Sesekali Joanne menoleh ke kiri dan kanan. Sekelebat bayangan yang melompat dari satu dahan ke dahan pepohonan lain membuatnya merasa lega.
'Ethan benar-benar mengawasi,' batin Joanne.
"Kau dalam masalah besar, Joan!" sentak Carlos dari balik kemudi.
"Oh, ayolah Carlos. Kami hanya berjalan terlalu jauh. Maaf," sesal Pamela.
Carlos tidak menimpali, ia menekan pedal gas lebih kencang. Hingga akhirnya mereka tiba di rumah.
Dibantu Joanne, Carlos menyangga Pamela lalu membantunya duduk di sofa. Belinda yang muncul dari ruang tengah tampak begitu terkejut melihat kondisi Pamela juga putrinya.
"Joan, kau tak apa? Oh, maaf Carlos, tidak seharusnya aku memberikan izin pada Pamela untuk membawa putri kita," sesal Belinda.
"Kalian keterlaluan! Pamela, apa kamu pikir Joanne dan Belinda sedang liburan musim panas, hah? Semua rencanaku bisa hancur! Membawa Joan jauh ke dekat tanah terbuang adalah ide buruk! Dia masih memiliki darah manusia! Kau sungguh bisa menghancurkan semua rencanaku! Terlebih, Amanda, jelas dia tidak menyukai Joanne! Dia tahu kalau Ethan tidak boleh mengubah Joan dengan darah sejati Ethan! Itu buruk!" cecar Carlos.
Joanne dan Pamela menunduk semakin dalam, sungguh Pamela tidak sadar kalau ia melangkah terlalu dekat dengan tanah terbuang.
"Ayolah, Carlos. Apa kamu harus berjalan sejauh ini? Rencanamu sangat berbahaya, aku percaya masih ada jalan lain untuk menyelamatkan Joan tanpa mengharapkan darahnya bercampur dengan Ethan," mohon Belinda.
Joanne hendak menyela pembicaraan, tetapi lagi-lagi Carlos menyembur Belinda dengan amarahnya. "Kau gila? Ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan Joan!"
"Kita, kita bisa menunggunya sampai Joan berada di ambang kematian lalu kamu bisa mengubah dia, Carlos! Lihat Pamela! Bila, bila Joan yang mengalami ini, dia bisa mati, Carlos!" sentak Belinda.
"Ayolah! Apa kalian harus bertengkar di hadapanku yang sedang sekarat?" cicit Pamela.
Carlos menoleh dengan cepat lalu berlutut di hadapan Pamela. "Apa yang kamu rasakan?" tanyanya pelan.
"Aku tidak bisa merasakan tangan kananku, kelihatannya buruk sekali," jawab Pamela.
"Kamu akan baik-baik saja. Joan, kembali ke kamarmu. Kita bicarakan masalah ini nanti," titah Carlos.
Joanne yang sedari tadi hanya terdiam akhirnya menyeka air mata yang menggenang di pelupuk dengan gemetaran. "Sedari tadi, aku hanya mendengar kalian membicarakanku tanpa pernah bercerita tentang apa yang sebenarnya terjadi padaku! Apa kalian berpikir ini adil untukku? Seharusnya, kalian bercerita apa yang sebenarnya aku hadapi! Kenapa, kenapa Dad selalu memaksakan kehendak padaku?" jerit Joanne.
Carlos bangkit, binar matanya berubah merah dan itu tidak bagus. "Pergi ke kamarmu atau aku menyeretmu!" ancamnya.
Joanne bangkit, meraih Felix yang sedari tadi menggosokkan kepala di kaki lalu sedikit berlari menuju kamar.
Ia membanting pintu tanpa memasuki kamar lalu kembali berjinjit mendekati tembok dekat tangga. Dari sini ia bisa tetap memperhatikan semuanya yang berbincang.
"Joan benar, seharusnya kita tidak merahasiakan apa pun lagi padanya," tutur Pamela.
"Diamlah!" titah Carlos yang kemudian merobek lengan baju Pamela. "Amanda benar-benar berniat untuk membakarmu, Pamela," cicitnya.
Joanne membekap mulutnya sendiri. Lengan Pamela hingga leher benar-benar terkoyak hingga tulangnya tampak dengan jelas terlihat.
"Kita harus membersihkan lukamu. Belinda cepat ambilkan antiseptik serta air hangat," titah Carlos.
"Antiseptik? Air hangat? Apa kau bercanda? Api yang perlahan membakar lenganku masih berkobar walau aku tidak bisa melihatnya, tapi rasanya aku tahu itu masih ada di lenganku."
"Pantas saja Amanda disebut senjata terbaik klan Utara. Dia amat berbahaya. Lukamu terlalu besar, aku harap energiku cukup untuk menutupnya," cemas Carlos.
"Carlos, apa menurutmu luka ini akan meninggalkan bekas? Aku akan kesulitan," cicit Pamela.
"Kau masih saja memikirkan karier tak bergunamu! Aku tidak membawa banyak darah manusia, tapi aku akan segera membawanya, bertahanlah untukku," mohon Carlos.
Punggung Carlos menegak, seketika ia menatap lurus ke arah pintu. "Apa kau merasakannya? Ada yang coba masuk ke dalam kubah energiku," bisik Carlos.
"Berhati-hatilah, Carlos."
"Pamela, bila aku tidak kembali dalam lima menit, pergilah bersama Belinda dan Joanne. Bawa mereka menemui Caroline!" titah Carlos yang kemudian berlari pergi.
Joanne yang sedari tadi terdiam, ikut merasa cemas. Ia kembali terbelalak ketika Carlos muncul dengan Alice yang mengekori langkahnya.
Alice segera duduk di samping Pamela lalu meraih tangannya. "Caroline memintaku datang. Pamela, tanpaku kau akan perlahan mati. Amanda sudah memantraimu. Carlos, bantu aku menahan Pamela, ini akan terasa sangat menyakitkan," titah Alice.
"Baiklah," ucap Carlos menyanggupi lalu menahan bahu Pamela.
"Ini akan menyakitkan. Sangat menyakitkan. Bertahanlah,"
Joanne mengamati tanpa bisa bernapas. Alice menaruh telapak tangannya di atas luka menganga Pamela lalu memejamkan mata.
Sedetik kemudian muncul sinar tepat di bawah telapak tangan Alice. Bersamaan dengan itu Pamela menjerit serta berusaha melepaskan diri dari rengkuhan Carlos.
"Sedikit lagi, Pamela! Sebentar!" pekik Alice yang kemudian melebarkan senyum ketika secara perlahan-lahan luka di lengan Pamela menghilang serta luka lain di wajahnya turut memudar.
Joanne semakin erat membekap mulutnya. Kekuatan Alice setara dengan Amanda. Ini sangat menakjubkan.
"Kau akan baik-baik saja. Aku akan mengirimkan lebih banyak darah untukmu," tambah Alice yang kemudian melepaskan tangan Pamela.
"Kamu sangat luar biasa. Terima kasih banyak Alice," tutur Pamela.
Senyum indah Alice hilang ketika ia menatap Carlos. "Apa pun rencanamu, itu tidak bagus, Carlos! Perlindungan dari Ardolph tidak akan menjanjikan apa pun yang akan terjadi pada Joan di ulang tahun ke tujuh bekasnya! Pergilah dari sini! Kau hanya membuat klan Utara bertengkar karena Joan!"
"Caroline yang menawarkan perlindungan padaku dan Cedric jelas memberikan persetujuan untuk kami pindah dari klan Selatan," balas Carlos.
Alice tertawa. "Apa kamu sungguh percaya pada Cedric? Dia adalah satu-satunya vampir sejati yang tidak memiliki pendirian! Dia tahu suatu saat nanti akan ada masalah yang ditimbulkan Joan dan yang terpenting Cedric tahu kalau dia tidak bisa menangani masalah Joan!" timpal Alice yang membuat Carlos kehilangan suara.
"Alice, menurutmu apa yang akan terjadi pada Joan?" tanya Pamela.
Alice menggeleng. "Tidak ada yang tahu. Ethan dan Joan adalah dua hal yang berbeda. Carlos, kau salah bila berpikir darah Ethan bisa menyelematkan Joan dari Nix atau Lyn. Kau tahu, sudah ribuan tahun berlalu dan kita masih tidak tahu ke mana harus berpihak!" tegasnya.
"Cedric? Lyn? Nix? Siapa mereka?" cicit Joanne.
Seketika Alice menoleh dan matanya bertemu dengan Joanne yang seketika bangkit lalu berlari menuju kamar lalu menutupnya rapat-rapat.
"Ya ampun! Padahal, aku sudah bicara sepelan mungkin. Bagaimana Alice bisa tahu?" gumamnya.
"Sudah selesai mengintip?"
Punggung Joanne menegang. Dengan gerakan kaku seperti robot, ia menoleh ke belakang. "Ka-kamu?"