sepi senyap ruangan rawat inap nadin hanya berbunyikan jam dinding, malam yang sepi mengantarkan kesunyian pada devano yang setia menunggu nadin yang masih belum sadarkan diri
tak nadin masih lelap dengan oengaruh obat yabg di masukkan dalam infus..
emm..
mata nadin membuat gerakan yang disadari devano, devano hanya melihat nadin bergerak untuk mencoba membuka mata
cahaya yang tak begitu silau karna waktu sudah tengah malam beberapa lampu sudah dimatikan
"nadin.." panggil devano
"emmm..."
nadin membuat suara dan masih mengusap matanya
dengan tangan yang tidak terinfus
"are you okey?"
nadin mengerutkan alisnya melihat devano yang berada di samping yag sedang duduk di sofa yang tak jauh dari brangkar
"sir?"
"ya ini saya, kamu tadi jatuh di supermarket saat hendak beranjak pulang, suhu tubuhmu tinggi, saya yang membawamu ke rumah sakit,kamu butuh sesuatu ? "
"nih, minum" devano berinisiatif untuk mengambil air untuk nadin
"makasi sir" nadin mencoba untuk duduk
rambut nadin yang panjang terurarai lepas saat hendak duduk
"astaghfirullah, dimana hijapku ?" nadin terkejut saat melihat rambutnya yang panjang terurai lepas.
nadin memahami situasi saat ini tidak ingin menghakimi siapa pun dan mengontrol emosinya dengan baik
"maaf sir, apa anda melihat hijab saya dimana diletakkan perawat ? "
devano terpana dengan melihat nadin tanpa hijab dengan rambut panjang dan hitam membuat nadin jelas tampak berbeda dari biasa yang ia lihat
"sirr..." nandin memnciba memecahkan fokus devano yang menatap nadin
"ah iya, apa kamu butuh sesuatu ?"
"apa,anda melihat hijab saya?"
nadin menggerakkan tangannya yang mengatakan hijab kepala
"oh, hijab, akan saya ambilkan"
nadin yang sedang duduk di brangkar,terasa canggung dengan suasana yang ia rasakan, jam yang sudah menunjukkan waktu tengah malam dan ia hanya berada di ruangan yang sedang di temani oleh lelaki yang bukan muhrimnya membuat dirinya canggung tidak karuan, terlihat kegugupan diantara mereka
"nadin, ini kah ?"
devano menunujukkan pasmina yang sedang ia pegang di tangannya pada nadin
"iya"
"kenapa kamu membutuhkan ini saat keadaanmu seperti ini"
"justru saat keadaan seperti ini saya membutuhkan hijab saya sir"
"bagaimana maksudmu?"
"sebagi seorang muslimah, saya harus menjaga aurat saya dari orang orang yang bukan mahrom saya"
devano sudah duduk di samping nadin,nadin telah menutup kepalanya dengan hijab yang telah diberikan devano sebelumnya
"saya belum bisa mengerti dari ucapanmu"
"aurat itu adalah bagian yang tidak boleh dilihat oleh orang lain, kecuali mahromnya,maksudnya begini perempuan tidak boleh menunjukan bagian kecuali wajah dan telapak tangannya pada orang lain, kecuali saudara kandung suami dan ayah kandungnya, jika sesama perempuan sesama muslim tidak masalah"
"bagaimana bisa begitu?"
"karna islam menjaga kedudukan perempuan dengan baik, dan menjadikan perempuan begitu istimewa"
"bukankah, dengan begitu kalian tidak bebas"
nadin tersenyum melihat, saat devano menanyakan hal itu
"di ibaratkan makanan yang sangat menarik, lezat,dan menggugah selera,di hidangkan di ruangan terbuka dan tidak tertutup dan terbungkus, ternyata lebih dulu di hinggapi oleh lalat semut dan lainnya, sedangkan makanan yang satunya tidak begitu menarik untuk dilihat, tetapi ia tertutup dengan rapat,terbungkus dengan rapi,sehingga lalat,semut tidak menginggapi makanan itu"
"kira-kira yang mana di pilih untuk di ambil dan di beli?"
" orang yang pintar akan memilih yang tertutup agar tidak rugi membelinya "
"good choise,begitulah ibaratnya perempuan yang mengenakan hijab dan yang tidak"
devano terlihat terpukau dengan argumen yang di sampaikan oleh nadin yang begitu cerdas menjawab pertanyaannya selama ini yang ia tanyakan
"apakah kalian tidak pernah pergi club?"
nadin melihat jam dinding yang berada di hadapannya sudah menunjukkan jam 2 dini hari
"sir, apa anda tidak mengantuk ?"
devano menggelengkan kepalanya
"saya bisa sendiri di sini, mungkin lebih baik anda balik kerumah saja sir"
"apakah kamu merasa terganggu dengan saya?"
"saya tidak terganggu dengan, dan saya bersyukur karna anda membantu saya, tetapi saya merasa terbatas untuk melakukan semua hal karna anda di sini"
devano mengerti dengan ucapan nadin pun memahami akan hal itu, karna nadin akan butuh banyak bergerak dengan, tetapi ia tak bisa membantunya, karna nadin sendiri telah menjelaskan sebelumnya
"apakah kamu yakin bisa melakukan semua hal sendiri ?"
"jika tidak bisa, saya akan memanggil perawat untuk membantu saya,jangan hawatirkam hal itu"
"baiklah jika seperti itu,saya akan pulang"
nadin menganggukan kepalanya "terimakasih banyak telah membantu saya, saya tidak bisa membalas jasa yang anda berikan pada saya ini, di lain waktu saya akan mentraktirkan anda, jika anda tidak keberatan"
"wah tentu saja tidak, saya akan mennunggu janji mu ini"
nadin mengangkat jempolnya saat devano telah melangkah ke pintu untuk keluar
"haaahhhh"
"ya allah, berat sekali ternyata dengan keadaan seperti ini, bagaimana bisa aku bodoh dengan keadaanku seperti ini,memaksa untuk keluar"
"apa gunanya jasa delivery"
"kau sangat pintar nadin"
nadin tak berhenti-henti mengerutuki dirinya sendiri karna kekonyolan yang ia lakukan membuat mudarat untuk dirinya
"aku ingim sholat, tapi aku bajuku pendek lengan tanggung"
"allahuakbar,keadaan seperti apa ini, keadaan sperti ini sangat menyiksaku"
tin..tin
nadin menoleh, ada handphone di nakas tepi ranjangnya
"oh ternyata ada hpku,"
"notif pesan masuk tanpa nama,dan nadin dapat melihat notif itu" ini saya devano, jika kamu membutuhkan sesuatu bisa hubungi saya,ini nomor saya"
nadin menggelengkan kepalanya, melihat devano yang sangat aneh,dari benerapa hari saat pertama kali mereka bertemu
"aku tidak bisa begitu dekat dengannya, akan menjadi bahaya buat diriku sendiri"
di tempat lain devano telah sampai di apartemenya, dengan keadaan yang masih belum mengantuk devano hanya memabalik-balikkan badannya di atas kasur
"kamu sangat berbeda nadin,kenapa jantungku saatmelihat mu terasa sakit dengan detakan itu, tetapi aku menyukainy saat jantungku saat berdetak ssperti itu"
devano telah mengirim peaan pada nadin, menunggu jawaban dari nadin
ting...ting...
devano dengan cepat melihat notif yang masuk
nadin
:)
"apa-apaan hanya senyuman sperti ini yang dikirimnya"
devano kesal dengan nadin yang hanya memberi emot senyum pada pesannya
devank yang kesal yang melamper hpnya bebas di atas kasur,dan menutup matanya dengan bantal