Kencan?

1003 Kata
Rasanya mustahil untuk menikmati semua yang tersaji di meja makan. Pandangan Joanne seakan melekat erat pada sosok yang duduk di seberangnya—Ethan. Pemuda dengan senyum menawan, tetapi Joanne amat membenci lelaki itu hingga ia tidak bisa berkata alasannya membenci Ethan. "Laurent, apa kamu tidak bisa meminjamkan pakaian pada Ethan?" tanya Anna yang berpikir kalau Joanne mulai merasa gelisah atau malu karena melihat Ethan bertelanjang d**a seperti itu. "Ini bukan masalah bisa atau tidak. Asal kamu tahu, meskipun aku meminjamkan pakaianku, sang pangeran tidak akan sudi menyentuhnya," seloroh Laurent sembari mengangkat gelas langsing berisi wine. Alice meletakkan pisau serta garpunya di pinggir piring kemudian menyeka perlahan bibir mungilnya. "Latihan hari ini bisa dilanjutkan besok." Joanne memutar kepala seakan ia burung hantu. "Besok? Ini keterlaluan. Aku tidak perlu melakukan ini dan tidak boleh ada yang terpaksa melakukan hal yang dibencinya karena aku!" sergah Joanne. Alice mengangkat gelas yang telah diisi wine merah lalu menyesapnya perlahan. "Kenapa kamu masih belum mau mengerti juga? Kamu tidak butuh ijin darimu dan kalau kamu tidak ingin dibuntuti Ethan terus, kamu harua bisa menjaga dirimu sendiri." Akhirnya Joanne menatap Belinda yang sedari tadi hanya diam mendengarkan. Berharap Belinda akan membantunya adalah hal paling wajar, tetapi Joanne harus menelan kegetiran saat ibunya hanya diam saja seolah sudah tahu akan rencana Alice. Setelah acara makan siang itu selesai, Joanne serta Belinda meninggalkan rumah Laurent. Sesekali Joanne menoleh ke belakang. Seolah memastikan mobil mereka tidak dibuntuti oleh Ethan atau siapa pun itu. "Apa kamu akan percaya kalau aku katakan tidak tahu apa-apa?" tanya Belinda. Dengan malas Joanne menarik napas lalu menatap ibunya. "Apa jawabanku bisa mencegah rencana Alice?" sindirnya. "Oh, Sayang. Kalau dipikir ini bagus. Aku tidak pernah menyangka kalau sebenarnya kamu memang harus mengikuti kursus bela diri," timpal Belinda berusaha membesarkan hati Joanne. "Kursus bela diri? Bukankah lebih baik aku menghabiskan sisa waktu sampai usiaku tujuh belas tahun dengan bersembunyi dan setelah itu Mom memberikan janji kebebasan padaku?" Belinda menarik napas, ingin menyentuh putrinya, tetapi ia harus tetap fokus menyetir. "Sayang, kamu tidak pernah bisa menebak jalannya takdir." "Takdir? Aku hanya ingin menjalani apa pun itu sendirian saja. Meskipun harus mati, lebih baik mati dijalan sebagai manusia, dibandingkan harus berubah menjadi vampir!" tegas Joanne. "Aku tidak tahu kenapa kamu begitu membenci vampir, tapi jujur saja, aku tidak sabar menunggu detik-detik kematian datang menjemputmu dan ayahmu akan mengubahku menjadi vampir. Tidak ada yang lebih indah dibandingkan membayangkan akan hidup kekal bersama orang yang kita cintai, Joanne," ucap Belinda membela diri. "Itu karena dad adalah vampir. Ini akan lain bila Mom tidak pernah berurusan dengan vampir!" "Joan, kamu tidak pernah bisa menyangkal darimana datangnya cinta sejati. Kamu juga tidak bisa memilih dari keluarga mana kamu akan dilahirkan. Kita hanya sedang berusaha memberikan yang terbaik untukmu. Kamu tahu, mendengar kamu yang terus menggerutu kadang membuatku sakit," aku Belinda. Joanne diam. Meneruskan perdebatan dengan ibunya hanya akan membuat Joanne mendapatkan cap sebagai anak durhaka saja. Ia memilih untuk menatap jauh keluar jendela mobil. Menyaksikan satu per satu batang-batang pohon oak dilewati bagaikan kolase-kolase yang diputar cepat. Bukankah ini hidupnya sendiri? Mengapa Joanne harus selalu dicap sebagai makhluk egois ketika ia menegaskan kalau tidak mau berubah menjadi vampir? Joanne tersentak kala menyadari sebuah janji yang seharusnya ia tepati. Dengan cepat ia menarik tasnya di jok belakang lalu mencari ponsel. Puluhan notifikasi panggilan tak terjawab serta pesan dari Brian memenuhi ponselnya. Tanpa buang waktu, Joanne balas berusaha menelepon Brian lalu suara lelaki itu terdengar dari ujung sambungan. "Kamu baik-baik saja?" tanya Brian. Joanne hampir menangis. Terharu karena bagaimana mungkin Brian masih saja memikirkan dirinya. "Aku baik-baik saja. Urusanku dengan walikota sudah selesai," jawabnya. "Syukurlah, aku lega. Aku bisa pulang sekarang." "Pulang? Apa kamu masih ada di bioskop?" Brian tertawa pelan. "Sejujurnya iya." "Maaf, Brian. Urusanku dengan walikota akan menjadi kegiatan yang akan sering terjadi," sesal Joanne. "Oh, ya? Apa terjadi sesuatu?" Joanne terdiam. Andai saja semuanya bisa diucapkan secara jujur. Pasti akan terasa lebih mudah. "Halo? Joanne? Kamu masih di sana?" "Ya, aku mendengarkan. Entahlah, aku juga tidak tahu apa yang terjadi. Hanya saja, aku rasa aku tidak bisa menepati janjiku padamu," sesal Joanne. "Kalian masih bisa menghabiskan waktu beberapa jam lagi," ucap Belinda yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka. Joanne menoleh. "Apa?" Belinda tersenyum. "Ya, katakan pada Brian untuk menunggu sebentar. Aku harus membeli beberapa barang. Mungkin tiga sampai empat jam lagi aku bisa menjemput kalian di bioskop," lanjutnya. "Mom? Benarkah? Kamu tidak bercanda?" tanya Joanne kegirangan sembari menjauhkan sedikit ponselnya. "Iya, aku tidak bercanda. Katakan pada Brian untuk menunggu sebentar saja," jawab Belinda. "Halo, Brian? Apa kamu bisa menunggu sebentar? Ibuku mengatakan kita masih bisa pergi beberapa jam ke depan. Dia akan menjemputku di bioskop tiga atau empat jam kemudian," ucap Joanne menirukan kalimat Belinda. "Benarkah? Sungguh Joanne?" tanya Brian tidak percaya. "Ya, tunggu sebentar lagi. Oke, sampai ketemu. Bye." Joanne memutus percakapan lalu memeluk Belinda. "Hei, hati-hati. Aku tetap harus fokus menyetir," ucap Belinda sembari menyentil dahi Joanne. "Mom, terima kasih. Ini adalah hal terbaik yang terjadi seharian." "Aku pernah menjadi seorang gadis remaja, Joanne. Asal kamu tahu saja. Sebenarnya aku juga tidak ingin kamu menjalani hidup seperti ini, tapi aku sudah katakan tidak ada yang bisa menebak jalannya takdir." Joanne mengangguk. Terserah saja Belinda mau berkata apa. Yang jelas, hari ini Joanne bisa pergi bersama Brian sesuai dengan rencana. Empat puluh lima menit kemudian, Belinda menurunkan Joanne di tepi jalan bioskop. Berkata akan menjemput Joanne tempat yang sama beberapa jam kemudian. Joanne tidak mau membuang waktu. Ia merapikan pakaian serta tatanan rambutnya lalu memasuki gedung bioskop yang masih terlihat ramai. Setelah keluar dari toilet untuk berganti pakaian. Beberapa orang memperhatikan Joanne yang memang tampak memukau yang terbalut gaun merah muda selutut dengan aksen bunga kecil di sekitar leher. Senyum Joanne merekah sempurna ketika menatap Brian yang berdiri—menyandar di salah satu tiang beton dekat loket tiket. Bergegas Joanne berlari, tetapi langkahnya tiba-tiba limbung ketika ada sesuatu yang menarik lengan hingga ia jatuh dalam pelukan orang itu. Pupil mata Joanne melebar. Dunianya seakan runtuh kala melihat senyum menawan yang tidak diharapkannya itu. "Hai."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN