3 – For Life

1904 Kata
Asta mengelus kepala Ruhi yang kini tengah terlelap. Sebelumnya, Ruhi memang menceritakan tentang asal-usul dirinya. Sungguh, Asta tak mengira jika Ruhi mengalami hal menyakitkan seperti itu. Ruhi adalah ras demonic wolf. Akhir-akhir ini, binatang iblis memang sudah mulai langka. Kabarnya, hanya ada beberapa ras yang sekarang bertahan di daratan iblis. Sementara binatang iblis yang menyeberang ke daratan manusia kebanyakan diburu dan dimanfaatkan. Ada pula yang berusaha menjinakkan mereka dan menjadikannya binatang peliharaan. Ruhi dan Soul adalah salah satu yang tertangkap dan berniat dimanfaatkan untuk penelitian oleh para penyihir. Mereka menangkap berbagai macam binatang iblis yang sudah memiliki kesadaran atau kecerdasan, melatihnya jika belum mengalami kebangkitan, lalu mereka akan mencoba memindahkan kekuatan binatang iblis yang sudah dibangkitkan pada manusia. Namun, percobaan mereka belum membuahkan hasil. Selain binatang iblis atau manusia yang mati satu per satu. Di sisi lain, Ruhi dan Soul merupakan demonic wolf kembar yang unik. Seolah memiliki satu jiwa, saat satu merasa sakit, yang lain akan merasakan sakit pula. Dan mereka akan mati jika salah satunya mati. Mereka juga sudah memiliki kecerdasan sejak lahir. Selayaknya penyihir, binatang iblis juga memiliki tingkatan. Tingkat pertama adalah binatang iblis yang hanya memiliki insting, tingkat dua adalah binatang iblis yang memiliki kesadaran sendiri atau kecerdasan seperti manusia. Tingkat tiga, binatang iblis yang bisa bertransformasi atau berubah ke wujud human/half human. Lalu tingkat empat, adalah binatang iblis yang sudah membangkitkan kekuatannya. Dan yang terakhir, binatang iblis tingkat lima, adalah binatang iblis yang mampu bertransformasi ke final form. Suatu hari, Ruhi dan Soul yang merupakan binatang iblis tingkat 2, naik ke tingkat 3 di mana mereka bisa berubah wujud menjadi half human. Setelah mendapat informasi dari seorang penjaga bahwa di luar sana terdapat jalan keluar dan dekat dengan daratan iblis, mereka berencana melarikan diri untuk mencari bantuan. Namun, pelarian Soul dan Ruhi ternyata diketahui dan mereka harus berhadapan dengan seorang sorcerer yang menjadi dalang dari penangkapan binatang iblis dan manusia. Awal mendengar hal itu, Asta jelas kaget, karena setahunya, di dunia ini hanya ada satu sorcerer. Meski dia sangat terkenal, tapi dia sangat sulit diketahui keberadaannya dan tidak sembarang orang bisa menemuinya. Ia sering memakai nama palsu dan menyamar. Tidak ada yang tahu siapa nama aslinya. Bahkan tidak ada yang mengetahui berapa umurnya. Di dunia ini, ada berbagai jenis penyihir. Siapa pun yang bisa mengumpulkan mana dan membentuk inti mana dalam tubuhnya, akan mampu menggunakan sihir. Kebanyakan penyihir di seluruh benua adalah mage, mereka adalah orang-orang yang bisa menggunakan sihir elemental. Dan sorcerer adalah eksistensi yang berbeda dari mereka. Mage dapat mengeluarkan sihir elemental dengan menggunakan mantra atau magic spell. Meski pada tingkat tertentu, mereka akan terbiasa menggunakan sihir tanpa merapal mantra. Sementara sorcerer terlahir alami sebagai penyihir dan memiliki mana sendiri yang sangat melimpah. Bisa menguasai semua jenis sihir serta menguasai keempat dasar sihir elemental, bahkan bisa mempelajari sihir hitam yang hanya dimiliki oleh bangsa iblis dengan mudah. “Kenapa seorang sorcerer melakukan hal seperti itu?” tanya Asta tak habis pikir sekaligus penasaran. “Sepertinya dia hanya bersenang-senang,” jawab Ruhi dengan tangan mengepal dan sorot mata tajam. Kebencian terlihat jelas dari mata merahnya. “Saat itu dia bahkan sengaja membiarkan kami kabur agar dia bisa bermain-main. Tempat itu dilindungi barrier dan berada jauh dari daratan iblis. Dia menekan kami untuk segera membangkitkan kekuatan. Dan saat itu, Soul terbunuh ketika melindungi Ruhi.” Ruhi menggertakkan gigi, matanya merah menyala. “Ruhi bersumpah akan membunuhnya.” Asta menggenggam tangan Ruhi. Mencoba tersenyum. “Kau harus menjadi kuat, dia bukan orang yang bisa dikalahkan dengan mudah.” Pandangan Ruhi melunak. “Ruhi tahu,” ujarnya menunduk sedih. “Tapi, bagaimana akhirnya kau bisa meloloskan diri darinya? Dan, bukankah kau bilang kalian akan mati jika salah satunya mati?” tanya Asta lagi. “Itu karena Ruhi memakan inti jiwa milik Soul,” ucap Ruhi dengan tatapan kosong. Lalu menyentuh matanya. “Warna mata Ruhi adalah biru. Ini adalah warna mata Soul.” Asta tertegun. Tanpa sadar menelan ludah. Asta tahu, seperti yang diajarkan Madhiaz mengenai iblis. Bangsa iblis tidak seperti manusia, saat mereka mati, mereka tidak akan pergi ke alam kematian ataupun bereinkarnasi, tetapi menghilang sepenuhnya dari dunia. Sementara para binatang iblis dan monster tingkat tertentu, mereka akan meninggalkan core beast atau inti jiwa. Dan core beast itulah yang sering diburu manusia. Core beast bisa dijual dengan harga mahal tergantung jenis dan tingkatan binatang iblis atau monster. Kadang digunakan sebagai bahan alat sihir atau artefak karena mengandung kekuatan dari binatang iblis atau monster itu sendiri. “Soul mengatakan pada Ruhi untuk menelan core beast miliknya, dengan begitu Ruhi tidak akan mati dan kekuatan Ruhi akan berlipat ganda.” Asta mengerutkan kening. “Apa binatang iblis memang bisa melakukan hal itu? Memakan core beast lain untuk menjadi lebih kuat?” Karena setahunya, manusia yang mencoba menelannya, kebanyakan mati karena tidak bisa menahan kekuatannya. Ruhi menggeleng. “Tidak. Hal ini bisa terjadi karena kami spesial. Bisa dibilang, kami menjadi satu. Tapi ... Soul sudah lenyap. Ruhi tidak bisa lagi bersamanya.” Cairan bening meluncur mulus dari mata merahnya. Asta merasakan empati melihat raut wajah Ruhi yang tampak menderita dan putus asa. Kehilangan adalah hal yang akan dialami setiap manusia. Tetapi, kehilangan pertama adalah hal yang paling berat dan menyakitkan. Terutama jika itu adalah seseorang yang berharga untuk kita. Asta kemudian melihat ke arah Madhiaz. Ia sendiri tidak pernah merasakan kehilangan yang berat. Tetapi, ketika ia membayangkan kehilangan orang paling berharga baginya, ia tidak bisa menahan perasaan sedih dan sakit di hatinya. “Dan saat itulah, Ruhi bisa membangkitkan kekuatan Ruhi. Ruhi sempat melawan sorcerer itu, tetapi dia pergi saat tidak bisa menanggung baptisan Ruhi dan sepertinya sedikit terluka karenanya.” Asta benar-benar dibuat tercengang karenanya. Itu artinya, Ruhi adalah binatang iblis tingkat empat. Meski masih dalam tahap awal. Dan lagi, sehebat apa baptisan yang dia terima sampai membuat seorang sorcerer terluka? “Setelah itu, Ruhi berkelana dan bertahan sendirian. Padahal, Ruhi lebih baik mati bersama Soul. Karena tidak ada alasan bagi Ruhi tetap hidup jika tidak ada Soul. Tetapi, Soul menyuruh Ruhi untuk tetap hidup atau Soul akan membenci Ruhi selamanya. Karena itu, Ruhi mencoba kembali ke daratan iblis. Setelah satu tahun, Ruhi hampir sampai di perbatasan.” Dari sini, Asta bisa menyimpulkan sendiri. Kenapa Ruhi bisa berada di hutan Zerda dalam keadaan terluka. Hutan Zerda merupakan merupakan bagian dari Kerajaan Yernell­ yang memisahkan Desa Weyne dengan Perbatasan Eden. Sementara Perbatasan Eden adalah daerah tanpa penghuni yang memisahkan Kekaisaran Lorne dan tiga kerajaan besar; Kerajaan Yernell, Kerajaan Belzentia dan Kerajaan Abdonia. Dan daratan iblis berada di Perbatasan Eden. Diketahui bahwa di sana terdapat jalan menuju dunia iblis. Karena itu, banyak binatang iblis yang berdiam di sana dan terkadang menyeberang ke daratan manusia. Selain binatang iblis, di sana juga terdapat berbagai macam monster. Karena itu, hanya orang-orang yang memiliki kekuatan yang berani memasuki Perbatasan Eden dan berburu binatang iblis. Asta lalu menatap Ruhi. “Ruhi, apa sekarang kau masih ingin kembali ke daratan iblis dan menemui keluargamu?” Ruhi terdiam sejenak, lalu menggeleng. “Keluarga Ruhi hanya Soul. Tidak akan ada ras demonic wolf yang mau menerima Ruhi,” ujarnya sambil menunduk. Asta yang melihat itu pun tersenyum. “Tidak apa-apa, mulai sekarang kau boleh tinggal di sini selama yang kau mau. Kau juga bisa menganggap aku dan Ayah sebagai keluarga kalau kau mau. Kau bisa percaya padaku.” Ruhi menatap Asta dengan mata berkaca-kaca. Sedikit tersentuh, ia kembali menunduk kemudian menggumam, “Terima kasih ....” “Sekarang tidurlah, kau pasti lelah.” Ruhi menatap Asta ragu. “.... Asta tidak tidur?” Asta tersenyum. “Aku akan menemanimu sampai kau tertidur. Nah, sekarang, berbaringlah.” Setelah itu, Ruhi menurut, berbaring bersama Asta di kasur yang sempit. Asta sesekali mengusap kepala Ruhi agar anak itu cepat terlelap. Dan memang, tidak lama setelahnya, Ruhi tertidur. Asta keluar rumah, menemui Madhiaz yang sedang minum arak di bangku kayu yang tersedia di halaman depan rumah mereka. Hanya ditemani cahaya rembulan, Madhiaz tampak tenang dan menikmati minumannya. Asta tahu ayahnya sangat menyukai minuman keras. Tetapi, ia jarang sekali melihat ayahnya mabuk. “Ayah,” ucap Asta ikut duduk di bangku kayu panjang di samping Madhiaz, lalu memeluknya. “Hm? Ada apa? Tiba-tiba bertingkah manja.” Madhiaz mengusap kepala anak lelakinya yang sudah beranjak dewasa tapi masih sering bertingkah seperti anak kecil. “Setelah mendengar cerita Ruhi, aku tiba-tiba membayangkan bagaimana jika aku kehilangan Ayah. Aku tidak bisa menanggungnya. Jika Ayah mati, aku akan ikut mati bersama Ayah.” Madhiaz memukul kepalanya pelan. “Apa yang kau katakan, anak bodoh.” Asta cemberut. “Aku akan menjadi bodoh kalau Ayah terus memukul kepalaku.” Madhiaz tertawa. Lalu berujar lembut, “Asta ... hiduplah untuk dirimu sendiri.” Asta menggeleng. “Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa Ayah. Tidak ada orang yang menyayangiku seperti Ayah.” Asta menyurukkan kepalanya ke tubuh Madhiaz. Mengeratkan pelukan. Matanya tiba-tiba perih. Dia ingin menangis. Ia memang tidak memiliki kenangan apa pun sebelum ia berumur 5 tahun, tapi ia masih mengingat betapa ia dibenci dan dijauhi oleh semua orang sejak ia tinggal di desa. Tidak ada anak seumuran yang mau bermain dengannya. Dan anak yang lebih tua darinya sering menjahili dan menghinanya. Sementara orang dewasa menatap jijik dan menjauhinya. Ia pernah membenci ayahnya karena ia terlahir dengan wajah buruk rupa. Tetapi ayahnya adalah satu-satunya orang yang selalu berada di sisinya, membelanya, memihaknya apa pun yang terjadi. Hingga saat ia berumur delapan tahun, terjadi wabah penyakit yang cukup mengerikan di desa. Banyak orang yang mengalami sakit perut dan diare yang parah, bahkan disertai mual dan muntah hingga cepat kehilangan cairan tubuh dan menyebabkan dehidrasi. Wabah yang baru pertama dikenali ini membuat pihak Kerajaan cukup panik, karena wabah meluas sampai ke seluruh wilayah bagian Selatan Kerajaan. Para tabib berusaha menangani tanpa mengetahui apa penyebab penyakit tersebut. Hingga tidak membuat kemajuan apa pun selain semakin bertambahnya korban. Lalu Madhiaz yang merupakan pendatang baru di desa, mengatakan bahwa ia mengetahui jenis penyakit tersebut dan tahu cara menanganinya. Karena hal tersebut pernah terjadi di tempat tinggalnya sebelumnya. Dan Asta yang menjadi salah satu yang terjangkit, perlahan sembuh karena perawatan Madhiaz. Tentu, orang-orang tidak mudah percaya, tetapi setelah berdiskusi dengan para tabib, mereka menganggap bahwa analisis Madhiaz masuk akal. Bahwa itu adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang kemungkinan besar telah mencemari perairan. Juga dari makanan yang sudah terkontaminasi oleh bakteri. Setelah diselidiki, wilayah Kerajaan bagian Selatan memang mengonsumsi air dari sumber yang sama, dan perairan di sana memang terbukti sudah tercemar. Nampaknya air menjadi tercemar setelah bertahun-tahun tercampur dengan limbah. Madhiaz lalu berperan besar dalam menanggulangi wabah penyakit tersebut. Asta yang sudah memiliki antibodi dalam tubuhnya pun ikut membantu Madhiaz merawat warga. Hingga korban tidak lagi bertambah dan mulai banyak yang sembuh. Ia pun mendapat penghargaan dari Raja Yernell. Dan orang-orang desa menganggapnya sebagai seorang yang pantas dihormati. Setelah itu, Asta pun perlahan-lahan tidak terlalu mendapat perlakuan buruk meski masih banyak anak-anak yang menghina dan menjauhinya. Hanya Drew yang selalu bersikap baik dan membelanya sejak ia pertama kali datang. Dan ia selalu bersyukur akan hal itu. Asta melihat ayahnya yang tidak berhenti minum. “Ayah, aku sangat menyayangi Ayah,” ujarnya begitu saja. Madhiaz hanya membalas dengan gumaman dan mengelus kepala Asta penuh kasih. Jika bukan karena ayahnya, tidak akan ada orang yang bersikap baik padanya. Tidak akan ada siapa pun yang mau bersama orang dengan wajah mengerikan sepertinya. Tidak akan ada orang yang akan menerimanya dengan lapang hati. Karena itu, ia tidak bisa hidup tanpa ayahnya. Karena baginya, Madhiaz adalah hidupnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN