She's Gone

1001 Kata
Terkadang ucapan Ethan diartikan Joanne sebagai satu godaan yang menggelitik hati. Walau terdengar gila, tetapi jujur saja, Joanne merasa kalau mungkin Ethan memang memilik sesuatu dalam tanda kutip. "Bagaimana kencanmu, Sayang?" tanya Belinda masih sibuk menatap jalanan yang padat. Joanne memaksa diri untuk tersenyum. "Baik dan pasti makin menyenangkan kalau mereka tidak mengganggu." "Mereka? Siapa?" "Siapa lagi yang bisa tiba-tiba muncul bagai hantu," gerutu Joanne. Belinda sudah berusaha untuk menahan tawa, tetapi kesialan putrinya sungguh menggelikan. "Ethan dan Alice?" tebak Belinda. Joanne mengangguk pelan. "Mereka melekat padaku seperti bayangku sendiri dan itu menyebalkan. Apa Mom tidak bisa melakukan sesuatu?" tanya Joanne walau tidak terlalu banyak berharap. "Entahlah. Ayahmu takut akan kekuasan Vernon dan mungkin sebaiknya kamu mulai mendekati Caroline " saran Belinda. "Caroline Vernon? Untuk apa?" selidik Joanne. "Cinta selalu membuat lelaki hilang akal, Joanne. walau ... ya tidak berlaku untuk ayah kamu, tetapi Ardolph Vernon melakukan apa pun yang diucapkan istrinya, Caroline." Joanne terdiam sejenak. Usulan itu tidak terdengar buruk dan patut dicoba, tetapi bagaimana ia memulainya? Memang, bila ia bisa sedikit bernegosiasi dengan Caroline, mungkin ia bisa mengatur agar pengawal pribadinya diganti. *** Hari berlalu, Joanne mulai menjalankan rencananya dengan tidak banyak protes saat menjalani pelatihan ketika selesai pulang sekolah di kediaman Laurent. Pelatihan yang kali ini lebih mirip dengan olahraga bela diri akan selesai pukul lima sore setiap harinya dan setelah itu Ethan yang akan mengantarkan Joanne pulang. Mobil sport merah yang dikemudikan Ethan memasuki pelataran rumah Joanne yang dipenuhi dedaunan kering. "Terima kasih," ucap Joanne sembari membuka seat belt. "Aku tetap merasa ada yang aneh," ucap Ethan. Joanne urung untuk keluar dari mobil. Ucapan Ethan layak untuk dibahas, walau sebentar saja. "Maksudmu?" "Kamu bukan gadis penurut dan akhir-akhir ini semua terasa aneh," aku Ethan. "Aku tidak mengerti." "Oh, ya? Aku rasa kamu lebih dari mengerti. Aku bukan seseorang yang bisa ditipu semudah itu, Joan." Joanne berusaha keras menetralkan wajah terkejutnya. "Terserah kamu saja. Aku hanya lelah terus bertengkar denganmu. Lagi pula pelatihan ini bagus untukku. Aku tidak pernah berolahraga sebelumnya dan yang terbaik, walikota Spencer mengubah caranya melatihku," tegas Joanne. Ethan masih belum puas akan jawaban Joanne. "Begitu, ya? Kenapa rasanya masih ada yang aneh? Tapi, itu bukan urusanku, 'kan?" Joanne sempat terdiam beberapa detik. "Kenapa kamu tidak bisa acuhkan saja perintah untuk menjagaku? Toh, kamu sendiri tidak pernah suka melakukannya! Bukankah kamu anak satu-satunya dari penguasa Dalton?" "Aku tidak pernah mau menentang ibuku." Joanne sempat tersentak mendengar pengakuan Ethan. Pemuda itu tampak begitu manis ketika mengakui bahwa dirinya amat menyayangi sang ibu. "Kalau begitu, bagaimana kalau ibumu sendiri yang mengatakan untuk berhenti menjagaku?" tanya Joanne. Ethan tertawa pelan. "Berhenti menjagamu? Andai saja hal itu terjadi. Aku sudah lelah hampir setiap hari mendengarkan pertengkaran ibu dengan ayahku." Kali ini Joanne benar-benar tidak enak hati. Rasanya sungguh menyedihkan kala tau ada yang bertengkar karena dirinya. "Aku minta maaf," sesal Joanne. Ethan menoleh, menelisik wajah bersalah Joanne yang memang jelas tampak. "Kenapa?" "Aku mengerti perasaanmu. Jujur saja, hampir setiap hari aku juga mendengar orang tuaku bertengkar karena aku. Walau aku jarang bertemu ayahku, tapi aku selalu tahu dia adalah penyebab setiap kali ibuku tampak murung. Ah, tidak, akulah penyebab utama setiap kali ibuku tampak murung," jawab Joanne. "Itu terdengar menyebalkan." Joanne menarik napas dalam-dalam. "Memang dan aku lelah karenanya. Aku ingin lepas dari semua ini dan janji kebebasan untukku di ulang tahun yang ke tujuh belas memang patut untuk dipertahankan," lanjutnya. "Ulang tahun? Kamu pikir bisa merayakan hal itu?" "Sepertinya kamu tahu sesuatu," selidik Joanne. Ethan mengalihkan pandangannya dari tatapan Joanne lalu kembali menyalahkan mesin mobil. "Walaupun aku tahu, menurutmu apa aku akan mengatakan hal itu padamu?" "Kamu menyebalkan!" Ethan tertawa. "Ya, terima kasih atas pujiannya." Joanne meraih ranselnya dari jok belakang lalu tanpa banyak bicara keluar dari mobil Ethan. Mundur beberapa langkah kemudian menatap mobil itu perlahan mulai meninggalkan pekarangan rumahnya. "Cih, memang menyebalkan!" Gesekan lembut di kaki membuat Joanne menunduk. Perasaannya berubah kala melihat Felix menggosokkan kepala di kaki Joanne. "Aku tidak mendengarmu datang, Felix," ucap Joanne yang kemudian merengkuh tubuh Felix ke dekapannya. Kucing hitam dengan bulunya yang menawan itu mulai mendengkur. Tampak jelas terlihat nyaman di pangkuan Joanne. "Ayo kita masuk, Sayang," ajak Joanne. Seakan menyetujui dan mengerti, Felix mengeong pelan. Setelah memasuki rumah, Joanne menurunkan Felix lalu melemparkan ranselnya ke sofa. "Mom?" panggil Joanne. Tak kunjung mendapatkan balasan. Joanne urung pergi ke kamarnya. Ia mempercepat langkah menuju kamar Belinda. "Mom?" Kosong. Kamar Belinda tampak kosong dan tempat tidurnya pun terkesan rapi. Merasa ada yang aneh, Joanne kembali menutup pintu lalu pergi menuju dapur. Di sana ia melihat panci di atas kompor, tetapi tidak melihat keberadaan Belinda. "Mom?" panggil Joanne mulai panik. Joanne mendekati panci yang berisi rebusan daging. "Hangat. Berarti mom sudah lama tidak berada di rumah," cicit Joanne. Tidak mau membuang waktu, Joanne mulai berlari menelisik satu per satu ruangan yang ada di rumahnya, tetapi sosok Belinda tidak juga ia temukan. "Mom!!" panggil Joanne lebih kencang. Joanne kembali berlari menuju pintu depan. Di sana ia melihat mobil ibunya yang terparkir. Tidak biasanya Belinda seperti ini. Biasanya, Belinda selalu memberikan kabar bila akan pergi, entah mengirimkan pesan atau menempel pesan di kertas untuk Joanne. Gelenyar aneh terasa semakin dingin merambat ke tengkuk Joanne. Kali ini ia sungguh merasa takut terjadi sesuatu. Joanne kembali berlari masuk ke rumah. Sekali lagi memeriksa setiap sudut lebih teliti. Mungkin ada sesuatu yang luput dari pengawasannya. Felix kembali menghampiri Joanne, menggosok-gosok kepala di kaki Joanne. "Tidak kali ini, Felix. Oh, astaga kemana ibuku? Tidak biasanya dia pergi seperti ini." Joanne meraih ransel dari ujung sofa. Mulai menelepon Belinda ketika berhasil menemukan ponsel dari ransel. "Ayo, mom! Angkat!" mohon Joanne gemas. Tidak ada jawaban. Joanne menatap ponsel. Berpikir siapa yang bisa dihubungi dan tersadar kalau ia tidak tahu apa-apa tentang ibunya sendiri. Bahkan yang terparah, ia tidak tahu bagaimana caranya menghubungi ayahnya. Tidak mungkin juga menghubungi Pamela. Tantenya itu berada sangat jauh dari Dalton. Air mata mulai mengalir di pipi Joanne. Tidak ada yang lebih mengerikan kala membayangkan mungkin Belinda berada dalam bahaya dan tidak ada yang bisa Joanne lakukan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN