joanne memijat pelipisnya lalu bergantian menatap Ethan dan Belinda. "Baiklah. Ethan, sekali lagi terima kasih."
Ethan sedikit mengangguk kemudian pergi tanpa berkata apa-apa dan tepat setelah mobilnya benar-benar menghilang, Belinda masuk ke dalam rumah. Langkahnya diekori Felix juga Joanne.
"Mom, aku masih akan terus bertanya, kemana saja Mom pergi," tegas Joanne menuntut penjelasan.
Belinda menghentikan langkah, berbalik mendekati Joanne lalu mengusap pucuk kepala putri tunggalnya itu. "Tadi, ibu Ethan datang berkunjung. Dia mengundangku minum teh dan aku berkata bisa minum sore ini juga," jawab Belinda.
"Ibu Ethan? Untuk apa? Setelah beberapa lama kita tinggal di sini, dia datang berkunjung? Aneh sekali," selidik Joanne.
"Dia sedang ada urusan di sekitar tempat ini, jadi berkunjung sebentar. Sudahlah, tidak baik terus berburuk sangka," balas Belinda.
"Aku tidak berburuk sangka. Aku hanya merasa aneh saja. Untuk apa dia repot-repot datang hanya untuk menawarkan minum teh."
"Tadi aku sudah katakan, dia ada urusan di sekitar sini. Sudahlah, Joanne. Tidak ada salahnya dengan bersikap ramah, bukan? Lagi pula aku baik-baik saja."
"Mom, apa harus aku menunggu sampai Mom tidak baik-baik saja?"
Belinda tertawa pelan lalu menyentil dahi Joanne. "Kamu persis seperti ayahmu. Sudahlah, aku masak dulu."
Joanne mengusap-usap dahinya lalu kembali mengekori langkah Belinda ke dapur. Di sana ia membuka laci pendingin, meraih kotak jus jeruk lalu menuangkan isinya ke dalam gelas sementara Belinda mencuci tangan kemudian memutar kembali palka kompor.
"Joan, apa kamu sungguh menyukai Brian?"