“Seina… jika aku mengatakan kepadamu kalau aku adalah seekor ular, apakah kau akan takut padaku?” ucap Helian sambil menatap kedua manik mata Seina lamat-lamat. Dahi Seina mengernyit mendengarnya. Hah, apa maksudnya? “Maksudnya? A-aku tidak mengerti apa maksudmu, Helian,” jawab Seina sambil menatap ke arah lain. Saling bertatapan dengan Helian membuat pipinya menghangat, hal itu juga tidak baik untuk kesehatan jantungnya. “Bayangkan saja jika memang aku seperti itu. Apakah kau akan tetap terus di sisiku, Seina?” Untuk beberapa detik lamanya, Seina hanya mampu mengerjabkan mata untuk berpikir. “Entahlah, aku tidak dapat membayangkannya.” Tampak Helian menghela napas panjang. “Seina….” Helian hendak menyampaikan lagi. Namun ia menahan keinginannya tersebut karena sepertinya ini sem

