“Aku berjanji aku akan menemuimu lagi di sini,” ucap Seina dengan wajah bersemu merah sambil menutupi bagian bibir mungilnya menggunakan punggung tangannya yang tadi sempat mengcup bibir Helian. Sekarang Seina menyalahkan dirinya sendiri dalam hati. Kenapa bisa dia seagresif seperti itu kepada Helian? Mendapat tindakan Seina yang tiba-tiba seperti itu. Helian seolah mendapatkan angin segar yang memenuhi rongga pernapasannya. Jantungnya berdetak lebih cepat seolah hampir dibuatnya meledak. Kebahagiaan itu tidak dapat diungkapkannya dengan untaian kata-kata. Bahkan hatinya masih bertanya, benarkah tadi Seina menciumnya? Tepat di bibir pula. “Benarkah kau akan menemuiku lagi?” Seian mengangguk. Kini dia sudah berani menatap kembali ke arah Helian yang tampan. Perlahan-lahan rasa takutny

