Tangan lembut yang sedang memeluknya dari belakang pun mengurungkan niatannya untuk membunuh Fey. “Kau beruntung karena Seina memohon satu nyawa untukmu. Kita perlu bicara lagi,” kata Helian sangat dingin dan menusuk. Untuk saat ini yang terpenting adalah mengobati luka Seina. “Kenapa bisa seperti ini?” tanya Helian sambil memapah Seina masuk ke dalam kamar. Sekilas, nampak pintu masuk sarangnya rusak karena Fey menerobos masuk. Helian mengusap darah di tubuh Seina menggunakan kain sembarang. Seina meringis kesakitan. “Apa sakit?” Seina hanya mengangguk dan menangis. “Kenapa bisa seperti ini? Jawab aku Seina.” Dengan takut-takut Seina pun menjawab lirih…. “Aku tidak tahu. Tiba-tiba dia masuk ke sarang dan menyerangku. Aku takut Helian.” Seina menangis. Dia masih syok atas kejadia

