Laurent Spencer

1015 Kata
Joanne membungkuk untuk meraih dua minuman kaleng bersoda dari mesin otomatis. Gerakannya tampak kikuk ketika menyadari Ethan menangkapnya mencuri pandang. Berlari pergi adalah hal paling masuk akal yang kemudian Joanne lakukan. "Dia benar-benar sesuatu. Semakin hari aku selalu saja tidak bisa seutuhnya merasakan kehadiran Joan," cicit Ethan. Alice melepaskan tangan Ethan dari pucuk kepalanya. "Jadi, kamu sudah punya sesuatu selain aku untuk dijadikan bahan mengusir kebosanan. Aku ke kelas dulu." Sebelum punggung Alice benar-benar menghilang di ujung tangga, Ethan kembali memanggilnya, "Sebaiknya kamu mulai memikirkan Laurent." Alice tertawa. "Kalau begitu pikirkan untuk menerima tanda dari Amanda, setelah itu aku baru memikirkan saranmu," balasnya kemudian benar-benar pergi tanpa menoleh kembali. Sementara itu, setelah bergegas menuju kelas, Joanne menyerahkan sekaleng minuman bersoda itu pada Brian dan kegelisahannya ditangkap baik olah Brian. "Apa terjadi sesuatu saat kamu membeli minuman ini?" selidiknya. Joanne menggeleng. "Aku hanya penasaran saja dengan Alice dan Ethan." Tahu kalau Brian tidak akan suka arah pembicaraan ini, tetapi kedekatan Ethan dan Alice benar-benar membuatnya penasaran. "Apa yang ingin kamu tahu? Mungkin aku bisa sedikit bercerita." Yang Joanne tahu adalah Alice penjaga Ethan, tetapi kedekatan mereka begitu terlihat mencurigakan. "Apakah mereka menjalin satu hubungan spesial?" selidiknya. "Aku dengar mereka adalah saudara sepupu, tapi entahlah. Mereka bertiga tinggal satu atap dekat perbukitan sana," jawab Brian. Joanne hendak bertanya, tetapi kedatangan Ethan membuatnya harus bungkam sesaat. Mungkin, dibandingkan Brian, dirinya memang tahu lebih banyak. Namun, itu saja dirasa belum cukup. Joanne penasaran dengan alasan kedekatan mereka bertiga, khususnya Alice dengan Ethan. "Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Ethan yang sudah berdiri di samping Joanne. Joanne mengerjapkan mata beberapa kali, serta bingung bagaimana cara menyembunyikan pipinya yang bersemu. "Kami hanya memandang ke luar kelas. Kamu terlalu percaya diri!" bela Brian. Dengan cepat Joanne menarik lengan seragam Brian agar pemuda itu kembali duduk. Bersitegang dengan Ethan bukanlah hal yang baik. "Wanitamu yang terus menatapku seperti serigala akan menerkam domba. Mengapa sekarang aku yang harus disalahkan?" sindir Ethan. "Maaf, tapi bisakah kamu berhenti bicara seperti itu," pinta Joanne dengan segala kelembutan yang ia punya. Ethan memiringkan senyum ketika melihat Brian mengepalkan tangannya lalu memilih untuk segera kembali ke kursinya. Sekilas ia kembali menatap Joanne. Gadis itu tampak berusaha menenangkan Brian. Menurut Ethan itu sungguh menggelikan. Setelah penjelasan panjang mengenai sejarah revolusi Perancis yang membuat Joanne hampir terlelap, akhirnya Profesor Roland mengakhiri pelajaran dengan satu tugas yang membuat dahi Joanne berkerut. "Kita bisa mengerjakannya bersama," tutur Brian sembari memasukkan buku ke tas. "Terima kasih, mungkin beberapa jam setelah pelajaran selesai kita bisa berdiskusi di perpustakaan," timpal Joanne. "Hmm, apa kali ini aku boleh mengantarkan kamu pulang?" "Ah, soal itu. Aku belum bisa memberikan jawaban. Ibuku terlalu memiliki banyak aturan tentang seseorang yang boleh berkunjung ke rumah," jawab Joanne yang tidak berani menatap Brian. "Kalau begitu, kita harus selesai sebelum pukul empat. Bagaimana?" "Aku akan menghubungi ibuku dahulu dan soal rencana di akhir minggu ini. Aku rasa kita terpaksa harus memundurkan jadwalnya," sesal Joanne. Brian diam, memandangi Joanne yang sungguh merasa bersalah. "Profesor Anna mengajakku menemui wali kota Spencer. Kami akan makan siang bersama lalu memulai penyuluhan atau apa pun itu. Aku takut mungkin kegiatannya sampai sore," tambahnya. "Wali kota Spencer? Kamu akan pergi ke balai kota? Itu tidak jauh dari bioskop. Apa aku harus menunggumu?" Joanne mengigit bibirnya. "Aku akan mencari alasan untuk bisa mempercepat pertemuan itu, tapi aku tidak bisa menjanjikan apa-apa." Brian berusaha keras untuk tidak lagi menekan Joanne. Gadis itu tampaknya juga tidak menginginkan acara mereka terganggu. *** Hari berganti, penghujung minggu sudah datang. Joanne tampak gelisah ketika Belinda mengemudikan mobil ke jalur perbukitan.. "Mom ... apa Mom yakin kita berada di jalur yang tepat? Maksudku, bukankah kita seharusnya pergi ke pusat kota?" cemas Joanne. Belinda melirik ke kiri dan kanan. Memang sudah hampir sepuluh menit, pemandangan di luar jendela mobilnya hanya dipenuhi pohon oak yang mulai menguning. "Maaf aku tidak sempat mengabari. Tadi pagi Profesor Anna menelepon. Dia berkata sebaiknya kita bertemu di kediaman pribadi wali kota Spencer. Kita ambil sisi baiknya saja, aspal di sini jauh lebih bagus dibandingkan jalan menuju rumah," hibur Belinda. "Tapi, Mom! Aku sudah berjanji!" "Kalau begitu lebih baik kamu kirim pesan sekarang. Kita tidak bisa kembali, Joan," bujuknya. Joanne memilih untuk diam. Sembari memandangi layar ponsel, memikirkan kalimat apa yang harus dikatakan pada Brian. Entah, pemuda itu menantikan hari ini atau tidak, tetapi jujur saja, semalaman suntuk Joanne sibuk memilih pakaian mana yang bisa membuat Brian terkesan. Kali ini sinar matahari mulai bisa masuk melewati celah pohon oak menerpa wajah Joanne. Gadis itu menoleh ketika terdengar bunyi derak kencang, berasal dari gerbang besi yang otomatis terbuka. "Sepertinya kita disambut dengan baik, Joan," tutur Belinda. Joanne memicingkan mata. Walau dari jauh, ia kenal betul siluet langsing Profesor Anna. Cepat-cepat Joanne mengetik pesan yang tidak lebih dari tiga kalimat menyakitkan untuk Brian. 'Tempat pertemuannya berubah. Di rumah pribadi wali kota Spencer. Maaf, aku tidak bisa menepati janji.' Joanne menjejalkan ponsel ke saku celana jin lalu membuka seat belt ketika mobil Belinda telah sepenuhnya berhenti. Riuh kicau burung serta cicit tupai menyambut mereka ketika telah sepenuhnya keluar dari mobil dan berjalan pelan menghampiri Profesor Anna. Jelas keduanya terpukau akan pemandangan rumah mungil khas perkemahan musim panas milik wali kota Spencer. Yang paling menarik perhatian Joanne adalah pohon wisteria besar dengan ribuan bunga ungu menjuntai indah. Langkahnya seakan terpanggil secara alamiah mendekati pohon itu. Dalam sekejap kepalanya dipenuhi kelopak bunga yang berguguran. Joanne mendongak. Hatinya jauh merasa lebih baik ketika ia melihat begitu banyak bunga indah di atas kepala. Perlahan-lahan Joanne menyentuh kulit pohon wisteria itu. Ada getaran aneh ketika kulitnya bergesekan dengan batang kayu. "Kamu diterima dengan baik oleh-Nya." Suara yang terdengar sedikit sengau juga asing itu seketika membuat Joanne menoleh. Tepat di hadapannya telah berdiri seorang lelaki berbadan tegap dengan rambut diikat asal warna keperakan. Senyum pria itu amat memikat hati Joanne. Terlebih ketika tiba-tiba tangannya diraih serta dikecup lembut. Wajah Joanne merona. Belum pernah ia diperlakukan seperti wanita dewasa terhormat. "Suatu kebanggaan bisa menyambutmu," lanjutnya. Joanne tahu kalau senyumnya lebih buruk dari senyum kikuk seekor kuda, tetapi ia belum terbiasa bertemu banyak vampir dengan ketampanan yang luar biasa. "Laurent Spencer. Senang bertemu denganmu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN