Sebenarnya Joanne tidak suka memperlihatkan sisi lemahnya, tetapi ia sungguh tidak bisa membayangkan akan mati di tengah hutan dan kemungkinan tubuhnya akan habis membusuk atau dimakan binatang buas.
"Kau, kau vampir sialan!" pekik Joanne.
"Oh, ya? Sayangnya, aku sangat senang melihatmu tidak berdaya seperti ini. Seharusnya kamu menghargai kejujuranku," balasnya. Joanne memalingkan wajah ketika Ethan menarik lembut dagu agar bisa menatap pemuda itu hingga tak kuasa lagi menahan air matanya. "Great, sekarang kau menangis. Bangunlah, sampai kapanpun kamu tidak akan bisa keluar dari hutan ini hingga pada akhirnya vampir yang terbuang kembali datang untuk mengoyakmu habis-habisan," tambahnya.
Nyali Joanne menciut. Mungkin Ethan bisa membunuhnya dengan cara meledakkan jantung Joanne atau Amanda bisa menghanguskan tubuh Joanne, tetapi jenazah utuh lebih baik daripada hanya ditemukan satu atau dua bagian tubuh saja. Itu mengerikan.
"Cepatlah, bangun! Apa kamu mau duduk saja semalaman di situ?" sentak Ethan.
Jujur saja, Joanne masih kesulitan mengangkat tubuhnya, selain seluruh luka gores mulai terasa perih, Joanne juga belum bisa menghentikan kakinya yang terus gemetaran.
Perlahan, Joanne menarik sulur rambat di dekatnya, mengangkat diri sendiri hingga akhirnya bisa bangun lalu melangkah sedikit ke dekat Ethan.
"Bisakah, bisakah kamu berjalan perlahan saja?" cicit Joanne.
Ethan mengamati gadis itu dari ujung kepala hingga kaki. Rok seragamnya robek hampir memperlihatkan seluruh bagian kaki Joanne yang tak seharusnya tampak. Seragam putihnya ikut terkoyak dengan noda-noda darah yang merembes di beberapa bagian. Gadis itu benar-benar kacau.
"Kau tahu, seharusnya sekarang aku sedang makan malam dan tidak melewatkan acara balap GP favoritku. Jadi, aku tidak mau membuang waktu. Cepatlah ikuti aku atau kau sendiri yang harus keluar dari sini dengan cara merangkak dalam kegelapan. Ikuti aku!" titah Ethan.
Ingin rasanya Joanne merobek bibir menggoda Ethan yang sangat berbisa, tetapi sekarang pemuda itu satu-satunya yang bisa membantu.
Ethan benar-benar sangat menyebalkan, sekarang jaraknya dengan Joanne lumayan jauh. Meskipun begitu, Joanne tetap tidak punya pilihan.
Jelas Ethan tahu ke mana harus melangkah dan walau terseok, Joanne tetap harus berjalan hingga akhirnya tanpa sengaja ia tersandung akar pohon yang mencuat lalu jatuh dengan kening menghantam akar lain.
Mendengar Joanne menjerit, Ethan berlari menghampiri. "Kau tak apa?" Joanne mengangkat wajahnya, begitu jelas terasa kalau ada cairan yang mengalir dari dahi ke pipinya. "Jangan disentuh. Kau akan membuatnya semakin buruk. Ceroboh sekali! Apa kau buta hingga tidak bisa melihat akar sebesar itu?" marah Ethan yang kemudian mengeluarkan sapu tangan dari saku lalu menyeka darah dari dahi Joanne.
"Kau, apa kau tidak bisa berhenti memarahiku? Kau menyebalkan!" sentak Joanne diselingi isak tangisnya.
"Bagus, sekarang tangisanmu malah semakin kencang! Apa kau sungguh berniat memancing makhluk-makhluk itu ke sini, hah?" bentak Ethan.
Joanne menyeka air matanya, ia berusaha keras untuk tidak menangis, tetapi sungguh tidak bisa menghentikan itu terjadi. Joanne ketakutan.
"Bangun! Waktu kita tidak banyak! Apa aku harus mencari makanan lalu berkemah denganmu di sini?" sindir Ethan.
"Kau! Kau vampir sialan! Bila saja Amanda tidak datang, ini tidak akan terjadi!" balas Joanne.
"Apa katamu?" marah Ethan sembari menarik dagu Joanne. "Kalau Amanda tidak datang, kalian akan mati di tangan monster-monster itu dan Amanda tidak bisa disalahkan karena jelas ayahku menginginkan Amanda untuk membunuhmu! Bangunlah! Tetap berjalan atau aku sungguh-sungguh akan meninggalkan kamu!" ancam Ethan.
Joanne menyeka air matanya lalu bangkit, tetapi saat melangkah, ia kembali hampir terjatuh, untung saja Ethan dengan sigap menangkap tubuh Joanne.
Keduanya sempat bertatap dan sialnya Joanne kembali menikmati setiap guratan indah yang membentuk wajah Ethan.
"Aku, tidak bisa berjalan, tinggalkan saja aku, minta tante Pamela untuk membantuku, kau pasti hafal tempat ini, 'kan?" mohon Joanne.
Ethan tertawa kecil. "Pamela? Apa kamu yakin dia masih ada di dunia ini?" Napas Joanne kembali tercekat, pertanyaan Ethan benar-benar membakar pelupuk matanya. "Aku adalah satu-satunya yang akan membantumu dan yang bisa kamu lakukan hanya terus-menerus merepotkan! Berhentilah meremehkan aku," lanjutnya.
"Ethan, apa, apa kita tidak bisa berhenti bertengkar? Sekarang, aku hanya benar-benar ingin pulang dan kali ini aku berjanji tidak akan banyak bicara atau menyebutmu vampir sialan lagi walau aku sangat ingin melakukannya," mohon Joanne.
Kali ini Ethan benar-benar tertawa kemudian menatap Joanne. "Kali ini, aku akan membantumu," Tanpa banyak bicara lagi, Ethan menaruh satu tangan Joanne ke belakang kepala lalu merengkuh kaki Joanne hingga gadis itu benar-benar berada dalam dekapannya.
Joanne terdiam. Menyaksikan wajah serius Ethan serta merapatkan tubuhnya ke d**a Ethan. Sempat kaget karena jantung pemuda itu jelas tidak.berdetak, Joanne menggigit bibir, berusaha tetap tenang dalam rengkuhan Ethan.
Tidak tahu berapa.kencang Ethan berlari, atau seberapa gesit ia melompat dari satu dahan pohon ke dahan lain, mereka akhirnya sampai di tempat awal Amanda menemukan Joanne dan Pamela.
Ethan menurunkan Joanne, tetapi tetap merengkuh pinggang gadis itu untuk tetap berdiri di sampingnya. "Apa kau sudah bisa berdiri sendiri?" bisik Ethan. Joanne menoleh, walau tidak yakin akhirnya ia memberikan anggukan kecil. "Bagus, aku akan melepaskanmu," tambahnya.
Joanne sempat limbung ketika Ethan melepaskan tangan dari tubuhnya, tetapi ia tidak bisa menghindari tatapan sinis Amanda walau wanita itu duduk bersimpuh di hadapan Alice dan Caroline.
"Apa kamu baik-baik saja?"
Joanne dengan cepat menoleh, baru tersadar kalau ayah serta tantenya berada di belakangnya. Joanne menutup erat-erat bibir ketika menelisik kondisi Pamela.
Entah kekuatan apa yang merasuki Joanne hingga gadis itu hampir berlari menghampiri Pamela.
"Tante, apa, apa Tante baik-baik saja?" cemas Joanne.
"Apa menurutmu dia baik-baik saja? Untung saja Caroline dan Alice tiba pada waktunya!" sentak Carlos.
Joanne balas menatap Carlos. Seingatnya ia sudah hampir lima tahun tidak bertemu dengan ayahnya dan kali ini wajah itu jelas tidak berubah sedikitpun.
"Syukurlah kalau Joanne baik-baik saja, kalau begitu kami akan pergi. Kalian bisa pulang, Ethan akan mengawasi dari jauh. Ayo, Alice, Manda," ajak Caroline.
"Sekali lagi terima kasih," tutur Carlos.
"Joanne adalah tamu istimewaku dan semua yang berhubungan dengannya juga mendapat perlindungan langsung dariku. Amanda atau Ardolph sekalipun tidak.bisa menyentuhnya," tegas Caroline sembari menatap Amanda.
Entah, Joanne harus merasa lega atau takut ketika mendengar kesanggupan itu karena jelas kobaran amarah itu semakin tampak dalam binar mata Amanda.
"Baiklah, waktunya kita pergi. Ethan, pastikan mereka tiba di rumah dengan selamat," ujar Alice yang dijawab anggukan malas oleh Ethan.
Joanne kembali terperangah ketika Alice, Caroline serta Amanda menghilang dalam satu kedipan mata, tinggalkanlah Ethan yang juga balas menatapnya.
"Pergilah dahulu, aku akan mengamati dari jauh," titah Ethan.