Setelah berbagai peristiwa yang terjadi, Ruhi kini sudah menjadi bagian dari desa Weyne dan disambut baik oleh warga lain. Ia dan Asta pun sering kali membantu pekerjaan warga desa dan dibayar sekadarnya.
Namun, saat ini, Ruhi sedang menatap Asta dengan raut khawatir dan ketakutan yang tidak bisa ia sembunyikan.
Sudah hampir satu minggu Asta terbaring sakit. Suhu tubuhnya tinggi dan ia sering mengeluh sakit di bagian wajahnya yang rusak. Madhiaz dan Ruhi merawatnya setiap hari. Mencoba melakukan yang terbaik untuk membuat rasa sakitnya berkurang. Tetapi, semua hal yang dilakukan seolah tak ada artinya.
Drew pun menjenguknya setiap hari, berkali-kali memanggil tabib yang berbeda. Mereka hanya mengatakan Asta demam, tapi keadaannya tidak pernah membaik sekali pun. Bahkan dengan kekuatan penyembuhan milik Nona Mori, tidak ada pengaruh sama sekali. Malah membuat Asta semakin kesakitan.
“Paman, bagaimana ini? Sebenarnya Asta sakit apa? Kenapa tidak ada satu orang tabib pun yang bisa menyembuhkannya. Bahkan dengan kekuatan Nona Mori?” Drew tidak bisa tidak cemas. Wajah Asta pucat, dan luka di wajahnya terlihat memburuk. Terkadang, Asta pun muntah darah.
Namun, dari semua itu, Drew lebih penasaran melihat Madhiaz yang tampak tenang. Meski ia bisa melihat Madhiaz mengkhawatirkan Asta, tetapi sikapnya tidak goyah, membuat Drew selalu bertanya-tanya apa yang sebenarnya pria setengah baya itu sedang pikirkan.
“Paman ... apa Asta akan mati?” Ruhi bertanya dengan mata berkaca-kaca dan tampak ketakutan.
Madhiaz merangkul dan mengusap kepalanya. “Tidak, dia akan sembuh dalam beberapa hari. Kalian tidak perlu khawatir,” ucapnya.
Lagi-lagi seperti itu. Drew membatin kesal. Lantas berujar, “Aku merasa, Paman selalu bersikap seolah tahu segalanya.”
Mendengar itu, Madhiaz hanya tersenyum. “Kau bisa menganggapnya begitu.”
“Benarkah? Apa Paman seorang peramal atau sejenisnya?”
Madhiaz tertawa. “Tentu saja bukan. Sudah, pulanglah. Ibumu akan memarahimu jika kau terus ke sini setiap hari. Kembalilah kemari dalam tiga hari.”
Drew sedikit tidak rela. Tetapi benar bahwa ibunya mengomelinya setiap hari karena ia selalu berkunjung ke rumah Asta. Karena itu, ia pun pamit dan memutuskan untuk kembali tiga hari kemudian seperti yang dikatakan Madhiaz.
“Ruhi.”
“Ya, Paman?” Ruhi mendongak.
“Ada yang ingin aku bicarakan,” ujar Madhiaz.
Ruhi pun sedikit menjauh dan duduk di hadapan Madhiaz. Siap mendengarkan.
“Apa kau senang bersama Asta?” tanyanya.
Ruhi mengangguk tanpa ragu.
“Kalau begitu, maukah kau membuat kontrak dengannya?”
Ruhi menatap Madhiaz lamat-lamat. “Kontrak?”
“Ya. Kau pun pasti mengetahui hal tersebut, bukan? Setelah menjalin kontrak dengannya, Asta akan menjadi tuanmu dan kau harus melindunginya apa pun yang terjadi.” Madhiaz menatap Asta yang tertidur dengan tidak nyaman. “Ke depannya akan semakin sulit dan berbahaya jalan yang dilaluinya, dan aku tidak bisa bersamanya. Karena itu, aku memintamu melakukan kontrak dengannya. Aku ingin kau melindunginya.”
Ruhi terdiam, tergamam menjawab, “Kenapa Paman tidak bisa bersamanya? Apa Paman akan pergi meninggalkannya? Tidak boleh, Paman. Asta sangat menyayangi Paman. Ruhi juga menyayangi Paman.”
Madhiaz tersenyum. “Aku tidak bermaksud untuk meninggalkannya, tapi ada hal-hal yang tidak bisa kita ubah sekuat apa pun kita berusaha.”
Sebuah pemikiran melintas di benak Ruhi. “Seperti kematian Soul?”
Lagi, Madhiaz hanya tersenyum menanggapi. Lalu berujar, “Aku tahu menjalin kontrak bukanlah hal yang mudah diputuskan. Karena itu artinya kau akan selamanya terikat dengannya. Pikirkanlah permintaanku baik-baik.”
“Tidak ... bukan seperti itu. Ruhi tidak keberatan sama sekali, selama Asta menginginkannya, Ruhi bisa melakukannya. Tetapi, Ruhi tidak percaya diri bisa melindungi Asta. Ruhi terlalu lemah.” Ruhi menunduk. Mengepalkan tangan di atas paha. Tidak mampu menghentikan ingatan yang kembali muncul ketika ia kehilangan saudaranya.
Madhiaz mengusap kepalanya. “Kalian bisa sama-sama menjadi kuat dan saling melindungi. Setelah Asta pulih, bicarakanlah dengannya.”
Ruhi pun mengangguk pelan. Dalam hati bertekad, ia harus menjadi lebih kuat.
***
Seperti yang dikatakan Madhiaz, Drew kembali berkunjung setelah tiga hari berlalu. Dan benar saja, Asta sudah sembuh seolah sakit kemarin tidak pernah terjadi. Kecuali kondisi wajahnya yang terlihat memburuk.
Asta memakan buah-buahan yang dibawa Drew dengan lahap bersama Ruhi.
“Sungguh tidak ada sakit yang tersisa?” tanya Drew masih menatap Asta lekat.
“Um, cija aja. Aphu pubah pembuh!” ujarnya dengan mulut penuh buah persik.
Drew berdecak. “Makanlah pelan-pelan, astaga, kau bisa tersedak!”
“Hukk!” Asta tersedak saat itu juga. Ruhi tertawa karenanya. Drew memberikannya air minum dan geleng-geleng kepala melihat tingkahnya.
“Ah ....” Asta bernapas lega. “Buah persik memang yang terbaik. Terima kasih Kakak Drew. Ayah bilang kau datang setiap hari.”
“Em, makanlah sepuasmu. Aku benar-benar khawatir saat itu. Kau bahkan muntah darah. Apa kau tidak mengingat apa-apa saat sakit?”
“Ya, entahlah. Aku pun tidak tahu kenapa. Aku hanya ingat kalau aku merasa kesakitan. Terutama di wajahku. d**a dan kepalaku juga sakit. Rasanya seperti mau mati.”
Ruhi tiba-tiba berhenti mengunyah, wajahnya berubah murung. “Tidak, Asta tidak boleh mati.”
Asta tersenyum lebar. “Aku tidak mati, lihat? Aku sangat sehat! Sakit seperti itu tidak akan bisa membunuhku!” Ia menepuk-nepuk d**a jemawa. “Jangan khawatir, oke?”
Ruhi pun hanya mengangguk pelan. Ia tidak akan sanggup jika suatu saat nanti harus kehilangan lagi.
“Oh ya, Kakak Drew, bagaimana dengan pernyataan cintamu? Kau belum sempat memberitahuku karena aku mendadak sakit. Ayo ceritakan padaku!”
“Hm ... bagaimana menurutmu?” tanyanya sambil menopang dagu. Wajahnya berseri-seri. Orang bodoh seperti Asta pun tahu kalau perasaannya diterima.
“Cih, padahal aku berharap kau patah hati lalu menangis sambil mogok makan selama seminggu.”
Drew tertawa. Asta lalu tersenyum. “Selamat, Kakak Drew. Walau akhirnya kalian tetap berpisah juga. Jadi, tahun depan kau akan ikut ujian kesatria?”
“Mn,” Drew mengangguk. “Aku akan berlatih lebih keras sekarang.”
Mereka lalu membicarakan banyak hal sambil sesekali tertawa. Sementara itu, Ruhi lebih banyak diam. Ia terus memikirkan permintaan Madhiaz sebelumnya.
Sampai Drew pamit pulang, Asta mencurahkan seluruh perhatiannya pada Ruhi. Ia bisa tahu kalau ada yang sedang anak itu pikirkan.
“Jadi, katakan padaku. Apa yang sedang kau pikirkan?”
“Um ....” Ruhi tampak ragu, tapi setelah ia menatap Asta, ia pun menceritakan tentang permintaan Madhiaz mengenai kontrak dengannya.
Asta mendengarkan semua yang disampaikan Ruhi dengan baik, berikut ketidakpercayaan dirinya untuk melindungi Asta. Tapi, Asta rasa menjalin kontrak bukan sesuatu yang buruk. Malah, ia akan mendapat banyak keuntungan dari hal tersebut. Justru, mengikat kontrak akan merugikan Ruhi.
“Aku senang kalau kau mau mengikat kontrak denganku. Tapi Ruhi, kau tahu kan, dengan mengikat kontrak, maka kebebasanmu akan terenggut. Kau harus mengikuti dan mematuhiku sebagai tuanmu untuk selamanya. Melindungiku saat terancam bahaya, bahkan jika aku menginginkan nyawamu, kau harus memberikannya.”
“Ruhi tahu,” jawab Ruhi tersenyum. “Asta, bagi Ruhi sekarang, Asta dan Paman adalah keluarga Ruhi. Tidak ada orang lain yang memperlakukan Ruhi sebaik kalian selain Soul. Jika harus mengorbankan nyawa pun, Ruhi tidak akan menyesalinya. Justru, Ruhi akan merasa sangat bersyukur karena bisa berguna dan memiliki arti dalam hidup.”
Mendengar penuturan itu, Asta tahu jika Ruhi tulus bersamanya. Seperti yang dikatakan Madhiaz, Ruhi akan menjadi seseorang yang berharga untuknya. “Baiklah! Mari kita lakukan kontrak,” putusnya kemudian.
“Sungguh? Asta tidak keberatan?”
“Ya, kenapa harus? Tidak ada ruginya aku mengikat kontrak denganmu. Bukankah bagus kita akan terikat selamanya?” tanya Asta optimis.
Ruhi tersenyum senang dan mengangguk. “Terima kasih, Asta.”
“Tetapi, aku tidak tahu apakah aku bisa membuat kontrak denganmu,” ujar Asta membuat Ruhi kebingungan.
“Maksud Asta?”
“Kau tahu, Ruhi. Aku adalah orang biasa. Aku tidak memiliki mana, bagaimanapun aku berusaha, aku tetap tidak bisa membuat inti mana di tubuhku. Karena itu aku tidak bisa memakai sihir. Aku tidak tahu apakah kontrak itu bisa dilakukan dengan orang biasa sepertiku.”
Mendengar itu, Ruhi pun mengangguk mengerti. “Kalau begitu, ayo kita temui dan tanya pada Paman,” ucapnya.
Mereka pun setuju untuk segera menemui Madhiaz dan menanyakan apakah Asta memang bisa melakukan kontrak dengan Ruhi.
“Jangan khawatir, aku meminta Ruhi mengikat kontrak denganmu karena tahu kau bisa melakukannya,” ucap Madhiaz.
“Sungguh? Meski aku tidak memiliki mana dan memakai sihir?” tanya Asta masih sangsi.
Namun, Madhiaz hanya tersenyum tanpa menjelaskan lebih lanjut. Ia hanya berkata, “Kau akan tahu setelah mencobanya.”
Madhiaz lalu memberitahu mereka cara melakukan kontrak. Rupanya, Ruhi hanya perlu menggigit Asta dan meminum sedikit darah miliknya. Selebihnya hanya perlu persetujuan atau keinginan Ruhi yang menginginkan Asta sebagai Tuannya. Artinya, kontrak tidak bisa dilakukan secara paksa.
Setelah menggigit leher Asta. Seketika, Asta merasakan sensasi baru dan aneh yang merangsek masuk ke dalam tubuhnya. Rasanya seperti tersengat. Sedikit menyakitkan. Lalu menghilang dan meninggalkan jejak-jejak ringan dalam kesadarannya. Kini, sebuah kontrak telah ditambahkan ke dalam kesadarannya.
“Mulai sekarang, Asta adalah tuanmu dan kau adalah pelayannya. Kau harus bergegas menyelamatkannya jika ia berada dalam bahaya dan kau tidak akan bisa mengkhianatinya,” ujar Madhiaz kepada Ruhi.
“Ruhi mengerti. Ruhi akan berusaha sekuat tenaga untuk melindungi Tuan Asta.”
Asta merasa aneh dengan panggilan itu. “Panggil aku Asta seperti biasa saja.”
“Tidak, Tuan. Tuan Asta adalah sosok yang Ruhi layani. Bagai—“
“Ugh. Aku bilang jangan panggil aku Tuan. Kita adalah teman, mengerti?” sungutnya sedikit kesal.
Ruhi terdiam sejenak, tersenyum tipis lalu mengangguk, “Baiklah.”
“Setelah mengikat kontrak, kalian juga bisa saling berbicara lewat kesadaran. Dan jika ikatan kalian semakin kuat, kalian akan bisa mengetahui lokasi masing-masing meski berjauhan. Ini adalah salah satu keistimewaan dari kontrak.” Madhiaz kembali menjelaskan beberapa keuntungan yang didapat setelah mengikat kontrak.
“Wah! Luar biasa! Ruhi, ayo kita coba latih saat di hutan!” ujar Asta semangat.
“Baik!” Ruhi pun terlihat antusias.
“Asta, kau juga perlakukanlah dia dengan baik. Karena sekarang kau adalah tuannya, maka kau yang bertanggung jawab atas hidupnya.” Kali ini Madhiaz menasihati Asta. “Berlatihlah dengan giat, suatu saat kau pasti bisa menjadi orang yang kuat.”
“Em! Aku mengerti, Ayah. Aku akan berusaha. Mungkin saja suatu saat nanti aku bisa menggunakan sihir,” ujar Asta tersenyum lebar dan ceria.
Madhiaz tersenyum dan mengusap kepalanya. “Ayah akan carikan seseorang untuk membantu kalian berlatih nanti.”
“Sungguh?!” Asta dan Ruhi berseru penuh semangat.
“Ya, kalian perlu seseorang yang bisa mengajari kalian.”
“Yeay! Aku sangat tidak sabar!” Asta benar-benar kegirangan. Ia memeluk Madhiaz. “Terima kasih banyak, Ayah! Aku sangat menyayangimu!”
Madhiaz tertawa.
Aku bisa meninggalkanmu dengan tenang sekarang.