Helian menatap kumpulan tangkai bunga anggrek ungu di tangannya dengan pandangan kosong. Sekelebat, Helian seakan teringat dengan mendiang ibunya dulu yang pernah mengajaknya menyusuri hutan ketika malam tiba hanya sekadar untuk melihat kerlap-kerlip dari hewan kecil yang bernama kunang-kunang. “Ibu... Ibu. Lihatlah, Bu. Kunang-kunangnya cantik sekali,” ucap Helian sambil berlari ke sana ke mari untuk menangkap binatang kecil yang berkilauan kuning tersebut. “Aku akan menangkapnya yang banyak untuk kuberikan kepada Ayah dan Ibu.” Ibu Helian tersenyum melihat tingkah lucu pangeran Helian kecil. “Ibu... kenapa kunang-kunangnya ada yang menyala dan ada yang redup? Lalu kenapa ketika siang tiba, Helian tidak dapat melihat cahaya kunang-kunang lagi, ya, Bu?” tanya Helian sambil menengadah da

