2 – Ruhi & Soul

1603 Kata
Sekembali dari hutan, Asta melihat Madhiaz tengah menunggunya di bangku kayu yang terletak di halaman. Tanpa bertanya apa pun, Madhiaz menyuruh Asta menidurkan Ruhi di dalam rumah. Sementara Drew menyimpan kayu bakar di belakang rumah. “Paman tidak bertanya apa-apa?” tanya Drew heran, yang kembali setelah menyimpan kayu bakar. Bagaimana pun, mereka membawa binatang iblis. “Tidak apa-apa, aku tahu siapa anak itu. Terima kasih sudah menemani Asta.” “Bukan masalah. Tapi Paman, apa Paman yakin kalau binatang iblis itu tidak akan menyerang penduduk desa?” Madhiaz tersenyum. “Tidak perlu khawatir, aku yang menjaminnya.” “Ya, aku juga akan melatihnya dengan benar!” sahut Asta yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah. Madhiaz menoleh dan mengetuk kepalanya pelan. “Dia bukan peliharaanmu,” ujarnya lantas kembali menatap Drew. “Aku yang akan berbicara pada ayahmu. Untuk sekarang, Tuan Muda pulanglah.” Drew mengangguk, lalu pamit. “Ayah, dia terluka,” ucap Asta. Madhiaz mengangguk. “Kita obati saja dulu seadanya. Nanti Ayah minta bantuan Nona Mori untuk menyembuhkannya.” Asta pun mengangguk setuju. Mori adalah gadis berusia lima tahun di atas Asta sekaligus gadis yang disukai oleh Drew. Dia adalah satu-satunya orang yang memiliki kekuatan sihir penyembuhan di Desa Weyne. Walau tidak kuat, tapi cukup untuk mengobati luka-luka yang tidak fatal. Meski begitu, kekuatan penyembuhan sangat langka, karena itu setelah pihak kerajaan mengetahui kekuatannya, kemungkinan besar dia akan dibawa dan dilatih di istana. “Um ... Ayah, aku tidak mendapatkan kelinci,” ujar Asta menggaruk kepalanya malu. “Apa kita masih punya uang untuk beli makanan? Lalu, apa yang biasa dimakan binatang iblis sepertinya?” “Mereka bisa memakan apa saja. Apalagi kalau sudah bisa berbuah wujud seperti itu. Ayah akan ke pasar dan menemui Nona Mori, sekaligus menemui Kepala Desa untuk membicarakan soal Ruhi. Kau obati dia dulu seadanya.” “Baik!” sahutnya patuh, lalu tersadar, “Tunggu, Ayah tahu namanya Ruhi? Aku belum mengatakannya, kan?” tanyanya bingung. Tetapi, Madhiaz hanya tersenyum, menatap Asta lembut. “Kelak, dia akan menjadi temanmu yang berharga. Jaga dia baik-baik,” ucapnya sambil mengusap kepala Asta penuh kasih. “Ayah pergi dulu.” Asta hanya mengangguk, menatap kepergian Madhiaz dalam diam. Lalu kembali ke dalam rumah, memandangi Ruhi yang tertidur damai di kasur miliknya. Ia mencari kotak obat lalu mulai mengobati luka-luka Ruhi. Yang paling parah memang di bagian kaki. Tampak seperti luka yang terkena anak panah. Sebagian luka dari benda tajam. Sepertinya, ia telah melewati banyak hal. Asta lalu teringat perkataan Madhiaz sebelumnya. Terkadang, ia berpikir kalau ayahnya adalah seorang peramal. Atau mungkin seorang great sage yang sedang menyembunyikan identitas. Tapi, siapa pun itu, ia tahu ayahnya orang yang sangat baik dan lembut. “Ugh ....” Asta menoleh mendengar suara Ruhi yang bergumam dalam tidur. Ekspresi wajahnya pun tampak kesakitan. Apa ia mimpi buruk? “Soul ....” Suara Ruhi gemetar. Dia bahkan mulai menangis, peluh membanjiri wajahnya. Melihat itu, Asta mulai cemas. “Ruhi?” Ia berusaha membangunkan Ruhi dengan menepuk-nepuk pipinya. “T-tidak ... Soul ...! Jangan ....” Ruhi kini tersedu-sedu. “Ruhi! Hey, bangunlah! Ruhi!” Kini Asta mengguncang tubuhnya. Berusaha membangunkannya dari mimpi buruk. “Ruhi!” “Aaaakh!” Ruhi terbangun. Berteriak dan menangis hebat. Asta langsung merengkuhnya. “Ruhi, tenanglah. Hey ....!” Dia mencoba menenangkan Ruhi yang masih berontak di pelukannya. Asta bisa merasakan tubuh anak itu gemetar hebat. Masih terisak-isak. “Ssshh ... tidak apa-apa, sudah baik-baik saja.” Asta mengusap-usap punggungnya, berusaha menenangkan. Perlahan, isakan Ruhi mereda. Tubuhnya pun berhenti gemetar. Seolah-olah Asta memiliki sesuatu yang bisa menenangkannya. “Kau sudah tidak apa-apa?” tanya Asta kemudian. Ruhi menjauhkan tubuh, lalu mengangguk pelan. “Maaf ...,” ucapnya. Mata merahnya tertunduk sayu. Asta tersenyum. “Di saat seperti ini, kau harusnya bilang terima kasih. Bagaimana lukamu? Apa masih ada yang sakit?” Ruhi melihat kakinya yang sudah diperban. Beberapa lukanya pun diolesi obat. Ia menggeleng. “Terima kasih,” ujarnya. Lalu, terdengar suara aneh dari perut Ruhi. Seketika wajah pucat Ruhi memerah. “Pfft. Apa kau lapar?” Ruhi menunduk malu. “Sebentar,” ucap Asta kemudian bangkit dan keluar kamar. Ia kembali sambil membawa nampan berisi makanan. “Kami belum masak, tapi masih ada sisa sup tadi pagi dan sebuah roti. Apa kau mau?” Ruhi tampak ragu-ragu. Asta yang mengetahui itu, menyimpannya di hadapan Ruhi. “Kalau mau, makanlah. Tidak apa-apa.” “Su-sungguh?” “Em!” sahut Asta tersenyum. Perlahan Ruhi pun mulai makan. Seolah tidak makan berhari-hari, makanan yang tidak seberapa itu habis dalam sekejap. Asta yang melihat itu merasa senang. “Rupanya kau sangat lapar.” “Terima kasih. Apa yang harus Ruhi lakukan untuk membayarmu?” Asta tertegun sejenak, lalu tertawa. “Tidak. Kenapa kau berpikir begitu?” “Bukankah manusia selalu menginginkan imbalan?” Asta tersenyum lembut. “Tidak semua manusia seperti itu. Apa kau selalu bertemu manusia seperti itu?” Bukannya menjawab, Ruhi malah memandangi Asta. Sadar dipandangi, Asta tersenyum. “Kenapa? Apa wajahku jelek? Ayah bilang aku sudah seperti ini sejak lahir.” Ruhi menggeleng. “Asta sangat baik. Asta tidak jelek. Asta juga wangi.” Dipuji seperti itu, tentu saja membuat Asta besar kepala. Ia menggosok bagian bawah hidung, dan menepuk dadanya bangga. “Benar, aku adalah orang paling tampan dan baik hatinya!” Ruhi sedikit tersenyum. “Asta tidak takut pada Ruhi? Bukankah mata Ruhi menyeramkan?” tanyanya. “Hm ... awalnya sedikit takut, tapi sepertinya kau binatang iblis yang baik. Kau juga sangat cantik dan manis untuk ukuran laki-laki. Aku juga suka matamu. Warnanya yang semerah darah, terlihat kuat dan berani.” Ruhi tersenyum lembut. Seolah mengenang sesuatu. “Kau bermimpi buruk?” tanya Asta. “Mau berbagi cerita denganku? Tapi aku tidak akan memaksa kalau kau tidak mau.” Ruhi masih tampak ragu-ragu. Melihat itu, Asta hanya tersenyum. “Tidak apa-apa, tidurlah lagi, kau sepertinya sangat kelelahan. Nanti Ayah akan membawa seseorang untuk menyembuhkanmu,” ujarnya sambil mendorong Ruhi pelan agar kembali berbaring. “Seseorang?” tanya Ruhi tampak cemas. “Ruhi tidak mau bertemu manusia lain.” “Dia orang yang baik, jangan khawatir. Ayahku adalah orang paling baik sealam semesta. Nona Mori juga orang yang baik, aku jamin!” Asta berusaha menenangkan. “Aku juga akan tetap menemanimu, jadi jangan takut.” “Be-benarkah?” “Ya!” “.... Baiklah,” ucap Ruhi pada akhirnya. Asta mengusap kepalanya lembut, sampai Ruhi kembali tertidur. Dan ia pun tidak sadar ikut tertidur sambil bersandar ke bilik kayu. Madhiaz sampai di rumah saat sore bersama Nona Mori. Ia tersenyum melihat Asta tertidur bersama Ruhi. Lalu membangunkan keduanya. Melihat ada orang baru, Ruhi segera beringsut merangkul lengan Asta. Tingkahnya itu tampak menggemaskan di mata Mori. “Wah ... dia lucu sekali ...! Mirip serigala versi imut.” Asta tertawa sumbang. Kan, dia memang serigala. Dia lalu melirik Ruhi. “Tidak apa-apa, dia akan menyembuhkanmu,” bujuknya. Akhirnya setelah bujukan Asta, Ruhi menurut untuk disembuhkan. Sesaat dia takjub melihat sinar putih yang muncul dan lukanya hilang dalam sekejap. “Menakjubkan, kan?” tanya Asta. Ruhi mengangguk sambil tersenyum. “Bilang apa?” Ruhi memandangi Mori, lalu berucap pelan, “Terima kasih sudah menyembuhkan Ruhi.” Mori tersenyum dan mengusap kepalanya gemas. Setelah berbincang sebentar dengan Madhiaz, ia pun pamit pulang. Menolak diantar oleh Madhiaz. “Bagaimana? Sudah tidak sakit, kan?” “Ya!” Ruhi mengangguk. “Daripada itu, badanmu bau, mau mandi?” Ruhi mengendus-endus tubuhnya sendiri. Yang mana terlihat lucu di mata Asta. “Ugh ....” Ruhi mengeluh. “Benarkan, bau?” ledek Asta. Sebenarnya, Ruhi benci mandi. Tapi, ia tidak mau disebut bau oleh Asta. Karena itu, ia akhirnya menurut untuk membersihkan tubuh. Sementara Madhiaz memasak, Asta memotong rambut putih Ruhi sebelum membantu memandikannya. Ia menggosok punggung dan rambutnya. Meski awalnya Ruhi menolak, tapi ia merasa nyaman saat Asta menggosok rambutnya. “Bagaimana? Enak, bukan? Aku juga selalu menyukai hal ini saat Ayah melakukannya untukku.” “Um,” jawab Ruhi sedikit malu. Ia tidak bisa menahan geli saat Asta menyentuh dan menggosok telinganya. “Uhh ... Astaaa ....” “Hmm?? Rambut dan telingamu sangat lembut!” “H-hentikan. Itu sangat geli ....” Bukannya berhenti, Asta malah semakin semangat menggodanya. Ruhi yang berusaha menghindari Asta akhirnya menyiram air di bak ke arah Asta, membuat pemuda itu ikut basah. Hingga terpaksa ikut mandi. Asta merasa senang melihat Ruhi yang kembali ceria dan tertawa. “Hm ... sepertinya bajuku agak kebesaran,” ucap Asta setelah memakaikan pakaiannya pada Ruhi. “Tidak apa-apa, wangi Asta,” jawab Ruhi. Asta menatapnya penasaran. Ruhi terus saja menyebutnya wangi. “Sebenarnya, wangi apa yang kau maksud?” Dahi Ruhi mengernyit seolah berpikir keras, lalu menggeleng. “Ruhi tidak tahu, tapi Asta punya wangi yang enak, terasa manis dan hangat.” Mendengar itu, Asta malah makin tak mengerti, sementara Madhiaz tersenyum. “Mungkin maksud Ruhi, Asta memiliki wangi yang membuatnya nyaman. Begitu, kan?” tanyanya pada Ruhi. Ruhi mengangguk. “Mirip Soul.” “Tapi, kenapa?” tanya Asta masih tak mengerti, “Dan siapa itu Soul? Sebelumnya, kau juga menyebutnya dalam tidurmu.” Ruhi menggeleng pelan, lalu menunduk, raut sedih kembali muncul. Asta mengusap kepalanya lembut. “Tidak apa-apa kalau tidak mau cerita. Tapi, kalau kau mau cerita, aku akan mendengarkan.” Ruhi menatap Asta dan matanya kini berkaca-kaca. Lalu berucap dengan suara bergetar, “Soul ... adalah saudara kembar Ruhi. Dia ... mati gara-gara Ruhi.” Asta memandangi Ruhi. Matanya menyimpan kesedihan, rasa bersalah, dan keputusasaan. Lalu, Ruhi kembali menangis dan Asta langsung memeluknya. Menepuk-nepuk punggungnya untuk menenangkannya. Setelah cukup tenang, Ruhi pun menceritakan bagaimana ia bisa berakhir dalam kondisi seperti pertama kali ditemukan oleh Asta.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN