Kini, kesibukan Asta bertambah. Setelah menjalin kontrak dengan Ruhi, mereka memiliki jadwal untuk pergi ke hutan Zerda dan berlatih di sana. Ditemani seorang pelatih bernama Zephyr yang dikenalkan oleh Madhiaz.
Zephyr adalah seorang lelaki paruh baya yang menguasai sihir elemen udara sampai ke tahap di mana ia bisa memodifikasi elemen udara menjadi suara. Madhiaz bilang, kalau Zephyr adalah penyihir tingkat tiga, yang berarti seprang penyihir kelas menengah.
Penyihir dibagi ke dalam kelas bawah, menengah dan atas. Sementara untuk kelas bawah, yaitu penyihir tingkat satu dan dua. Penyihir yang hanya menguasai satu elemen dan hanya bisa menggunakan kemampuan sederhana, adalah penyihir tingkat 1. Sedangkan tingkat 2, sudah bisa menggunakan berbagai skill dan banyak di antaranya yang mendaftar menjadi petualang.
Begitu pula dengan tingkat menengah–atas. Penyihir tingkat menengah adalah penyihir tingkat 3 dan 4. Penyihir tingkat 3 menguasai satu jenis elemen termasuk berbagai skill yang tidak biasa, tetapi mereka juga sudah bisa memodifikasi atau mengubah elemen dasar menjadi elemen baru.
Dan untuk penyihir tingkat 4, adalah penyihir yang memiliki dua elemen atau lebih dan bisa menggabungkan kedua elemen tersebut hingga melahirkan elemen baru. Sementara penyihir tingkat atas atau tingkat 5 adalah penyihir yang menguasai 4 elemen dasar dan bisa menggabungkan berbagai elemen menjadi elemen baru.
Meskipun begitu, peringkat penyihir juga ditentukan oleh besarnya mana dan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang.
Lalu, Ruhi yang ternyata menguasai dua elemen dasar berupa angin dan air pun tidak bisa tidak merasa takjub saat melihat Zephyr menunjukkan berbagai kemampuannya menggunakan sihir. Meski ia adalah penyihir tingkat tiga, kemampuannya setara dengan penyihir tingkat empat.
Sementara Asta yang tidak bisa menggunakan sihir, disuruh melakukan latihan fisik dan memanah. Memang, selain kemampuan sihirnya yang luar biasa, Zephyr memiliki fisik yang kuat seperti seorang petarung jarak dekat. Asta sampai dibuat kagum sekaligus kesal karena ia tidak pernah sekali pun berhasil mengenai Zephyr di saat latihan.
“Tuan, tidak bisakah kau berbelas kasihan padaku sedikit saja?” ujar Asta dan Ruhi yang terkapar di tanah, kelelahan. Mereka berdua baru saja melawan Zephyr tanpa menggunakan sihir, tapi keduanya dikalahkan dengan mudah.
“Kalian ingin aku mempermudah latihan dan bermalas-malasan? Jadi, perkataan ingin menjadi kuat itu cuma omong kosong? Hmm ... baiklah kalau begitu.”
“Tidak!” Asta dan Ruhi berseru, protes bersamaan kalau mereka serius ingin menjadi lebih kuat.
“Ckckck ... perjalanan kalian masih panjang, Nak.”
“Tapi ... apa Ruhi perlu melatih fisik juga?” tanya Ruhi lemas. Pelatihannya jadi berlipat ganda karena selain melatih kekuatan elemennya, ia juga harus berlatih fisik bersama Asta.
“Tentu, latihan fisik akan sangat membantu mengontrol kekuatanmu. Terutama dalam kasusmu yang memiliki energi sihir yang besar tapi memiliki tubuh lemah. Kalau fisikmu lemah, kau tidak akan bisa memakai sihir yang kuat. Semakin kuat fisikmu, semakin mudah juga kau mengendalikan sihirmu. Kau mengerti?”
Ruhi mengangguk. Lalu mulai berlatih sihir kembali bersama Zephyr sementara Asta beristirahat. Mereka terus berlatih sampai matahari mulai tenggelam.
Selesai berlatih, mereka akan pulang setelah mendapat hewan buruan. Lalu makan bersama di rumah dengan Madhiaz yang memasak. Akhir-akhir ini, Asta juga sering belajar memasak dari ayahnya itu.
“Ayah, apa ada hal yang tidak bisa Ayah lakukan? Kenapa ayahku sehebat ini?” puji Asta yang melihat Madhiaz selesai memasak. Aroma wangi yang tercium membuat perutnya tak sabar. Latihan seharian selalu membuatnya kelaparan.
Madhiaz tertawa mendengar pujian putranya. “Tentu, ayah juga manusia biasa. Ada banyak hal yang tidak bisa ayah lakukan. Nah, makanlah. Kalian pasti lelah.” Ia menyajikan dua mangkuk sup daging rusa untuk Asta dan Ruhi.
“Terima kasih, Paman!” Ruhi segera melahap makanannya. Begitu pula dengan Asta dan Madhiaz. Suasana di meja makan yang kecil itu begitu hangat. Dipenuhi obrolan ringan dan canda tawa.
Di tengah obrolan, Asta tiba-tiba menatap Madhiaz dan bertanya, “Hm ... Ayah, apa Ayah pernah punya penyesalan?”
Madhiaz terdiam sejenak sebelum menjawab, “Entahlah. Sepertinya tidak ada manusia yang tidak memiliki penyesalan. Selama ini pun, ayah hanya bertindak mengikuti takdir yang telah ditentukan. Tetapi, akhir-akhir ini ayah berpikir mungkin tidak apa-apa jika mencoba menentang arus kehidupan.”
“Ayah percaya takdir?” tanya Asta lagi dengan mulut penuh.
“Ya. Tapi manusia juga bisa mengubah takdir jika mereka berusaha. Bahkan sesuatu yang kita anggap mustahil.”
“Ayah juga percaya adanya Dewa?”
“Hm? Entah ia Dewa atau apa, tapi ayah percaya ada sosok yang Maha Kuasa. Yang bisa melakukan hal mustahil dengan mudah layaknya membalikkan telapak tangan.” Madhiaz berbicara dengan tatapan menerawang, seolah sedang mengenang sesuatu.
Asta menatap ayahnya lekat. Penasaran. Tetapi, ia memiliki perasaan bahwa ia tidak seharusnya bertanya lebih jauh.
“Kenapa kau bertanya hal itu?”
Asta menggeleng cepat. “Tidak ada. Hanya ingin tahu saja,” cengirnya.
Meskipun Madhiaz bertanya-tanya, tapi ia memutuskan untuk tidak membahasnya lebih lanjut. “Hm .... Bagaimana latihan kalian? Ada kemajuan?”
“Ya! Sekarang aku dan Ruhi bisa berkomunikasi di jarak dua kilometer. Hebat, kan? Ruhi juga mulai terbiasa menggunakan kekuatannya,” ujar Asta. “Tuan Zephyr benar-benar hebat! Dari mana Ayah menemukan orang sekuat itu? Aku juga ingin kuat sepertinya!”
Madhiaz tersenyum melihat anaknya yang begitu bersemangat. “Hanya seseorang yang ayah tahu.”
Asta kemudian terus berceloteh mengenai kemajuan latihan mereka selama beberapa minggu ini pada Madhiaz dengan penuh semangat. Juga tentang betapa hebatnya Ruhi saat belajar mengendalikan kekuatannya.
Ruhi memang binatang iblis tingkat empat, tapi ia masih di tahap awal pembangkitan. Ia masih belum terbiasa menggunakan kekuatannya. Terlebih, karena ia memiliki dua elemen dasar. Ia jadi kesulitan menyeimbangkan keduanya. Karena itu, mereka berlatih jauh di dalam hutan agar tidak ada orang yang melihat atau bisa saja membahayakan orang lain.
***
“Hah ... hah .... Tuan, biarkan aku istirahat sejenak,” Asta kehabisan napas setelah terus berlatih tanpa henti selama tiga jam. Ia membaringkan tubuh di atas tumpukan daun. Melihat ke arah Zephyr yang tampak tidak kelelahan sama sekali. Padahal ia yakin usia Zephyr lebih tua dari ayahnya.
“Hmph, kalau seperti itu terus, kau tidak akan ada kemajuan.”
Asta cemberut, “Setidaknya pujilah aku yang sudah bekerja keras ini.”
“Aku akan memujimu setelah kau berhasil mengenaiku,” ujarnya lantas beralih ke arah Ruhi.
Sebelumnya, Zephyr mengajarinya mengenai titik-titik vital dalam tubuh manusia. Ia juga selalu diajarkan untuk tidak menyerang secara asal-asalan.
“Selalu incar titik lemah lawan.” Begitulah Zephyr mengajarinya.
Namun, bagaimana pun ia berusaha keras, ia tidak bisa mengenai Zephyr sekali pun. Asta melihat tangannya yang cukup tremor karena kelelahan. Apakah aku bisa menjadi kuat sepertinya?
“Tidak, kau harus memfokuskan seranganmu pada musuh.” Terdengar suara Zephyr yang sedang membimbing Ruhi dalam wujud serigalanya.
Ruhi sedang melatih kekuatan angin miliknya untuk membuat wind arrow. Sejenis serangan berupa panah dari udara.
Wush!
Serangan Ruhi hanya membuat pepohonan di depan bergoyang, tapi tidak tumbang. Zephyr menghela napas. “Kontrolmu masih buruk,” ujarnya lalu kembali menjelaskan pada Ruhi mengenai teknik-teknik untuk mengontrol kekuatan agar sesuai yang kita inginkan.
“Cobalah memperkecil bentuk dan lebih memadatkan udaranya, lalu fokuskan pada satu titik. Seperti ini,” paparnya lalu menembakkan panah udara yang langsung menumbangkan satu pohon di depannya.
Ruhi memperhatikan lamat-lamat apa yang dilakukan Zephyr. Juga berusaha memahami setiap instruksinya dengan baik.
Ia pun mencoba ke sekian kalinya. Dan ....
“Berhasil!” Ruhi berseru setelah wind arrow-nya berhasil mengenai pohon dan melubanginya.
Zephyr mengangguk sambil tersenyum. “Kalau kau semakin memperkuat itu, kau bisa menghancurkan pohon tersebut.”
Ruhi mengangguk kembali fokus berlatih. Berpuluh kali, beratus kali, ia tidak yakin lagi berapa kali ia sudah mencoba.
Dan waktu pun melesat cepat tanpa mereka sadari. Sudah hampir satu bulan berlalu sejak mereka mulai latihan, bisa dibilang perkembangan mereka cukup pesat. Meski Ruhi masih anak-anak dan tampak kurang mengerti perkataan Zephyr, ia selalu berhasil mewujudkannya dalam praktek langsung.
Ruhi pun sudah menguasai beberapa skill menggunakan elemen angin miliknya. Salah satunya ialah air force, yang merupakan salah satu teknik berupa mengendalikan tekanan udara untuk mengangkat suatu objek. Zephyr mengajarkan Ruhi mengalirkan elemen angin ke seluruh tubuhnya, mengatur tekanan udara hingga membuat tubuhnya menjadi lebih ringan sehingga membuatnya bisa berlari dengan cepat.
Ruhi memang belum bisa menguasainya dengan baik, tapi ia terus melatihnya setiap hari.
Ia melihat ke arah Zephyr. “Setelah ini, Tuan akan mengajarkan Ruhi cara membuat cyclone, kan?”
Zephyr tersenyum. “Ya, aku sudah berjanji, apa boleh buat. Kau memang cukup berbakat untuk ukuran demon beast.”
“Tentu saja, siapa dulu Tuannya,” ujar Asta bangga. Ikut menghampiri keduanya.
Zephyr mendengkus. “Kau memang hanya bisa besar omong.”
Asta tertawa. “Oh ya, Tuan Zephyr. Aku dengar kalau seseorang menguasai dua elemen, mereka bisa menggabungkan keduanya dan melahirkan elemen baru?”
“Benar. Selain air, api, udara dan bumi sebagai 4 elemen dasar, ada elemen turunan yang berdiri sendiri yang bisa dikuasai seorang mage. Seperti petir, es, suara, alam atau kayu, logam dan pasir. Biasanya seseorang hanya menguasai satu elemen, tetapi ada juga kasus langka seperti Ruhi yang menguasai dua elemen dasar sekaligus. Bahkan ada juga yang menguasai keempat elemen dasar.
“Mereka biasanya dikategorikan sebagai penyihir tingkat menengah – atas. Apalagi jika mereka mampu menggabungkan dua atau lebih elemen hingga melahirkan elemen baru. Seperti Ruhi yang menguasai elemen air dan angin, maka ia bisa menciptakan elemen baru berupa es.”
“Bisakah kau mengajarinya juga?” sambut Asta antusias. Ruhi pun tampak ingin sekali mencobanya.
Zephyr tertawa. “Tentu saja tidak semudah itu. Aku akan mengajarimu setelah kau berhasil menguasai kedua elemenmu dengan baik,” ucapnya pada Ruhi.
“Aku akan berusaha!” ujar Ruhi semangat. Ia sadar bahwa perjalanannya masih panjang.
Zephyr kemudian melanjutkan penjelasannya, “Selain elemen dasar tadi, ada lagi dua elemen yang cukup langka. Itu adalah elemen cahaya dan kegelapan. Elemen cahaya dikenal juga sebagai sihir suci, biasanya dimiliki oleh orang-orang dari kuil suci, entah itu seorang kesatria atau pendeta, atau orang-orang yang memiliki kekuatan sihir penyembuhan.
“Sementara elemen kegelapan, dikenal juga sebagai sihir hitam. Sihir yang hanya dimiliki oleh bangsa iblis. Tetapi, dalam beberapa kasus khusus, ada juga manusia yang bisa mempelajarinya.”
“Seperti seorang sorcerer?” tanya Asta.
Zephyr mengangguk. “Sorcerer adalah orang yang memiliki kemampuan sihir yang luar biasa. Dia menguasai keempat elemen dasar, juga mampu menguasai sihir hitam.”
“Apakah seorang sorcerer memiliki kelemahan?” kini Ruhi yang bertanya.
“Setiap orang pasti memilikinya, sekuat apa pun orang tersebut,” jawab Zephyr. “Baiklah. Hari ini kita sudahi dulu. Ruhi, teruslah latihan mengatur tekanan udara di tubuhmu, setelah menguasainya, aku akan melatihmu membuat cyclone. Dan Asta, jangan malas latihan fisik. Hanya itu yang bisa kau lakukan sekarang,” ujarnya memberikan arahan kepada Ruhi dan Asta untuk terus berlatih meski tidak ada dirinya.
“Baik!” sahut Asta dan Ruhi bersamaa. Lalu Zephyr pun menghilang bersama embusan angin.
“Asta, Ruhi masih ingin berlatih. Apa Asta mau menemani Ruhi?” tanya Ruhi pada Asta.
“Baiklah! Berlatih bersama akan lebih baik dan menyenangkan. Ayo, setelah ini kita berlomba untuk mendapatkan hewan buruan, bagaimana?”
“Um!” Ruhi mengangguk antusias.
Mereka pun mulai berlatih dan sparing. Menjadi lawan bagi satu sama lain.
Ruhi memiliki keinginan menjadi lebih kuat agar bisa melindungi Asta di masa depan. Sementara Asta ingin menjadi lebih kuat supaya ia pantas menjadi Tuan bagi Ruhi. Meski keduanya memiliki tujuan yang berbeda, mereka memiliki keinginan untuk menjadi kuat bersama-sama.