Pemaksaan

1006 Kata
Senyum itu adalah ejekan dan Joanne tahu kalau Ethan menikmati keterkejutannya. "Kenapa? Seperti melihat hantu saja," goda Ethan. "Oh, ya, lebih baik aku memang melihat hantu! Kamu lebih mengerikan ketimbang apa pun juga Ethan!" balas Joanne. Ethan mundur selangkah, memperhatikan Joanne dari ujung kepala hingga kaki. Gadis itu tampak semakin memukau, ditambah dengan perona bibir yang serasi dengan warna kulit Joanne. "Aku penasaran, bila kamu bukan vampir apakah kamu akan masih tampak menggoda?" Wajah Joanne merona. Walau ia tahu itu bukan sepenuhnya pujian, tetapi jelas Ethan memang mengatakan kalau Joanne menarik. "Itu bukan urusanmu! Pergilah dari sini!" usir Joanne. Ethan tertawa kecil. "Ini tempat umum. Siapa pun berhak ada di sini. Walau ... ya sebenarnya ini adalah daerah kekuasaan ayahku," timpalnya berbangga diri. "Terserah kamu saja!" balas Joanne. Ethan dengan sigap meraih pergelangan tangan Joanne. Menahan gadis itu dengan begitu sempurna. "Kita belum selesai." "Apa? Aku sudah ada janji dan sebaiknya kamu pergi saja!" "Selama kamu masih menapakkan kaki di Dalton maka semua urusanmu jadi tanggunganku. Bukankah itu terdengar menyebalkan?" "Kalau begitu, lepaskan aku dan enyahlah!" Suara keduanya yang terdengar makin meninggi mulai menarik beberapa orang yang melintas, termasuk Brian yang sedari tadi memang menunggu kedatangan Joanne. Insting Brian mengatakan kalau keributan itu berasal dari gadis yang ditunggunya. Bergegas Brian mendekati kerumunan dan entah harus kesal atau lega mendapati Joanne ada di sana. "Dia bersamaku!" tegas Brian yang kemudian menarik tangan Joanne dari Ethan. Ethan memiringkan senyum, berpikir sebaiknya pelajaran apa yang pantas diberikan pada Brian. "Hentikan Brian. Dia memang senang kalau kamu marah. Sebaiknya kita pergi saja dari sini, ayo, aku mohon, Brian," pinta Joanne. Brian mengangguk pelan kemudian menggandeng tangan Joanne pergi dari tempat itu. Setelah agak jauh dari toilet, Brian mengendurkan genggamannya dari tangan Joanne. Khawatir kalau-kalau Joanne merasa tidak nyaman atas kelancarannya itu. "Maaf, hari ini tidak berjalan semulus rencana kita," sesal Joanne. Brian tersenyum lalu menyempilkan anak rambut Joanne ke belakang telinga. "Aku sudah hampir putus asa, tetapi syukurlah hari ini kita masih bisa bertemu. Kamu mau menonton film apa?" Joanne segera menatap loket-loket penjual tiket. Ia benci sesuatu yang berbau horor atau yang bersinggungan dengan darah, tetapi apakah tidak terlalu mencurigakan kalau Joanne memilih film romantis? "Punya rekomendasi?" ujar Joanne balik bertanya pada Brian. Brian menggaruk ujung alisnya. Wajah pemuda itu tampak semakin menggemaskan ketika bingung dan Joanne hampir tidak bisa menahan diri untuk mencubit ujung hidung Brian. "Apa, ya? Bukankah para gadis menyukai drama romantis?" tanya Brian. "Hmm, kebanyakan memang seperti itu, tapi bukankah film yang seperti itu menurut para lelaki membosankan? Aku tidak ingin berakhir dengan mendengarkan dengkuran di samping kursiku," goda Joanne. Brian tertawa. "Kalau begitu, kita pilih itu saja dan aku akan pastikan tidak akan tertidur. Kamu tunggu di sini, aku pesan tiket dahulu," lanjutnya. Joanne mengangguk cepat lalu memperhatikan Brian yang sedang membeli tiket. Matanya berpencar ke sekeliling bioskop yang lumayan ramai. Beberapa pengunjung yang balas menatap Joanne dan gadis itu mulai risih. Terlebih ia sadar kalau kebanyakan orang di tempat ini bukanlah manusia. Entah mereka penjaga Ethan atau memang vampir yang berbaur dengan manusia. Joanne menoleh ke kanan. Sosok yang duduk menatap dirinya membuat Joanne kembali kesal. Ethan memberikan senyum kecut lalu mengetatkan jaket kulitnya. Pikir Joanne, andai saja pemuda itu tidak menyeramkan, pasti ia agak sedikit tertarik pada aura Ethan. "Dia masih di sini?" Hampir saja Joanne terjengkang karena kaget. Brian tertawa pelan. "Kenapa?" "Kamu ... mengagetkan aku saja." "Maaf, tapi apa harus kamu menatapnya seperti itu?" "Dia? Maksudmu menatap Ethan? Aku hanya bertanya kapan dia pergi dari sini," elak Joanne. "Aku juga penasaran. Untuk apa dia ada di sini. Apa menurutmu dia mengikuti kamu?" selidik Brian. "Ah, sudahlah. Meladeni dia tidak akan pernah ada habisnya. Ayo, bukankah filmnya akan segera dimulai?" "Ya, sebentar. Aku pesan minuman dan berondong jagung dahulu," ucap Brian yang kemudian bergegas menuju kedai makanan. Tak lama, keduanya sudah duduk sesuai dengan nomor yang tertera di karcis. Ini adalah kali pertama Joanne bisa sungguh menonton bioskop. Jantungnya berdebar lebih kencang bukan hanya karena ini juga kencan pertamanya dan Joanne lega karena Brian menjadi manusia yang pertama kali menemaninya. Perlahan lampu mulai dipadamkan. Keheningan mulai riuh oleh suara intro film. Joanne menoleh ke arah Brian yang juga mulai tampak serius memandang ke layar. "Kamu ... tegang sekali," bisik Joanne. Brian mencondongkan kepala ke dekat telinga Joanne. "Ini adalah kali pertama aku menonton bioskop, berdua saja dengan orang yang aku sukai," balasnya. Joanne tidak tahu harus merasa beruntung karena suasana gelap menyamarkan wajahnya yang merah merona atau kesal karena tidak bisa menatap wajah Brian dengan jelas. "Aku? Suka?" tanya Joanne berpura-pura seperti orang bodoh. Brian melebarkan senyumnya. "Kamu sudah tahu dan selanjutnya juga tahu apa yang ingin aku katakan." "A-apa?" Brian tidak langsung menjawab, ia memilih untuk kembali menyelipkan anak rambut Joanne ke belakang telinga dan mengusap pipi Joanne dengan sangat lembut. "Pipi kamu dingin, apa ini bisa menghangatkan kamu?" tanya Brian sembari menempelkan kedua telapak tangan di pipi Joanne. Joanne berharap Brian tidak mendengar debaran jantungnya yang semakin menggila karena sumpah demi apa pun, yang saat ini Joanne rasakan, sepertinya jantungnya akan segera meledak. Mata cokelat indah milik Brian jelas menghipnotis Joanne. Tulang hidung yang tinggi serta bibir tipis Brian jelas tidak pernah ia lihat dari manusia manapun sebelumnya. Menggambarkan Brian cukup dengan satu kalimat saja. Sempurna. Yang terbaik, Brian bukanlah seorang vampir. Bukanlah seorang yang memiliki karisma palsu. "Brian," "Ya," Tangan Joanne seakan dituntun untuk balas menyentuh pipi Brian. Ditambah alunan musik yang mulai terdengar mengalun pelan juga keremangan cahaya, Joanne juga Brian terhanyut dalam suasana. Hingga wajah mereka semakin dekat bahkan keduanya bisa merasakan embusan napas yang terasa semakin panas. "Hei, apa kalian tidak bisa menahan diri atau pergi mencari hotel saja?" Sontak baik Joanne juga Brian menoleh. Keduanya hilang kata kala menatap Ethan yang sudah duduk tepat di belakang kursi mereka. "Hai." Sapaan Alice yang malah memperkeruh suasana membuat perut Joanne seakan diremas-remas. Brian yang lebih pintar mengendalikan diri dengan cepat menggenggam erat tangan Joanne. "Tenanglah, abaikan mereka," bisik Brian. Bergantian Joanne menatap Ethan juga Brian. Ini konyol, jelas konyol! Ethan tidak boleh melakukan itu pada Joanne.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN