Lutut Joanne gemetar. Matanya terpejam semakin erat ketika menyadari tidak ada suara yang bisa didengar selain deru kotak yang ada di hadapannya. Cengkeraman erat di kedua lengan malah membuat gadis itu membeku.
“Bodoh.”
Sontak mata Joanne terbuka lebar-lebar. Namun, jangankan untuk balas mengumpat, mengerakkan bibir saja, Joanne tidak sanggup.
Perlahan cengkeraman tangan Ethan di kedua lengan Joanne melemah hingga lelaki itu jatuh berlutut.
Alice yang entah mengapa bisa tiba-tiba muncul segera ikut bersimpuh di samping Ethan.
"Kau ... kenapa harus selalu menyusahkan aku!" gerutunya.
Tepat ketika Alice menarik anak panah yang menembus punggung Ethan hingga ke d**a, Ethan memuntahkan darah hitam lalu jatuh tak sadarkan diri tepat di kaki Joanne.
"Ethan? Astaga!" Alice dengan cepat menarik botol kecil dari saku mantelnya lalu berteriak, "Laurent! Apa kau akan diam saja di situ seperti vampir paling t***l, hah?"
Tanpa harus menunggu Alice kembali menggerutu, Laurent dengan cepat mendekat lalu mulai melucuti baju Ethan.
"Tahan tubuhnya! Aku tidak mau bekerja dua kali!" titah Alice.
"Ya. Aku tahu apa yang harus dilakukan. Ayo, sembuhkan dia."
Alice menuangkan cairan kental warna merah tepat di atas punggung Ethan lalu memejamkan mata.
Cahaya kehijauan yang berpendar dari telapak tangan Alice mulai menyelubungi tubuh Ethan dan dalam sekejap merasuk, seakan terhisap oleh luka menganga di punggung Ethan.
Awalnya Ethan terdiam, tetapi ketika cahaya itu perlahan menghilang, Ethan mulai menjerit hingga meronta-ronta. Jelas, Laurent sungguh berusaha keras menahan tubuh Ethan.
"Sadarlah, Ethan!" mohon Alice.
Setelah tubuh Ethan perlahan tenang, Laurent melepaskan tangan lelaki itu lalu bergerak mundur menjauhi Ethan.
Alice tertawa kecil. "Kenapa? Kamu takut Ethan akan melukaimu?" godanya.
Laurent berusaha tetap tenang lalu menatap Joanne. "Aku tidak percaya kalau gadis itu begitu dilindungi keluarga Vernont."
"Kau mempertaruhkan nyawamu sendiri hanya untuk menjawab rasa penasaranmu? Ethan sudah baik-baik saja. Sebaiknya kita pergi dari sini," ajak Alice.
Laurent dengan sigap merangkul pundak Alice. "Baik-baik. Itu ide paling baik sekaligus paling bijaksana. Aku akan memasak makan siang paling enak, ayo," timpalnya.
Hingga mereka meninggalkan tempat itu, Joanne masih mematung sembari menatap Ethan yang tertelungkup di lantai.
Joanne tidak tuli. Jelas ia mendengar kalau Alice berkata Ethan sudah baik-baik saja, tetapi mengapa Ethan masih terdiam? Tubuh Ethan yang pucat membuatnya semakin mirip dengan onggokan mayat.
Perlahan, sungguh sangat pelan, Joanne mendekati Ethan, bahkan berjongkok lalu menggoyang-goyangkan bahu Ethan dengan ujung jarinya.
"A-aku tidak bermaksud melukaimu," cicit Joanne sembari menyeka air mata.
Ethan masih terdiam. Joanne bingung. Apa yang harus ia lakukan untuk memastikan Ethan baik-baik saja?
Joanne membalikkan tubuh Ethan memperhatikan perut dan dadanya. Tidak ada pergerakan.
"Dia, dia memang tidak hidup. Apa yang harus aku lakukan?" tanya Joanne putus asa.
Dengan tangan gemetar Joanne mulai memeriksa letak denyut nadi Ethan. Dari leher hingga kedua pergelangan tangan. Bahkan ia embusan napas Ethan dari kedua lubang hidung lelaki itu.
"Bodoh. Apa aku harus selalu menyebutmu dengan kata itu?" Refleks Joanne mendorong Ethan hingga ia sendiri jatuh terjengkang. "Aku sudah lama mati. Bahkan aku tidak pernah ingat bagaimana rasanya hidup sebagai manusia," lanjut Ethan.
"Ka-kamu,"
Ethan bangkit, meraih kaus serta jaketnya yang berserak. "Sial, aku sangat menyukai jaket ini," umpatnya sembari menatap lubang di jaket itu.
"Maaf."
Ethan menoleh lalu mendekati Joanne. "Untuk apa? Jangan terlalu percaya diri. Aku melakukannya bukan karena senang melakukannya. Kau ... apa kau mengerti arti dari kata terpaksa?"
Joanne menggigit bagian dalam bibirnya. Ya, tidak perlu diingatkan pun Joanne tahu kalau Ethan bertugas menjaga dirinya dan lelaki itu tidak pernah menyukai tugas dari Caroline.
"Aku bisa menjaga diriku sendiri."
Ethan menatap Joanne. Tak percaya akan kalimat yang didengarnya. "Kau? Apa?"
Joanne tidak menjawab. Ia tahu kalau Ethan hanya akan semakin mengolok-olok dirinya. Jadi, diam adalah pilihan yang paling baik.
Ethan meraih anak panah berlumuran darah hitam dekat dengan kakinya lalu mendekati Joanne.
"Kamu tahu, apa yang akan terjadi kalau benda ini menembus dadamu hingga ke punggung?" Pertanyaan itu tidak dijawab Joanne dan Ethan malah semakin mengikis jarak dengan Joanne. "Mati? Bukan itu jawaban yang tepat. Aku tidak perlu bertanya kalau mati adalah jawaban uang aku inginkan," tegas Ethan.
Joanne kembali gemetar. Sulit untuk menggambarkan apa yang kini ada di dalam mata Ethan. Marah? Takut? Kesal? Atau lainnya?
"Kamu, akan berubah menjadi hal yang paling amat kamu benci. Vampir."
Pupil mata Joanne melebar. Ia tidak pernah mengatakan hal itu pada siapapun, tetapi Ethan bisa dengan tepat mengucapkan kalimat itu.
"Ethan,"
"Kenapa? Aku tidak asal menebak. Aku tahu dan kamu hanya ingin menyingkirkan darah hitam dalam tubuhmu, 'kan? Kamu ingin tetap.menjadi manusia dan menganggap kami semua adalah monster."
"Jangan menolongku lagi. Lebih baik aku mati sebagai manusia!" tegas Joanne tanpa berusaha menyembunyikan keinginannya lagi.
"Aku sudah berusaha mengabaikanmu! Aku sudah berusaha menutup telingaku! Kau tahu, seharusnya aku sedang menikmati makan siangku, tapi tiba-tiba saja kau memanggilku!"
"A-aku tidak ...."
Melihat Joanne tidak kunjung menyelesaikan kalimatnya, Ethan menyipitkan mata lalu menatap Joanne. "Kau tidak? Apa? Tidak sadar telah memikirkan aku ketika dalam bahaya? Tidak tahu kalau itu memanggilku?"
"Aku tidak mengerti! Aku sungguh tidak mengerti!"
"Apa ada satu kalimatku yang bisa kamu mengerti? Apa ada satu kejadian yang bisa dijelaskan oleh akal sehatmu? Berhentilah menentang semuanya."
"Menentang? Bukankah ini hidupku sendiri? Aku berhak menentukannya!"
Ethan tertawa. "Oh, ya? Kalau begitu, kenapa kamu bisa terdampar di Dalton?"
"Aku, aku—"
"Menantikan hadiah di ulang tahunmu yang ke tujuh belas? Setelah hari ini, apa kamu yakin bisa hidup lebih lama?"
Joanne menyeka air matanya. "Kenapa kamu sekejam itu! Apa salahku padamu? Aku tidak pernah meminta kamu atau siapa pun untuk menjagaku!"
Ethan menurunkan ketegangan dalam matanya. "Kamu menyedihkan. Kamu sangat menyedihkan dan sialnya mereka berpikir kamu sangat berharga."
"Berharga? Mereka? Apa maksudmu?"
Ethan menarik dagu Joanne. "Ikuti apa yang direncakan Laurent. Pertanyaan itu hanya bisa dijawab oleh dirimu sendiri."
Joanne menepis tangan Ethan. "Aku tidak mau terlibat dalam permainan kalian!"
"Sedari awal kamu sudah tahu ini bukanlah pilihan dan yang terburuk. Kamu adalah bintang utama dalam permainan ini. Suka atau tidak kamu akan dapat giliran melemparkan dadu."
"Lalu kau?"
"Aku? Aku hanya penjaga di belakang garis permainan. Aku menonton dan bergerak ketika kamu ada dalam bahaya. Suka atau tidak aku akan selalu ada bila dirimu dalam bahaya."