Ethan boleh ada di sekitar Joanne. Mengekori gadis itu seperti anak anjing yang tersesat, tetapi Ethan harus tahu batas. Joanne tidak bisa membiarkan Ethan terus menerus ikut campur dalam urusan percintaannya dengan Brian.
Walau sudah berusaha keras mengabaikan yang duduk di belakang kursi, tetap saja Joanne tidak bisa menikmati film yang sedang diputar atau genggaman hangat Brian yang tidak pernah dilepaskan Brian.
Hingga pemutaran film selesai serta lampu mulai terang kembali, Joanne masih belum bisa meredakan kekesalannya.
"Ayo, Joanne, aku akan antar kamu pulang," ucap Brian.
Joanne mengangguk, menepuk belakang gaunnya kemudian pergi tanpa melepaskan genggaman tangannya dari Brian.
"Suka filmnya?" tanya Brian di lorong menuju pintu keluar.
"Ah, ya. Lain kali kita harus pergi lagi," ucap Joanne.
"Benarkah? Aku akan menagih janji itu padamu," balas Brian kegirangan.
Joanne mengangguk. "Maaf Brian, seharusnya hari ini kita bisa bersenang-senang lebih lama, tapi sepertinya ibuku sudah tiba di tempat parkir," sesal Joanne.
Walau kecewa, Brian tidak sampai hati menyalahkan Joanne atas kurang sempurnanya acara kencan pertama mereka.
"Aku yakin, akan lebih baik di lain waktu," ucap Brian membesarkan hati Joanne.
"Tunggu sampai aku berulang tahun. Setelah itu, ibuku tidak akan terlalu memaksakan kehendaknya padaku," ungkap Joanne.
"Ulang tahun? Kapan?" tanya Brian begitu antusias.
"Beberapa bulan lagi," jawab Joanne sembari tersipu.
Brian menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang untuk memastikan tidak ada keluarga Vernont di belakang mereka.
"Joanne, apa yang kamu inginkan?"
"Kebebasan. Kamu tidak perlu memberikan apa pun. Cukup selalu ada bersamaku dan semuanya selalu tampak sempurna," jawab Joanne dengan tegas.
Brian tersenyum. "Aku tidak pernah merasa tersanjung seperti ini sebelumnya. Terima kasih dan aku akan berusaha untuk tidak mengecewakan kamu."
Perlahan Joanne menjalin jemarinya dengan jemari Brian. Awalnya ia merasa melihat jemarinya yang menyatu dengan pemuda itu akan membuat perasaannya semakin bahagia, tetapi entah mengapa tiba-tiba saja ada satu kejutan listrik yang menyengat kulit Joanne hingga ia dengan cepat melepaskan genggaman tangannya lalu memejamkan mata.
Untuk se per sekian detik, Joanne melihat sesuatu yang terasa sangat ganjil. Ia melihat Brian dengan pakaian putih berkerah lebar, terlihat sangat kuno.
"Kamu kenapa, Joanne?"
Joanne beberapa kali mengerjapkan mata. Tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.
"Joanne?" tanya Brian mengulangi pertanyaannya.
"Brian, aku, aku,"
"Ada apa? Kamu tiba-tiba pucat."
Joanne mundur beberapa langkah ketika perlahan wujud Brian mulai berubah. Bahkan bukan hanya Brian, tetapi tempat mereka sekarang berada.
Dalam pandangan Joanne, keduanya berada di sebuah ladang gandum yang terbakar.
"Joanne?"
Joanne masih diam sembari menatap ke sekeliling rumpun gandum yang dilalap api. Jerit tangis mulai terdengar saling bersautan.
Seakan semua panca indera Joanne terbuka lebar, kali ini ia bisa mencium bau darah memenuhi tempat ini.
Pemandangan mengerikan yang tidak pernah ia sangka bahkan tampak dari sosok yang ada di hadapannya.
Brian tampak berbeda dengan pakaian putih terkena noda hitam yang tidak lain adalah darah seorang vampir.
Pupil mata Joanne melebar tatkala Brian mengeluarkan kapak berlumur cairan hitam.
"Ka-kamu, membunuh?" cicit Joanne.
Cengkeraman erat di kedua bahu, membuat Joanne menoleh. Entah apa yang dipikirkannya ketika tiba-tiba saja ia memeluk Ethan lalu menangis tersedu-sedu.
"Apa yang terjadi padamu?" tanya Ethan.
Brian coba menghampiri Joanne, tetapi dengan sigap Alice menghalangi langkah Brian. "Ini tidak bisa dijelaskan. Berhentilah demi kebaikan Joanne," tegasnya.
Sebenarnya, Brian tidak mengerti akan ancaman Alice, tetapi melihat Joanne yang memeluk erat Ethan sembari menangis, ia tidak bisa melakukan apa-apa selain menuruti keinginan Alice.
***
Berulang kali Joanne membasuh wajahnya. Bayang akan apa yang dilihatnya pada sosok Brian serta darah hitam yang menggenangi kaki Joanne membuat gadis itu kembali dicengkeram ketakutan.
"Apa yang kamu lihat?" tanya Ethan yang entah kapan masuk ke kamar mandi Joanne.
"Ethan?" Sontak Joanne mengetatkan jubah mandinya. Ia tidak ingin lelaki itu melihat sesuatu yang paling berharga.
"Santai saja. Aku tidak tertarik padamu," ejek Ethan.
Entah harus lega atau tersinggung, Tao Joanne memilih untuk cepat-cepat keluar dari kamar mandi, tentunya langkah Joanne diekori Ethan.
"Pergilah, sudah cukup seharian ini kamu mengganggu aku, Ethan. Aku lelah dan ingin cepat tidur saja," usir Joanne.
Bukannya pergi, Ethan malah merebahkan dirinya ke pembaringan Joanne. "Tetapi hatimu berkata untuk aku tetap di sini. Benar 'kan?" sindir Ethan.
Ingin sekali menyangkal, tetapi Joanne malam menyeka air mata yang tiba-tiba saja keluar tanpa tahu penyebabnya.
"Kenapa?" tanya Ethan.
Berulang kali Joanne menyeka air mata. Sulit untuk menjelaskan apa yang terjadi, tetapi Joanne benar-benar tidak bisa melupakan apa yang dilihatnya.
Darah, api dan ... Brian.
"Bukankah sudah aku katakan kalau aku tidak bisa digunakan seenak jidat kalian."
Ethan tertawa. "Kamu jangan seperti ini, Sebenarnya, aku juga tidak mau dekat-dekat denganmu."
"Berhentilah, Ethan. Tolong jangan ceritakan apa yang terjadi setelah beberapa kali aku melihatmu bersenang-senang atas penderitaan aku," mohon Joanne
"Bersenang-senang? Aku tidak pernah melakukan itu. Apa kamu merasa seperti itu? Maaf."
"Aku bingung, aku takut dan aku tidak suka dekat denganmu," aku Joanne.
Ethan tertawa. "Sebaiknya aku merasa tersanjung atau bagaimana?"
Joanne menggeleng. "Aku tidak pernah mau untuk menyusahkan orang lain. Aku tidak pernah mau kamu terus merasa terpaksa karena menjagaku. Aku muak!"
Ethan mendekati Joanne. "Kamu sudah berada di tangan yang tepat," ucapnya sembari menyusuri wajah Joanne dengan ujung jemari. "Aku penasaran, apa memang bibirmu terasa s hangat?" tanyanya.
Joanne bisa merasakan jantungnya kembali berdebar lebih kencang. Ini jelas terasa amat berbeda dengan apa yang ia rasakan pada Brian.
"Boleh aku mencicipinya?" tanya Ethan sembari mengusap lembut permukaan bibir Joanne dengan ujung telunjuknya.
Joanne tidak merasakan embusan napas Atau kehangatan saat Ethan mendekatkan wajahnya ke arah Joanne.
"Boleh?"
Kesadaran Joanne kembali. Gadis itu mendorong bahu Ethan. "Pergilah! Jangan mencari keuntungan atas rasa bingung aku!" usir Joanne.
Ethan menyugar kepalanya. "Kenapa? Aku tahu kamu juga menginginkannya. Benar, 'kan?"
Wajah Joanne merona. Belum pernah ia merasa terhina, tetapi amat malu seperti ini. "Jangan berkata yang tidak-tidak."
Ethan tertawa lalu merebahkan dirinya di kasur Joanne. "Aku tidak tahu apa yang terjadi, tetapi sepertinya kamu mulai membuka diri. Apa yang terjadi di bioskop membuat semua orang mulai bertanya kenapa energi yang kamu keluarkan begitu besar," ungkapnya.
"Ethan, aku mohon. Tidak bisakah kamu mengeluarkan adegan film laga dari kehidupanku?" mohon Joanne putus asa.
Ethan kembali bangkit lalu menatap Joanne. "Kamu mau aku menggantinya dengan adegan romantis?"