Tanah Terbuang

1003 Kata
Setelah berputar-putar cukup lama hingga jauh menjelajahi keluar Dalton, akhirnya mereka berhenti di restoran cepat saji pertama yang dilihat Pamela. Joannne meletakkan baki makanan miliknya lalu mulai menyantap burger serta kentang goreng lalu menyesap cola float. "Sepertinya kamu sudah lapar sekali," goda Pamela yang kemudian mengeluarkan botol kecil dari tas lalu m memberikan hampir lima tetes cairan merah ke dalam milkshake. "Tante masih minum itu?" tanya Joanne. Pamela kembali menutup botol serta memasukkannya kembali ke tas. "Ya, aku harus tetap meminum darah untuk menjaga kewarasan. Percayalah, aku menjaga untuk mengurangi dosisnya," jawabnya. Joanne sudah kehilangan selera ketika membayangkan rasa amis yang menyeruak bila ia meneguk minuman bercampur darah. Suara dering ponsel membuat Pamela melepaskan sedotan lalu merogoh tas. "Belinda menelpon," ucapnya menjawab lirikan mata Joanne. "Ya. Joanne bersamaku. Kau sudah berjanji mengizinkan aku mengajak Joanne makan malam," Melihat Pamela yang mengerutkan dahi terus-menerus, Joanne tahu kalau ibunya pasti cemas. "Tante, aku rasa sebaiknya kita kembali," ajak Joanne. Pamela melirik Joanne. "Ya, baiklah Belinda. Aku agak jauh dari Dalton. Ya, ya, maaf. Baiklah. Iya, ini masih wilayah Ardolph. Baiklah, sampai jumpa." "Kenapa?" Pamela menggosok telinganya lalu menatap Joanne. "Ibumu marah sekali. Ah, mana aku tahu kalau harus keluar dari Dalton untuk sekadar mencari restoran cepat saji," jawabnya sembari menandaskan milkshake miliknya. "Mungkin, kita akan tiba di rumah kurang dari empat jam, benar, 'kan, Tante?" tanya Joanne ketika ia sendiri takut menghadapi amukan Belinda nanti. Pamela tertawa lalu mengusap pipi Joanne. "Tenang saja. Dulu, aku cukup pandai dalam mengendalikan kereta kuda. Jadi ...." Seketika Pamela bangkit, sorot matanya berubah. Bahkan Joanne ikut takut ketika dengan pasti Pamela mengepalkan tangan. "Joanne, sepertinya perhitunganku salah. Kita harus segera kembali ke Dalton. Cepat!" pekiknya. Joanne tidak mau bertanya apalagi membantah. Dari air wajah Pamela, jelas tampak kalau mereka sedang dalam bahaya. Pamela menyambar tasnya lalu menarik tangan Joanne untuk segera memasuki mobil. "Kalian tidak bisa menggores mobilku. Oh, apa kita memang terlalu dekat dengan tanah buangan? Astaga, mereka pasti menginginkan darah yang aku bawa juga kamu, Joan!" Joanne cepat-cepat memasang seat belt lalu memperhatikan sekeliling yang memang tiba-tiba saja sepi. "Tante, ayo!" mohonnya. Walau tidak tahu apa yang terjadi, tetapi jelas Joanne merasa dirinya terancam. Pamela melirik ke belakang. Sekelebat bayangan tampak berlarian. "Sial, mereka sudah sedekat ini!" Joanne mencengkeram pegangan di mobil. Pamela jelas memijak pedal gas sekencang yang ia bisa sembari sesekali menoleh ke arah spion. Jeritan Joanne mancing kecemasan Pamela ketika salah satu dari makhluk itu berhasil menghantam bagian samping mobil serta memaksa Pamela untuk berbelok ke arah kiri. "Tante, kau keluar jalur!" pekik Joanne kala menyadari guncangan mobil semakin kencang juga pemandangan sisi kanan serta kiri mulai didominasi pepohonan. "Ya, aku tahu! Mereka menggiringku untuk masuk hutan. Kemana para penjaga itu? Sial, seharusnya para vampir sejati mulai memikirkan memperketat penjagaan di tanah terbuang!" protes Pamela. "TANTE!!" jerit Joanne ketika mobil.mereka jelas disergap dari berbagai arah dan mau tak mau Pamela memijak pedal rem sekencang yang ia bisa. "Merunduk Joan!" titah Pamela. Kali ini Joanne jelas tidak bisa melakukan apa yang diperintahkan Pamela. Pandangannya terkunci pada mereka yang menggedor-gedor jendela mobil. Makhluk itu berbeda dengan vampir yang pernah Joanne temui. Hampir seluruh kulit wajah mereka mengelupas. Taring berlumur darah serta jelas sekali makhluk itu tidak bisa mengendalikan diri. "Tante, mereka, mereka, apa?" cicit Joanne. "Mereka terlalu banyak!" "Tan-Tante," Pamela melepaskan seat belt, ketika hendak keluar, tiba-tiba saja cahaya menerangi mobil hingga makhluk itu melarikan diri ke dalam hutan. Joanne memicingkan mata, merunduk untuk tetap menatap ke arah depan (sumber cahaya). Perlahan sinar itu meredup dan sosok itu berjalan menghampiri dengan sekujur tubuhnya yang diselubungi api. "Amanda! Joanne, dia lebih berbahaya dari makhluk tadi! Dengar, pergilah dari sini! Kau masih ingat cara mengemudikan mobil, 'kan?" tanya Pamela. "Hah? Aku, aku apa?" Pamela menangkup pipi Joanne. "Dia tidak suka padamu! Aku tahu itu! Dengar, seharusnya ke arah selatan ada pos penjagaan. Pergilah ke sana. Katakan kalau kau memiliki diamond privilage!" titahnya. "Ta-tapi, aku, aku tentu tidak akan pergi tanpamu!" raung Joanne. "Pergilah, Joanne! Aku yakin Amanda datang bukan untuk menyelamatkan kita! Aku akan coba menahannya. Pergi!" Joanne tidak sempat menarik tangan Pamela ketika wanita itu bergegas keluar dari mobil. Joanne ikut melepaskan seat belt lalu pindah ke kursi pengemudi. Ia mencengkeram erat kemudi lalu menoleh ke arah belakang. Untung saja ia memiliki banyak lahan untuk memutar balik mobil. Namun, di posisi ini, Joanne sungguh tidak ingin meninggalkan Pamela. Tantenya benar, Amanda jauh lebih mengerikan dari makhluk tadi. Mata Joanne memicing, sungguh ingin tahu apa yang dibicarakan Pamela dan Amanda, sampai akhirnya Amanda menyerang Pamela hingga tubuh wanita itu terpental menabrak kap mobil. Sontak Joanne keluar dari mobil, matanya terkunci pada Pamela yang merintih kesakitan. Sempat hilang kesadaran dalam beberapa detik, Joanne kembali memfokuskan pandangan lalu coba bangkit. Sejenak ia tertegun menyaksikan betapa kesulitannya Pamela menghadapi Amanda yang terus melemparkan bola api. "LARI JOANNE! PERGI!!" titah Pamela. Joanne sempat terhuyung ketika mengambil langkah pertama kemudian mulai berlari di antara pepohonan. Sesekali ia menepis ranting-ranting yang terjulur ke atasnya. Beberapa ada yang jatuh lalu remuk terinjak dan lainnya malah menggores kulit mulus Joanne. Di puncak kepanikan, Joanne yang terus berlari coba menoleh ke belakang, tidak ada yang mengikuti langkahnya hingga akhirnya Joanne berhenti sesaat untuk mengembalikan pasokan oksigen dalam paru-paru. Sekarang, kakinya mulai terasa lemas, sekelilingnya mulai gelap gulita, tidak ada celah untuk sinar rembulan menyapa lantai hutan. "Bagaimana ini?" cicitnya hampir terisak. Joanne berpikir untuk kembali, tetapi di titik ini, ia benar-benar tidak tahu dari mana dirinya berlari. Lututnya semakin gemetar kala menyadari tidak ada lagi suara yang terdengar. Keheningan itu hampir mencekik lehernya sampai satu ketika ia mendengar suara burung hantu di atas kepala. Joanne mengangkat punggung dari batang kayu lalu mendongak, tidak ada yang bisa ditatap selain rasa takutnya sendiri. "Kau tersesat," Joanne tidak mampu menutupi rasa terkejutnya kala wajah itu ada di hadapannya. Tubuhnya cukup keras menabrak pohon. "Kenapa? Takut?" Seluruh tubuh Joanne gemetar. Tidak ada kata yang bisa ia ucapkan. Hingga akhirnya tubuh Joanne jatuh dengan tatapan terpaku pada lawan bicara. "Kenapa? Takut mati di tanganku? Aku senang sekali melihatmu tidak berdaya seperti ini."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN