Kesan pertama ketika Laurent Spencer membuka pintu adalah Joanne mengira bahwa ia telah memasuki museum barang antik.
Lukisan-lukisan tergantung di dinding kayu, beberapa patung serta guci antik bahkan dua bilah pedang panjang yang saling berhadapan di atas perapian batu bata sungguh membuatnya terkesan. Seluruh benda di rumah ini elegan serta tak ternilai harganya.
"Rumah ini indah sekali," puji Belinda.
"Terima kasih. Aku hanya senang mengumpulkan benda-benda tidak terpakai itu," seloroh Laurent merendah.
"Ah, tidak Mr. Spencer. Ini sungguh luar biasa," sergah Belinda.
Laurent meraih tangan kanan Belinda lalu mengecup punggung tangannya dengan penuh kelembutan. "Pilihlah yang kamu suka. Panggil aku Laurent saja."
Cepat-cepat Belinda menarik tangannya dan tahu berusaha menyembunyikan pipinya yang merona adalah hal sia-sia, tetapi bukankah itu hal paling wajar yang akan dilakukan seorang wanita?
"Kamu memang tahu bagaimana caranya bicara pada wanita," ejek Anna.
"Anna, aku sampai lupa kamu juga ada di sini," timpal Laurent.
Kehadiran Anna jelas menambah aneh suasana. Laurent yang tanpa sungkan merangkul mesra pundak Anna membuat Joanne tampak tidak nyaman. Di sekolah, Anna terkenal tegas serta tidak mudah berbicara, tetapi saat dia berbincang dengan Lauren, tampak Anna seperti orang lain saja.
"Singkirkan tanganmu orang tua!" omel Anna.
Laurent tertawa. "Kenapa? Takut kalau Alice akan menghajarmu?"
"Jangan memancingku untuk menghancurkan wajahmu! Alice? Jelas dia tidak akan peduli walau kau berkencan dengan wanita lain. Menyedihkan sekali."
Laurent tertawa. "Kau masih saja seperti itu, Anna."
"Sudahlah, meladenimu hanya akan membuatku kesal. Ayo, kita masuk, Joan, Belinda," ajak Anna.
"Tunggu, kau bisa membawa Belinda, tapi Joan ... dia ada di bawah tanggung jawabku," tegas Laurent.
Anna segera menatap Joanne yang tampak kesulitan menelan ludahnya sendiri. "Baiklah. Ingat, kau tidak bisa melatihnya seperti vampir baru. Dia manusia!" tegas Anna.
Belinda dengan cepat menepis tangan Anna. "Tunggu, latihan? Bukankah kalian mengundangku untuk makan siang serta bicara tentang Dalton?"
Laurent balas menatap Belinda, bahkan lelaki tampan itu maju selangkah. "Sebenarnya, itu ide Alice agar Joan mau diajak ke tempat ini. Aku tidak suka berbasa-basi. Hari ini pelatihan Joan harus dimulai. Kita tidak bisa mengandalkan Ethan atau Alice untuk terus menjaganya sepanjang waktu. Kau tidak tahu kondisi yang sekarang terjadi. Lebih baik diam karena kau pun harus ikut dalam pelatihan dan Anna akan menjadi pelatihmu."
Untuk pertama kalinya, Joanne menyaksikan Belinda terdiam. Bahkan mata ibunya itu tampak bergerak-gerak seolah ingin menangis. Beruntung Anna dengan sigap merangkul pundak Belinda.
"Lebih baik kamu ikut denganku. Kita akan berkeliling dan setelah makan siang, baru pelatihannya akan dilaksanakan." Belinda hanya mengangguk-angguk lalu mengekori langkah Anna.
"Jadi, hanya tinggal kita berdua saja." Sontak Joanne menoleh sembari menyentuh tengkuknya yang membeku. "Kenapa? Santai saja. Mari, ikuti aku," lanjut Laurent.
Seperti anak anjing yang mengikuti induknya. Joanne mengekori langkah Laurent. Lorong yang mereka telusuri tampak semakin sempit juga gelap. Kesan mewah serta elegan lenyap seketika. Joanne tidak mampu menutupi diri kalau, ya, ia takut.
"Kamu boleh menggenggam tanganku bila takut," tawar Laurent.
Joanne hanya melirik tangan Laurent yang disodorkan, tetapi jelas Joanne ketimbang tempat ini, tawaran Laurent lebih menakutkan.
"Aku tidak apa-apa. Terima kasih," tolak Joanne.
"Kenapa? Apa kamu takut Ethan akan marah?" goda Laurent.
"Ethan?"
Laurent tertawa. "Sudahlah. Aku penasaran, seberapa istimewanya kamu. Sampai-sampai Ardolph rela harus selalu bersitegang dengan istrinya."
"A-aku tidak mengerti," kilah Joanne.
" Oh, ya?" selidik Laurent sembari mencondongkan wajahnya ke wajah Joanne hingga gadis itu mundur selangkah. "Sayang, aku tidak boleh banyak bermain denganmu. Ayo, kita lanjukan perjalanan," sambungnya.
Joanne mengangguk setuju lantas segera meneruskan perjalanan hingga mereka tiba di ujung lorong. Tepat setelah Laurent membuka pintu perak, ruangan kosong berukuran tiga puluh meter menyambut Joanne.
"Ayo."
Laurent memerintahkan Joanne untuk berdiri di tengah ruangan. Tepat setelah Laurent menarik tuas di dinding sebelah kanan, sebuah kotak setinggi orang dewasa keluar dari lantai yang berseberangan dengan Joanne. Meskipun belum diberikan penjelasan, Joanne tahu kalau benda itu amat berbahaya.
"Anna berkata kalau aku tidak boleh melatihmu seperti melatih para vampir muda. Benda ini ... ya boleh dikatakan bisa menyakiti mereka, tapi mereka tidak bisa mati hanya karena tertembus belati atau anak panah."
Penjelasan Laurent membuat mata Joanne terbelalak. Bagaimana tidak? Tentu saja Joanne akan mati bila tubuhnya tertembus benda tajam.
Kecemasan Joanne membuat Laurent tampak bersemangat. Lelaki itu mendekati Joanne, membelai wajah gadis malang itu dengan ujung telunjuk dari dahi hingga ke dagu. "Kenapa? Bukannya kamu sudah terbiasa hidup di ambang kematian? Bukankah menyenangkan bila aku bisa mengubahmu? Hidup dalam keabadian bersama denganku?"
Joanne menoleh, hendak mengucapkan sesuatu tetapi bibirnya terkunci rapat dan entah mengapa yang ada dalam benaknya adalah Ethan. Wajah serta senyuman Ethan malah muncul seketika.
Laurent tersenyum lalu kembali berjalan mendekati benda berbentuk kotak dengan beberapa lubang di bagian depannya. "Fokus dan seharusnya kamu akan baik-baik saja. Untuk sementara benda ini hanya akan mengeluarkan satu panah saja."
"Tunggu! Kamu tidak bisa melakukan itu! Ke mana pun aku menghindsr, itu tetap akan menyakitiku!" protes Joanne.
Laurent tertawa lalu sedikit membungkuk untuk meraih sesuatu di balik benda kotak itu lantas melemparkannya ke arah Joanne. "Kalau begitu tidak perlu menghindar, pukul saja balik."
"Memukul balik? Bagaimana bisa tongkat ini menghalangi lesatan anak panah! Aku tidak mau mati konyol!"
"Jangan merendahkan dirimu sendiri. Dengar, fokus dan kau akan baik-baik saja."
Joanne menyeka air matanya yang entah sejak kapan mulai mengalir di pipi. "Aku ingin pulang! Aku tidak mau berurusan dengan ini semua! Di mana ibuku?" sentak Joanne.
"Musuh tidak akan menunggu dan tidak bisa memberi ampun. Tenanglah, aku bisa mengobatimu dengan mudah dan baik."
"Kamu tidak boleh bermain-main dengan nyawaku!" jerit Joanne tanpa peduli lagi akan status Laurent sebagai wali kota Dalton.
"Bermain? Aku tidak berani melakukannnya. Bukankah aku sudah katakan kalau kau dilindungj langsung oleh Caroline? Mari kita mulai, aku sudah sangat lapar."
Terdengar bunyi menderu ketika Laurent jelas menekan tombol warna hijau. Sontak Joanne meraih tongkat di dekat kaki lalu memasang kuda-kuda.
"Tenang saja, lihat dan fokus. Latih semua kepekaanmu. Buka pendengaran dan tajamkan penglihatan. Kamu bisa melihat gerakannya semakin lambat," ungkap Laurent.
"Jangan banyak bicara!" sentak Joanne.
"Baiklah Nona."
Joanne mempererat cengkeramannya di batang tongkat. Ia tahu kalau tidak mungkin bisa menghindar, tetapi tidak mungkin Joanne menyerah tanpa mencoba.
Deru yang semakin kencang membuat jantung Joanne berdetak semakin gila. Hingga ia bisa melihat kilat perak di salah satu lubang dan tepat ketika anak panah dilesatkan, Joanne malah menjerit sembari memejamkan mata.