malam yang indah dan cerah membentang langit paris, terlihat dari luar jendela partement milik nadin yang masih terbuka, di apartemenya walaupun kelas ekonomi jendela apartement itu besar dan panjang dan terdapat tiga baris sendela membuat itu seperti dinding kaca walaupun tersekat sekat sedikit, dari kasurnya nadin dapat melihat suasana langit malam dengan jelas
nadin yang hanya berbaring di tempat tidur hanya bergerak ke kanan dan kiri mencari kenyamanan pada tubuhnya yang merasa kurang enak badan tapi masih mampu untuk bergerak melakukan aktivitas, sudah sejak dari pagi ia merasa ada yang tidak beres dari tubuhnya.
"grhh...grhh..." bahkan aku merasa kelaparan saat badanku tidak enak sperti ini bagaiamana bisa aku akan tidur dan beristirahat jika kelaparan"
langsung saja ia berdiri untuk melihat stok makanan yang ia punya di dapur kecilnya itu,
"wah apa-apaan ini, hanya sisa mie ??" nadin tak ingin makan mie saat seperti ini ia tau ini akan memperburuk kondisinya saja, sambil melipatkan tangan nadin menggambil keputusan untuk pergi ke supermarket, dengan pakaian hoodie dan celana joger jilbab pasmina nadin keluar membawa totebag melangkah pergi
suasana yang masih ia rasa hangat membuat langkahnya terus berlanjut hingga sampai di luar tarasa angin begitu menusuk ketulangnya
apa cuaca sedang dingin ? nadin bertanya keheranan pada tubuhnya yang terasa kedinginan, ia melihat orang-orang disekitarnya hanya tidak berpakaian musim dingin.
"karna tubuhku memang tidak lagi baik-baik saja membuat aku terasa dingin"
nadin melanjutkan langkahnya untuk menuju supermarket dengan tangan yang terus menggosok 2 lengan bersilangan.
semakin terasa menusuk angin yang masuk ketubuhnya sesekali membuat badan nadin bergetar karna kedinginan
sudah sampai disupermarket nadin memilih beberapa makanan dan minuman seadanya saja ia tidak ingin membeli banyak karna akan berat, dan kondisi yang kurang baik tidak memungkinkan untuk dirinya berlama lama di luar
setelah selesai memilih beberapa makanan dan minuman nadin membayar belanjaannya dan memilih satu cup coffe hangat untuk menghangatkan tubuhnya.
nadin memilih duduk di kursi yang tersedia dibdepan suoermarket untuk meminum kopinya.
setelah beberpa menit berlalu nadin hanya menikmati seduhan dari kopinya dan terasa membuat tubuhya sedikit menghangat.
"kok pusing ya ?" nadin mengerjap matanya yang ia rasakan pusing pada kepala membuat ia merasa aneh karna sebelumnya ia baik-baik saja
tak ingin membuat suasan yang kacau nadin meninggalakn kopi yang ia minum tadi dimeja yang belum sempat ia habisi semua
"bukankah itu wanita itu" ucap devano saat hendak membayar minuman yang ia beli, dengan tak sengaja menoleh arah luar devano melihat nadin yang sedang berdiri hendak meninggalkan tempat duduknya untuk pergi, devano yang melihat itu tak ingin mengambil fikir tentang nadin dan membiarkan nadin berlalu begitu saja.
" kamu cuman beli itu aja dev ? " tanya alex pada devano yang melihat hanya sebotol minuman di tangannya, alex menyusul devano dari belakang yang sudah duluan keluar dari pintu supermarket
devano yang tak ingin ka arah samping untuk mencari tahu nadin yang ia lihat tadi, dengan sepontan tetap menolehkam kepalanya dengan sedikit menyipitkan matanya dan ya benar ia melihat nadin yang sedang tergeletak di aspal
"waw lihat ada gadis cantik yang tergeletak" dari kejauhan devano mendengar dengan jelas 3 orang lelaki mendekekati nadin dan tentu saja dengan tujuan yang buruk
devani yang menyadari hal itu tidak tinggal diam meninggaloan nadin begitu saja, dengan sedikit berlari devano datang
"dev...." teriak alex melihat devano berlari
alex juga ikut berlari walau devano tidak menggubrisnya
"hei bro wanita ini milik kami" ucap preman yang lebih dulu melihat nadin
devano tidak menggubris ucapan mereka langsunh membopong nadin untuk di gendongnya
bugh... suara tumbukan membuat devano yang sudah berhasil membopong tubuh nadin terjatuh berlutut hampir saja nadin ikut terjatuh ke bawah tapi devano menahan dengan tangannya
"hei apa apaan ini? " ucap alex melihat devano yang di hajar, alex yang tak ingin membuang waktu langsung mengeluatkan dompet dan melemparkan beberapa uang pada preman jalanan itu,alex tahu betul mereka tak akan mengganggu lagi jika di lemparkan uang
devano sudah lebih dulu jalan menuju mobilnya dam di susul alex yang paham dengan situasipun langsung berjalan mendahului langkah devano untuk menyetir mobil itu
"lo di belakanh aja dev, biar aku yang nyetir" devano menganggukkan kepalanya
alex sudah membuka pintu belakang devano langsung masuk dengan tubuh nadin masih barada di gendongannya
"alex kita langsung kerumah sakit"
devano sudah menyadari tubuh nadin yang panas langsung mengambil keputusan untuk dibawa kerumah sakit
"bagaimana bisa sedang demam kamu keluar dan tidak mengenakan pakaian yang tebal" devano membatin menatap wajah nadin yang di pangkuannya
"teduh sekali matamu nadin" kembali devano mebual dalam hati
alex melihat devanodari kaca devano tak berpaling sedikitpun melihat wajah nadin dengan penuh cemas
"lex suhu tubuhnya semakin tinggi" ucap devano dan alex manambah kecepatan mobil agar segara sampai tak lama kemudian sudah berada di depan pintu IGD.
"susterrr...."teriak devano
tak lama sudah datang tim medis untuk mengambil alih tubuh nadin yang diletakkan di brangkar, tak menunggu lama nadin sudah masuk dalam ruangan tindakan.
"dev siapa dia ?" alex menanyakan pada devank yang sedang duduk di kursi tunggu
"dia mahasiswi ku"
"kau tampak tak baik baik saja saat perjalanan kita kerumah sakit"
"apa kau mencemaskan mahasiswi mu itu ?"
devano tak kuasa dengan pertanyaan itu hanya diam
"tetapi dia memakai hijab, bukankan itu seorang muslim ? "
"iya, dia muslim"
alex yang mendengar jawaban itu berdecih seolah tak suka, devano tau sekali watak sahabatnya ini yang tidak menyukai muslim, ia pernah ikut orasi dalam muslim phobia.
hening tak bersuara dari keduanya yang memutuskan untuk saling diam.
"siapa kerabat dari pasien ?"
"saya" ucap devano dengan yakin saat seorang suster bertanya
"pasien sedang mengalami tipes, dan keadaanya sangat memburuk, trombosit pasien turun dari batas normal dan akan di butuhkan beberpa tabung darah"
devano mendengar itu membulatkan matanya
"apa golongan darahnya dan brapa banyak darah yang dibutuhkan"
alex memotong pembicaraan mereka
"darah pasien B+"
"darah saya B+" devano menjawab langsung
"baik jika begitu kita akan cek terlebih dahulu "
alex kembali duduk saat devano mengikuti suster yang hendak mengecek darah devano, devano memiliki resus darah + karna masih memiliki keturunan dari sang ayah yang berasal dari indonesia dan juga blasteran hal itu membuat ia dapat resus darah yang sama dengan sang ayah
"baik pak darah anda sama, kami akan segera mengambil satu tabung, karna pasien hanya membutuhkan 1 tabung darah"
devano mangangguk, langsung saja suster mengambil tindakan untuk melakuka pendonoran
setelah semua selesai sustet dengan cepet membawa darah itu keruangan dimana nadin di rawat
"matanya teduh sekali"ucap alex saat melihat devano yang sudah selesai berjalan menuju ke arahnya
devano tak kuasa menanggapi itu karna ia tau alex sedang menggodanya
"lo masuk kedalam?" ucap devano
" iya, gue liat dia begitu cantik apa lagi tanpa mengenakan hijabnya"
ucapan dari alex langsung membuat darah devano naik, ia langsung masuk keruangan nadin dan mengunci pintu ruangan dengan manual
untung saja semua yang ada di rauangan itu perempuan,dan ya hijab yang nadin kenakan sudah tertanggal
"tidak bisa kami harus menanggalkan hijabnya untuk melakukan tindakan"
devano berfikir memang tidak ada yang salah dengan apa yang di ucap dari dokter perempuan itu
"kami minta untuk anda keluar dari ruangan" ucap seorang dokter
devano melangkah keluar dari ruangan
"sudah larut aku ingin pulang"
"kau pulanglah lebih dulu,aku akan menunggunya sadar"
alex memiringkah senyumnya merasa tak senang
devano hanya menatap kepergian alex