“Ting …tong…ting..tong…”
Dering dari alaram memecah kesunyian dini hari membangunkan kesadaran yang entah kemana perginya,nadin dengan menggerakkan tubuhnya langsung mematikan alaram jam digital di atas nakas dengan mata yang masih tertutup sebelah tempat tidurnya, dengan mata yang yang di kelap-kelipkan nadin berusaha untuk memfokuskan pandangannya dan duduk di tepi ranjang.
Nadin memang sudah terbiasa dengan bangun di sepertiga malam akhir, menjadi kebiasaan sejak lama untuk melaksanakan sholat di malam dan akan di susulkan dengan aktifitas lainnya,tak lama rasa dari tubuhnya sudah oke,nadin tidak menunggu lama termenung duduk di atas Kasurr langsung melangkah pergi dengan gontai menuju kamar mandi.
Setelah keluar iya langsung melakukan ibadah dan tak lupa mengaji dan membaca sholawat, melanjutkan untuk menonton youtube di chanel kesukaannya, dan terkadang random yang di tontonnya, nadin tidak langsung membaca buku atau melakukan hal lainnya,baginya membuat kegaiatan lain selain menonton youtube setalah beribadah akan membuat dirinya akan cepat mengantuk Kembali.
“waw, hari ini banyak sekali jadwalku” setelah menonton you tube ia memulai untuk melihat schedule hariannya yang ia buat sebelum tidur, melakukan penschedulan baginya penting agar tidak terlupa apa saja yang harus ia lakukan,karna nadin sendiri seorang yang mudah lupa.
Kelas yang akan ia mulai di pagi hari membuat nadin harus membaca buku terlebih dahulu sebelum ia mandi dan beranjak untuk pergi ke kampus,kelas yang pagi ini kelas mr. Robert yang ahli dalam sastra prancis, nadin sangat menyukai kelas mr.robert gaya belajar beliau yang tak kaku membuat dirinya nyaman setiap kali mr. Robert memaparkan materi di depan kelas,bukan hanya nadin yang menyukai gaya mengajar beliau tetapi banyak dari mahasiswa lain merasa cocok dengan beliau
“ hari ini aku banyak sekali jadwal, kelasku yang akan dimulai di pagi hari dan selesai di sore hari, dan aku harus membeli beberapa stok makanan dan keperluan lainnya di supermarket “ keluh nadin melihat jadwalnya yang padat.
“ aku berencana ingin pergi ke taman lagi” taman yang di maksud adalah taman tempat ia selalu duduk yang tak jauh berada di Menara Eiffel.
“ aku berharap bisa bertemu lucas disana “ nadin tampak kesal karna tak dapat pergi ke taman itu dan bertemu lucas
“yasudahlah, di lain waktu aku pasti bertemu lagi”
Nandin berdiri dari meja belajar yang ia duduki saat membaca al-quraan stelah sholat tadi
“ BUGH “
Bunyi hentaman yang keras membuat nadin meringis kesakitan,kepala nadin dengan tidak sengaja terbentur pada sudut rak buku yang yang tidak terlalu tinggi itu , jika tidak hati-hati akan membuat celaka,ini bukan yang pertama, tetapi baisnya tidka kuat seperti ini
“ auuu…” nadin memegang sudut kiri dahinya yang begitu sakit dan terasa basah saat ia sentuh, terlihat darah yang segar di jemarinya
“ aduhhh…. Lebai sekaliii ini hanya kecil” ucap nadin yang meracau menguatkan dirinya, karna pribadinya yang takut dengan darah,membuat ia harus menguatkan dirinya sendiri di saat situasi seperti ini terjadi, dengan Langkah yang gemetar nadin melangkah pada cermin kamar mandi untuk mengambil kotak p3knya.
“ huhuhuhu “ buaian nadin untuk menghibur diri dan menahan tangis,
“ kecil kok kecil” dengan gaya sombong sambil meringis nadin terus meracau pada dirinya sendiri
Terlihat luka kecil tapi mengoyakkan kiulit dahinya membuat mengalirkan darah di sudut dahinya nadin mewek dengan wajah melucu agar tetap tegar dan tak ingin menangis,sebenranya bukan ia tidak tahan sakit, hanya saja ia ngilu saat melihat darah dan luka seperti saat ini
Tak butuh waktu lama nadin berdrama dengan luka pada dahinya untuk di obati, nadin sudah keluar dari kamar mandi dan membereskan tempat tidur dan apartementnya yang kecil itu dan melakukan kegaiatan lain
Waktu telah menunjukkan jam 7 pagi nadin telah bersiap untuk pergi ke kampus pagi ini karna di kelas di muali jam 9,nadin memang selalu lebih awal pergi karna ia tak ingin terlambat dan jika ia pergi dengan waktu yang mepet membuat dirinya tidak nyaman masuk kelas karna akan berlari memasuki kelas, nadin memang tidak suka dengan hal yang seperti itu.
Meninggalkan apartementnya nadin keluar menuju halte terdekat untuk menaiki bus kampus yang akan melawati rute dari apartementnya,tidak memakan wkatu lama Gedung yang besar dan kokoh sudah terlihat di depan matanya, nadin kelaur dengan Langkah yang santai menuju kelas, jam yang sudah menunjukkan jam 8 : 25 membuat langkah nadin tetap santai karna masih banyak waktu menjelang jam mualinya perkuliahan pertama
“ hello girsl…”
“ heyoouuu… “ jawab nadin dengan suara yang manja
“ kenapa dahi mu ? “
“ tau nih drama banget sama rak buku, udah brapa keli kepentok baru kali ini berdarah “
“ itu lu yang bikin dramanya wahai nadin…., udah tau rawan masih gak lu pindahin “ dasya menjawab dengan kesal, karna dasya sendiri tau posisi ruangan apartementnya nadin karna ia sudah beberapa kali datang berkunjung
“ gak bisa setiap sudutt telah memiliki tempat tersendirinya sya “
“ serahlu mak ajah gw gak tau lagi “
Dasya sendiri adalah anak indoensia yang mengambil jurusan yang sama dengan nadin,tetapi dasya tidak jalur beasiswa,dasya anak yang cantik tinggi dan memiliki tubuh yang professional, aktif dan ya dasya seperti tokoh utama dalam sebuah drama.
“ morning “ suara yang tak keras tapi mampu di dengarkan satu kelas dan membuat satu ruangan menjadi diam dan hening seolah terhipnotis
“ hello “ suara itu kemabli berbunyi lebih keras menyapa mahasiswa, yang hanya terpaku melihat seorang dosen di depan kelas
“ morning sir” jawab beberapa mahasiswa dan keheningan mulai pecah
“ okeh, pasti kalain bingung sekarang kenapa saya masuk di kelas ini, perkenalkan saya devano saya seorang dosen muda yang baru saja bergbung di universitas ini, dan saya di beri tanggung jawab untuk menggantikan kelas mr. Robert, sepanjang satu semester ini saya yang menjadi dosen pangampu dalam sastra Bahasa prancis ini “
“ ada yang ingin di tanyakan mengenai kelas ini ?, mmm dan untuk kontrak kuliah dengan saya, saya tak ingin mengubah kontrak kuliah anda sebelumnya dengan mr. Robert “
Penjelasan devano di anggukan beberapa mahasiwa
Nadin duduk di kursi paling depan menatap dosen yang berada tepat di hadapannya itu memasang wajah bingung
“ kamu yang berhijab, ada apa ? “
Sontak mebuat nadin terkejut dan langsung menggelengkan kepala,
“ dahi kirimu sama sedang terluka sir “
Dosen itu terperangah dengan ucapan nadin, dan langsung memegang dahinya ternyata ada luka yang membuat dahi kirinya berdarah,
Devano menggelengkan kepala karna mearsa lucu bagaimana bisa ia tidak menyadari ada luka didahinya sendiri, dan hal inilah membuat kelas ini hening tak berbunyi pada saat ia masuk kelas
Dengan tubuh dan wajah tampak garang membuat mahasiswa taku ingin berucap dan selalu di dului oleh devano, membat mereka tak bergeming, untung saja ia menanyakan nadin
“ apa anda perlu p3k ? “ ucap nadin menawarkan kotak obat untuk dosen mudanya
“ saya rasa sangat perlu, bisakah kamu membantui saya ? “
“ tentu saja sir, ucap nadin yang tidak menolak permintaan dari dosen itu
Dengan cepat nadin membuak tas dan mengambil kotak obat kecil yang ia siapkan untuk dirinya, nadin memang selalu membawa hal yang penting dalam ranselnya membuat dirinya, nadin memang perempuan yang unik, ia takut dengan luka dan darah tetapi bila kejadian seperti ini terjadi nadin tidak akan menolak,ia mampu menahan takutnya dan membesarkan rasa kepeduliannya terhadap orang lain, nadin hanya tremor melihat luka dan adrah dari dirinya saja. Walaupun denagn orang lain juga seperti itu tetapi tidak terlalu membuat tangannya tremor dengan kuat.
Nadin beranjak dari kursinya hendak melangkah ke depan
“ biar saya yang kemejamu “ langkah nadin berehenti dan hanya tegak di dari kursinya
Devano melangkah lebih dekat kemaja nadin dan nandin langsung menyiapkan alkohol pada dan plaster, untuk ia tempelakn nantinya, nadin membersihkan luka devano dengan tangan sedikit gemetar tetapi tidak lama untuk nadin menyelesaikan itu.
Devano menatap perempuan yang di hadapnnya tanpa berkedip sedikitpun, ia menatap dengan serius saat mata nadin focus pada lukanya
“ luka di dahinya pun sama tepat di bagian kiri “ devano berucap dalam hatinya