Musium
Telah berlalu satu minggu hari ini nadin kemabali bertemu dengan devano untuk kelas Bahasa sastra diman ia akan peri ke musium untuk melakukan perjalanan study di luar kelas,semua kelas memang akan ada program belajar di luar kelas,kelas yang diluar ini banyak di tunggu oleh mahasiswa karna untuk dapat melakukan jalan-jalan gratis
“Baiklah seperti janji saya sebelumnya kelas kita hari ini berkunjung ke musium” devano memberi perintah pada kelasnya untuk mengunjungi musium yang memiliki jarak yang lumayan dari kampus
“bagaimana dengan kelas mrs. salsa sir ? “ tanya salah seorang mahasiswa
“ mrs. salsa hari ini tidak hadir dan kalian hanya akan diberi tugas olehnya nanti,itu pesan dari beliau pada saya”
“ oke apa semua sudah bersiap ? “
“ sudah sir “
“ jika sudah pergilah ke parkiran bus, kita akan memkai bus 0256 “
Derap Langkah membuat kerusuhan di kelas untuk meninggalkan kelas menuju parkiran, begitu juga dengan nadin yang melangkah dari tempat duduknya tetapi tidak menuju ke pintu nadin mengarahkan langkahnya menuju devano yang masih berdiri di depan kelas
“ sir, apa saya boleh meminta waktu sebentar, untuk melakukan sholat ? ”
“ sholat ? “ tanya devano yang tidak mengerti
“ sebagai muslim kami memiliki 5 waktu untuk berdoa pada tuhan kami sir “
“ ohh… silakan nadin, ambil waktu sepanjang kau butuhkan “
“ terimakasih sir atas perhatian anda “
“ baik sama-sama”
Tak meunggu lama nadin langsung menggelarkan sajadah yang sudah dulu ia pegang di tangannya, ia sudah memikirkan waktu sholat saat di kelas, nadin Sudha terbiasa e,lakukan sholat di ruang kelas perpustakaan atau tempat yang tidak di lewati orang dan bisa aman saat ,melkaukan sholat.
Nadin sedikit memandang devano dengan meniakkan alisnya ke atas
“ kenapa ia tidak keluar ya ? “ nadin membanti melihat devano tidak keluar kelas dan melihatnya untuk sholat
Nadin mengambil sedikit tempat di sudut kelas, yang tak jauh dari meja devano,devano tetap menatap nadin dengan rasa yang sangat ingin tahu yang tinggi
Tidak ingin terus memikirkan nadin memulai dengan membaca niat, dan sebelumnya nadin sudah berwudhu saat ingin berangkat ke kampus dan ia selalu menjaga wudhuknya,karna nadin sendiri sudah paham dengan situasi si eropa tidaklah sama dengan di inonesia yang ada mushola dan mudah untuk mencari air.
Hanya butuh beberapa menit nadin telah menyelasikan sholatnya, dan melanjutkan doa
Saat nadin menolah kesamping ternayat masih ada devano yang setia melihatnya melakukan sholat.
“ maaf sir, kenapa anda tidka keluar terlebih dahulu ?“ tanay nadin memecah focus devao yang sednag menatapnya
“ mmm… saya tidak bisa meninggalkan kelas jika masih ada mahasiswa saya dei kelas,karna kalian tanggung jawab saya “
“ nadin tak kuasa untuk melanjutkan, hanya menganggukan kepalanya”
“ apa kamu sudah selesai nadin ?”
“ Sudah sir” nadin melangkah keluar dan begitu juga dengan devano yang menysul Langkah nadin dan mereka berjalan dengan beriringan menuju ke parkiran kampus
“ nadin? Apa kamu selalu melakukan itu?”
“ melakukan itu bagiamana maksud anda sir “ nadin memutar mata tak mengerti
“ yang tadi kamu lakukan dikelas “
“ oh sholat, iya sebagai seorang muslim kami akan melakukan ibadah itu setiap hari,wajib bagi seorang muslim untuk melakukan itu “
Devano mengangguk mendengar ucapan dari nadin
Tibanya di parkiran bus, nadin dan devano langsung menuju bus untuk di naiki
“ maaf semuanya, tadi ada sesuatu yang penting makanya sedikit agak terlambat “
Devano sedikit memberi alasan kepada mahasiswa agara tidak berpikiran aneh saat melihat dirinya dengan nadin Bersama , hal itu di tanggapi mahaiswanya dengan baik dan tidak terlihat wajah curiga mereka
Nadin melihat kekiri dna kekanan dengan mencari-cari tempat yang kosng, tempat yang kosng hanya ada di depan karna yang lain Sudah penuh terisi, dan nadin tau tempat itu adalah tempat dosen,biasanya dosen akan menaiki mobil tersendiri, ntah kenapa devano ikut serta naik kedalam bus, hal ini tidak di buat curiga karna ada bebrapa dosen juga sama seperti ini.
Devano yang Sudah duduk terlebih dahulu di depan memebriakan penawaran pada nadin
“ duduklah di samping saya “
Nadin melihat kursi kosong yang berada di tepi jendela itu, dengan menundukkan kepala nadin duduk disebalah devano.
“bagaimana bisa dosen ini selalu dekat denganku” nadin merasa canggung aneh dan curiga membatin saat menduduki kursi di samping devano
Perjalan yang mereka tempuh luamayn lama karna letak misum ini berada di sudut kota, berbagai macam hal yang dilakukan mehahsiwa sepnajnag perjalan ada yang membuak macbooknya,bermain game,membuka handphone, ada yang menikmati music dan lainnya.
Devano hanya sibuk denga tab yang barada di tangannya sedangkan nadin Sudha terkantuk-kantuk dengan perjalan yang masih Panjang
“Bugh” bunyi bebrapa kepala mahasiwa yang menyender ikut terantuk di jendela saat sang sopir mengerem mendadak,begitu juga dengan nadin yang mengantuk baru hendak menyenderkan kepalanya terbentur ke kaca jendela.
“ haduhhh…” nadin mengelus luka yang seminggu lalu terasa sakit Kembali akibat terbentur, devano mendengar nadin menringis langsung melihat ke arah nadin
“ luka di dahimu berdarah lagi “ ucap devano memberi tau nadin, nadin memang sudah merasa itu akan berdarah lagi karna lukanya belum betul-betul pulih dan masih basah,karna dalam, dan luka itu Kembali terbuka, nadin menutup luka itu dengan plaster bening yang itua akan membuat darah yang keluar terlihat.
“ apa kamu membawa kotak p3k mu ?”
Nadin hanya mengangguk pada devano
“biar ku bantu untuk membersihkan darahnya”
Nadin masih tak menjawab ia langsung mengeluarkan kotak itu dari ranselnya yang ia letak di bawah kakinya, dan membuka kotak itu,nadin dan devano langsung menggesarkan tubuh untuk bisa berhadapan agar lebih mudah untuk di berihkan, nadin merasa sedikit agak lega ada tawaran dari devao untuk membantunya, karna ia akan merasa takut Kembali saat melihat darah dari dahinya seperti kejadian smeinggu lalu
Tak menunggu lama devano langsung membuka plaster yang ada di dahi nadin dengan sangat berhati-hati.
Nadin diam tak berkutik, saat wajah devano sangat dekat denagn dirinya, emmbuat jantung nadin berdetak laju,
“ au..au” nadin mearsa sangat sakit saat devano membukanya ada kulit yang koyak ikut tertarik membuat nadin mearsa sangat kesakitan.
“maafkan aku, ini lukamu sedikit tertarik”
Nadin hanya diam tak membalas ucapan maaf devano dan mengkat tangannya yang sudah tremor sejak tadi berhati-hati jika terasa sakit lagi.
Devano langsung mengambil kapas dan sedikit ia kasi alkohol untuk membersihkan terlebih dahulu
“lukamu ini robeknya menjadi sedikit melebar”
“Nadin langsung menjatuhkan air matanya” ingin di amerengek seperti anak kecil, tapi di tahannya karna ia tau kebradaannya ia sedang tidak sendirian, dan ahnya bisa menahan mulutnya sehingga hanya menjatuhkan air mata.
Devano melihat air mata yang jatuh dari pelupuk mata nadin membuat dirinya terkejut
“kamu merasa sangat sakit”
“ tidak sir” kenapa kamu menangis jika ini tidak sakit ?”
“ saya hanya takut dengan darah, dan takut saat sir mengatakan luka saya melebar”
“ ternyata kamu sama dengan saya yang takut dengan darah sendiri, tapi mampu mengobati orang lain “ ucap devano mengingat nadin yang membantunya saat di kelas
Nadin langsung menatap devano yang terlebuh dahulu menatap matanya, dan mebuat tatapan mereka menyatu.
Devano langsung membuang muka begitu juga dengan nadin, detak jantung mereka berdetak dengan kuat
“ Sudah selesai”
“ oh, terimaksih sir”
Devano hanya mengangguk sambil meluruskan Kembali badannya mengadap depan
Tak lama mereka sudah tiba di depan Gedung musium, mahasiswa yang menyadari itu langsung bergegas untuk mengemasi barang yang mereka keluarkan,banyak pengunjung terlihat dari taman luar di depan musium,memnag banyak turis yangakan datang dna para pelajar yang akan berkunjung di musium
Setelah bus terparkir di parkiran, semua mahasiwa langsung keluar danmenunggu di depan bus, devano melangkah terlebih dulu dari mahasiwanya untuk langsung masuk ke respsionis yang ada di depan pintu muisum, untuk memberi data mahasiwa yang ia bawa
Mahasiswanya langsung mengikuti Langkah devano yang sudah berada di depan.
“ nadinnn…” teriakan itu membuat beberapa orang menoleh melihat sumber suara begitu juga dengan andin yang merasa terpanggil,
“ heh…. Lucas “ lucas langsung berjalan ke arah nadin,nandin pun mengecilakn langkahnya
“ ngapain di sini?” tanya nadin saat lucas sudah berada di sampingnya
“ aku ada tugas, makanya ke sini,kalian lagi kelas laur ya ? “
“Iya”
“ dimana dasya?” lucas sudah menegnal dasya karna nadin pernah memperkenalkan mereka saat pergi liburan akhir minggu
“ dasya ambil cuti gak enak badan”
“oh” jawab lucas singkat
Devano yang telah selesai berurusan dengan resepsionis langsung melangkah maju agar pintu tidak penuh dan membuat macet, semua mahasiswa sudah tau prosedurnya tidak lagi dijelaskan, kapan waktu mereka selesai untuk Kembali di titik kumpul di depan bus mereka naiki tadi.
Devano hanya melihat nadin dan lucas yang berjalan beriringan sambil berbencang dan kadang ada tawa di sela obralan mereka.
“ Btw kamu kok ngilang waktu kemarin ke masjid cas ? “ tanya nadin mengingat beberapa hari yang lalu
“ aku bingung mau ngapain aku,dan tiba-tiba saja aku ada telfon penting “
“ maksud mu bingung bagaimana ? “
“ aku bukan muslim “
“ hah ? kaget nadin saat lucas mengatakan itu
“ maaf lucas, bagaimana bisa aku berfikir kamu seorang muslim”
“ memang appaku dari arab tapi dia bukan muslim nadin “
Lucas memang bukan asli korea ia blaster ayahnya arab dan ibunya korea.
“aku sangat merasa bersalah denganmu lucas maafkan aku”
“ santai nadin,malah aku yang merasa tidka enak saat meninggalkanmu begitu saja”
Devano yang melihat mereka berbincang dari sisi lain mengerucutkan matanya
Sudah puas dengan membaca mengambil foto dan menulis catatn penting, seluruh mahasiswa berjalan, menuju titik kumpul awal karna mereka sudah di siplin dengan waktu.
Nadin melihat jam yang ada di tabnya yang ia baut menuliskna catatan penting sama dengan yang lainnya.
“ lucas wkatu u Sudha habis, kami harus segara Kembali ke bus “
“ aku akan mengantarmu “
“ tidak perlu nadin Bersama saya, karna ia tanggung jawab saya “
Sontak mebuat lucas dan nadin bingung,tetapi lucas melihat belt yang teragntung di leher devano dan merasa mengerti
“ baik sir “
Devano hanya mengangguk
“ silakan jalan dulu nadina” sambil mengangkat sebah tangannya untuk memperislakn nadin berjalan dulu dan dia menysul dari belakang
Devano tersenyum tipis saat melangkah meninggalkan lucas.
Mereka semua sudah duduk di tempat masing-masing begitu juga devano dan nadin,semua sibuk membahas hal-hal yang mereka baca di dalam musium itu dan berdiskusi satu sama lainnya, nadin banyak bertanya dengan devano karna ia duduk di sebelah dosennya membuat nadin dapat memperoleh informasi yangelas lebih mudah.
Keheningan mulai datang, nadin Kembali mengerjap matanya yang mulai mengantuk, dan langsung menutup mata karan sudah tidak dapa lagi menahan rasa kantuk,devano yang menyadari itu langsung meletakkan telapak tangannya di keca jendela karna nadin ini membuat devano sperti merangkul nadin, tak ingin membuat kesalah pahamanan devano membawa kepala nadin ke bahunya saja
Nadin yang Sudah tertidur dengan nyenyak mencari posisi yang tepat saat kepalanya berada di bahu devano, membuat devano menegang karna detak jantungnya Kembali kencang tetapi terlihat sedikit senyum terukir di bibir devano