Promise

1005 Kata
Berulang kali Joanne berusaha menghubungi Belinda, tetapi usahanya sia-sia. Setiap panggilan malah berakhir dengan jawaban operator telepon yang meminta Joanne untuk meninggalkan pesan. Sekali lagi Joanne melihat daftar kontak ponselnya. Tersadar tidak ada yang bisa dimintai bantuan, air mata Joanne kembali meleleh. Isi kontak ponselnya hanya tiga saja. Belinda, Pamela dan terakhir Brian. Meminta tolong pada Pamela, itu masuk akal, tetapi ia tahu kalau Pamela tidak bisa datang dalam sekejap mata. Belum lagi kalau ternyata tantenya itu sedang bekerja. Brian? Ya, dia bisa diandalkan untuk ikut mencari ibunya. Dalton bukanlah kota seluas San Diego. Menemukan Belinda dengan berkeliling kota pasti tidak terlalu sulit. Namun, bagaimana kalau hilangnya Belinda dikaitkan dengan vampir? Joanne diam, matanya menatap Felix yang duduk sembari menjilati tangan. Sebuah gagasan gila tiba-tiba muncul, tetapi jelas Joanne akan memiliki utang budi. "Aku tidak punya pilihan dan keselamatan ibu adalah yang paling utama," cicit Joanne. Joanne memejamkan mata. Bibirnya terkunci rapat, tetapi hatinya mulai meneriakkan satu nama. Ethan, Ethan, Ethan! Terus sampai Joanne tidak tahu berapa kali ia mengulang nama itu. "Apa?" Rasanya jantung Joanne seakan hilang dari tempatnya. Ia masih enggan untuk membuka mata, tetapi sekeras apa pun menolak, akhirnya ia menatap Ethan yang sudah berdiri sekitar dua meter dari hadapannya. "Ethan?" cicit Joanne. Ethan memasukkan kedua tangan ke dalam saku jaket kemudian mendekati Joanne. "Apa?" "Kamu, sungguh bisa mendengarkan panggilanku?" tanya Joanne ragu. "Apa aku harus menjawab itu? Apa kamu buta?" sarkas Ethan. Ingin sekali Joanne meremas bibir sialan Ethan. Sekali lagi ia menarik napas lalu berkata, "Aku perlu bantuanmu." Ethan memiringkan senyumnya. "Bantuanku?" Joanne tahu, Joanne sudah bisa menebak itu. Ethan akan mengejeknya habis-habisan. "Ya." "Bukankah selama ini bantuanku hanya dianggap sebagai satu gangguan saja?" sindir Ethan. Joanne menggigit bibir, walau sebenarnya kesal, tetapi Joanne tahu ia kalau satu-satunya harapan adalah pemuda yang kini ada di hadapannya. Ethan. "Bisakah kali ini kita tidak bertengkar? Ini darurat dan aku terpaksa meminta bantuanmu," aku Joanne. Ethan menggaruk ujung dagunya. "Oh. Jadi, aku harus kesal atau iba padamu?" "Ethan, ibuku hilang!" ucap Joanne yang pada akhirnya masuk ke dalam inti permasalahan. "Hilang?" "Iya! Hilang! Kamu mengerti arti hilang? Lenyap!" jawab Joanne gemas. "Sebenarnya kamu sungguh memerlukan aku atau tidak?" sindir Ethan. "Ma-maaf kalau aku sedikit berteriak. Aku panik sangat panik." Ethan malas menanggapi. Ia memilih untuk sedikit berkeliling rumah, menelisik satu per satu tiap sudut. Sebenarnya ada hal yang dicurigai, tetapi mengatakan hal itu pada Joanne pasti akan membuat gadis itu salah paham saja. "Bagaimana?" tanya Joanne takut. "Ibumu baik-baik saja." "Kenapa kamu begitu yakin? Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan?" "Kenapa kamu jadi menuduh aku?" Joanne meremas kepalanya sendiri. "Bukannya begitu, Ethan. Hanya saja kamu terdenger seperti tahu sesuatu. Ibuku tidak mungkin pergi meninggalkan masakannya tanpa ada sesuatu yang sangat mendesak. Terlebih dia tidak meninggalkan pesan." "Dengar, bila ibumu diculik vampir dari klan lain, rumah ini tidak akan utuh, Joanne. Para penjaga perbatasan akan menghadang mereka tanpa semoat masu ke dalam hutan. Kamu tidak perlu cemas. Ibumu pasti baik-baik saja," tegas Ethan berusaha menenangkan. "Berarti, kesimpulannya pelaku berasal dari klan ini?" Ethan menatap Joanne. "Kamu dan ibumu adalah tamu istimewa kami. Berhentilah berpikir aneh." "Lalu, di mana ibuku? Apa ... Alice?" "Alice? Dia selalu bersamaku dan aku tidak suka ada yang berpikiran buruk tentang Alice." Joanne menggigit bibir. "Lalu aku harus bagaimana? Aku sungguh mencemaskan ibuku, Ethan." Mendengar suara Joanne yang mulai gemetar, Ethan berjalan mendekati gadis itu lalu menanggkat sedikit ujung dagunya. "Ibumu baik-baik saja dan aku akan membawa dia pulang. Kamu tunggu di sini," ujar Ethan. Joanne menyeka air matanya. "Aku ikut. Aku tidak bisa diam saja di sini!" Ethan menggeleng. "Kamu hanya akan memperlambat bahkan menyusahkan aku. Tunggu di sini. Aku akan segera kembali. Bersama ibu kamu." Dengan berat hati akhirnya Joanne mengangguk setuju. "Baiklah. Aku tunggu kamu." "Bagus. Aku pergi." Joanne mengangguk, lalu mundur beberapa langkah. Memang bukan waktunya untu terkesima, tetapi hanya dalam sekejap mata, Ethan sudah menghilang dari rumah itu. Pemandangan saat Ethan membukammata digantikan oleh dua pilar tinggi yang terbuat dari batu pualam. Tanpa buang waktu, bergegas Ethan pergi menuju kamar Alice. "Apa?" tanya Alice sembari menyusun bunga mawar merah ke dalam vas di balkon kamarnya. "Di mana Belinda?" "Belinda?" "Ibu Joanne. Joanne begitu panik karena ibunya pergi tanpa meninggalkan pesan. Aku mencium sesuatu." "Apa? Katakanlah." Ethan mendekati Alice lalu duduk di depannya. "Di mana ibuku?" Alice meletakkan gunting lalu menatap Ethan. "Instingmu semakin bagus saja," pujinya. "Jadi, dugaanku benar?" "Cari tahu saja sendiri. Aku sedang sibuk." Ethan meninggalkan Alice kemudian pergi menuju taman belakang. Di sana, ia melihat Belinda dan ibunya sedang tertawa bersama sembari minum teh. "Di sini rupanya," tutur Ethan. Caroline dan Belinda menoleh. Refleks Belinda segera bangkit lalu memberikan senyum pada Ethan. "Apa kabar?" sapanya. Ethan memijat pelipisnya. "Bukankah tidak tepat bertanya hal seperti itu?" Belinda menatap bingung Ethan lalu bergantian menoleh pada Caroline. "Kenapa, Ethan? Apa terjadi sesuatu?" tanya Caroline. "Siapa yang mengajak dia ke rumah ini?" tanya Ethan sembari menunjuk Belinda. "Ada apa? Aku. Tidak biasanya kamu bersikap seperti ini terhadap tamu-tamuku," timpal Caroline. "Joanne mencarimu sampai dia bingung setengah mati," ungkap Ethan. Pupil mata Belinda melebar. "Kamu pergi tanpa pesan dan meninggalkan masakanmu begitu saja," lanjut Ethan. "Astaga, aku tidak bermaksud seperti itu." "Maaf, ini salahku. Tidak seharusnya aku mengajakmu tergesa seperti tadi," sesal Caroline. Belinda menggeleng. "Ah, tidak. Terima kasih atas tehnya. Aku harus segera pulang." "Aku akan mengantarmu," usul Caroline. "Tidak perlu. Aku yang akan mengantarnya. Aku sudah berjanji pada Joanne akan membawa ibunya pulang," ujar Ethan. Caroline tersenyum. "Baiklah Ethan." Ethan mempersilakan Belinda untuk pergi terlebih dahulu kemudian mereka bergegas menuju garasi. Dalam perjalanan pulang, keduanya sempat terdiam. Belinda tampak kikuk, sedangkan Ethan yang bisa dengan jelas mendengarkan apa yang ada di pikiran Belinda tampak berusaha keras mengabaikan ucapan Belinda. Sepertinya dibandingkan Ethan, Joanne amat menyukai Brian. Ethan mencengkeram erat kemudi. Apa bagusnya lelaki itu? pikir Ethan. "Maaf sudah merepotkan kamu," sesal Belinda. "Sebaiknya, semanis apa pun ibuku membujuk, lebih baik kamu meninggalkan pesan sebelum pergi dari rumah," tutur Ethan. "Aku kira pelatihan Joanne akan sampai malam jadi—" "Apa Joanne sungguh menyukai Brian?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN