Rahasia Tentang Alice

1018 Kata
Joanne bukanlah orang yang bisa cepat berbaur. Tingkahnya yang dijawab seringai tawa Ethan jelas mengisyaratkan kalau sikap Joanne sangat kikuk. "Profesor Anna mengatakan aku dan ibuku diundang makan siang oleh wali kota Spencer." "Tidak biasanya Laurent mau menerima tamu," cetus Ethan. "Sebagai wali kota Dalton, tentu Laurent harus beramah-tamah, tapi aku penasaran dengan alasanmu menemui kami. Ada apa?" selidik Alice. "Aku tidak bisa membiarkan Brian terluka," aku Joanne. Kalimat itu membuat Joanne langsung menjadi pusat perhatian. Amanda tersenyum lalu mengibaskan rambut lurus hitam bak model sampo. "Kenapa? Kamu begitu memedulikan Brian. Apa kalian sudah resmi berpacaran?" selidik Amanda. Alice tidak sanggup menahan kekesalannya, tetapi Ethan hanya mampu menggedikkan bahu kala mendapatkan tatapan amarah darinya. "Soal itu, tidak, maksudku belum," jawab Joanne jujur. Amanda tertawa. Baru kali ini ia merasa harus sedikit bersikap baik pada Joanne. "lalu, apa yang kamu cemaskan?" "Aku, aku takut mencelakai Brian. Maksudku, mungkin sebaiknya aku mulai belajar menjadi vampir dan mencari cara lain agar tetap bisa menjadi manusia!" seru Joanne bersemangat. "Kau sudah gila," timpal Ethan yang kembali menyeruput jus miliknya. Joanne harus memaksa dirinya mengabaikan komentar tidak penting Ethan. Dengan cepat ia meraih tangan Alice. "Alice, kamu harus membantuku agar Brian tetap aman," mohonnya. Ethan tertawa kecil lalu menyuapkan potongan kentang panggang ke mulut. "Kamu sadar, pada siapa kamu meminta tolong?" sindirnya. Joanne melepaskan tangannya dari tangan Alice. "Bisakah kamu tidak berkomentar? Ya, aku tahu! Tapi bukan salahku, 'kan kalau Brian tidak membalas perasaan Alice!" sentaknya. Ethan menyemburkan makanannya lalu terpingkal sembari menatap Alice. "Kamu benar-benar gila, Joan. Alice, apa dia menjadi orang pertama yang menantangmu setelah ribuan tahun berlalu?" godanya sembari menepuk pundak Alice. Wajah Joanne bersemu merah. Sadar kalau lidahnya kadang tidak bisa dikendalikan. "Aku tidak bermaksud seperti itu, Alice," sesalnya. Alice menarik embuskan napas yang sebenarnya percuma dilakukan lalu melengkungkan senyum. "Anna dan Laurent yang bertugas untuk mengajarimu. Aku hanya mengawasi," tukasnya. Agak aneh ketika mendengar Alice menyebutkan nama Anna tanpa menyematkan gelar profesor, tetapi memang sepertinya Alice berada jauh di atas Anna, pikir Joanne. "Benarkah begitu?" selidik Joanne. "Terima kasih karena kamu mulai memikirkan Brian lebih serius dan ya, aku tidak berbohong padamu. Mereka akan mengajari cara mengendalikan energimu," tambah Alice. "Aku juga akan membantu." Ucapan Amanda membuat semua orang menoleh padanya. "Aku selalu mendukung hubunganmu dan Brian agar berhasil," tambahnya. Ethan melirik Alice, menyenggol pelan kakinya hingga Alice balas menoleh pada Ethan. "Baiklah, saranku sebaiknya kamu cepat pergi dari sini karena waktu makan siang tinggal tersisa kurang dari sepuluh menit lagi." Joanne mengangguk lalu pergi meninggalkan mereka yang masih menatap punggungnya. "Seharusnya kamu berterima kasih pada Joanne karena kutukan itu masih sangat jauh dari kenyataan," ucap Amanda. Alice mempererat pegangan hingga kaleng minuman bersoda itu penyok. "Sebaiknya kamu diam saja!" Amanda hanya menggedikkan bahu lalu meneruskan makan siang seolah tidak terjadi apa-apa. Ethan berusaha untuk tidak terlibat dalam pembahasan rumor kutukan itu, tetapi ia tidak tahan hingga akhirnya bertanya, "Bukankah bagus bila kutukan itu tidak benar-benar terjadi? Lagi pula aku selalu berharap kamu bisa melupakan dia." Alice benar-benar meletakkan sendoknya kembali. "Ethan, kamu tahu, terkadang kamu dan Amanda selalu saja menambahkan garam padahal sudah tahu kalau masakan itu terlalu asin." Amanda menyeka bibir indahnya dengan tisu. "Sudah lama sekali aku tidak mendengar sindiran seperti itu, tapi ide untuk membuka kisah antara Alice dan Brian jelas bukan ide bagus." Ethan kembali menyeruput jus miliknya. Mencampuri perbincangan Amanda dan Alice akan menyeretnya dalam masalah, tetapi membuat keduanya bersitegang karena alasan konyol sangatlah tidak baik. "Hei, bukankah kita sudah sepakat untuk tidak membahas hal ini?" Amanda mendesah kasar, bangkit lalu menepuk pinggiran roknya yang terlipat. "Aku sudah selesai dan akan kembali ke kelas lebih dulu. Alice, aku tahu kalau sebenarnya kamu tahu jalan di antara kalian hanyalah satu balas dendam. Jadi, untuk apa kamu mengharapkan Brian lagi?" "Kau!" sentak Alice yang tiba-tiba ikut bangkit. Ethan memijat pelipisnya lalu ikut bangkit. Untung saja ia sudah berdiri di antara mereka. "Bukankah pembicaraan ini hanya akan membuat kalian dihukum ayahku? Berhentilah." Amanda memalingkan wajah pada Ethan lalu mengecup lembut pipi pemuda itu. "Aku pergi dulu," pamitnya. Setelah punggung Amanda benar-benar menghilang, Ethan kembali duduk. "Duduklah, tenangkan dirimu," pintanya pada Alice sembari menarik sedikit ujung seragamnya. "Aku tidak pernah suka ada yang mencampuri urusanku dengan Brian!" Ethan menggaruk ujung alis lalu menyeruput sisa terakhir jus dalam gelasnya. "Kami hanya mengkhawatirkan kamu." "Kalimat yang bijak Ethan karena aku tahu Amanda tidak pernah memiliki rasa kepedulian. Kamu tahu, Brian tidak pernah benar-benar menyukai Joan dan Joan juga sebaliknya. Semua hanya rasa suka remaja konyol." Ethan mengangguk-angguk. Sebaiknya kali ini ia setuju saja dengan pendapat Alice. "Apa kamu akan membantu Joan?" "Dia berada di bawah tanggungjawabku. Aku rasa dia harus bisa sedikit menjaga dirinya sendiri. Aku akan benar-benar meminta Laurent dan Anna untuk mengajari semua hal." Ethan kembali mengangguk. "Terserah kamu saja. Di sini, aku hanya seorang penonton," timpalnya. Alice kembali menatap ke dalam kantin yang masih penuh disesaki murid-murid yang mulai bergegas kembali menuju kelas. Matanya terfokus pada Joanne dan Brian yang turut bergegas pergi. Alice mengakui, begitu menginginkan senyum ceria Brian yang saat ini ditujukan hanya untuk Joanne. "Ayo Ethan. Kita juga harus kembali ke kelas," ajak Alice. Ethan mengekori langkah Alice. Hingga di dekat tangga setelah keluar dari lorong kantin tiba-tiba ia menarik tangan Alice. "Aku serius soal mencemaskanmu," aku Ethan. Alice balas menatap hingga akhirnya tersenyum lembut lalu menyentuh pipi Ethan seakan kulit pemuda itu adalah pualam terindah. "Kamu hangat seperti ayahmu juga penuh perhatian seperti ibumu. Terima kasih, tapi aku sudah terbiasa tidak menyandarkan diri pada kecemasan orang lain," tuturnya pelan. Ethan melepaskan tangan Alice dari pipi serta balas mengusap pucuk kepala gadis itu. Mungkin di titik ini mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang enggan berpisah. "Jangan seperti ini. Aku sudah mendengar semuanya dan si Berengsek itu—" Meski harus sedikit berjinjit, tetapi Alice tidak tahan untuk sedikit menyentil dari Ethan. "Tidak semua kisahku diceritakan secara utuh. Jangan ikut campur Ethan." "Kalau begitu ceritakan bagian yang tidak aku tahu!" paksanya. "Aku juga tidak pernah tahu semuanya secara utuh. Jangan ungkit ini lagi." Bibir Ethan berkerut, tetapi ia menahan diri untuk kembali memprotes ucapan Alice. Hingga matanya menangkap seseorang yang sedari tadi memandanginya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN